Malam Rabu di Kamar 701


Semut-semut berkarbu merayap di tepi Kali Item, meraung satu sama lain. Dahan mahoni bergoyang-goyang di pekarangan hotel, bayangannya seolah membantu para tamu untuk parkir teratur. Beberapa tahun kemudian, dia mungkin tumbang dan membantu para tamu itu mengklaim asuransi.

Dari kaca bening kamar 701, kuperhatikan lampu jalan jatuh ke muka kali, memercik seperti gerimis di atas tumpahan oli, dan aku mulai bicara kepadanya. Oy, Item, kubilang, sejak kapan kau menjadi pendiam, hitam pula? Dan kenapa? Apa kau masih ada hubungan darah dengan Laut Hitam? Tahu tidak, bagiku kau lebih cocok disebut kubangan—kubangan yang sangat panjang. Tidak ada yang bergerak, bahkan buih dan telur nyamuk, diam mengunci diri di permukaanmu. Kebetulan saja kau diberi nama “kali”. Si kali cuma diam. Oh, yaya, benar juga, kubilang, mungkin kau itu kali yang hanya bekerja di musim hujan, itu pun untuk menebar teror kepada warga Jakarta. Aku suka kali sepertimu.

Aku tidak bisa tidur malam ini. Jantungku girang betul karena besok perempuan itu akan datang. Dia sudah tahu hotel tempatku menginap, kubilang langsung naik saja, karena aku tidak suka jakarta dan aku tidak mau keluar kamar, bahkan sekadar untuk turun ke lobi. Tapi kalimat terakhir itu tidak kukatakan. Besok kami akan makan di auce. Entah itu restoran apa. Katanya lumayan mahal, dan dia sempat membatalkan rencana ini karena gajinya belum juga turun. Aku memaksa, kubilang ayo lakukan, aku ada uang, aku senang bisa memakai uangku untuk sesuatu yang kusayang.

Akan kuceritakan tentang gajinya, meski kalian pasti sedih.

Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adiknya masih kuliah. Kedua orang tuanya menggeluti usaha rumahan yang penghasilannya tidak seberapa. Dia bekerja mulai setengah enam pagi, menaiki KRL yang selalu kehabisan kursi, lalu pulang pukul tujuh atau delapan malam, lagi-lagi melalui KRL yang kali ini berisi orang-orang bau terasi, di sebuah perusahaan yang hampir semua pekerjanya beretnis Cina sementara dia seorang Sinaga. Gajinya 7 juta rupiah. Dari besaran itu, dia menikmati 11%-nya saja, dan sisanya, yang lebih besar, untuk keluarga. Gajinya dipakai untuk renovasi rumah orangtuanya, untuk biaya les dan kuliah adik, dan lain-lain, sampai-sampai dia pernah, di suatu malam menangis kepadaku sambil menunjukkan foto dress seharga 90 ribu, katanya, “Aku ingin sekali baju itu. Kenapa aku tidak bisa memenuhi keinginanku sendiri? Kenapa aku tidak punya uang untuk itu?”

Ada sesuatu yang salah, batinku, ketika dia bekerja selama dua tahun, bahkan dengan gaji yang pernah dua kali lipat dari itu, tapi tak sedikitpun dia punya tabungan. Ada yang tidak bisa kumengerti: dia sangat menghormati kedua orangtuanya, bertahan bersama mereka, di tengah tekanan semacam itu, dan ayahnya pernah mencibir, “Puisi-puisimu itu tahi ayam! Makan sana dari puisi-puisimu!”

Sebagai orang tua kau harusnya tidak begitu. Dimaknai dari sisi mana pun, itu tetap salah. Sangat salah. Dan kau layak mendapat bogem di mukamu.

Kubilang, kalau aku jadi kamu, aku mungkin sudah memisahkan diri dari orangtuaku. Aku tidak mungkin tahan. Sayangku akan tetap kepada mereka, tapi mungkin caraku akan berbeda.

Dia sangat mencintai puisi. Itulah satu-satunya tempat sembunyi. Bila kau main ke akun Instagramnya, kau bakal menemukan puluhan, bahkan ratusan puisi yang menjerit, menangis, dan tertawa untuk dirinya sendiri. Dalam salah satu puisinya, yang berlatar pintu KRL yang sedang bergerak cepat, dengan tone kuning senja yang pekat, dia bilang:

dia bertanya padaku,

‘bagaimana bisa menjadi sekuat itu?’

kubilang, ‘hidup tanpa pilihan.’

Astaga, dulu aku pernah bercanda: di jakarta orang melihat begitu banyak pilihan, tapi orang akan selalu memilih secara terpaksa. Jangan-jangan itu benar.

Kunaikkan suhu AC yang mulai keterlaluan. Kurebahkan tubuhku di kasur. Ponselku bergetar beberapa kali tapi biar. Aku sedang ingin bicara dengan diri sendiri dan tak ingin diganggu. Agar adegan ini lebih sinematik, kuputar New York, New York yang dinyanyikan Carey Mulighan. Lampu-lampu perlahan menjadi kunang-kunangnya Kayyam. Lampu-lampu pada dua menara sinyal menempias di mataku yang mulai tebal. Kali Item bergerak perlahan dan tenang, seperti Danube yang membelah Wina—yaya, yang ini berlebihan.

Jam 8.13 pagi seseorang mengetuk pintu. Dia berdiri di sana, dengan lipstik merahnya. Kausnya hitam berlengan panjang. Dia lebih cantik dengan celana jins seperti itu.

Obrolan kecil terjadi. Dia terlentang. Enak sekali jam segini masih bisa rebahan, katanya. Sesekali kupeluk lututnya yang terlipat. Sesekali dia memeluk tanganku yang tergeletak. Aku tidak tahu kenapa kami belum juga saling mencium. Kunyalakan lagi New York, New York. Di tengah lagu, dia memelukku lebih dalam, lalu menangis. Selama lima menit dia begitu, kubiarkan mengelap airmata dengan kausku, kuusap punggungnya pelan, kubilang, tidak apa, tidak apa, apa pun itu, tidak apa.

“Aku ingin jadi buah-buahan saja, aku lelah sekali,” katanya.

“Ya, ya.”

“Mau jadi buah apa?”

“Aku?”

“Aku mau jadi melon.”

“Aku salak.”

“Ganti lagunya,” katanya.

Let Me, Let Me, Let Me Get What I Want berputar dalam kamar. Kuusap pipinya yang basah. Kubilang, nanti kita naik Gocar saja ya, jangan busway. Mahal, katanya. Tidak apa, kubilang, aku sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang ini, dan aku ingin memakainya dengan ringan.

“Can I kiss you?”

Dia mengangguk.

Rileks, kubilang, kendurkan badanmu.

Dia punya trauma serius soal seks. Kalau kuceritakan, kalian pasti ikut berduka. Dan kalau tidak kuceritakan, kisah ini bakal tidak lengkap. Aku sebetulnya bosan menceritakan kesedihan, tapi bagaimanalah lagi, hidup memang berkutat di sana.

Saat kuliah, dia pernah hampir diperkosa—aku tidak tahu apakah penggunaan kata “hampir” di sini sudah tepat. Hari malam kala itu, dia baru saja menyelesaikan latihan paduan suara. Dia dan grup paduan itu akan berangkat ke Vienna bulan depan. Pada masa itu, dia juga seorang atlet renang muda yang punya prospek bagus. “Dulu, jarak 50 meter bisa kutempuh dengan 38 detik,” katanya, “tapi sekarang 3 menit pun sudah cukup bagus.” Tubuhnya diseret oleh pemabuk, di sebuah gang menuju kamar kos, ke sudut aspal yang tak terpantau lampu jalan. Kakinya dikangkang. Kedua tangannya dicengkram. Lelaki itu melepas kaus. Entah apa saja yang sudah diraihnya dengan tangannya yang kasar dan mulutnya yang bau bangkai. Perempuanku ini tidak bisa menjerit. Dalam sekian waktu dia hanya bisa menoleh ke sana-kemari berharap seseorang melintas di sana. Seseorang melihat kejadian itu namun lebih memilih sembunyi ke dalam rumahnya. Sayangnya ini bukan sebuah film. Tak seorang pun datang. Dia mengumpulkan tenaga, meledakkannya dalam sekali hentak, dan berhasil memberontak. Dia lari seperti anak gajah linglung. Sejak malam itu semuanya jadi berbeda. Dia gagal menuju Vienna. Dia gagal menjadi atlet renang tingkat provinsi. Dia gagal ini, dia gagal lainnya. Selama bertahun-tahun dia tak mampu melihat lelaki yang telanjang dada.

