Yang Hilang Namun Tak Pergi


dsc_0200

            Dalam subuh yang dingin dan mendung, Rabu, 21 September 2016, saya berangkat menuju Stasiun Senen dengan keril besar yang terisi penuh dan menenteng sebuah gitar yang dibeli dari seorang kawan yang merawatnya seperti merawat anak kucing. Keberangkatan kali ini terasa berbeda. Beberapa kawan sempat memberi saran yang berisi “jangan”, beberapa lainnya bilang bahwa mereka sama sekali tak suka perpisahan namun pada akhirnya yang meninggalkan selalu punya kuasa lebih kuat ketimbang yang berusaha menahan. Pagi itu saya diantar oleh beberapa kawan yang sengaja begadang dan bangun pagi hanya untuk menjabat tangan saya sebelum saya pergi. Tujuh tahun saya tumbuh di Ciputat, khususnya di koskosan milik Azumardi Azra iru.

            Pada hari yang melelahkan, usai merapikan Asrama Kampus Fiksi bersama seorang kawan, Kamis, 22 September 2016, hujan mengguyur Gedongkuning sedangkan selepas isya nanti kami harus pulang dan mengikuti darlingan (pengajian) yang rutin dilaksanakan oleh Pak Edi Akhiles dan kawan-kawan. Saya melepas celana panjang saya lalu menyembunyikannya di perut. Celana itu tak boleh basah, kata saya, soalnya itu satu-satunya celana yang layak dipakai untuk beberapa hari ke depan, saat Kampus Fiksi 17 digelar. Kawan saya, Imam, dengan gegas memakai jas hujan dan saya menyelinap di belakangnya. Meluncurlah kami, basah-basahan, sembari diam-diam saya mengingat bahwa di waktu yang sama, di Madura sana, seorang kawan yang saya anggap kekasih, atau seorang kekasih yang sudah saya anggap kawan, melangsungkan pernikahan dengan lelaki baik hati yang sanggup membuatnya tertawa dengan cara-cara yang sepele.

            Pada Kampus Fiksi angkatan sebelumnya, saya biasanya menemani Kang Kiki, supir berdarah sunda namun berwajah ‘timur’ yang bisa memarkirkan mobil dengan satu tangan, ketika tangan lainnya menggenggam ponsel yang terhubung dengan calon peserta Kampus Fiksi yang datang dari luar kota dan butuh penjemputan di stasiun, terminal, atau bandara. Kiki bisa membuat sebuah perkenalan menjadi perkara yang sangat mudah. Lawakan-lawakan ala orang Sunda sering mencuat dari bibirnya ketika kami menjemput dan mengantar peserta. Tapi di hari Jumat yang berawan, dalam Xenia hitam yang ACnya menguarkan aroma karpet tua, 23 September 2016, saya tak lagi mendapati Kiki di bangku supir. Dia memilih kembali ke kampungnya dengan alasan-alasan yang tak mungkin bisa dibantah oleh saya, Imam, atau siapa pun yang merasa tak rela dia pergi. Kemudi mobil penjemputan diserahkan pada Imam, kawan saya yang sempat kesulitan memarkir mobil di ruang sempit depan Stasiun Lempuyangan sehingga saya mesti ikut memberi acuan. Saya tak bisa mengemudikan mobil, tapi saya hafal cara Kiki parkir.

            24 September, saya sempat lupa pada perpisahan-perpisahan itu. Saya asyik berkutat dengan kamera, memotret momen-momen menarik di Kampus Fiksi 17 dan mencoba merekam beberapa sesi untuk dikemas dengan lebih menarik dan di-upload di Youtube. Saya kira dokumentasi Kampus Fiksi akan lebih menarik jika seperti itu. Tapi ternyata saya kewalahan dan malam itu hujan turun kembali. Para peserta Kampus Fiksi 17 yang semestinya punya waktu jalan-jalan setelah shalat maghrib dan isya berjamaah, akhirnya tetap ngobrol-ngobrol dalam ruangan. Manchester United menang besar. Saya lantas teringat Mas Hamid, seorang fans MU yang biasanya bergotong royong dengan saya dalam mengedit foto dan membuat video dokumentasi Kampus Fiksi. Dia, juga Mas Mukhlis, tidak hadir di Kampus Fiksi kali ini. Saya kangen melihat kepulan asap rokok mereka, dan itu mengungkit banyak ingatan baik lainnya yang terjadi antara kami beberapa tahun ini.

            Hujan terus berjatuhan seolah berusaha memanggungkan isi hati saya. Tapi saya tahu bahwa saya tak sepenting itu. Tapi bisa saja hujan itu sedang memanggungkan isi hati banyak orang. Toh, bukan cuma saya yang sedang becek. 25 September 2016, saya beberapa kali menasehati diri sendiri untuk makan. Entah karena terlalu asyik atau terlalu bingung, saya tidak berhasrat untuk makan. Jam lima sore, ketika mengutak-atik video dokumentasi yang akan dipentaskan dua jam lagi, saya dibuatkan mi goreng oleh Danik, gadis penyiar radio yang masih menunggu jodoh di umurnya yang mendekati kepala tiga. Mi goreng itu terasa hambar sekali. Saya sempat mengira lidah saya sudah ikutan mati rasa. Setelah saya cek ke dapur ternyata Danik lupa memupurkan bumbunya. Saya pura-pura ngomel, dan Danik tertawa. Entah yang lucu itu omelan saya atau kekonyolan dirinya sendiri.

            Di malam itu pula Kampus Fiksi 17 ditutup. Asrama Kampus Fiksi menjadi sepi dan saya selalu ‘benci’ ketika menjadi yang terakhir berada di sana, melihat satu per satu menghilang dan entah kapan bisa jumpa lagi. Saya baru bisa tidur jam setengah tiga pagi, 26 September 2016, setelah ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa orang yang tersisa. Kampus Fiksi kali ini tidak seramai biasanya bagi saya, tapi saya rasa saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar orang lain tidak merasakan hal yang sama. Saya berhasil menjadi pendiam-yang-berisik yang lebih mahir dari sebelumnya. Dan sore ini, ketika tulisan ini dibuat, saya mendapati diri saya tinggal berdua dengan Miko, peserta yang pulang terakhir. Saya baru ngeh dunia mulai gelap ketika Miko meminta izin untuk menghidupkan lampu kamar. Dia lalu bertanya apakah saya memang selalu memasang musik melow ketika menulis. Saya bilang, musik membantu saya mencapai fokus. Pada titik tertentu, musik itu akan hilang dari pendengaran saya, meski sebetulnya dia tidak pergi.

