Biarkan api cinta membakar asmara kita, aduhai Wajah Merona.
Kuseraki tiap senti tubuhmu
dengan mata manusiaku.
Kaulah guru dan cobaan hidup.
Malam dan siang.
Kita, Wajahmu dan Mataku,
sebelum sakitku dan bahagiamu menyerasa,
sebelum baikku dan burukmu menyerata,
masihlah jelaga nafsu di cermin semesta.
Mandala dan dunia.
Akulah lelaki dan lelakonnya yang
terjebak antara libido dan eros atma.
Engkau, Wajah Merona,
sepatutnya keindahan dalam mengurbankan rasa.
Ajarilah aku menjadi tangan hitam
di balik perayaan-perayaan suci.
Menjadi ular pembisik tanpa taring
yang dirindukan para penikmat doa.
Menjadi pecinta sejati.
Menjadi penyendiri bahkan dalam mimpi.
Bersamamu,
kelak cinta dan dosa manunggal dalam pada Aku.
Cobai aku dengan segala
kecantikanmu, Gadisku Yang Merona.
Injaklah aku sebagai alasmu.
Angkatlah aku sebagai kurbanmu.
Tumpahkan air matamu dari tuduhan riak zaman,
di pundakku.
Engkau Kekasihku Yang Sabar.
Lekuk tubuhmu yang gairah itu,
kuakrabi jengkal-jengkalnya bagai candu.
Dan tandukmu, aduhai Cinta,
wariskan sebelah padaku.