Sentuhanku kepadanya adalah sentuhan yang berisi kegentingan. Aku tidak tahu titik-titik rawan pada dirinya dan bisa saja kusentuh itu tanpa sengaja. Kuciumi pipinya, hidungnya, matanya, keningnya, kubilang betapa aku menyayanginya, I love you berpuluh kali, I love you dikali seribu.

“Can I give you a hikki?”

“Apa itu?”

“Aku bakal menciumi lehermu. Mungkin akan ada gigitan kecil juga.”

“Harus ya bertanya dulu?”

“Aku mau memastikan kamu siap.”

Dia mengangguk.

“Kamu tidak suka pijit ya?”

“Kadang dipijit adik. Kenapa?”

“Badanmu kaku sekali.” Kutatap matanya sebentar, “Itu bukan masalah sih, tapi kamu akan lebih senang kalau bisa lentur. Kamu kurang rileks.” Aku terdiam lagi. “Tapi mungkin solusinya bukan pijit, tapi keluar dari Jakarta. Jakarta ini toksik.”

Kembali kuciumi pipinya, keningnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya, lalu lehernya. Kusentuh belakang kepalanya. Kuraih lengan satunya. Sesekali kubilang  aku ingin kamu bahagia. Kubilang orang harus menyayangi diri sendiri. Orang harus jujur tentang apa yang dia mau. Dan aku berulang-ulang berkata pada diriku sendiri, jangan lukai perempuan ini, jangan jadi lelaki brengsek, dengar apa yang dia mau, dengar semua ceritanya, temani dia seperti kau menemani dirimu sendiri saat sedang lelah-lelahnya.

Dia menggores-gores jarinya di keningku. “Coba tebak aku gambar apa,” katanya.

Aku pura-pura berpikir. “Oh, simbol hati ya?”

Dia mengangguk gesit. Wajahnya berbinar seperti anak lelaki bermain pistol air. “Kamu pintar sekali. Kamu lelaki paling pintar yang pernah dekat denganku. Coba tebak lagi ya,” katanya. Ujung telunjuknya meliuk lagi di keningku.

Kali ini aku sulit membacanya.

“Nyerah?”

“Sebentar. Ular ya?”

“Bukan.”

“Api?”

“Bukan.”

“Hmmm, tambang?”

“Nyerah.”

“Itu taik.”

“Anjirlah.”

Tengah hari kami keluar. Di auce, yang ternyata adalah singkatan dari All You Can Eat, pelayan menawarkan potongan harga dengan Ovo atau dengan menginstall aplikasi tertentu. Tidak usah deh, kubilang, itu repot sekali, aku cuma ingin makan. Dia lagi-lagi menegurku. Kamu boros sekali, katanya. Kita tidak setiap hari bertemu, kataku, dan aku punya reward semacam ini buat diriku sendiri: karena aku tidak merokok, karena aku olahraga dengan youtube, bukan nge-gym, karena aku tinggal di kantor, bukan menyewa kos sendiri, aku menyediakan uang sebesar 1.000.000 rupiah per bulan untuk bersenang-senang. Bisa kupakai untuk mentraktir kawan-kawanku makan, karaoke, memberi tip besar untuk abang gojek, atau menyewa hotel yang agak mahal ketika ke luar kota. Ini hadiah untuk diriku yang mau berhemat.

“Aneh sekali,” katanya.

Dia mengambil potongan cumi dan bacon, aku mengambil cacahan ayam dan irisan sapi. Aku tidak yakin bisa makan banyak dan memang menghindari itu. Kepalaku jadi bodoh saat kekenyangan lalu aku akan kesal pada diri sendiri. Di meja makan, dia menata daging-daging di atas panggangan. Aroma bakaran segera merasuk ke hidung. Astaga aku sangat suka daging. Dan aku lebih suka wajahnya ketika mengunyah daging. Aku tidak boleh jadi orang miskin, batinku, aku harus punya uang untuk makan daging bersama orang-orang yang kusayang.

Coba kulanjutkan obrolan kami yang tertahan. “Aku sering tidak tahu uangku harus kupakai apa. Aku bukan orang yang senang jajan. Makanku sedikit. Pacar juga tidak ada. Jalan-jalanku cuma ke gunung atau pantai. Tapi seperti sekarang ini, aku senang melihat wajah orang yang kutraktir makan. Uang yang kupunya jadi terasa ada nilainya.”

“Ditabung saja. Kamu beruntung lho tinggal di Jogja. Anak-anak muda Jakarta sulit menabung. Tuntutan hidup mereka terlalu tinggi.”

“Anak muda Jogja malah tidak punya kesadaran soal menabung.”

“Uang mereka habis untuk apa?”

“Kopi dan senja dong.” Aku menahan diri. “Tidak lucu ya?”

“Garing banget. Lebih garing dari piring.”

“Aku ada rencana mau buka deposito atau reksadana.”

“Aku sendiri mau buka warung pecel lele. Buat sampingan saja.”

“Nah kan, anak Jakarta mikirnya sudah invest, bukan lagi nabung.”

Kali ini dia tertawa.

“Ya, ya, lele selalu prospektif.” Aku menahan daya kritisku. Membuka warung bukan perkara yang bisa dijadikan sampingan. Jikapun kau buka warungmu cuma di malam hari, siang harinya kau bakal sibuk mengurus ini itu. Tapi ini akan kukatakan lain waktu, mungkin saat kami berpelukan lagi, dan akan kusarankan dia untuk berjualan pakaian saja di medsos, atau menjadi reseller produk jadi. Itu usaha yang lebih pas sebagai sampingan, dan tidak terlalu beresiko kalaupun harus mempekerjakan orang lain sejak awal.

“Aku senang sekali,” katanya. “Ini pertama kalinya aku kencan di auce.”

“Aku juga senang kamu bisa jujur.”

Di mobil menuju hotel, dia tampak gelisah, yang kemudian kutahu karena menahan berak. Dia bisa makan 5 kali sehari dan berak 6 kali sehari. Dia juga mandi sebanyak 3 atau 4 kali dalam sehari. Kubilang, ¾ hidupmu dihabiskan untuk memesan makanan, melamun di toilet, dan nyanyi di kamar mandi. Ya, bukan cara yang terlalu buruk untuk hidup. Kutepuk-tepuk pahanya, kurabai lututnya, sampai dia kesal. “Jangan begitu,” dia bilang, setelah menyebut namaku dengan nada tinggi, “nanti kalau aku berak di lampu merah kamu mau tanggung jawab?”

Sampai di kamar, dia bergegas ke toilet, sekitar 2 menit saja, lalu keluar dengan wajah lebih cerah, tapi kemudian dia bilang tidak jadi berak. Beraknya tidak mau keluar. Aku tidak paham bagaimana perutnya bekerja. Perutku pun penuh sekali, dan aku tahu besok pagi pasti kukeluarkan semua. Kami saling memeluk lagi dengan perut yang bulat.

Kali Item tampak buruk rupa di siang hari.

Bunga Matahari dari Natania Karin dkk. berputar-putar dalam kamar. Coba perhatikan bunyi gitarnya saja. Coba perhatikan. Aku ingin memeluk gitarisnya.

Dia memindah-mindah saluran televisi. Ingin cari drama korea, katanya. Sampai akhirnya dia menyerah dan memilih menonton berang-berang mandi di NatGeo Wild.  Aku jadi teringat buku yang kubawa dalam perjalanan ini, Life of Pi, di sana aku mendapat gambaran lain tentang kebahagiaan para hewan. Orang kerap berpikir, hewan di kebun binatang tidak bahagia karena tidak hidup bebas. Pi menggugat: benarkah kebebasan itu membahagiakan? Kebebasan yang dimaksud adalah ketidakpastian dalam hidup. Dalam kebebasan, si hewan tidak tahu kapan akan memangsa atau dimangsa; dalam kebebasan, si hewan harus berhadapan langsung dengan manusia, sebagai musuh, bukan sebagai pengunjung dan yang dikunjungi. Di kebun binatang dia bisa makan dengan enak, punya teritori yang tidak perlu diributkan lagi, dan—“Eh, si anu sudah punya gebetan baru,” katanya, membuyarkan lamunanku. Dia tampaknya menyinggung sahabat terdekatnya, seorang perempuan cantik, muslimah tanpa kerudung, yang beberapa waktu lalu ingin kabur dari rumah, ingin bunuh diri, namun terlanjur beli tiket liburan ke Bali untuk pekan depan. “Gebetan barunya ini katolik,” sambungnya.