            Kabar baiknya, di balik cerita orang-orang yang hilang itu, ada yang datang ke dalam hidup saya, yang posisinya tidak akan pernah saya jadikan pembanding atau substitusi dari yang sebelumnya. Ada kawan-kawan asrama DIVA Press yang hidup mandiri dan saya kerap melihat ketulusan di mata mereka. Ada Imam, tandem baru saya dalam antar-jemput peserta KF. Ada Pak Edi Akhiles, orang tua saya di Jogja, yang kebaikan-kebaikannya sudah sering saya ceritakan pada ibu bapak bilogis saya dan membuat mereka haru. Keberadaan Pak Edi pula yang meminimalisir rasa khawatir mereka ketika mendengar saya akan pindah ke Jogja. Gara-gara nasihat beliau pula saya berniat kembali merutinkan shalat. Dua bulan lagi, angkatan KF berikutnya bakal kembali membuat saya antusias, letih, bahagia, dan terharu di akhirnya. Oh iya, ada Eki, alumnus KF16 yang menyatakan kesiapan jika dimintai tolong untuk merekam acara KF. Dia mencintai handicam, katanya. Masih ada pekerjaan lain, pengalaman baru, dan lain-lain. Saya bahagia bisa merasakan hal-hal semacam ini.

            Semoga kalian baik-baik di sana, sebab saya sudah rela. Kapan-kapan saya bakal mengunjungi kalian, bukan buat mengungkit kenangan atau persoalan yang membuat kita berpisah. Sebatas ingin menyampaikan pesan bahwa orang-orang baik tidak semestinya saling melupakan.

Pacarku Memintaku Jadi Matahari


            “Aku sayang kamu. Tolong abaikan bahwa kita baru pertama kali ketemu,” kata saya pada perempuan berambut panjang agak awut-awutan itu. Kami bertemu di kereta, pada bangku nomer 13A dan 13B, berdempetan di udara yang dingin. Kalau tak ada dia, saya pasti sudah ngomel lagi pada AC kereta yang kerap kelewatan. Selain perkara AC, saya rasa kami sama-sama tak suka keberadaan orang lain, makanya kami memilih nomer kursi itu. “Mungkin kita tak akan ketemu lagi. Atau mungkin nanti kita ketemu lagi tapi saya sudah tak cinta. Jadi saya harus bicara saat ini juga,” lanjut saya.

Dia menatap kaca kereta yang ditaburi gerimis. Di luar sana malam sedang berlangsung. Tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan yang memantul ke dalam matanya. “Hidupku tidak lama lagi,” katanya. Dia lalu tertunduk kepada jari jemarinya yang saling menyentuh. Adegan semacam ini harusnya hanya terjadi di drama Korea, tapi ya sudahlah, nyatanya ini saya alami. Lalu, seakan masih kurang drama, atau dia mungkin ingin bermain-main dengan kepala saya, dia bilang, “Tinggal satu tahun lagi. Ada kanker di payudaraku.”

“Tidak apa-apa,” saya bilang. “Saya tidak butuh tahun depan. Bahkan tidak butuh hari esok. Cukup saat ini saja.”

“Aku bukan perempuan macam itu,” balasnya dengan pelan.

“Lalu yang bagaimana?”

“Di Kroya aku turun.”

“Lalu?”

“Namaku Ratri.”

“Lalu apa?”

“Aku anak satu-satunya.”

“Apa urusannya dengan saya?”

Dia menatap saya. “Bagaimana bisa kamu bilang cinta padahal belum kenal sama sekali?”

“Apa itu mustahil?”

Dia membeku.

***

Ibu, pacarku ingin aku jadi matahari.

Itu yang saya bilang ketika sampai rumah. Tapi ibu sedang mengurusi kebun kencur yang luasnya 20 hektar dan letaknya di seberang sungai dan ayah masih di hutan mencari pakan sapi. Sebentar lagi lebaran haji, sapi kami yang jumlah seribu lebih harus dibuat obesitas agar harganya mahal. Sambil menunggu mereka pulang saya terus memikirkan bagaimana cara menjadi matahari. “Aku terima ajakanmu,” kata perempuan itu, sesaat sebelum kereta sampai di Kroya. “Mulai detik ini kita pacaran dan permintaan pertamaku…,” begitulah. Saya sempat tanya apakah matahari ini diartikan secara kiasan. Dia bilang tidak. Dia ingin saya jadi matahari sungguhan.

Terdengar suara ayah lewat di depan rumah dengan seekor sapi kesayangannya. “Buah buah apa yang tiap kali digigit rasanya berbeda?” Mereka sedang tebak-tebakan. “Salah!” lanjutnya. “Masih salah!” katanya lagi. Lalu dia terbahak. Agak kurang jelas di kuping saya tapi saya masih bisa dengar si sapi berusaha kembali menebak, “Buah-buahan yang ada di rujak!” Dia terdengar meyakinkan tapi lagi-lagi ayah bilang dia salah.

“Yang betul itu buahasa!”

Saya terkekeh.

Sapi bernama Yuan itu melenguh kesal.

Tak lama kemudian ibu lewat di depan rumah dengan segenggam kencur di tangannya. Dia berlalu menuju belakang rumah sambil memerahi beberapa ayam yang belum masuk kandang. “Bentar lagi malam, pulang-pulang! Jangan main terus! Anak-anakmu mana? Ini masih kurang satu.” Ibu terus ngoceh. Saya tidak tahu kelanjutannya bagaimana, tahu-tahu Ibu dan Ayah sudah tiba di dalam rumah dengan badan yang wangi, baju yang sudah ganti, dan wajah semringah. Lalu saya bilang soal permintaan pacar saya.

“Ini persoalan pelik,” Ibu bilang. “Mendekati mustahil.”

“Pacarmu itu orang mana?” tanya Ayah.

“Kroya.”

“Baru jadi pacar mintanya sudah matahari. Gimana kalau nanti menikah? Dia mungkin minta kamu jadi dunia dan seisinya.”

“Jadi gimana?”

“Ya, terserah,” balas Ayah seadanya, lalu sibuk mengurusi tembakau keringnya. Dia melinting sendiri rokoknya. “Kalau butuh biaya, mungkin buat bayar guru atau sekolah atau apa pun itu, biar kamu bisa jadi matahari, kabari bapak. Nanti uang ditransfer. Sapi-sapi itu bakal beranak lebih banyak buat kamu.”

Saya menghela napas. Panjang sekali sampai-sampai saya hampir lupa melepasnya kembali. Sedang dalam-dalamnya melamun, Ayah kembali nyeletuk, “Perempuan selalu butuh pembuktian. Sangkuriang pernah jadi korban kerewelan perempuan. Bapak juga pernah. Dulu ibumu minta bapak mencangkul tanah berhektar-hektar sendirian.”

Ibu menatap saya, “Bapakmu salah,” katanya. “Bukan pembuktian. Perempuan cuma butuh merasa diperjuangkan. Semua perempuan spesial pastilah seperti itu.” Ibu mengalihkan perhatiannya ke betis Ayah yang sudah tengkurap sambil nonton Kera Sakti. Dia memijiti betis lelaki itu dengan tangan keriputnya, tangan yang sama yang pernah dipakai menampar Ayah sewaktu pulang berjudi. “Perempuanmu itu minta kamu jadi matahari, bukan minta matahari. Dia tahu soal harga diri.”

***

            Saya minta maaf tidak bisa menatap matamu ketika kita bicara, kata saya pada matahari. Silau sekali. Bisa-bisa saya buta sebelum obrolan ini kelar. “Gimana caranya saya jadi kamu? Gimana ceritanya kamu bisa jadi kamu? Pacar saya ingin saya ada di situ, menggantikanmu, buat dia. Tolonglah saya.”

