Menangis di Tanggal merah (bag. 2)


Di 2017 kuingat 2007—apa saja yang terjadi di tahun itu?

Ibu menerima tamu lelaki dari Surabaya. Kepalanya berasap. Dia menelan kopi seperti oli. Kalau kamu tidak mau bantu, katanya, anak itu bakal hidup tanpa bapak. Apakah masalahnya? Aku tidak begitu mengerti karena pendengaranku kurang baik di siang hari. Ibu tidak meminjaminya uang. Orang itu pergi dengan wajah menghitam. Apakah masalahnya? Dari jendela kulihat dia merayap ke pagar rumah, sempat menoleh, lalu hilang. Malam harinya kucing kesayanganku mati tertimpa akuarium pecah.

Kucium aroma 2007 punyaku—berbau kayu kecapi dengan pernis cokelat. Sasi mengunjungiku di rumah baru itu. Masih muda sudah punya rumah sendiri, katanya. Aku bilang itu bukan apa-apa—cuma rumah sederhana. Kalau mau kerja keras orang tidak mungkin miskin. Haha. Benarkah begitu? Sasi cuma bercanda jadi aku tidak menjawabnya. Sudah tentu orang miskin tidak mungkin menjadi kaya—kecuali ada anomali. Tidak semua beruntung sepertiku: punya ayah yang mewariskan uang tanpa syarat. Kita akan tinggal di sini kalau menikah, kubilang. Dia menggeleng.

Keluar dari kantor, mampir dulu di hotel; mandi air hangat, karaoke dengan tiga perempuan telanjang; pulang bahagia sebagai lajang. Makin malam, lampu-lampu jalan menelanjangi kesepian orang dalam gedung-gedung. Trotoar basah. Aku berpapasan dengan lelaki itu—sudah kutunggu ini sejak lama. Kepalanya dibungkus plastik merah. Kenapa dengannya? Aku tidak bertanya langsung, dan dia berlalu begitu saja—mungkin karena dia tidak mengenalku. Kukejar dia, Bung, kubilang, ayo kita mabuk. Itu alasan saja agar dia membuka plastiknya.

Tidak mungkin kulakukan, katanya, kalau aku buka plastik ini, mulutku bakal meracuni banyak orang. Di mulutku ada flu yang sangat hebat. Dokter belum tahu cara mengobatinya. Aku akan jadi awal mula pandemik jika tidak segera dihabisi. Hehe. Tapi tidak masalah, yang penting plastiknya tidak dicopot. Lalu bagaimana cara mabuknya? Pakai sedotan kan bisa. Betul juga. Dia minum birnya dengan sedotan putih.

Kamu kenal ibuku di mana?

Kami sepupu.

Oooh. Jadi kita saudara ya.

Bukan juga. Kami sepupu jauh.

Bisa dijelaskan?

Sulit.

Yasudah.

Bisa pinjam uang tidak? Aku mau ikut asuransi. Tidak lama lagi aku mati. Nanti uang kematianku untuk Sasi. Dia anakku.

Cantik tidak?

Kamu pasti suka. Tapi jangan dekati.

Aku bisa menjamin masa depannya.

Tidak ada yang bisa menjamin masa depan.

Ibu pergi di tahun itu. Dia masih sempat marah padahal umurku sudah tiga dua. Cepat atau lambat kau bakal sekarat juga, katanya, kebebasan bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya. Aku sudah kebas. Saat itu Sasi belum ada jadi aku tidur sendiri. Kutatap lampu-lampu; kubayangkan salah satunya berkata, energimu besar sekali, kamu sungguh hebat, tidak banyak orang yang sekuat kamu. Aku tersenyum.

Lelaki itu bilang ibuku sudah sejak lama ingin pergi. Ada masalah apa? Setiap hari dia tersenyum. Setiap hari dia menyiapkan makan. Akulah yang lebih banyak terkapar. Aku suka sekali spageti buatannya.

Tiap kali Sasi berkunjung, kuminta dia ke dapur, menemaniku masak spageti. Kami masak berdua—bengong menunggu air mendidih, menunggu spagetinya lemas, menunggu matang sempurna. Sasi bilang kepadaku, ayahku melarangku untuk menikah denganmu. Alasannya? Kamu bukan lelaki yang cocok berumur panjang. Anakmu akan menjadi yatim sekalipun kamu masih hidup. Ayahmu lucu sekali, kubilang, kamu tidak menganggapnya serius kan?