“Ya tuhan,” kulemahkan suaraku, “kenapa sih orang-orang ini. Mereka seperti sengaja mendekati patah hati.”

“Kamu juga. Aku juga.”

“Bodoh sekali.”

“Kenapa kita begitu?”

Aku menatap matanya ketika sesuatu muncul di kepalaku. Ya, ya, “Mungkin pada akhirnya kita hanya butuh orang yang mengerti dan ada untuk saat ini, bukan untuk bertahun-tahun apalagi selamanya. Kita begitu butuh terselamatkan meski hanya untuk satu atau dua menit berikutnya.”

“Seburam apa pun kondisi yang menunggu di depan.”

“Seburam apa pun.”

Dia menciumi wajahku. “Terima kasih,” katanya, “dicintai olehmu membuatku lebih sanggup mencintai diriku sendiri.”

Sabtu Pagi di Pondok Cina


Kau duduk bersila di rak nomer 806, dengan sweater wool berlengan panjang, menimang sebuah buku tipis—puisikah? Karya siapa? Kenapa kau masih membaca puisi di zaman seperti ini? Aku mengerti kenapa orang menulis puisi, tapi aku tak mengerti kenapa orang membaca puisi. Kau tak mendengar bunyi langkahku yang berbatu. Coba lihat, aku salah memakai sepatu. Harusnya tidak sepatu gunung bersol keras. Sampai akhirnya aku menemukanku, sepanjang pencarianku, di antara rak-rak buku yang tinggi dan manusia-manusia berwajah kaku, aku berjalan seperti tentara yang memasuki desa-desa. Kubalas tatapan mereka dengan dingin. Ramai sekali, dan aneh sekali, karena ini Sabtu pagi. Apa mereka tidak mengambil jeda dari berpikir? Apa mereka tak ingin bermalas-malasan saja di kamar?

Aku berdiri agak lama, menunggu matamu terangkat dari sana.

“Heh,” sapaku, yang dalam beberapa detik kemudian kusesali karena terasa kasar. Harusnya aku duduk saja di sampingmu, membiarkanmu tetap seperti itu. “Akhirnya,” lanjutku dengan lebih landai, “Tadi aku berputar-putar. Bahkan sempat nyasar ke ruang janitor. ”

“Janitor mana?”

“Dekat musola, pojok. Mereka tertawa saat aku tanya lantai dua.”

Kau tertawa, lalu berdiri, meletakkan buku itu kembali.

Kau tampak lelah tapi cantik. Atau kau cantik tapi lelah. Berjalan dengan kaki terseret, punggungmu bengkok, tanganmu terayun setengah-setengah, seluruh tubuhmu seolah menciut ke dada. Di dalam sana pasti ada sesuatu yang amat berat, ya, begitu, sesuatu yang ingin sekali kuketahui tapi akan kau sembunyikan baik-baik.

Berulang kali kulihat kukumu yang merah. Lipstikmu juga merah, menyala. Kau pernah bilang, semakin kau bersedih, lisptikmu semakin cerah. Ini waktu yang tepat untuk berjumpa.  Kita berjalan memutari danau, lalu berhenti di bangku semen yang kasar. “Aku suka bunyi air,” katamu, sembari menatap permukaan danau yang kusam. “Setiap kali mengantar adikku kuliah, aku pasti ke sini. Tapi aku tidak suka pohon.” Daun-daun jatuh bau ban terbakar. Orang bergerak melintas, dengan pembicaraan penting yang sebetulnya tidak krusial. Selalu saja ada hal yang dipenting-pentingkan padahal tidak berdasar. Kenapa tidak menepi, batinku, kenapa masih di kota? Kutatap wajahmu yang tak berkutik. Apakah manusia memang harus dekat dengan kantor, dengan kafe?

“Golongan darahmu pasti O,” katamu.

“Karena aku dermawan?”

“Bukan. Karena kita mirip.”

“Kita sama-sama dermawan.”

“Apa hubungannya?”

“Darah O selalu lebih banyak memberi. Mereka akan memberi semua untuk orang lain, tanpa pandang bulu, tanpa peduli apa yang telah orang itu lakukan, tanpa peduli dirinya sendiri menderita.”

“Platonik ya?”

“Goblok, lebih tepatnya.”

Angin ribut melintas. Daun jatuh menerpa kita. Bau hujan datang lagi. Kau bertanya hendak ke mana aku setelah ini. Kubilang, aku tidak tahu, mungkin akan ke Pasar Rebo, mengulang kembali rutinitasku ketika masih punya pacar di Depok, atau aku mungkin duduk lebih lama di sini, mungkin juga pergi ke Detos atau Margo City. Aku sedang berada di ambang.”

“Ambang?”

“Seperti orang mabuk.”

“Ayo kita ke Margo. Kebetulan aku mau beli Yakult buat adikku. Dia sedang sibuk belajar dan begadang. Oh, iya, aku pulang jam 3 ya. Adikku mau keluar jam segitu. Ada acara BEM katanya.”

Sedikit sekali waktu yang kita punya. Kau bisa mengucapkan dua sampai tiga maksud dalam satu tarikan napas. Luar biasa efisien. Luar biasa menakutkan. Dadaku jadi sempit.

Kita berjalan lagi. Entah kapan terakhir kali aku berdua dengan seorang yang kusuka, berjalan kaki, seolah tidak ada pilihan lain untuk bergerak. Aku suka keintiman yang lambat seperti ini, kalau bisa aku ingin selamanya. Masa tua pasti sangat merepotkan jika bergerak seperti kereta, mobil, pesawat. Aku ingin begini terus. Bagaimana jika kita punya anak—astaga, ini pertanyaan yang terlalu cepat. Aku tidak akan mengucapkannya. Bagaimana jika kita punya rumah agak menepi—ini pun terlalu cepat. Akhirnya aku diam saja. Kuhabiskan lebih banyak waktuku untuk menghafal gerak tubuhmu.

Di Margo kita lihat-lihat barang yang sebetulnya tak kita butuh ataupun ingin. Semata buat membuka peluang untuk lebih saling mengenal. Bagaimana ini menurutmu? Oh, ini bagus sekali. Ah, ini terlalu mahal. Aku ingin beli ini, katamu, tapi nanti sajalah, menabung dulu. Aku tidak pintar dalam belanja, kubilang, tapi aku tahu betul apa yang sebetulnya berharga. Mungkin karena itu aku lebih sering memperbaiki ketimbang membeli. Banyak barang lama yang kusimpan, juga masih kupakai, padahal bentuknya sudah tidak sedap.

“Aku tahu,” katamu.

“Tentu.”

“Aku orang yang sangat manja jika sudah dekat.”

“Aku tahu,” kubilang, mengikuti nada bicaramu, “aku juga orang yang sibuk berusaha membantu orang lain dan sangat layu jika berada di sisi orang yang kusuka. Semua orang butuh sandaran.”

“Aku pasti merepotkan.”

“Aku tahu.”

“Aku mau kuliah ke luar negeri.”

“Lakukan.”

“Tapi aku takut tidur dengan bule. Aku takut nanti hamil lalu mereka tidak mau menikahiku. Mereka sangat liberal.”

“Jangan hamil.”

“Seandainya terjadi.”

“Aborsi.”

“Tapi aku tidak mau lihat penis lain. Aku tidak mau membanding-bandingkan.”

“Maksudmu, kamu cuma mau lihat satu penis saja?”

“Iya.”

“Berat sekali jalan hidupmu.”

“Mungkin aku kuliah ke Singapur saja.”

“Tidak mungkin melihat penis di Singapur?”

“Bukan begitu.”