            Matahari mengenalkan diri terlebih dulu. Namanya Lastri. Lalu dia menceritakan masa lalunya. “Dulu aku tinggal di sebuah gang kecil di kota Sabruch, di era ketika malam lebih panjang dari siang. Bahkan bisa dibilang tidak ada siang. Cahaya dihasilkan dari turbin yang menghasilkan listrik untuk seluruh kota. Ketika listrik dihentikan kami memakai getah-getah untuk menyalakan api kecil. Hujan badai turun di malam ketika adikku dilahirkan. Ibu berusaha keras, seorang dukun perempuan membantunya. Petir menyambar berkali-kali, terang sekali kilatnya, dan jantung kami serasa melompat tiap kalu gunturnya sampai. Salah satu petir membuat semua lampu mati. Semua jadi makin panik. Adikku akhirnya mati terlilit tali pusarnya sendiri.”

            Lastri sembunyi di balik awan. “Dukun itu memintaku pergi ke rumah lurah, minta agar listrik dinyalakan,” sambungnya dengan sayup. “Aku berlari menembus hujan, lampu akhirnya menyala. Lalu aku pulang. Sampai rumah, ibuku sudah mati juga. Matanya melotot, bibirnya terbuka, seolah jiwanya direnggut secara paksa.”

            Dia diam lama sekali, jadi saya menegur, “Lalu?”

            “Aku hidup sebatang kara.”

            “Kemudian?”

            “Aku sempat menyalahkan adikku atas kematian ibu.”

“Jadi bagaimana akhirnya kamu jadi matahari?”

“Kata dukun itu, adikku sudah berencana bunuh diri sejak dalam kandungan. Adikku tidak pernah berniat membunuh ibu. Dia hanya tidak tahu bahwa kesedihan bisa menjalar dan mematikan.”

Saya akhirnya diam.

“Aku gantung diri di bukit Tura, di era ketika tak ada lagi lampu yang cukup terang untuk mengisi hidupku. Seusai mati itulah jiwaku menjadi matahari.”

“Dramatis sekali. Jadi aku harus bunuh diri?”

***

            Kami jumpa lagi di Stasiun Kroya, enam bulan setelah pertemuan pertama. Rambutnya sudah tak lagi panjang dan lebat. Saya mulai percaya bahwa dia kena kanker, meski bisa saja botaknya diakibatkan oleh pembalakan liar yang dilakukan para kutu, bukan karena kemoterapi. “Kamu betulan ingin saya jadi matahari?”

            Dia tersenyum dan mengangguk. Gaun merah muda selutut yang disorot matahari sore itu nampak manis seperti gula-gula. Saya ingin menggigitnya kalau boleh. Tapi tentu saja ini akan jadi aneh. “Apa kamu tahu apa arti permintaanmu?” Saya kembali bertanya, kali ini dengan menatap matanya dalam-dalam.

            “Tidak. Lakukan saja,” katanya.

            “Saya tidak akan kembali jika jadi matahari.”

            “Tidak apa-apa. Aku cuma ingin dicintai satu kali. Tidak butuh hari esok. Tidak butuh nanti.”

Cerita dari Hutan Pinus


            Tiga tahun sudah berlalu, setiap hari masih terasa seperti hari ketika kau mati. Saya kadang tertawa mengingat semuanya. Dua tahun lalu saya mulai membangun rumah saya sendiri setelah membakar rumah lama yang pernah kita tempati. Di sini tak ada apa-apa. Cuma dinding tebal dari kayu pinus; meja kasar dari potongan batang pinus yang di atasnya berserakan ranting dan bulu-bulu hewan yang saya pungut dari hutan; manik-manik dari bunga pinus betina yang saya gantung di pintu yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Daun-daun pinus kering saya susun di atas ranjang, lalu saya lapisi kain seadanya. Bunyinya lucu kalau kita tidur di atasnya. Seperti makan kerupuk. Tak jarang dia juga mendatangkan mimpi buruk.

Hanya ada dua ruangan di sini. Ruang depan, tempat saya melamun dan tidur, dan ruang belakang, tempat saya melamun dan memasak. Setiap hari saya berburu. Ada cukup banyak tupai dan monyet. Daging monyet tak seburuk daging biawak, kapan-kapan kau harus coba. Kemarin saya ingin mencicipi daging beruang. Besok atau lusa saya pasti mencobanya. Kalau salju sedang tidak tebal, saya menanam wortel, kubis, kentang, apel, talas, tomat, dan banyak lainnya, yang jarang sekali saya panen. Saya lebih senang melihat mereka tumbuh lalu mati dengan sendirinya. Sejak tinggal di sini saya tidak berjumpa dengan manusia, jadi cuma pepohonan dan binatang itulah kawan saya. Dan perlahan saya menjadi mereka. Kadang saya cuma berdiri di belakang rumah, tak memikirkan apa-apa, tak merasakan apa-apa. Cuma berdiri sampai menggigil, lalu tak sengaja menggigit lidah saya sendiri dan tertawa.

Saat musim semi tiba, tiang rumah ini akan bercabang, atapnya meninggi, lantainya berakar makin dalam. Dari kaki saya juga muncul akar, dari kening saya lahir ranting, daun-daun menghijau, lalu mata saya berbuah. Kami sama-sama tumbuh seperti itu. Tapi itu cuma perasaan saya, kau tak harus percaya. Kalaupun kau percaya, belum tentu kau mengerti. Jadi sia-sia saja. Di musim panas saya menggali beberapa ubi yang saya cari di lembah gunung. Beberapa ubi memiliki rambut dan seperti kepala manusia. Kadang saya jumpa pohon ginseng yang enak sekali kalau diseduh dengan kendi lalu ditemani daging tupai yang sudah diasapi. Tupai itu hidup dalam perut saya lalu meminum air ginseng itu di sana. Kalau sudah begitu saya kegelian, tapi tak masalah, karena ketika musim gugur tiba saya mulai makan biji-bijian yang jatuh dari pohon apa saja, yang beberapa di antaranya beracun. Tupai itu mati tapi saya tidak.

Musim gugur lebih dingin dari musim dingin. Saya menjadi tengkorak di musim itu, menyaksikan daun-daun jatuh, mata saya berkedip lebih pelan, binatang-binatang tidur panjang, pepohonan menjadi tua, angin berwarna cokelat, tanah menjadi keriput, semuanya terlihat lelah dan tua. Salju jatuh di atas saya dan menjadi daging. Salju jatuh di atas mereka dan menjadi pakaian. Semuanya sembunyi di balik warna putih yang ganjil. Kabar baiknya, memancing jadi lebih seru di saat danau membeku. Bukan karena ikannya banyak. Sebelum memancing, kita perlu membuat lubang kecil di permukaan danau yang sudah jadi es. Saat lubang itu dibuat, saya merasa bahwa saya sedang membantu danau itu bernapas. Itu perasaan yang menyenangkan. Lalu danau itu memberi saya ikan besar-besar. Saya membawanya pulang, membakarnya di ruang belakang, bumbunya cabai yang sudah dikeringkan lalu digerus, dicampur minyak zaitun dan tomat hijau yang diiris tebal-tebal.