Aku percaya ayahku.

Tapi anakku manusia, kubilang, dia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Toh orangtua sudah tidak relevan. Masa depan tidak butuh orangtua.

Aku tahu rasanya tanpa orang tua.

Aku tahu rasanya tak punya ayah. Biasa saja.

Tidak sama.

Ibuku juga kan sudah tidak ada. Biasa saja.

Tidak sama.

Di bagian mananya?

Sasi tidak menjawab. Dia balik bertanya, kalau aku yang tidak ada, gimana? Belum tahu. Mungkin juga biasa saja, kubilang.

Sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama. Kita tidak mungkin menghitungnya dengan jari sekalipun cukup. Ada hal-hal tak tampak di sela jari-jari itu, yang selalu lepas ketika coba digenggam. Ingatanku semakin keropos saja. Hari itu kuajak Sasi belanja untuk memenuhi kulkas—aku benci kulkas yang tidak penuh. Di deretan sayur mayur dia ambil tomat dan wortel besar. Untuk apa? Sebentar lagi natal, katanya. Sejak kapan kamu jadi relijius? Ini bukan soal agama, katanya.

Kunikahi Sasi sepekan setelah kepergian ayahnya. Plastik merah itu dibungkuskan ke nisan. Apa artinya itu? Tidak ada yang tahu. Yang pasti, semua merasa lebih baik jika itu dilakukan. Sudah kubilang aku bisa setia, kubilang. astaga, belum sampai satu tahun, dia bilang, tubuhku masih kencang. Nanti kalau aku sudah keriput kamu pasti tak tahan.

Cuma orang bodoh yang mencintai selama itu. Cinta itu melelahkan, Sasi,  satu hari sudah lebih dari cukup.

Baguslah. Haha.

Apanya yang lucu?

Aku sakit juga, seperti ibumu.

Aku diam saja. Aku diam berhari-hari. Saat itu 2007 mencapai akhir dan Sasi terbaring di rumah sakit. Kutanya dia, jadi kamu mau pergi juga? Buru-buru sekali. Dia terkekeh dan mengulang kata-katanya yang lain: cek kesehatanmu. Iya, iya, nanti kucek. Tapi kenapa sekarang Sasi? Kita masih muda. Belum punya foto keluarga.

2018 sebentar lagi habis. Bau ikan bakar.

Waktu akuarium itu masih ada, keluargaku seperti ikan-ikan di sana, menatap dunia dari dalam. Saat mati, mereka keluar dan melihat dari luar, bisa pergi kapan saja bosan. Sekarang tinggal aku, menatap dari dalam kendati sudah pecah akuariumnya. Pernah kumasukkan kepalaku ke dalam plastik merah yang kusut. Dari sana dunia lebih buram; benda-benda kehilangan bentuk, dan wajah-wajah berganti rupa—tapi itu artinya kita tidak lagi berpikir terlalu banyak.

Anakku sudah mulai TK. Dia takut padaku karena aku terlalu banyak bisu. Istriku semakin asin. Kami sudah berhenti ciuman sejak dua tahun lalu. Mungkin sekarang sudah asam pula. Bibir-bibir perempuan lain lebih lagi: rasanya seperti spon cuci piring. Aku sudah berhenti mampir-mampir. Selesai kerja langsung pulang, berkelahi dengan bantal, lalu tidur selama mungkin. Ada sesuatu yang harusnya kulakukan di tahun baru nanti.

Dia tidak pernah menyebut namaku. Hey adalah panggilan paling dekat antara kami. Dia sangat suka spageti dan percaya bahwa memotong spageti adalah tindakan buruk. Mungkin aku mencintainya tapi aku tidak terlalu menyukainya. Kalau dia pergi, aku akan biasa saja. Tapi bagaimana kalau nanti aku pergi? Ingin kutanyakan itu saat tahun baru. Dia belum cukup dewasa untuk mengerti.

Pergi ke mana?

Ke kehidupan berikutnya.

Apa aku tidak bisa ikut?