Kita memesan daging bakar yang ternyata terlalu manis. Rasanya seperti memakan irisan kol yang diberi kecap. Kaupanggil pramusaji untuk memotret kita. Ini pertemuan pertama yang sederhana, tentu saja. Mungkin kita sudah terlalu lelah mempersiapkan diri untuk jatuh cinta atau berusaha tampil agar dicintai. Cukup banyak obrolan terjadi sebelum akhirnya kita tiba di sini. Tapi semuanya biasa-biasa saja, sungguh membanggakan untuk dipercaya. Maksudku, coba kaulihat, di luar sana, sudah jarang sekali orang yang mencintai hal biasa-biasa saja.

“Aku bisa saja menyukaimu, seperti kamu kepadaku,” katamu, “tapi aku punya firasat buruk soal hubungan ini. Kita pasti menyakiti banyak orang. Itu akan menyakitiku juga.”

Astaga, “Mungkin sudah saatnya kamu melayani dirimu sendiri. Kita tidak mungkin hidup buat orang lain terus. Lama-lama kamu bakal jadi manusia yang merangkak. Bahkan jadi merayap, seperti kadal, tidak akan bangun kembali. Dan tidak akan ada yang mau hidup dengan kadal.”

“Aku sedang berusaha. Dan aku ragu.”

“Kamu berhak bahagia,” kubilang, dan kau cuma diam. “Aku sempat benci dunia karena ada banyak orang baik yang tidak bahagia. Sementara orang-orang jahat bisa dengan mudah tertawa.”

“Menurutmu kenapa?”

“Kita terlalu takut menyakiti orang lain.”

“Kita orang baik.”

“Tentu.”

“Tapi rasanya itu jahat sekali. Dan aku tidak tahu siapa yang sebetulnya jahat. Membingungkan sekali. Kenapa kebaikan harus menjadi sesuatu yang buruk?”

Di depan lemari es Carfefour, kau sempat menunjuk susu kedele kesukaanmu. Itu enak, katamu. Kau bisa meminumnya tanpa takut alergimu kambuh. Beli satu, kubilang, aku juga mau coba. Kubuka tutupnya yang keras dengan gigi, membuatmu sedikit khawatir, atau mungkin sebetulnya kau malu, karena orang beradab tidak akan melakukan hal semacam itu di keramaian. Mirip bubur kacang ijo, kubilang, tapi ini versi encernya. Dan aku suka.

“Kau suka mabuk?”

“Tidak,” kubilang, “aku sudah lelah.”

“Aku pernah mabuk sendirian. Saat itu aku di puncak kelelahanku. Tapi sudah kapok. Karena besoknya aku muntah-muntah di kantor. Isi kepalaku seperti tumpah semua.”

“Kemarin, saat sedang kacau, banyak kawan yang menawari minum, tapi aku akhirnya memesan teh jahe.”

“Jauh sekali.”

“Mungkin karena aku sudah cukup tua. Aku ingin melihat kegelapan dari jarak yang amat dekat, dengan mata yang benar-benar jernih dan segar.”

“Tidak lagi seram ya? Haha.”

“Seram. Sebetulnya masih seram. Tapi semua bisa dibicarakan.”

“Kamu pernah narkoba? Atau gele?”

Kuperhatikan caramu meletakkan belanjaan di kasir, caramu membetulkan sweater yang terbuka; kau seperti seorang ibu beranak dua yang sudah tak punya duri di luar tubuhnya. Rok panjangmu, juga ikatan rambutmu yang sembarangan, tidak terlihat seperti gadis yang hendak kencan. Dan aku suka lipstikmu yang perlahan luntur, menampakkan warna asli bibirmu yang pucat. Aku suka bulu betismu yang tidak kaucukur—tidak sempatkah? Atau sengaja? Itu tampak begitu manusiawi. Itu tidak Jakarta, juga tidak Depok sama sekali.

“Rileks sajalah,” kubilang, “jalani sejauh mungkin, dan jika akhirnya kamu bertemu yang lebih tepat, silakan.” Aku tahu sebagian diriku kembali patah ketika mengatakan itu. Ini bukan kali pertama aku jatuh kepada perempuan dengan agama berbeda. Dialog-dialog lama, argumen-argumen lama, dan ketidakpercayaan diri yang sama, muncul kembali. Aku sudah cukup dewasa untuk bicara kepada orang tuaku, batinku, tapi mungkin lain bagimu. Ya ampun, ini menyebalkan sekali. Kenapa kebahagiaan begitu berbahaya untuk didekati? Ini Sabtu pagi, kau tahu. Harusnya kita malas-malasan saja di kamar, tidak perlu ke taman, apalagi ke pusat perbelanjaan. Kau bisa memasak tomyam di rumahmu, atau menonton netflix seperti orang-orang, sambil menggosipkan kehidupan artis-artis yang berantakan dan merasa menjadi manusia yang lebih baik karenanya. Aku bisa tergeletak, dengan dada telanjang, sambil membaca nasihat-nasihat Erich Fromm yang sok tahu itu.

Kita berjalan lagi menuju stasiun Pondok Cina. Kau mencarikan rute terdekat buatku kembali ke Ciputat. Turun di Tanjung Barat, katamu, lalu naik gojek. Aku sangat ingin menempatkanmu sebagai adikku, tapi sepertinya, pada akhirnya, akulah yang akan menjadi anakmu. Kau temani aku mengantre di loket. Kau bilang, hati-hati banyak copet, amankan dompet. Sepanjang perjalanan menuju Tanjung Barat, yang menempel di kepalaku adalah dompet dan wajahmu—wajahmu di dalam dompetku, dompetku di wajahmu. Aku senang bisa memikirkan kalian bersamaan. Aku ingin kalian berdua aman. Sungguh.

Tapi kenapa aku tidak sempat memelukmu. Kenapa kita berpisah begitu saja, seolah kita tidak saling menginginkan. Ini Sabtu pagi, tapi kita berpisah seperti di Senin pagi.

Bisakah bertemu lagi?

Semua Tikus Menyukainya


Dia mati gara-gara sakit ginjal. Umurku lima belas tahun kala itu. Kuletakkan rokok di tepi meja. Saat dia masih ada, tidak pernah kupahami kenapa dia merokok.

Rumah sudah tak ada pelayat. Doa-doa berhenti. Tikus dan rayap semakin banyak, mengambil ruang di bagian-bagian tergelap yang tak pernah kuurusi.

Kuambil lagi rokok itu dari tepi meja yang hitam terbakar, kunyalakan lagi, kutaruh di tepi bibir. Aku mulai paham kenikmatannya. Ibu tidak melarang. Dia sibuk menerka harga sofa, lemari, gitar, dan buku-buku yang menumpuk di kamar lelaki itu. Aku tidak melarang. Silakan saja. Sudah semestinya.

Setahun kemudian rumah menjadi peti kosong dan dalam kosong itu sepotong bunyi menjadi lolong yang panjang. Di malam hari, nyaring cicak mengetuk-ngetuk pintu, dan kerikit tikus membuat jalan pintas ke dalam lemari. Ibu makin jarang tinggal. Dia mengisi tubuhnya dengan lelaki lain dan pergi ke seberang pulau.

Dari kabar yang kudengar, dia jadi perempuan penurut. Dia mungkin sudah lelah berkelahi dan kini memberikan sisi tabahnya kepada lelaki lain.

Lelaki bajingan seperti ayahku tidak pernah mendapatkan apa yang harusnya dia dapatkan dari orang yang paling dia cintai. Pernah kudengar mereka bertengkar. Ibu membawa lelaki lain ke rumah. Dan ayah tergelatak mabuk di kamar, memainkan Fly Me to The Moon dengan gitar pemberian Yusi, drummer bandnya yang mati karena melompat dari apartemen.

Aku bisa bermain drum. Aku bisa menggantikan Yusi. Tapi ayah bilang, lebih baik aku jadi guru musik saja. Tidak perlu jadi musisi.  Sedang Ibu ingin aku jadi sarjana ekonomi.

Mereka berada dalam dosa yang sama tapi tidak pernah rela. Ibu berjanji akan berhenti merokok jika ayah berhenti mabuk. Ayah berjanji akan berhenti mabuk jika Ibu berhenti pacaran dengan lelaki lain. Ibu berjanji berhenti pacaran dengan lelaki lain jika ayah berhenti main musik. Di sinilah semuanya jadi mustahil.