Sudah tiga tahun saya tanpa kau. Setiap hari kau mati dan tiap hari saya merasa kehilangan. Tapi itu baik untuk saya. Dengan begitu saya merasa hidup ini bisa ditinggali. Kalau nanti saya sudah tak sedih lagi, saya bakal langsung mati, mungkin teracuni oleh biji-bijian yang saya makan, atau daging monyet yang berpenyakit, atau lidah saya tergigit lalu jadi tetanus karena saya tidak pernah sikat gigi lagi entah sejak kapan. Apa pun alasannya, saya bakal membusuk, tak bisa diawetkan oleh musim. Atau mungkin saya nanti jadi pohon pinus lalu ditebang seseorang yang lari ke hutan untuk mencari kekasihnya yang mati tiga tahun sebelumnya. Saya jadi rumah yang hangat baginya. Lalu saya bercabang tiap kali musim semi tiba. Dia menjadi daun kering tiap kali musim gugur tiba. Di hari ketika dia merelakan kekasihnya, dia mati dan menjadi pohon pinus juga. Kisah yang sama terulang pada orang lain. Dan begitulah hutan pinus ini tercipta.

Perempuan yang Jatuh dari Ranting Bambu


Seorang perempuan bergaun merah jatuh cinta pada pohon bambu. Di ranting bambu dia berbaring, melipat tangannya jadi bantal, memejamkan mata seolah telah mengenal dunia di balik sana. Namun benaknya pulang menuju rumah yang belum pernah ditinggali. Di sana ada lelaki yang sedang menagih keadilan atas pembunuhan anaknya. “Mata dibayar mata,” katanya, yang kurang lebih berarti nyawa dibayar nyawa. Orang tua dari si pembunuh berkata, “Kalau seperti itu, takkan tersisa manusia yang hidup.” Ayah si korban membalas dengan suara yang berbunyi di nada C lalu E minor, “Kalau tidak seperti itu, orang baik akan punah duluan.”

Perempuan itu terjatuh dengan gaun yang tersangkut patahan ranting, robek, menjadi telanjang. Kulitnya bersih dadanya mekar, sampai di tanah menjadi rumput. Saat dia berdiri seketika dia terinjak. Gerombolan kambing seperti pembajak. Yang rajin beribadah, sebab, saat meraih rumput mereka bersujud, saat makin tua janggutnya kian tak tertata. Dimakanlah perempuan ini oleh Kambing bernama Maul—yang nama aslinya “Maut” tapi karena kambing tidak bisa melafalkan huruf T jadinya begitu. Rasanya aneh sekali dikunyah oleh kambing. Seperti dipeluk oleh seseorang yang tidak pernah menyetrika bajunya sendiri.

Seekor cacing bernama Mukaw sedang membelah diri, lalu muncullah satu lagi yang kemudian dinamai Nakiw—yang sama-sama tak bisa mengucapkan R, lalu mereka berdua menyalami si perempuan yang sudah jadi benda hijau tanpa bentuk. “Kau tidak akan kami makan kalau bisa menjawab pewtanyaan kami dengan benaw,” kata Mukaw. Si perempuan bicara dengan bahasa yang cuma bisa dipahami cacing dan kebetulan penulis cerita ini pernah menjadi cacing. Katanya, “Aku tidak pernah tahu ada kuis semacam ini. Aneh juga. Kenapa aku harus takut dimakan oleh kalian padahal aku baru saja dimakan kambing?”

Dua cacing saling tatap, salah satunya membuka buku tebal yang berisi kumpulan pertanyaan yang belum pernah diperbaharui sejak dunia tercipta. “Siapa Tuanmu?” Mukaw mengajukan pertanyaan. Si perempuan berpikir tapi tidak memikirkan apa-apa. Apa yang mau dipikirkan, memangnya? Jadilah dia makin berantakan, bagian-bagian tubuhnya mulai terpisah, lalu bicara, “Sebelum pertanyaan ini kujawab, aku mau bilang bahwa aku ini pelupa. Bisa jadi jawabanku keliru, tapi bukan berarti aku salah, aku cuma lupa.”

“Tujuan kami memang mengetes hafalan kok,” kata Nakiw. “Sebelum datang ke sini hawusnya kamu wajin menghafal. “Jadi siapa Tuanmu wahai wumput?”

“Kambing.”

“Wah, dia benaw,” kata Nakiw.

Mukaw mencari pertanyaan lebih susah sebab perutnya sudah sangat lapar dan ia ingin melahap rumput itu ketika masih segar. “Apa pegangan hidupmu?”

“Aku sempat pegang ranting bambu. Pernah juga pegang tangan ayahku. Pegang tas belanja. Pegang leher kambing.”

“Kau pegang lehew Tuan? Apa maksudnya itu?”

“Ya, pegang. Tanganku ada di lehernya.”

“Kau mencekik Tuan? Bagaimana bisa? Wah, ini keliwu. Ini tidak bisa dibiawkan.” Rasa lapar pada perutnya mendorong Mukaw untuk mengadili dengan lebih cepat dan tak adil-adil amat. “Nakiw ayo kita hukum dia!”

“Bukan mencekik. Aku dulu pelihara kambing.”

“Kau mau bilang bahwa kamu memelihawa Tuan? Bewani sekali kau bilang begitu!” Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, Nakiw memakan tubuh perempuan itu. Namun sebagian tubuh itu tertinggal di dalam perut kambing sementara sebagian lain masuk ke dalam perut cacing yang ada dalam perut kambing. “Ini wumput paling enak yang pewnah kumakan,” lanjut Nakiw.

Di dalam perut Nakiw si perempuan sudah tak layak disebut perempuan. Susunya sudah tak ada, kulit mulusnya telah hancur mumur. Di sana dia bertemu cacingnya cacing, atau apalah itu namanya, yang mulai menimbang amal baik dan amal buruk. Dia baru tahu amal perbuatan punya berat, bisa dikumpulkan seperti memanen padi lalu ditimbang dengan satuan kilogram. Dosanya tercatat 12 kilogram sementara pahalanya 11 kilogram. Artinya dia harus menurunkan berat badan sebanyak sekilo, baru diperbolehkan lanjut ke surga. “Du surgu tuduk buluh udu urung gundut,” kata cacingnya cacing yang cuma bisa memakai vokal U. Tak heran bibirnya monyong sekali.

Si perempuan yang sudah bukan perempuan itu cuma butuh lari dua kali putaran lantas beratnya turun dua kilogram. Satu kilo kelebihannya tolong dikasih ke rumput lain yang kelebihan dosa, katanya. “Tuduk busu bugutu. Burut budun tuduk busu dupunduh-punduh,” kata cacingnya cacing. Oh, ya sudah, batin si perempuan menerima. Dihantarkanlah dia menuju pintu surga, tempat cahaya berkumpul dan semua yang menuju sana perlu memakai kacamata hitam—saking silaunya!