Kamu harus selesaikan dulu misimu di sini.

Apa itu?

Jaga ibumu. Jangan sampai dia menangis.

Siapa yang buat ibu menangis?

Cari tahu. Kasih dia pelajaran soal keluarga.

Sebulan setelah obrolan itu aku betulan mati. Istriku tidak pernah menginginkanku tapi kulihat dia menangis. Dari kematianku anakku menyadari bahwa sesuatu bisa pergi tanpa kembali. Di kemudian hari dia tidak pernah menunggu. Dia tak pernah mau meminjamkan barang, uang, atau berjanji. Dia tidak percaya pada perkataan baik yang belum terjadi. Dia sangat suka kereta karena kerena membantunya berpikir. Randu namanya—dia tumbuh sesuai dengannya: tinggi dan berduri. Setidaknya itulah yang kupercaya.

Bulan pertama 2019. Ingatanku terhenti.

Bagaimana dunia sekarang?

Menangis di Tanggal Merah [bag. 1]


Kausumbat kupingmu di komuter yang sesak. Orang-orang bermuka kuning. Di layar kecil diputar iklan larutan penyegar cap Badak. bibirku tambah kering gara-gara iklan itu—aku lupa membeli minum sebelum naik. Bogor masih jauh.

Welefel you al, I’ll always make you smile … welefel you al … nanana … folefel.

Suaramu berulang, menyanyikan bagian yang sepertinya adalah refrain. Aku masih bisa menerima perempuan cadel, batinku, tidak apa, lanjutkan bernyanyi. Aku akan pura-pura tidak melihat ataupun mendengarmu. Aku tidak akan menegurmu. Biar kau malu sendiri.

Matamu terpejam. Sesekali telunjukmu terangkat dan bergoyang dengan kepalamu. Lagu apa yang sedang terjadi di sana? Tidak mungkin itu Scorpion atau Queen. Pasti Korea begitu, kan?

Aku ingin menawarimu duduk, tapi Bogor masih jauh. Tak sedikitpun kaubuka matamu.

Rumah-rumah kumuh melesat tak sempat dikenali. Seonggok mayat di Jatinegara akan masuk berita malam nanti—dan kau akan menontonnya tanpa kesan apa-apa. Seorang lelaki muda turun di  Tanahabang, mengantri di tangga naik, mengejar toilet sambil menggenggam penisnya yang hampir copot. Pintu kereta tertutup kembali dan seorang anak perempuan menangis mencari bapaknya. Kau masih bergoyang, bibirmu mengulangi refrain lagu sebelumnya. Aku berdecak.

Ini lagu jepang, kaubilang.

Oh. Seenak itukah?

Coba saja.

Judulnya?

Lupa.

Penyanyinya?

Coba Googling.

Suaramu tidak jelas.

Google kan sudah cerdas.

Kubuka google. Kereta berhenti. Kau menghilang. Kutemukan lagu berjudul Wherever You Are. Kuputar lalu kutempel di kuping. Bagaimana mungkin lagu semacam ini bisa dinikmati, batinku, saat kulihat punggungmu menjauh dari peron. Kereta kembali bergerak. Lagu itu kuhapus. Dan aku tak akan mencari tahu siapa namamu.

Naik Botol ke Bekasi


Sudah lama saya tidak jumpa dengan Muktar. Siang tadi sebuah surat tiba darinya. Tanggal 20 Oktober dia akan menikah dengan seorang perempuan dari Jawa. Itu pilihan yang hebat sekali. Tapi saya lebih terkejut dia bisa mengetahui alamat rumah saya. Tahun 2004 lalu, cukup lama saya di Aceh, bergerak dengan kawan-kawan relawan, tepatnya tiga bulan setelah tsunami menerjang. Muktar kecil kehilangan bapak—bahkan rupa mayatnya pun dia tak pernah lihat. Selama di sana saya menemani Muktar dan belasan anak lain yang kehilangan keluarga, kehilangan kawan, sekolah, mainan, rutinitas—yang konklusinya adalah kehilangan kehidupan. Banyak di antara mereka yang secara tak sadar menanam luka itu sangat dalam sehingga tak mungkin lagi dijangkau. Kami seperti petani yang menyirami pohon tomat yang sudah kering.