Aku tidak pernah berjanji apa pun, tak pernah mengingkari apa pun. Aku sendiri di rumah. Uang rokok selalu dikirimi. Kadang kupakai membeli bir. Sekarang aku mengerti kenapa lelaki banyak mabuk. Sekarang ada lebih banyak hal yang kumengerti.

Aku terjebak dalam kepalaku. Aku ingin melubanginya. Aku akan keluar, lalu orang akan mengintip lewat lubang itu dan berkata, “oh pantas saja anak ini begini, oh pantas saja anak ini begitu.”

Manusia menyedihkan.

Lebih dari separuh populasi manusia tidak layak hidup dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang hidup layak. Aku pantas marah. Tapi sudah tak punya tenaga.

Julia mengunjungiku kadang. Dia akan berkata “yang benar saja, Oleg, masa uangmu sudah habis?” seolah baru pertama kali kuhabiskan uangku untuk urusan yang tidak jelas.

Uang hilang begitu saja. Seperti ingatan tentang hal-hal tidak penting.

“Cari sesuatu, pasti masih ada yang bisa dijual,” kubilang.

“Di kamar Ibumu masih ada piringan musik.”

“Aku harus menunggu satu tahun lagi untuk menjual itu. Kadang masih kuputar musik dari sana.”

“Kenapa satu tahun?”

“Tidak tahu.”

“Satu tahun itu lama. Kita jual saja dulu, nanti kalau ada uang lain, kita beli lagi yang sama.”

Aku tak membalas.

“Kamu takut ibumu marah? Kamu masih sering memikirkannya?”

Julia akhirnya tidak menyisakan apa pun di rumah itu. Perempuan sangat pintar urusan jual beli. Aku ingin melarang. Tapi sudah, biarlah.

Dia suka teler pakai zenith. Satu kali tenggak 20 pil. Kalau ada yang lebih murah lagi, dia pasti membelinya. Pernah kusarankan dia untuk mencampur ethanol dengan teh manis atau jus jeruk. Rambutnya semakin kacau ketika dia melakukan itu.

Kulihat matahari berputar-putar di lubang pintu. Kulangkahkan kakiku ke luar, dan tidak kutemukan siapa pun. Orang-orang sudah berubah jadi pohon-pohon yang bergoyang kena angin, jalanan diselimuti debu, bilah-bilah pagar terlepas berserakan. Kiamat sepertinya telah terjadi tanpa sepengetahuanku.

Rumput halaman tinggi. Malam nanti aku akan mencoba tidur di sana.

Di dalam Julia sudah tidak ada. Sebulan setelah hari itu, dia mati overdosis. Kasihan sekali dia mati dalam keadaan tidak sadarkan diri. Hal semacam itu tidak boleh terjadi padaku. Saat kematian mengunjungiku, tidak akan kututup mataku sedikitpun. Sampai selesai akan kusaksikan semua yang dia lakukan.

Sial, Julia, tanpamu aku harus membeli kebutuhanku sendiri.

Aku benci semua pegawai swalayan. Gaji mereka kecil. Aku benci semua orang miskin. Aku benci semua orang yang mirip denganku.

Langit begitu biru dan dia menatap mataku. Dia menemukan dirinya di dalamku. Biru tidak banyak bergerak, katanya, karena itulah biru istimewa. Biru tidak perlu apa pun untuk menjadi biru. Biru tidak pernah dilahirkan dan tidak pula berakhir. Tapi bantalku sudah hampir hitam.

Aku lupa kapan terakhir kali membaliknya. Dia sudah menempel dengan ranjang. Setahun lalu aku menaruh sebilah pisau di bawah sana. Alasannya tidak begitu jelas. Banyak yang mengikutiku dalam tidur. Mereka mengancamku berkali-kali. Dan mereka berada dalam diriku. Apakah pisau itu masih di sana?

Malam itu ibu bertanya, “Masih ada yang tersisa tidak?”

“Ada apa?”

“Aku sedang butuh uang.”

“Ke mana suami barumu?”

“Sudah tidak ada.”

“Mati atau bagaimana?”

“Semacam itu.”

“Bagaimana kalau rumah ini dijual saja lalu uangnya kita bagi? Aku sudah tujuh belas tahun lebih.”

“Kamu memang anak hebat. Pasti jadi orang hebat.” Dia mengulang-ulang kalimat ini seolah tidak pernah mengucapkannya.

Aku berjalan lebih jauh dari swalayan itu. Lebih jauh dari biasanya. Tubuhku ditangkap hujan yang jatuh selepas duabelas malam. Selokan muntah. Koper-koper, kursi, dan televisi berjalan menyelamatkan diri. Mereka bicara soal pekerjaan lain. Mereka bicara soal masuk kantor keesokan harinya. Sialan, kata si koper, musim hujan harusnya jadi tanggal merah. Tidur di mana kita malam ini?

Di atas rumput pekarangan, kuamati salah satu bintang. Kedipnya semakin lambat. Mungkin malaikat maut sedang mengintainya.

Salah satu lampu di rumah seberang menyala. Bayangan di jendela bergerak membesar dan membesar lalu jendela itu ditelan olehnya.

Sepasang sepatu putih keluar dari gelap. “Kenapa tidur di luar, Oleg?” katanya, “Kamu bisa mati kena malaria.”

Ada sepasang betis putih di atas sepatu itu. Kedua betis itu baru saja mencukur bulu. Aku ingin tidur di betis itu jika nanti bulunya tinggi.

“Kamu mabuk lagi, Oleg?”

Ada sepasang lutut di atas dua betis itu. Lutut pucat seperti wajah ayahku yang dikubur terlambat. Kami terpaksa menguburnya dalam hujan. Astaga, semua basah kuyup. Dan hujan hari itu semuanya menumpuk di punggungku, tidak pernah jatuh ke tanah.

“Ayo masuk ke dalam,” katanya, kali ini aku melihat sepasang dada, lalu sepasang pundak, lalu leher yang tipis. “Kubuatkan mi rebus,” katanya lagi. Dagu itu bergerak-gerak. “Bagaimana kuliahmu, Oleg? Syukurlah kamu belum mati.” Hidung itu kembang kempis. “Kenapa kamu biarkan semua berantakan?” Kening itu lebar sekali seperti kening seorang perempuan yang kubayangkan.

Ternyata sepasang tangan sedang menuntun tanganku. Kulitnya seperti pohon palem yang menunggu mati. Jari-jari itu melepaskan diri. “Duduk di situ,” katanya, “tunggu, aku masak mi dulu.”

Kunyalakan rokok. Kuletakkan di bibir. Kadang di tepi meja. Kusaksikan punggung itu bergerak ke sana ke mari. Dia bergerak cetakan di dapur yang sudah tak lengkap.

Saat kepala itu menoleh, sepasang mata lebih dulu melihatku. Kubalas dia, dan dia bilang, “Makan dulu, Oleg, setelah itu kita bicarakan pembagian uangnya. Aku tidak bisa menginap. Harus segera kembali.”

Di atas rumput ayah telentang di sampingku. Langit begitu biru. Dan jauh di sana kulihat dunia kerlap-kerlip. “Bertahanlah sampai usia tiga puluh. Setelah itu terserah, kau mau mati pun tak masalah,” katanya, “karena setelah itu tidak ada lagi musik, tidak ada lagi petualangan.”

Aku sudah hidup sejauh ini. Aku sudah menceritakan diriku kepada puluhan perempuan. Satu dua dari mereka tidur denganku lalu terbangun sebagai zombie. Aku tidak ingin mengulanginya lagi. Tapi apa lagi yang bisa dijalani?

Kebahagiaan adalah barang langka. Kebahagiaanku berada dalam dada orang lain dan aku harus mencabutnya dari sana. Terlalu banyak hal buruk di dunia ini. “Aku tak berani hidup terlalu lama,” kubilang, “mungkin hanya sampai dua puluh. Itu pun sudah lebih dari cukup.”

Kulupakan rokok di tepi meja. Kusambangi ranjang, kutenggelamkan tubuhku di sana. Bulan berkedip, bulan dengan kosmetik, menari-nari di lubang jendela. Ibu pergi meninggalkan aroma nanas. Semua tikus menyukainya.