Dia baru tahu surga itu bau tahi kambing. Dia tak sadar dia tahi kambing. Tapi dia bisa merasakan sesuatu memindahkan dirinya dengan kasar ke dalam karung, lalu dia dipindahkan lagi ke tanah, di dekat pohon-pohon tomat yang tumbuh dengan optimistik. Dia berbicara dengan bahasa tahi kambing kepada pohon tomat yang sayangnya tidak bisa dipahami si pohon namun bisa dipahami penulis cerita karena si penulis ini pernah jadi tahi kambing juga, “Siapa yang menanam pohon tomat di surga?” kurang lebih begitu pertanyaannya. Si pohon tomat merengut tak mengerti. Dia bilang, “Akan kucatat omonganmu. Semoga kapan-kapan aku bisa paham itu.” Sayangnya, kambing tidak makan pohon tomat. Jadi dia masih harus menunggu lama untuk bisa memahami omongan si perempuan.

Waktu berjalan, si perempuan yang sudah jadi tahi kambing itu meleleh dan lebur dalam tanah, terserap si pohon tomat dan menjalar di nadi-nadinya. Pohon tomat tumbuh dewasa, dibantu kayu agar tumbuh tegak lagi tinggi, buahnya dijaga dari hama lalu dipetik manusia, dikumpulkan di keranjang, dan tiba-tiba si perempuan mendapatkan kembali kesadarannya di sana, meski tak lagi utuh sebab sebagian dari dirinya tetap tertinggal di tanah, entah menjadi apa selanjutnya. Sayangnya, saat kesadaran itu kembali, dia sudah berpisah dengan si pohon yang membesarkannya. Mereka tak sempat bicara dengan bahasa yang mereka sama-sama pahami.

Tomat dipotong-potong dan disajikan dekat telur dadar, di sebuah piring putih yang bicara dengan bahasa keramik. “Kukri tug huyt hanem birye kanwre goh!” katanya, jelas tak dipahami perempuan yang sudah jadi tomat yang teriris-iris itu. Tahu-tahu ada garpu menancap di tubuhnya lalu dia masuk ke dalam mulut manusia. Di sana dia bertemu cacing-cacing yang senang mabuk dan tertawa, mereka ramah meski pengangguran. Tak ada penghakiman atau sejenisnya. “Siapalah kami berani menghakimi perjalananmu yang jauh lebih jauh, sungguh jauh lebih jauh,” kata salah satu cacing yang bermata biru bening dan menggenggam botol rum.

Perempuan itu merasakan dirinya mulai terangkat. Dia terpisah dari tubuhnya. Jiwanya terangkat, mungkin kali ini akan sampai ke surga yang katanya tersedia segala macam kenikmatan. Sampai di situ dia kehilangan ingatannya. Si perempuan itu mati meski tidak musnah. Jiwanya yang tercacah mengalir menuju embrio seorang manusia yang sedang tumbuh dalam perut perempuan muda. Dalam embrio itu si perempuan ikut menumbuhkan kesadaran baru yang bukan lagi dirinya namun tetaplah dirinya. Bahasa yang dipakai tidak bisa diterjemahkan sebab si penulis cerita pun lupa saat-saat itu.

Anak itu terlahir, berkata, “Mama, Ayah, sekolah, aku benci PR, aku lelah bekerja, aku tak percaya lagi pada lelaki, aku ingin mati saja,” lalu sampailah di usianya yang ke tiga puluh enam, saat ketika dia melihat pohon bambu raksasa, lebih besar dari tugu monas. Dipanjatlah pohon itu memakai gaun yang sewarna dengan daun kering. Kepada bambu itu dia mulai bercerita tentang keluarganya, karirnya, masa mudanya yang sampah, semuanya—meski dia tak paham pada bahasa bambu namun dia yakin bambu itu memahaminya. Katanya di akhir cerita, “Aku mencintai ketinggian lebih dari apa pun. Dia membuatku merasa dekat dengan kematian dan saat itu aku merasa hidup. Hubungan yang rumit, bukan?”

Tanpa dipahami perempuan itu, si bambu berkata dengan nada minor, “Kemarin kau bilang kau cinta padaku. Tak kusangka kau berubah secepat itu.” Lalu ranting bambu itu patah dengan telak. Perempuan yang bergaun sewarna daun kering itu terjatuh, gaunnya menjadi tanah, tubuhnya menjadi bangau, lalu hafalannya diuji oleh badai dan buaya.

Ahok di Antara Tiga Srikanjut


Hari Minggu, di selokan kecil dekat komplek Sari Rapet IV, dua lelaki tua yang sama-sama belum mandi dan tak memakai sempak duduk menunggui joran. Penis mereka kadang tersapu angin dan itu enak sekali. Ujung joran itu sesekali berkedut—bukan oleh ikan melainkan tersenggol plastik, kubis, sepatu, sarung bantal, soptek, cucian jatuh, segala macam barang yang secara otomatis dilabeli sebagai sampah bila sudah ada di sana. Rudi dan Sueb duduk bersisian sementara satu pemancing lain duduk agak jauh dari mereka. Sudah seharian mereka di sana, belum mendapat apa-apa padahal kopi sudah habis empat gelas.

Pemancing yang hebat biasanya cuma menghabiskan satu gelas kopi dalam sehari. Dia bakal lebih sibuk mengamati permukaan air, tali pancing, mengangkat ikan tangkapan dan lainnya. Semua itu membuatnya lupa bahwa dia punya kopi, bahkan, dia lupa bahwa perutnya lapar. Pemancing macam itulah yang duduk agak jauh dari Rudi dan Sueb. Pelan-pelan, Sueb dan Rudi yang sebelumnya tak mempermasalahkan soal ikan, terpengaruh oleh kehadiran pemancing baru itu. “Kalau dilihat agak lama, mukanya rada mirip Joni Depp, bintang film Holliwood itu,” kata Sueb sambil melirik ke arah lelaki putih gendut itu.

“Bagian mananya yang mirip?”

“Kumis tipisnya itu.”

“Itu bukan kumis. Itu bayangan idungnya.”

“Masa sih?” Sueb memicingkan matanya. “Jangan-jangan itu kumis yang digambar. Kayak kumisnya Parto itu lho, kalau main di OVJ kan kumisnya digambar.”

“Ah, tapi dia lebih mirip Ahok ketimbang Jonni Depp,” ujar Rudi. “Bentuk pipinya, fokus matanya, pundaknya, caranya duduk, bibirnya yang mungil.” Saat Rudi bilang begini, lelaki itu kembali mendapatkan ikan. Dengan cekatan dia menarik ikan itu ke tepi selokan. Sebelum kehadiran lelaki itu, Rudi dan Sueb tak pernah yakin di selokan itu ada ikan. Rudi memberi isyarat pada Sueb dengan tolehan singkat, “Pake pelet tuh pasti.”

“Bukan. Pasti karena umpannya bagus.”

“Atau mungkin karena lokasinya?”

“Atau mungkin cara dia masang umpannya?”

“Atau mungkin rokoknya?

“Atau mungkin orangnya? Haha.”

“Bisa jadi yang terakhir itu bener.”

“Bisa jadi semuanya bener.”

“Nggak mungkinlah. Masa kita sesial itu?” Rudi mengangkat jorannya, memastikan bahwa masih ada umpan tersisa di sana. Utuh, batinnya, sama sekali tak ada ikan yang menyentuh. Rudi bakal senang jika umpan itu habis, entah habis oleh apa dia tak peduli, yang jelas itu bakal memberinya alasan untuk kembali memasang umpan seolah-olah yang lama sudah dimakan ikan. Ada kesenangan tersendiri ketika memasang umpan.