            Bulan kelima, sore hari, Muktar menghampiri saya dengan sebuah botol beling kusam. Wajahnya seperti orang melihat perampokan. Di tangan kanannya tergenggam lipatan kertas. Ini surat dari orang yang selamat, katanya, kita harus tolong dia. Saya raih kertas itu. Di dalamnya ada tulisan tangan yang jelek dan pudar, tampaknya ditulis dengan arang: “Sudah dua bulan saya di laut. Jauh sekali dari pulau. Saya sudah mencoba sekeras-kerasnya. Tidak perlu tunggu pulang.” Di baris yang berbeda, agak jauh dari dua baris teratas, dia menulis: “Tapi jangan berhenti ke laut. Buat kapal lebih besar!”

            Muktar percaya orang ini masih hidup. Dengan pelan saya bilang, surat itu mungkin ditulis dua atau tiga bulan yang lalu. Dia bilang, kalau orang itu bisa bertahan selama dua bulan, dia pasti bisa bertahan selama dua tahun atau sepuluh tahun atau selamanya. Orang itu pasti berada di kapal dan bisa memancing ikan, bisa menadah air hujan, dan pelan-pelan dia akan belajar membaca arah. Surat itu dibawa ke hadapan ibunya. Saya tidak tahu bagaimana respon sang ibu, yang pasti, keesokan harinya Muktar membawa surat itu ke kantor desa. Wajahnya belum tenang. Lusanya saya temani dia menemui Bang Cibil, orang SAR yang paling terkenal di tengah warga. Dengan penjelasan serupa namun semangat yang lebih menggebu, Muktar memaksa Bang Cibil untuk melaut bersamanya. Kalau ada Bang Cibil, penulis surat ini pasti bisa ketemu. Begitu dia bilang. Saya melihat bayangan luas samudra, amuk badai, gertak petir berkecamuk di muka Bang Cibil. Entah mana yang akan dia keluarkan lewat mulutnya. Dia minta Muktar mengantarnya ke tempat botol itu ditemukan.

            Kami duduk di tepi pantai. Air sedang surut. Lagi-lagi sore. Sampai sekarang saya masih kerap ke pantai, menunggu sore datang, dan membayangkan saya berada pada masa-masa itu. Banyak kesedihan di sana, tapi saat itu saya merasa ada dan berguna—ini rasa yang tidak terjadi setiap hari, jadi sangat berharga kendati buat dikenang-kenang saja. Sore itu kami banyak duduk, tak banyak bicara. Muktar sesekali melempar pecahan karang ke bibir pantai. Kalau kita pergi ke sana, berapa lama waktu untuk pulang, tanyanya. Bisa jadi kita akan berkumpul dengan mereka di sana, tidak akan pernah pulang, kata Bang Cibil. Itu bukan sesuatu yang buruk, hanya saja, itu sesuatu yang berbeda. Ibumu pasti merindukanmu. Adikmu juga. Aku juga, kubilang. Ada asin angin menggeliat, menggesek mata kami. Kalau kita ke sana pakai kapal motor yang cepat, atau pakai helikopter, berapa lama untuk pulang, tanyanya. Bang Cibil tidak menjawab.

            Kenapa kamu tidak kirim surat balasan saja? Suatu saat surat itu bakal sampai ke sana, kubilang. Muktar menekuk bibir, nanti suratnya cuma terdampar di pulau seberang, katanya, atau nanti suratnya terdampar di pantai ini lagi dan aku lagi yang membacanya. Itu memalukan sekali. Kalau kuserahkan surat itu ke polisi, kira-kira bisa tidak ya?

Muktar percaya ada orang yang mau membantunya. Dia tidak bisa percaya semua orang mengabaikan surat dari seseorang yang sedang terapung-apung sendirian. Saya senang melihat harapan sebesar itu dalam dirinya. Saya senang dia kembali mempercayai sesuatu. Sayangnya itu adalah sesuatu yang musykil. Bagaimana cara menjelaskannya? Waktu itu saya cuma bisa meresponsnya dengan jawaban-jawaban teknis, misal, “Mungkin kita harus belajar navigasi lebih dulu. Kamu harus selesaikan sekolahmu lebih dulu. Harus mempersiapkan banyak hal karena laut sulit dimengerti. Harus mulai meminta izin ibumu dari sekarang. Itu tugas paling sulit karena kamu tidak mungkin berangkat tanpa doa dari ibumu.” Saya tak tahu akan menjawab apa jika esok atau lusa dia bertanya apakah saya akan ikut berlayar dengannya. Saya beruntung dia tidak pernah menanyakan itu.