 

Menangis di Tanggal merah (bag. 2)


Di 2017 kuingat 2007—apa saja yang terjadi di tahun itu?

Ibu menerima tamu lelaki dari Surabaya. Kepalanya berasap. Dia menelan kopi seperti oli. Kalau kamu tidak mau bantu, katanya, anak itu bakal hidup tanpa bapak. Apakah masalahnya? Aku tidak begitu mengerti karena pendengaranku kurang baik di siang hari. Ibu tidak meminjaminya uang. Orang itu pergi dengan wajah menghitam. Apakah masalahnya? Dari jendela kulihat dia merayap ke pagar rumah, sempat menoleh, lalu hilang. Malam harinya kucing kesayanganku mati tertimpa akuarium pecah.

Kucium aroma 2007 punyaku—berbau kayu kecapi dengan pernis cokelat. Sasi mengunjungiku di rumah baru itu. Masih muda sudah punya rumah sendiri, katanya. Aku bilang itu bukan apa-apa—cuma rumah sederhana. Kalau mau kerja keras orang tidak mungkin miskin. Haha. Benarkah begitu? Sasi cuma bercanda jadi aku tidak menjawabnya. Sudah tentu orang miskin tidak mungkin menjadi kaya—kecuali ada anomali. Tidak semua beruntung sepertiku: punya ayah yang mewariskan uang tanpa syarat. Kita akan tinggal di sini kalau menikah, kubilang. Dia menggeleng.

Keluar dari kantor, mampir dulu di hotel; mandi air hangat, karaoke dengan tiga perempuan telanjang; pulang bahagia sebagai lajang. Makin malam, lampu-lampu jalan menelanjangi kesepian orang dalam gedung-gedung. Trotoar basah. Aku berpapasan dengan lelaki itu—sudah kutunggu ini sejak lama. Kepalanya dibungkus plastik merah. Kenapa dengannya? Aku tidak bertanya langsung, dan dia berlalu begitu saja—mungkin karena dia tidak mengenalku. Kukejar dia, Bung, kubilang, ayo kita mabuk. Itu alasan saja agar dia membuka plastiknya.

Tidak mungkin kulakukan, katanya, kalau aku buka plastik ini, mulutku bakal meracuni banyak orang. Di mulutku ada flu yang sangat hebat. Dokter belum tahu cara mengobatinya. Aku akan jadi awal mula pandemik jika tidak segera dihabisi. Hehe. Tapi tidak masalah, yang penting plastiknya tidak dicopot. Lalu bagaimana cara mabuknya? Pakai sedotan kan bisa. Betul juga. Dia minum birnya dengan sedotan putih.

Kamu kenal ibuku di mana?

Kami sepupu.

Oooh. Jadi kita saudara ya.

Bukan juga. Kami sepupu jauh.

Bisa dijelaskan?

Sulit.

Yasudah.

Bisa pinjam uang tidak? Aku mau ikut asuransi. Tidak lama lagi aku mati. Nanti uang kematianku untuk Sasi. Dia anakku.

Cantik tidak?

Kamu pasti suka. Tapi jangan dekati.

Aku bisa menjamin masa depannya.

Tidak ada yang bisa menjamin masa depan.

Ibu pergi di tahun itu. Dia masih sempat marah padahal umurku sudah tiga dua. Cepat atau lambat kau bakal sekarat juga, katanya, kebebasan bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Aku sudah kebas. Saat itu Sasi belum ada jadi aku tidur sendiri. Kutatap lampu-lampu; kubayangkan salah satunya berkata, energimu besar sekali, kamu sungguh hebat, tidak banyak orang yang sekuat kamu. Aku tersenyum.

Lelaki itu bilang ibuku sudah sejak lama ingin pergi. Ada masalah apa? Setiap hari dia tersenyum. Setiap hari dia menyiapkan makan. Akulah yang lebih banyak terkapar. Aku suka sekali spageti buatannya.

Tiap kali Sasi berkunjung, kuminta dia ke dapur, menemaniku masak spageti. Kami masak berdua—bengong menunggu air mendidih, menunggu spagetinya lemas, menunggu matang sempurna. Sasi bilang kepadaku, ayahku melarangku untuk menikah denganmu. Alasannya? Kamu bukan lelaki yang cocok berumur panjang. Anakmu akan menjadi yatim sekalipun kamu masih hidup. Ayahmu lucu sekali, kubilang, kamu tidak menganggapnya serius kan?

Aku percaya ayahku.

Tapi anakku manusia, kubilang, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Toh orangtua sudah tidak relevan. Masa depan tidak butuh orangtua.

Aku tahu rasanya tanpa orang tua.

Aku tahu rasanya tak punya ayah. Biasa saja.

Tidak sama.

Ibuku juga kan sudah tidak ada. Biasa saja.

Tidak sama.

Di bagian mananya?

Sasi tidak menjawab. Dia balik bertanya, kalau aku yang tidak ada, gimana? Belum tahu. Mungkin juga biasa saja, kubilang.

Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama. Kita tidak mungkin menghitungnya dengan jari sekalipun cukup. Ada hal-hal tak tampak di sela jari-jari itu, yang selalu lepas ketika coba digenggam. Ingatanku semakin keropos saja. Hari itu kuajak Sasi belanja untuk memenuhi kulkas—aku benci kulkas yang tidak penuh. Di deretan sayur mayur dia ambil tomat dan wortel besar. Untuk apa? Sebentar lagi natal, katanya. Sejak kapan kamu jadi relijius? Ini bukan soal agama, katanya.

Kunikahi Sasi sepekan setelah kepergian ayahnya. Plastik merah itu dibungkuskan ke nisan. Apa artinya itu? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, semua merasa lebih baik jika itu dilakukan. Sudah kubilang aku bisa setia, kubilang. astaga, belum sampai satu tahun, dia bilang, tubuhku masih kencang. Nanti kalau aku sudah keriput kamu pasti tak tahan.

Cuma orang bodoh yang mencintai selama itu. Cinta itu melelahkan, Sasi,  satu hari sudah lebih dari cukup.

Baguslah. Haha.

Apanya yang lucu?

Aku sakit juga, seperti ibumu.

Aku diam saja. Aku diam berhari-hari. Saat itu 2007 mencapai akhir dan Sasi terbaring di rumah sakit. Kutanya dia, jadi kamu mau pergi juga? Buru-buru sekali. Dia terkekeh dan mengulang kata-katanya yang lain: cek kesehatanmu. Iya, iya, nanti kucek. Tapi kenapa sekarang Sasi? Kita masih muda. Belum punya foto keluarga.

2018 sebentar lagi habis. Bau ikan bakar.

Waktu akuarium itu masih ada, keluargaku seperti ikan-ikan di sana, menatap dunia dari dalam. Saat mati, mereka keluar dan melihat dari luar, bisa pergi kapan saja bosan. Sekarang tinggal aku, menatap dari dalam kendati sudah pecah akuariumnya. Pernah kumasukkan kepalaku ke dalam plastik merah yang kusut. Dari sana dunia lebih buram; benda-benda kehilangan bentuk, dan wajah-wajah berganti rupa—tapi itu artinya kita tidak lagi berpikir terlalu banyak.

Anakku sudah mulai TK. Dia takut padaku karena aku terlalu banyak bisu. Istriku semakin asin. Kami sudah berhenti ciuman sejak dua tahun lalu. Mungkin sekarang sudah asam pula. Bibir-bibir perempuan lain lebih lagi: rasanya seperti spon cuci piring. Aku sudah berhenti mampir-mampir. Selesai kerja langsung pulang, berkelahi dengan bantal, lalu tidur selama mungkin. Ada sesuatu yang harusnya kulakukan di tahun baru nanti.

Dia tidak pernah menyebut namaku. Hey adalah panggilan paling dekat antara kami. Dia sangat suka spageti dan percaya bahwa memotong spageti adalah tindakan buruk. Mungkin aku mencintainya tapi aku tidak terlalu menyukainya. Kalau dia pergi, aku akan biasa saja. Tapi bagaimana kalau nanti aku pergi? Ingin kutanyakan itu saat tahun baru. Dia belum cukup dewasa untuk mengerti.

Pergi ke mana?