Sueb membakar sebatang rokok lalu ngelepus dengan santai. Kakinya diselonjorkan, mukanya menatap langit yang agak mendung sore itu. “Selowlah. Ada ikan atau nggak, di sini lebih baik ketimbang di rumah. Apalagi hari ini anak gue bawa temen-temennya main ke rumah. Udah pasti berisik banget. Lebih berisik dari mulut Ahok. Haha.”

“Oh, lo haters Ahok?”

“Mulutnya Ahok kan emang berisik. Gue cuma pengen bilang itu.”

“Tapi dia kerja.”

“Tapi dia oportunis.”

“Lo berharap dia idealis? Mana ada politikus macam begitu! Soe Hok Gie pun kalau panjang umur palingan jadi sejenis Fajrul atau Adian. Semuanya oportunis, licik, cuma bedanya Ahok blak-blakan dan dia nggak masalah kalau ditelanjangi sama orang. Lo pikir elit Golkar dan PDIP itu idealis, jujur, konsisten? Meh!”

“Kok jadi marah-marah?”

“Lah, siapa yang marah?!” Rudi menarik matanya dari Sueb. Dengan jemari yang bergetar dia mengambil rokok, ikut ngelepus dalam-dalam. Sesaat tak ada ingatan tentang ikan, bini, atau pun utang. Seisi kepalanya dipenuhi Ahok. “Kalian cuma nggak suka kalau ada orang yang tidak bisa kalian kendalikan, sendirian pula,” lanjutnya dengan nada yang agak baikan. “Kalian ini kan ngakunya spesies demokratis tapi tunduk patuh sama semua titah Mega, Beye, dkk. Culun. Nuduh orang tidak punya ideologi politik yang jelas dan cuma bermodal figur, tapi nggak sadar kalian sudah begitu sejak lama.”

“Punya lo ada yang makan tuh.” Dengan selow Sueb menunjuk ujung joran Rudi memakai bibir. “Bentar lagi lepas kalau nggak diangkat.”

Agak lama waktu yang dibutuhkan Rudi untuk sadar bahwa dia sedang mancing. Saat akhirnya sadar pun dia masih dilema: lebih baik fokus pada penjelasan mengenai politik atau harus mengambil kesempatan mendapatkan ikan. Dia sedang apa sebetulnya di sana, nyari ikan, ngabisin hari minggu dengan santai, atau debat politik—di titik ini dia bengong lama. Lama sekali sampai-sampai dia sempat lupa namanya sendiri. Beberapa waktu kemudian, saat pancing itu diangkat, yang nyangkut di sana ternyata sempak rombeng warna hijau. Ada banyak lumutnya pula. “Ah, bangsat,” selorohnya dengan nyaring sambil berusaha melepaskan si sempak dari kail. Sayangnya, sempak itu tersangkut dengan sempurna. Masih dengan muka menahan marah dan sempak yang nyangkut di kail, dia membereskan barang-barangnya lalu pergi.

“Mau ke mana?” Sueb terheran.

“Pindah. Di sini nggak ada ikan.”

“Tungguinlah.”

“Lah? Sebagai manusia konsisten, lo harus diem di situ, sampe busuk kalau perlu. Atau tunggu perintah dari Baginda Ratu, biar kepindahan lo dianggap sebagai langkah idealis dan konsisten.”

“Yaelah masih aja ngambek. Anak cewek gue aja udah nggak ngambekan.”

“Ya udah mancing aja sama anak lo.”

“Ah, taik lo.”

“Lo pantat!”

Rudi beranjak. Gerimis halus turun seperti uap di pemandian air panas. Lelaki asing yang memacing dengan serius itu perlahan menghilang ditelan kabut yang menebal. Rudi tadinya mau duduk sana. Tapi hilang. Entah hilang ke mana. Barangkali lelaki itu hantu, atau dalam kabut itu ada awan kinton yang dipakainya pergi. Yang jelas, seumur hidupnya di Bekasi, Rudi tidak pernah melihat kabut sehebat ini. Sesampainya di tempat lelaki asing itu mancing, Rudi tertegun menatap sampah-sampah basah yang menumpuk di sana. Mungkinkah semua ini—kabut, duduk, pancingan, selokan, ikan, tuhan, bahkan dirinya—hanya palsu semata? Tetapi bukankah cinta itu nyata adanya?

Hujan turun membasahi dua butir testisnya. Perlahan mengkerut. Lama-lama menggigil. “Eb, eb!” panggilnya pada Sueb. Tak ada jawaban. Tak kelihatan apa-apa. Di ujung tali pancingnya, sempak hijau itu pun hilang. Amarahnya pun sudah hilang. Semua hilang! Lalu Haruki Murakami muncul dari balik kabut, dengan langkah yang pelan namun pasti, wajahnya datar, dan dengan pelan dia bilang, “Kesendirian akan membunuhmu, Rud. Dan Ahok tidak akan datang menolongmu.”

“Ah, taik!!!’

Dua Pemabuk Mengazani Mayat


Malam itu Mulyanto dan Yudi berjalan sempoyongan menuju bedeng dekat sungai Ciberut. Hasil menambang hari ini membikin hati mereka kedut-kedutan nggak jelas. Hanya tanah dan tanah. Tanah di celana. Tanah di muka. Tanah di air keruh. Tanah di foto bini yang makin kucel. Satu-satunya emas yang bisa mereka lihat cuma ada dalam kepala mereka sendiri. Sebut saja dalam imajinasi, bukan halusinasi. Yang jelas sih, semakin sulit emas dicari, semakin besar alasan untuk menghabiskan uang buat teler.

Di tangan kiri Mul menggelayut Newport yang belum tandas. “Saya kangen Chivas. Minuman ini bikin kepala sakit doang. Nggak ada enaknya,” sulutnya dengan nada bergetar. “Kapan-kapan kita harus patungan.”

“Ogah,” Yudi merebut botol itu dari Mul. Suaranya serak dan kasar seolah ada banyak karat di tenggorokannya. “Kalaupun mau patungan, kita beli Vodka. Chivas itu buat perempuan. Namanya saja ada ‘ci’nya. Mirip Cici Paramida. Cici Cahyati. Cici Curici.”

“Nggak ada hubungannya, bego.”

“Ya, ada lah!”

“Emang yang ngasih nama orang Sunda?”

“Otakmu sempit banget.”

“Ah, percuma ngomong sama orang mabok.” Mul meraih kembali botol itu. Tinggal beberapa tetes yang tersisa. Dia berjalan dengan kepala mendongak, berusaha menadah tetes-tetes terakhir yang jatuh dari surga itu. Saat itulah matanya melihat sesuatu yang menggantung di pohon randu dekat bedeng mereka. Makin dekat, makin jelas. Bukan kuntilanak apalagi pocong. Itu manusia, lehernya terlilit tambang, kakinya menjuntai dan penisnya sepertinya sedang tegang.

