Asmara Jati


Biarkan api cinta membakar asmara kita, aduhai Wajah Merona.
Kuseraki tiap senti tubuhmu
dengan mata manusiaku.
Kaulah guru dan cobaan hidup.

Malam dan siang.
Kita, Wajahmu dan Mataku,
sebelum sakitku dan bahagiamu menyerasa,
sebelum baikku dan burukmu menyerata,
masihlah jelaga nafsu di cermin semesta.

Mandala dan dunia.
Akulah lelaki dan lelakonnya yang
terjebak antara libido dan eros atma.
Engkau, Wajah Merona,
sepatutnya keindahan dalam mengurbankan rasa.

Ajarilah aku menjadi tangan hitam
di balik perayaan-perayaan suci.
Menjadi ular pembisik tanpa taring
yang dirindukan para penikmat doa.
Menjadi pecinta sejati.
Menjadi penyendiri bahkan dalam mimpi.
Bersamamu,
kelak cinta dan dosa manunggal dalam pada Aku.

Cobai aku dengan segala
kecantikanmu, Gadisku Yang Merona.
Injaklah aku sebagai alasmu.
Angkatlah aku sebagai kurbanmu.
Tumpahkan air matamu dari tuduhan riak zaman,
di pundakku.

Engkau Kekasihku Yang Sabar.
Lekuk tubuhmu yang gairah itu,
kuakrabi jengkal-jengkalnya bagai candu.
Dan tandukmu, aduhai Cinta,
wariskan sebelah padaku.

Tiada Konjungsi


Akulah bahwa
Kamulah jika
Tanpa kendati
Tiada konjungsi

Engkaulah mimpi
Akulah jati
Cinta tak bersayap, itu pasti
Kita hanyalah delusi

Cobalah berpikir
Diam semalam maka menekur
Jujur
Jarak antara kita tak bisa dilebur

Nasi telah menjadi bubur, katamu
Hati ini bercinta yang terlanjur
Kasih, aku tak tahu
Apakah kau tunggu aku terbujur, kaku
baru kau sadar bahwa kita hanyalah pengenyam rindu?

Engkaulah lambaian tangan
Akulah sehangat pelukan hujan
Selambat senyum wajah kita, kesyahduan
Kasih, cinta ini menghantui tidurku

Kita berjarak tanah dan langit, kau tahu itu
Kita berbeda
Dua rasa dalam kuah angkara, dunia
terlalu naif untuk kisah kita

Maka apa yang kautunggu di sampingku?
Kehangatan bualan lagi?
Tipuan takdir dalam ciuman, lagi?

Kaulah dengan
Akulah bukan
Takdir kita di persimpangan
Selesai.

Angin Tuarang


Dinginnya angin tuarang, aku senangi.
Sedahan daun petai cina kuning kering, dihempasnya jatuh,
bertebaran di halaman rumahku yang lekang.
Ah, aku terkenang. Itu masa yang lampau.
Kelereng dan layang-layang.
Cinta monyet dan konflik sepele antara aku
dan kawan sekubangan.

O, tuhan. Itu sesak dikenang.
Hidup, tidak jauh dari gumulan lumpur,
percik darah dan kenakalan anak lelaki sepertiku.
Kelahi. Cinta. Persahabatan.
Telah habis di masa dewasa.

Aku telah hidup tertantang,
aku pun sudah menang,
kini aku selesai,
dan aku ingin pulang.

Apakah surga tengah kemarau, Duhai Tuan?
Atau hujan?
Aku tidak suka hujan dan
lengket tanah yang memutuskan sandal.

O, Hyang Tunggal..
Panggillah aku saat garang tuarang.
Aduhai, aku pasti senang…

Kekasihku Yang Sore


Kekasihku Yang Sore.
Kauterka aku begini.
Kuterka engkau begitu.
Kita, berselisih jalan pada
persepsi yang sesat oleh asumsi.
Oleh rasa yang kadung jenaka,
dibumbui pula oleh imajinasi,
terakselerasi hingga membumbung
tak terbendung.

Siang datang membuka mata.
Rasa. Apa ini cinta?
Cinta yang lahir prematur dari rahim subuh,
suka cita dan jerih perih cerita kita.
Hingga pagi, kita menggila.

Malam menjelang.
Apa aku masih sama seperti fajarmu?
Siapakah aku di mata bulatmu itu?
Hanya bayang-bayang dari mataharimu?

Ah, Cinta, sudahlah,
gulita kembali tiba.
Engkau, aku, rahasia,
tuhan dan segala keisengannya.. Kugiring
kembali ditelan mimpi.
Kubiarkan kita saling menyendiri.
Agar kita saling mencari,
apakah ada rindu dalam sepi.

Hati Seorang Pujangga


Hanya bidadari yang bisa jadi gadisnya pujangga.
Jika kau masih manusia, Gadis, melangitlah!
Bermanis-manislah senyummu,
suka cita lakumu, duhai Yang Dipuja, gadisnya para jejaka.
Tuhan di perangaimu.

Bersiaplah,
sebab seorang bidadari hanya hidup di benak pujangga.
Kau direka-reka, tanpa cela,
biar buah manismu melarik sajak yang dipuja.
Engkau ditiduri mimpinya,
didekap-dekap bayangnya, tanpa jeda.

Bersedialah pedih,
sebab dia tidak bermanja-manja dengan yang nyata.
Kelak, puji, memantrai puisi..
Lumba-lumba melompati pipimu;
pagi mengikuti genap jejakmu,
dan rembulan telah sabit di matamu. Katanya.
Lantas dia bilang langit senja dicium bibir merahmu,
merekah,
suka hatinya memagut menggigit-gigit itu.
Rasamu kian menggila.