Ke kehidupan berikutnya.

Apa aku tidak bisa ikut?

Kamu harus selesaikan dulu misimu di sini.

Apa itu?

Jaga ibumu. Jangan sampai dia menangis.

Siapa yang buat ibu menangis?

Cari tahu. Kasih dia pelajaran soal keluarga.

Sebulan setelah obrolan itu aku betulan mati. Istriku tidak pernah menginginkanku tapi kulihat dia menangis. Dari kematianku anakku menyadari bahwa sesuatu bisa pergi tanpa kembali. Di kemudian hari dia tidak pernah menunggu. Dia tak pernah mau meminjamkan barang, uang, atau berjanji. Dia tidak percaya pada perkataan baik yang belum terjadi. Dia sangat suka kereta karena kerena membantunya berpikir. Randu namanya—dia tumbuh sesuai dengannya: tinggi dan berduri. Setidaknya itulah yang kupercaya.

Bulan pertama 2019. Ingatanku terhenti.

Bagaimana dunia sekarang?

Menangis di Tanggal Merah [bag. 1]


Kausumbat kupingmu di komuter yang sesak. Orang-orang bermuka kuning. Di layar kecil diputar iklan larutan penyegar cap Badak. bibirku tambah kering gara-gara iklan itu—aku lupa membeli minum sebelum naik. Bogor masih jauh.

Welefel you al, I’ll always make you smile … welefel you al … nanana … folefel.

Suaramu berulang, menyanyikan bagian yang sepertinya adalah refrain. Aku masih bisa menerima perempuan cadel, batinku, tidak apa, lanjutkan bernyanyi. Aku akan pura-pura tidak melihat ataupun mendengarmu. Aku tidak akan menegurmu. Biar kau malu sendiri.

Matamu terpejam. Sesekali telunjukmu terangkat dan bergoyang dengan kepalamu. Lagu apa yang sedang terjadi di sana? Tidak mungkin itu Scorpion atau Queen. Pasti Korea begitu, kan?

Aku ingin menawarimu duduk, tapi Bogor masih jauh. Tak sedikitpun kaubuka matamu.

Rumah-rumah kumuh melesat tak sempat dikenali. Seonggok mayat di Jatinegara akan masuk berita malam nanti—dan kau akan menontonnya tanpa kesan apa-apa. Seorang lelaki muda turun di  Tanahabang, mengantri di tangga naik, mengejar toilet sambil menggenggam penisnya yang hampir copot. Pintu kereta tertutup kembali dan seorang anak perempuan menangis mencari bapaknya. Kau masih bergoyang, bibirmu mengulangi refrain lagu sebelumnya. Aku berdecak.

Ini lagu jepang, kaubilang.

Oh. Seenak itukah?

Coba saja.

Judulnya?

Lupa.

Penyanyinya?

Coba Googling.

Suaramu tidak jelas.

Google kan sudah cerdas.

Kubuka google. Kereta berhenti. Kau menghilang. Kutemukan lagu berjudul Wherever You Are. Kuputar lalu kutempel di kuping. Bagaimana mungkin lagu semacam ini bisa dinikmati, batinku, saat kulihat punggungmu menjauh dari peron. Kereta kembali bergerak. Lagu itu kuhapus. Dan aku tak akan mencari tahu siapa namamu.

Naik Botol ke Bekasi


Sudah lama saya tidak jumpa dengan Muktar. Siang tadi sebuah surat tiba darinya. Tanggal 20 Oktober dia akan menikah dengan seorang perempuan dari Jawa. Itu pilihan yang hebat sekali. Tapi saya lebih terkejut dia bisa mengetahui alamat rumah saya. Tahun 2004 lalu, cukup lama saya di Aceh, bergerak dengan kawan-kawan relawan, tepatnya tiga bulan setelah tsunami menerjang. Muktar kecil kehilangan bapak—bahkan rupa mayatnya pun dia tak pernah lihat. Selama di sana saya menemani Muktar dan belasan anak lain yang kehilangan keluarga, kehilangan kawan, sekolah, mainan, rutinitas—yang konklusinya adalah kehilangan kehidupan. Banyak di antara mereka yang secara tak sadar menanam luka itu sangat dalam sehingga tak mungkin lagi dijangkau. Kami seperti petani yang menyirami pohon tomat yang sudah kering.

            Bulan kelima, sore hari, Muktar menghampiri saya dengan sebuah botol beling kusam. Wajahnya seperti orang melihat perampokan. Di tangan kanannya tergenggam lipatan kertas. Ini surat dari orang yang selamat, katanya, kita harus tolong dia. Saya raih kertas itu. Di dalamnya ada tulisan tangan yang jelek dan pudar, tampaknya ditulis dengan arang: “Sudah dua bulan saya di laut. Jauh sekali dari pulau. Saya sudah mencoba sekeras-kerasnya. Tidak perlu tunggu pulang.” Di baris yang berbeda, agak jauh dari dua baris teratas, dia menulis: “Tapi jangan berhenti ke laut. Buat kapal lebih besar!”

            Muktar percaya orang ini masih hidup. Dengan pelan saya bilang, surat itu mungkin ditulis dua atau tiga bulan yang lalu. Dia bilang, kalau orang itu bisa bertahan selama dua bulan, dia pasti bisa bertahan selama dua tahun atau sepuluh tahun atau selamanya. Orang itu pasti berada di kapal dan bisa memancing ikan, bisa menadah air hujan, dan pelan-pelan dia akan belajar membaca arah. Surat itu dibawa ke hadapan ibunya. Saya tidak tahu bagaimana respon sang ibu, yang pasti, keesokan harinya Muktar membawa surat itu ke kantor desa. Wajahnya belum tenang. Lusanya saya temani dia menemui Bang Cibil, orang SAR yang paling terkenal di tengah warga. Dengan penjelasan serupa namun semangat yang lebih menggebu, Muktar memaksa Bang Cibil untuk melaut bersamanya. Kalau ada Bang Cibil, penulis surat ini pasti bisa ketemu. Begitu dia bilang. Saya melihat bayangan luas samudra, amuk badai, gertak petir berkecamuk di muka Bang Cibil. Entah mana yang akan dia keluarkan lewat mulutnya. Dia minta Muktar mengantarnya ke tempat botol itu ditemukan.

            Kami duduk di tepi pantai. Air sedang surut. Lagi-lagi sore. Sampai sekarang saya masih kerap ke pantai, menunggu sore datang, dan membayangkan saya berada pada masa-masa itu. Banyak kesedihan di sana, tapi saat itu saya merasa ada dan berguna—ini rasa yang tidak terjadi setiap hari, jadi sangat berharga kendati buat dikenang-kenang saja. Sore itu kami banyak duduk, tak banyak bicara. Muktar sesekali melempar pecahan karang ke bibir pantai. Kalau kita pergi ke sana, berapa lama waktu untuk pulang, tanyanya. Bisa jadi kita akan berkumpul dengan mereka di sana, tidak akan pernah pulang, kata Bang Cibil. Itu bukan sesuatu yang buruk, hanya saja, itu sesuatu yang berbeda. Ibumu pasti merindukanmu. Adikmu juga. Aku juga, kubilang. Ada asin angin menggeliat, menggesek mata kami. Kalau kita ke sana pakai kapal motor yang cepat, atau pakai helikopter, berapa lama untuk pulang, tanyanya. Bang Cibil tidak menjawab.

            Kenapa kamu tidak kirim surat balasan saja? Suatu saat surat itu bakal sampai ke sana, kubilang. Muktar menekuk bibir, nanti suratnya cuma terdampar di pulau seberang, katanya, atau nanti suratnya terdampar di pantai ini lagi dan aku lagi yang membacanya. Itu memalukan sekali. Kalau kuserahkan surat itu ke polisi, kira-kira bisa tidak ya?