Perempuan yang akan dinikahinya bernama Cindy—nama yang cukup modern jika dibandingkan dengannya. Tapi Muktar cocok memakai nama tua. Saya tidak pernah mengingat Muktar sebagai bocah. Dalam kepolosannya dia menyimpan ketabahan jiwa-jiwa tua. Dia menjadi satu dari sekian anak yang kesadarannya melompat gara-gara bencana. Entah ini disebut berkah atau bukan, yang pasti, hal semacam ini pun tak terjadi setiap hari.

Sehari sebelum saya pulang ke Bandung dia berkata, kapan-kapan aku main ke sana naik kapal. Di Bandung tidak ada pelabuhan, kubilang, Bandung di tengah daratan. Tolong dibuatkan untukku, katanya, sambil tertawa. Saya lupa di mana menaruh foto kami bertiga—dengan Bang Cibil. Seharusnya ada di laci lemari pakaian, tapi lemari itu sudah diganti dan lemari yang sekarang sama sekali tanpa laci. Muktar sekarang pasti sudah berkumis. Saya harap saat menikah nanti kumisnya tidak dicukur karena saya masih senang membayangkan dia berkumis. Yang harus dipikirkan sekarang, bagaimana cara mempercepat pelayaran saya ke Papua yang baru akan selesai satu minggu lagi. 

Menonton Oktober


Mendung Oktober masih bermain-main dengan nasib buruk orang Jakarta. Kita dibiarkan menunggu dan berharap, membosan dan akhirnya mengutuk. Aku yakin sesuatu terjadi di balik hitam itu. Mungkin hujan telah terjadi namun ia mengambang di atas sana. Mungkin petir dan badai bergumul setiap sore, tapi mereka enggan mengajak kita. Mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu yang besar dan hendak menenggelamkan kita. Apa yang salah dengan kita. Kita orang yang baik dalam bergaul. Kita berdoa secukupnya. Kita tidak pernah menuntut sesuatu berlebihan. Punya kekasih sederhana, gaji secukupnya, cita-cita sampai seminggu ke depan, sudah lebih dari harapan orang-orang biasa. Tapi itu biasa saja. Kita tidak layak kena azab. Tuhan sangat keliru kalau rumah kita ditaruh dalam banjir. Tapi pasti ada yang salah dengan kita. Harus ada yang salah. Tidak mungkin mencari kesalahan tuhan.

Kaulihat perempuan dengan ikat pinggang merah itu. Dia berjalan cepat melintasi lampu merah yang hampir tandas. Dua puluh meter di belakangnya, berlari seorang lelaki dengan setelan lengkap minus dasi—dia hampir saja tertabrak motor matik dengan nomor polisi yang sudah kadaluarsa. Jika hujan tak segera turun, sebentar lagi mereka tiba di meja kita. Keduanya teman lamaku ketika SMA. Mereka berpacaran sampai sekarang, dan aku mulai membenci itu. Aku sudah janji kepada diriku sendiri: hari ini mereka akan putus. Belum kupikirkan bagaimana caranya.

Di seberang jalan gerimis turun. Keduanya berhenti di bawah kanopi hijau sebuah kafe. Pulanglah sendiri, katanya, ajak cewek barumu itu. Dia jelas lebih seksi. Si lelaki membalas, dia itu cuma teman biasa, kami tidak ada hubungan spesial apa-apa, paling jauh cuma ngopi saja. Si perempuan melengos, kenapa tidak ngopi denganku saja? Apa aku kurang pintar soal kopi? Kenapa harus mengajak orang lain untuk hal sesepele itu? Aku tidak tahu, kamu tolol sekali, kata si lelaki. Kita sudah merdeka, sudah pakai demokrasi, tapi kenapa untuk hal-hal seperti ini kamu masih belum paham?