Mul menepuk kepala Yudi dengan botol. Bunyinya nyaring sekali, sayangnya botolnya tak sampai pecah, jadinya kurang greget. Tapi cukup untuk membuat Yudi nengok. Dia lalu meminta Yudi buat menoleh ke arah makhluk buram di pohon randu itu. Yudi yang sudah lebih mabuk berusaha dengan cermat memastikan apa yang dia lihat. Yudi butuh waktu lama sekali, seolah berpikir, sebetulnya tidak sama sekali. Dia malah bingung kenapa dia menatap mayat itu lama-lama namun tak merasa ada yang aneh. Ayo ah balik, katanya pada Mul.

“Kita dosa Yud kalau nyuekin dia. Harusnya kita kubur dulu baru pulang.”

“Alah, biasanya juga nggak ngurusin begituan.”

“Tapi ini deket tempat kita. Nanti gimana kalau ada orang lewat sini terus kita dituduh aneh-aneh?” Mul melemparkan botol itu ke arah mayat yang menggantung. Kena di bagian kepala mayat yang kemudian bergoyang karenanya. Dan kali ini botolnya pecah ketika jatuh ke jalanan yang berbatu. Mul tadinya mau bilang bahwa penghakiman manusia lebih keras ketimbang penghakiman tuhan, tapi yang keluar dari mulutnya malah, “Bakal ribet kalau polisi sampai ke sini.”

“Tetep aja nggak ada untungnya nolongin orang mati. Anggap aja kita nggak lihat apa-apa. Besok juga hilang sendiri.”

“Tapi siapa tahu dia itu orang alim yang dibunuh. Nanti gantian, di akherat kita ditolong sama dia, Yud. Bisa aja kan?”

“Pede banget bakal masuk neraka.”

“Firasatku bilang gitu.”

Yudi bengong lagi menatap mayat yang bergoyang itu. “Bisa aja sih kita bantuin dia masuk kubur. Mungkin dompetnya masih ada duitnya.” Yudi agak semangat membayangkan apa isi kantung si mayat. “Kalau ada duitnya, anggap aja itu upah buat kita. Dia pasti rela. Uang kan nggak dibawa mati. Bener gak?” Dalam kondisi mabuk begitu dia masih takut akan rasa bersalah. Kalau dipikir-pikir, ini sebuah prestasi yang luar biasa meski Yudi mengucapkannya tanpa berpikir sama sekali.

Mul setuju dengan ide itu. Diturunkanlah mayat yang sudah menghitam itu dari dahan randu yang tinggi. Butuh waktu lamaaaa sekali bagi orang mabuk untuk memanjat. Sangat lama sampai-sampai salah satu dari mereka sempat tertidur karena menunggu. Saat mayat itu akhirnya jatuh dengan posisi yang nggak enak dilihat, Yudi terbangun lantas menggerayangi kantung baju dan celana si mayat. Dia sempat mengecek wajah mayat itu, alhamdulillah bukan orang sini, batinnya bersyukur. Lalu mabuknya mendadak hilang ketika melihat 20 lembar seratus ribuan di dalam dompet si mayat.

“Ini sih kudu paket lengkap, Yud!” kata Mul yang napasnya masih tak keruan. “Buruan kamu azanin dulu deh, biar saya yang gali lubang.”

“Mending kamu aja yang azanin, saya yang gali lubang.”

“Seumur hidup saya belum pernah azan.”

“Saya malah belum pernah syahadat.”

“Ah, sialan. Saya nggak hafal. Malu saya kalau salah.”

“Dalam kondisi begini tuhan pasti ngerti. Yang penting niat kita baik. Iya kan?” Yudi lalu teringat sesuatu lalu berceloteh dengan dirinya sendiri, “Harusnya sih kita mandiin dulu. Kita shalatin dulu. Tapi tuhan pasti maklum. Iya, dia pasti maklum.”

Mereka membisu cukup lama, lalu Mul nyeletuk dengan nyaring, “Kontolnya kok ngaceng terus ya, Yud?”

“Wajarlah, kan dia cowok.”

“Oh iya ya.”

Mereka cekikikan berdua.

Kenyang tertawa, Mul mengambil ancang-ancang untuk azan dan Yudi mengayunkan balencong yang biasa dipakainya untuk menambang emas buat menggali liang lahat. Mereka menguburkan mayat itu tepat di tepi jalan. Kalau tidak pakai nisan pasti tak ada yang menyadari kuburan itu. Si mati bakal benar-benar dilupakan. Sudah setengah meter lubang digali oleh Yudi, terdengar celetukan dari Mul, “Yud, kalau azan pakai niat dulu nggak sih? Kalau iya, niatnya gimana?”

“Udah nggak usah pakai niat!”

“Tapi kan segala sesuatu tergantung niatnya. Kalau nggak niat jadinya gak sah. Duitnya jadi nggak halal.”

Muka Yudi kian mengeras. Kenapa urusan dengan orang mati bisa sepelik ini padahal pada orang yang masih hidup mereka lebih sering sebodo amat? Betul-betul menyebalkan. “Gini deh. Mending kamu niat sama azannya dalam hati aja. Nggak bakal ada yang denger. Terserah kamu mau gimana. Tuhan kan orangnya pengertian. Tanpa diucapin pun dia tahu maksudmu apaan.”

Di detik itulah Mul melihat peci dan sorban yang turun dari langit lalu terpasang di tubuh kawannya yang sedang membungkuk di lubang. Meski itu cuma halusinasi, malam itu menjadi malam yang aneh, mistis, atau sebagian orang menyebutnya mukjizati. Dia melihat Yudi seperti melihat sesuatu yang lain dan mayat itu juga menjadi sesuatu yang lain. Ajaib. Dengan cekatan dia lantas mengazani si mayat.

Yudi bisa mendengar gremengan yang keluar dari mulut kawannya. Terdengar pula suara tangisan. Tentu saja itu tangisan orang mabuk yang terasa janggal. Kelar mengazani dan membuat lubang, mereka menyeret mayat itu, menguburnya perlahan sambil mengucapkan doa-doa baik. Tolong ikhlaskan uang ini sebagai rejeki kami, kata Yudi. Kalau ada pesan yang ingin disampaikan pada yang masih hidup, datangi saja saya dalam mimpi, kata Mul. Mereka lantas duduk di kuburan yang sudah tertutup rapat itu.

Dompet si mayit kembali dibuka, duitnya dibagi rata. Chivas dan Vodka muncul dalam kepala mereka. Saat dompet itu hendak dibuang oleh Yudi, Mul menahannya. Dia mempreteli dompet itu lebih dalam berharap menemukan hal berharga lain. Dia membuang kertas-kertas yang tak jelas, beberapa karti ATM, kartu sehat, kartu pintar, dan kartu-kartu lainnya, lantas mencabut KTP yang terselip di bagian paling aman. Ditelisiknya nama dalam KTP itu. Dia tak kenal. Namun di sana, di kolom agama, tertera keterangan: Kristen.

(Tolong Kasih Judul Sendiri)


Mata kita masih terkatup meski sama-sama terjaga. Saya bisa merasakan selembar selimut abu-abu tebal yang kita bagi, bantal dari buntelan baju-baju kotor, kulit yang mengkerut—dingin sekali sampai-sampai tubuh saya menciut, kabut yang berbisik di luar tenda, bunyi embun yang jatuh di dahan dan rerumputan. Pada kaki saya kau gesekkan kakimu yang ditempeli tanah kering dan luka-luka kecil, terasa kasar dan menggelikan. Lalu kau rekatkan tanganmu ke punggung saya. “Tak apa-apa kan kalau begini?” tanyamu. Saya tertawa kecil.