Maka, Gadis,
siapkah engkau dikagumi tanpa pernah digauli?
Terlunta-lunta hatimu oleh rasa rindu, ringkih, berdebu.
Jika terlalu lemah hatimu,
jauhilah lelaki semacam Rangga. Pujangga.
Cinta. Dia yang terluka, bukan?
Kecuali jika kau benar-benar bidadari.

Tatsuya San


Pohon-pohon pinus pinggir jalan telah ratusan tahun memberi keteduhan; debur-debur ombak datang dari pantai membisiki cuping telingaku dengan pelan; dan tatapan mataku masih tak lepas dari punggung si Pemalas, Tatsuya, yang kini mengayuh sepedanya makin kencang, makin jauh mengikuti tepian sungai Abukuma hingga ke rumahnya di dekat muara. Aku tertinggal lebih jauh dari biasanya.

Dia sedang kesal. Atau lebih tepatnya, sedang malas pulang. Nilainya di sekolah sangat tidak bagus, dan itu pasti membuat Ibunya marah. Tapi itu memang salahnya sendiri. Kalau dia mau belajar lebih giat, nilainya pasti tidak seburuk itu.

Aku terus mengayuh sepeda, sampai depan rumahnya, kudengar Ibunya menumpahkan rasa kesal. Aku tercenung beberapa saat, lalu kulihat Tatsuya keluar dari rumah masih dengan seragam sekolah. Wajahnya tertunduk lesu ke jalan, langkahnya cepat tapi seperti tanpa tujuan. Aku turun dari sepeda, kuikuti Tatsuya dari belakang.

“Ada apa?” Tatsuya menoleh, langsung menatapku. “Apa aku menginggalkan sesuatu di sekolah?” tanyanya lagi, menambahi kebingunganku. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku juga tidak bermaksud mengembalikan barang apa-apa.

Langkahku terhenti, terpaku memegangi sepeda. Dia masih menatapku dengan matanya yang tajam. Malu rasanya. Aku salah tingkah. Kuberi salam padanya sambil mebungkuk, tanpa sadar peganganku justru lepas dari sepeda, dan membuatnya jatuh ke rumput. Bodoh sekali. Kubiarkan sepeda itu. Tanpa berani kembali menatap Tatsuya, sebaris kalimat keluar bersama tubuhku yang bergetar, “Maafkan aku, Tatsuya San.”

Aku bingung sekali harus berkata apa. Tidak mungkin langsung kukatakan kalau selama ini aku mengikutinya; aku menyukainya. “Maksudku, kamu bisa lebih baik dari itu. Tentang nilamu … Aku bisa membantumu memperbaikinya. Itu pun kalau kamu mau,” sambungku, setelah sadar kalimat pertama tadi tidak menjelaskan apa-apa.

Dia diam..

Aku tidak pernah Lanjut membaca

Rindu Bapak


Pagi ini, seorang bapak dan anak berbincang hangat di benakku
Berkali-kali, dari mereka, aku ingat bapakku sendiri
Atau mungkin saja itu memang bapakku
Dia yang kini merinduku, sama dengan aku

Bapakku tidak pernah bilang, “Nak, jangan mencuri!”
Tapi, setiap hari pulangnya hampir kemaghriban
Memanggul kayu bakar di pundaknya yang kekar
Oh, itu kerja keras, pikirku waktu itu
Sendirinya aku enggan mengambil hak orang

Suatu hari aku diancam teman sepermainan,
diajak kelahi, diancam akan dipukuli
Pulanglah aku ke rumah membawa wajah muram
Kata bapak, “Pukul orang itu, pulang ke rumah.”
Apa bapak menyuruh anaknya berkelahi?
Sekarang aku mengerti,
Aku mengerti,
Bapak bukan hendak menyuruhku kasar
Dia hanya ingin anaknya melawan
Sebab hidup penuh konflik, pertengkaran, adu kekuatan
Dan katanya, “Orang yang tidak pernah bertengkar, tidak pernah memperjuangkan apa-apa.”

Kini badanku tak lagi kecil
Seolah-olah telah besar
Alih-alih hidup mandiri
Aku jauh dari bapak, jarang bicara
Sedang rindunya aku, dia bilang, “Ada saatnya anak lelaki harus sendiri.”
Tidak akan selamanya mainan-mainanku datang dari tangannya
Iya, aku setuju
Layang-layang besar, gasing, pedang-pedangan
Aku telah mampu membuatnya sendiri
Lalu bapak membiarkanku
Membiarkanku terbang laksana layang-layang itu

Semalam aku menengadah langit bangsaku
Aku sedih, lagi dan lagi, tidak saja sampai bunuh diri
Kusapa mimpi-mimpi kawanku, makinlah aku sepi
Tiada kupahami apa yang mereka tertawakan
Jiwaku tidak di sini
Aku bagai di awang-awang
Sedang mereka berbincang tentang rumput teki

Jika boleh aku minta nasehat lagi,
Apakah sudah benar jalanku ini?
Apa keterlaluan jika mimpiku besar?

Aku tengah menantang para pencuri besar
Aku telah bertengkar untuk banyak orang,
Menimba gelisah mereka dan menuangnya ke hatiku sendiri
Tanpa ada yang tahu bahwa
aku sendiri kesepian

Aku rindu bapak,
Dan masa kecilku