Setitik hujan jatuh di ujung kepalaku, cukup besar, menembus kulit. Setetes lagi mendarat di kopi yang dingin, terciprat ke lengan baju yang tak kugelung. Di langit pun sedang terjadi keributan. Saat ini tak bisa dibedakan mana keringat mana tangis—yang turun dari langit kita sebut hujan. Aku ingin masuk ke dalam tapi dari dalam tak bisa kulihat mereka. Kutunggu mereka selesai berkelahi. Kuharap mereka segera menoleh ke arahku jadi kami bisa ke dalam bersama. Aku tidak mau mereka putus tanpa andilku. Terserah, kata si perempuan, sekarang kamu boleh ngelakuin apa pun dengan cewek itu. Aku tidak bakal melarang. Kami cuma ngopi, kata si lelaki, dan tidak ada yang spesial dari kopi. Aku tidak membelikannya mobil atau apartemen. Cuma kopi. Cuma segelas kopi. Harganya tidak lebih mahal dari sushi yang biasa kubelikan buatmu.

Tapi si lelaki ini—enggan kusebut namanya—memang playboy sejak SMA. Aku tidak kebagian pacar gara-gara dia. Semua perempuan melihat ke arahnya. Hanya perempuan-perempuan jelek yang tidak berharap padanya. Dan perempuan jelek itu pun tidak melihat ke arahku. Mereka lebih banyak menunduk seperti sedang belajar mencintai tanah. Soal kopi dia rewel sekali, terutama di depanku, dia sok paling mengerti. Dia biasa memesan segelas kopi yang mahal cuma untuk bilang kopi itu tidak enak. Lalu dia akan bilang bahwa dia pernah mencicipi kopi gajah, kopi panama, blue montain, dan kopi-kopi lain yang namanya membingungkan. Bagiku, asalkan pahit, sudah kopi. Aku malas membebani otakku dengan urusan-urusan lidahku.

  Bene—si perempuan, lengkapnya Benedikta—sudah kusuka sejak sekolah menengah pertama. Dia perempuan yang juga menjadi pusat para lelaki. Aku tidak cukup jelek untuk memalingkan muka, tapi juga tak cukup keren untuk meminta langsung. Kudekati dia sebagai teman. Kutunggu saat-saat dia patah hati dan mungkin menaruh pipinya di pundakku. Ternyata tak mudah menunggu orang patah hati. Lebih mudah jika kau membuatnya sendiri. Aku lumayan hebat soal itu. Ada setidaknya tiga perempuan yang kubuat menangis. Satu, ibuku. Dua, adikku. Ketiga, guru matematikaku. Bene sering bilang kepadaku, kamu tidak seharusnya bergaul dengan orang-orang seperti kami, kamu itu orang baik-baik. Entah apa maksudnya orang baik-baik. Aku kesal tiap kali dia menyebutku baik sebab aku merasa dia menuduhku tak layak untuknya, bukan sebaliknya. Lelaki brengsek lebih layak baginya. Dia lebih layak untuk disakiti. Lebih senang ketika jadi orang yang dicurangi. Aku setuju dengan lelaki itu: demokrasi tidak berguna banyak dalam hal ini.

Hujan semakin banyak. Mereka masih ribut. Suaranya makin hilang. Semakin tebal hujan menutup penglihatanku. Tapi sedikit kulihat Bene bergerak, dia pergi dari sana, bergerak ke arahku. Rok kremnya tak lagi mengembang. Pahanya yang jenjang tercetak seperti dua batang es krim. Dia terus menunduk. Aku berharap dia segera mengangkat wajahnya dan melihatku. Lelaki itu tak lagi mengejar. Dia berjalan ke arah yang berbeda, menaruh telapak tangannya ke dalam saku.

Tersisa jarak lima langkah antara Bene denganku. Dia akhirnya mengangkat muka. Dia menatapku. Aku tak melihat apa-apa dalam tatapannya. Dia melintas begitu saja. Belum terlihat penjual payung atau sejenisnya. Tak ada yang mengira hujan akan serius hari ini. 