Muktar percaya ada orang yang mau membantunya. Dia tidak bisa percaya semua orang mengabaikan surat dari seseorang yang sedang terapung-apung sendirian. Saya senang melihat harapan sebesar itu dalam dirinya. Saya senang dia kembali mempercayai sesuatu. Sayangnya itu adalah sesuatu yang musykil. Bagaimana cara menjelaskannya? Waktu itu saya cuma bisa meresponsnya dengan jawaban-jawaban teknis, misal, “Mungkin kita harus belajar navigasi lebih dulu. Kamu harus selesaikan sekolahmu lebih dulu. Harus mempersiapkan banyak hal karena laut sulit dimengerti. Harus mulai meminta izin ibumu dari sekarang. Itu tugas paling sulit karena kamu tidak mungkin berangkat tanpa doa dari ibumu.” Saya tak tahu akan menjawab apa jika esok atau lusa dia bertanya apakah saya akan ikut berlayar dengannya. Saya beruntung dia tidak pernah menanyakan itu.

Perempuan yang akan dinikahinya bernama Cindy—nama yang cukup modern jika dibandingkan dengannya. Tapi Muktar cocok memakai nama tua. Saya tidak pernah mengingat Muktar sebagai bocah. Dalam kepolosannya dia menyimpan ketabahan jiwa-jiwa tua. Dia menjadi satu dari sekian anak yang kesadarannya melompat gara-gara bencana. Entah ini disebut berkah atau bukan, yang pasti, hal semacam ini pun tak terjadi setiap hari.

Sehari sebelum saya pulang ke Bandung dia berkata, kapan-kapan aku main ke sana naik kapal. Di Bandung tidak ada pelabuhan, kubilang, Bandung di tengah daratan. Tolong dibuatkan untukku, katanya, sambil tertawa. Saya lupa di mana menaruh foto kami bertiga—dengan Bang Cibil. Seharusnya ada di laci lemari pakaian, tapi lemari itu sudah diganti dan lemari yang sekarang sama sekali tanpa laci. Muktar sekarang pasti sudah berkumis. Saya harap saat menikah nanti kumisnya tidak dicukur karena saya masih senang membayangkan dia berkumis. Yang harus dipikirkan sekarang, bagaimana cara mempercepat pelayaran saya ke Papua yang baru akan selesai satu minggu lagi. 

Menonton Oktober


Mendung Oktober masih bermain-main dengan nasib buruk orang Jakarta. Kita dibiarkan menunggu dan berharap, membosan dan akhirnya mengutuk. Aku yakin sesuatu terjadi di balik hitam itu. Mungkin hujan telah terjadi namun ia mengambang di atas sana. Mungkin petir dan badai bergumul setiap sore, tapi mereka enggan mengajak kita. Mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu yang besar dan hendak menenggelamkan kita. Apa yang salah dengan kita. Kita orang yang baik dalam bergaul. Kita berdoa secukupnya. Kita tidak pernah menuntut sesuatu berlebihan. Punya kekasih sederhana, gaji secukupnya, cita-cita sampai seminggu ke depan, sudah lebih dari harapan orang-orang biasa. Tapi itu biasa saja. Kita tidak layak kena azab. Tuhan sangat keliru kalau rumah kita ditaruh dalam banjir. Tapi pasti ada yang salah dengan kita. Harus ada yang salah. Tidak mungkin mencari kesalahan tuhan.

Kaulihat perempuan dengan ikat pinggang merah itu. Dia berjalan cepat melintasi lampu merah yang hampir tandas. Dua puluh meter di belakangnya, berlari seorang lelaki dengan setelan lengkap minus dasi—dia hampir saja tertabrak motor matik dengan nomor polisi yang sudah kadaluarsa. Jika hujan tak segera turun, sebentar lagi mereka tiba di meja kita. Keduanya teman lamaku ketika SMA. Mereka berpacaran sampai sekarang, dan aku mulai membenci itu. Aku sudah janji kepada diriku sendiri: hari ini mereka akan putus. Belum kupikirkan bagaimana caranya.

Di seberang jalan gerimis turun. Keduanya berhenti di bawah kanopi hijau sebuah kafe. Pulanglah sendiri, katanya, ajak cewek barumu itu. Dia jelas lebih seksi. Si lelaki membalas, dia itu cuma teman biasa, kami tidak ada hubungan spesial apa-apa, paling jauh cuma ngopi saja. Si perempuan melengos, kenapa tidak ngopi denganku saja? Apa aku kurang pintar soal kopi? Kenapa harus mengajak orang lain untuk hal sesepele itu? Aku tidak tahu, kamu tolol sekali, kata si lelaki. Kita sudah merdeka, sudah pakai demokrasi, tapi kenapa untuk hal-hal seperti ini kamu masih belum paham?

Setitik hujan jatuh di ujung kepalaku, cukup besar, menembus kulit. Setetes lagi mendarat di kopi yang dingin, terciprat ke lengan baju yang tak kugelung. Di langit pun sedang terjadi keributan. Saat ini tak bisa dibedakan mana keringat mana tangis—yang turun dari langit kita sebut hujan. Aku ingin masuk ke dalam tapi dari dalam tak bisa kulihat mereka. Kutunggu mereka selesai berkelahi. Kuharap mereka segera menoleh ke arahku jadi kami bisa ke dalam bersama. Aku tidak mau mereka putus tanpa andilku. Terserah, kata si perempuan, sekarang kamu boleh ngelakuin apa pun dengan cewek itu. Aku tidak bakal melarang. Kami cuma ngopi, kata si lelaki, dan tidak ada yang spesial dari kopi. Aku tidak membelikannya mobil atau apartemen. Cuma kopi. Cuma segelas kopi. Harganya tidak lebih mahal dari sushi yang biasa kubelikan buatmu.

Tapi si lelaki ini—enggan kusebut namanya—memang playboy sejak SMA. Aku tidak kebagian pacar gara-gara dia. Semua perempuan melihat ke arahnya. Hanya perempuan-perempuan jelek yang tidak berharap padanya. Dan perempuan jelek itu pun tidak melihat ke arahku. Mereka lebih banyak menunduk seperti sedang belajar mencintai tanah. Soal kopi dia rewel sekali, terutama di depanku, dia sok paling mengerti. Dia biasa memesan segelas kopi yang mahal cuma untuk bilang kopi itu tidak enak. Lalu dia akan bilang bahwa dia pernah mencicipi kopi gajah, kopi panama, blue montain, dan kopi-kopi lain yang namanya membingungkan. Bagiku, asalkan pahit, sudah kopi. Aku malas membebani otakku dengan urusan-urusan lidahku.

  Bene—si perempuan, lengkapnya Benedikta—sudah kusuka sejak sekolah menengah pertama. Dia perempuan yang juga menjadi pusat para lelaki. Aku tidak cukup jelek untuk memalingkan muka, tapi juga tak cukup keren untuk meminta langsung. Kudekati dia sebagai teman. Kutunggu saat-saat dia patah hati dan mungkin menaruh pipinya di pundakku. Ternyata tak mudah menunggu orang patah hati. Lebih mudah jika kau membuatnya sendiri. Aku lumayan hebat soal itu. Ada setidaknya tiga perempuan yang kubuat menangis. Satu, ibuku. Dua, adikku. Ketiga, guru matematikaku. Bene sering bilang kepadaku, kamu tidak seharusnya bergaul dengan orang-orang seperti kami, kamu itu orang baik-baik. Entah apa maksudnya orang baik-baik. Aku kesal tiap kali dia menyebutku baik sebab aku merasa dia menuduhku tak layak untuknya, bukan sebaliknya. Lelaki brengsek lebih layak baginya. Dia lebih layak untuk disakiti. Lebih senang ketika jadi orang yang dicurangi. Aku setuju dengan lelaki itu: demokrasi tidak berguna banyak dalam hal ini.

Hujan semakin banyak. Mereka masih ribut. Suaranya makin hilang. Semakin tebal hujan menutup penglihatanku. Tapi sedikit kulihat Bene bergerak, dia pergi dari sana, bergerak ke arahku. Rok kremnya tak lagi mengembang. Pahanya yang jenjang tercetak seperti dua batang es krim. Dia terus menunduk. Aku berharap dia segera mengangkat wajahnya dan melihatku. Lelaki itu tak lagi mengejar. Dia berjalan ke arah yang berbeda, menaruh telapak tangannya ke dalam saku.

Tersisa jarak lima langkah antara Bene denganku. Dia akhirnya mengangkat muka. Dia menatapku. Aku tak melihat apa-apa dalam tatapannya. Dia melintas begitu saja. Belum terlihat penjual payung atau sejenisnya. Tak ada yang mengira hujan akan serius hari ini.