Di luar sana orang-orang mulai sibuk mengambil foto matahari terbit seolah baru melihatnya untuk pertama kali. Burung pagi bergosip yang tidak-tidak. Jikapun sebetulnya di sana tidak ada burung saat itu, yang pasti di kepala saya ada banyak sekali burung dan mereka mengoceh seperti para lelaki dewasa. Salah satunya bilang bahwa di masa depan kita bakal berpisah dan masa depan itu adalah besok. Saya lantas membalas pelukanmu dengan lebih erat lalu mencium bibirmu yang kering. “Jangan protes,” saya bilang. Kau diam dan saya bisa merasakan kulit pipimu menghangat.

“Kalau ayahku tahu, kau bisa dibunuh,” katamu.

“Dia pasti ayah yang bodoh.”

“Kenapa?”

“Dia membunuh satu-satunya lelaki yang bisa membahagiakan anaknya.”

Mataku masih terpejam tapi aku tahu kau tersenyum. Senyummu itu bahkan keluar dari tenda, beterbangan ke lereng dan lembah juga danau kecil di tengahnya. “Kalau dipikir-pikir, kamu ada benarnya juga,” katamu pelan.

“Please, jangan ajak aku berpikir. Aku sedang senang.”

“Maksudku, harusnya ayahku senang kalau aku dicium olehmu. Apa mungkin ayah merasa bahwa dia yang dicium? Maksudku, gimana ya, dia berada di posisiku dan dicium olehmu. Mungkin itu yang membuatnya enggan.”

“Apa yang sedang kau bayangkan sekarang?”

Kau terdiam sebentar, tersenyum lagi, lalu berkata dengan cepat, “Menikah di gunung, melahirkan di gunung, hidup di gunung, mati di gunung. Lalu aku mati dan jasadku dibakar di puncak gunung. Abunya dibawa awan lalu jadi hujan dan selamanya aku mengalir dalam gunung. Kurasa itu hidup yang menyenangkan. Menyenangkan sekali. Jika dijalani sama-sama.” Kau gesekkan lagi kakimu yang dingin itu sambil tertawa ringan.

“Sayangnya orang takkan mati sama-sama.”

“Bisa saja.”

“Bisa tapi sulit. Kemungkinannya kecil.”

“Kemungkinannya lebih besar kalau mereka saling mencintai, soalnya makhluk yang saling mencintai itu berbagi jantung yang sama. Aku pernah lihat berita gajah mati berbarengan, manula yang mati bersama, lalu…”

“Ya, ya, aku tahu. Terus mau makan apa di gunung?”

“Kau ini bodoh sekali. Tupai saja bisa hidup di gunung, masa manusia tidak?”

Cara bicaramu selalu lucu. Saya tahu kau serius saat itu, tapi saya tertawa dan kau jadi agak kesal. “Gimana kalau nanti kangen indomi goreng?”

Kau diam lagi, cukup lama. Masih dengan mata yang enggan terbuka, saya bisa merasakan bayangan orang-orang jatuh di kulit tenda. Matahari meninggi. Kabut perlahan pergi. “Rasa kangenku pada indomi sebetulnya lebih nikmat ketimbang indomi itu sendiri,” katanya dengan yakin. “Tapi mungkin sesekali kita bisa turun gunung buat beli indomi. Itu kan tidak terlarang. Monyet-monyet di sini juga pasti suka. Aku mau angkat monyet-monyet itu jadi anakku.”

“Kau tidak mau punya anak manusia?”

“Mau sih, tapi sepertinya itu merepotkan.”

“Kau tadi bilang ingin melahirkan.”

“Itu hal yang berbeda.”

“Tapi anak manusia bisa diajak bicara. Mereka ada gunanya kalau nanti salah satu dari kita mati duluan. Kalau kau hidup sendirian dengan monyet, perlahan-lahan kau akan jadi monyet. Kalaupun kalau bahagia melakukannya, kau bahagia sebagai monyet, bukan sebagai manusia.”

“Apa bedanya? Yang penting kan bahagia.”

“Iya juga sih.”

Keasikan mengobrol, tahu-tahu dunia jadi sepi kembali. Matahari memejamkan mata dan dengan mata yang masih terpejam, kami mengintip ke luar sana. Ada banyak bintang yang tertawa malam itu. Langit berwarna putih oleh bulan dan awan menjadi hitam entah karena apa. Banyak bebunyian yang jatuh di danau, bebunyian yang tidak kita mengerti, termasuk yang ada dalam kepala kita sendiri. Kita masih saling mendekap karena besok kita harus pulang. Menyebalkan sekali. Saat-saat seperti ini pasti takkan datang dua kali. Kita bisa saja mengulanginya di lain hari, tapi masa muda kita sudah tak ada lagi.

“Kurasa bintang yang itu menertawakan kita,” katamu dengan nada kesal. “Aku benci dia. Dia bintang paling jelek yang pernah kutemukan di dunia ini.”

“Apa kau haus?”

“Ya, sedikit. Cium lagi saja. Biar bibirku basah.”

Bisa kulihat senyummu tak lagi di sana. Malam selalu berbeda. Dia menghadirkan sesuatu yang berhasil kita sembunyikan di siang hari. Dan entah kenapa kita justru selalu menyambutnya dengan sukarela. “Gimana kalau saya turun ke danau buat ambil air lagi? Tidak akan lama.”

“Duduk saja di sini. Jangan ke mana-mana. Pagi sebentar lagi datang dan kita bakal lupa bahwa kita pernah haus. Itulah yang akan terjadi. Aku janji.”

“Ayahmu sedang apa ya kira-kira?”

“Kau sedang membayangkannya?”

“Di kepala saya, dia sedang ngopi sambil nonton berita malam. Dia marah-marah karena Sri Mulyani kembali jadi menteri. Tapi di dalam hatinya dia senang melihat perempuan itu kembali. Kau tahu, itu perasaan yang membingungkan baginya, tapi itulah yang terjadi. Dia lalu bertanya-tanya sedang apa dirimu sekarang. Dia khawatir kamu tidak bahagia. Ah, orang tua selalu begitu. Orang mati pun masih mereka tangisi, dan tangisan itu bukan buat si mati, melainkan buat dirinya sendiri.”

“Aku membayangkan ayahku sedang menikahkan kita.”

“Kenapa selalu tentang pernikahan?”

“Karena bumi ini bulat, bodoh!” balasnya dengan kesal. “Di saat seperti ini kau masih saja ingin tahu alasan segala sesuatu.”

Saya merasa bersalah saat itu. Entah berapa lama saya merasa bersalah, tahu-tahu matahari terbit lagi, mata kami masih terpejam. Orang-orang kembali mengambil foto matahari terbit, bayangan mereka memantul di tenda, burung-burung yang bergosip, kabut yang menyingkap, udara yang bau tawa, mereka lalu kembali menyaksikan ciuman kita yang takkan pernah berakhir.