Titit-Titit Hesti


Hesti tidak cukup sabar untuk menunggu lampu merah menjadi hijau. Dia menekan-nekan klakson seperti Bu Rusdi memukul kepala mahasiswa-mahasiswa bodoh di kelas statistika. Dari mobil depan dan samping, dua orang bergantian berteriak tolol kau anjing! Anak kontol! Setan! Ngajak kelahi kau babi! Kuputar blower AC ke kanan sampai mentok. Angin yang keluar dari sana terasa seperti dikirim langsung dari atmosfer yang bocor. Hesti memukul-mukul setir. Pipinya mengeras seperti diremas ragum. Tit lagi. Tut lagi. Tot lagi. Dari bunyi-bunyi itu bisa kudengar umpatan-umpatan pengemudinya.

Dia bakal senang kalau orang-orang itu terpancing kemudian mereka berkelahi di aspal. Dia sangat membutuhkan itu saat ini. Akan kurekam kejadian itu, kuunggah di Instagram, lalu nanti Hesti difollow nitijen yang senang melihat perempuan mengamuk. Tapi Hesti cukup cantik. Jadi setiap bulan dia akan menerima setidaknya sepuluh permintaan endorse dari produk make up dengan caption “menghilangkan luka memar dalam satu malam” atau “menghilangkan bopeng seperti ketok mejik”. Satu endorse dihargai satu juta, anggaplah begitu, dan aku akan meminta tiga puluh persennya saja—astaga, itu sudah cukup untuk membayar uang kosan selama tiga bulan. Dan Hesti akan sedikit lebih kaya jadi tidak terlalu pusing memikirkan bapaknya yang kemo melulu.

Hesti titit-titit lagi. Dibalas memek! Mek! Memek! Tol! Kontol! Fuck you njing! Tempe! Astagfirullah! Tempik! Utang! Utang! Utang! Sial! Siaaal! Pulang!

Aku ingin jadi bom, katanya. Aku ingin punya pacar yang bisa meledak. Dengan meledak dia habisi orang-orang yang bikin sumpek. Aku ingin mencium lelaki yang sedang meledak. Aku ingin dia membuat jalan yang lebar, kamar yang luas, dunia yang besar. Titit! Tit! Titiiiit! Luas! Luas sekali! Besar! Tak berujung! Seperti mata anak-anak. Atau setidaknya seperti Thamrin saat lebaran.

Sebuah kepalan tangan berurat tebal menggedor kaca mobil. Sorot matanya menembus kaca gelap itu sementara lampu berganti hijau. Hesti menurunkan kaca, memotong kata-kata yang hendak keluar dari mulut orang itu, maafkan saya, katanya, sepertinya ada yang salah dengan mobil saya, klaksonnya tidak mau berhenti padahal cuma saya pencet satu kali. Akan segera saya bawa ke bengkel. Have a nice day, katanya, lantas melepas senyum, menutup kembali kaca mobil, melaju tanpa menunggu aba-aba.

Aku menoleh ke belakang, melihat orang itu masih di sana, berdiri di tengah lalu lalang kendaraan yang tat-tit-tut, menatap mobil kami yang menjauh. Orang itu terus berdiri, tanpa membelokkan tatapannya dari kami. Sebelum benar-benar hilang dari jangkauanku, kulihat dia menelan sebuah granat, lalu meledak sambil berteriak. Dalam ledakan itu samar-samar kudengar bunyi tawa Hesti. Hik! Hik! Hik!

Kamu Itu Kekasihku


Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tidak berguna. Kamu harus bertanggung jawab menyediakan kesenangan. Bertanggung jawab membuat jiwaku tetap menyala. Bertanggung jawab menghadapi semua kesulitan yang kudapat.

Dia berpaling.

Kuraih pipinya. Kutanam bibirku di bibirnya.

Dia mencabut bibirnya, mengusapnya dengan punggung tangan.

Sekolahku sudah tinggi, kubilang, kalau cuma untuk hal-hal semacam itu, aku tak masalah. Tapi aku tidak mau direpotkan kalau tidak sebagai suami. Kita menikah saja. Nanti kau boleh malas, boleh merengek sepuasmu, juga marah-marah tepat di depan mukaku. Tapi selalu ingat bahwa aku terlahir untuk sesuatu yang lebih besar—aku tidak mungkin melayanimu jika urusanku belum selesai. Aku masih harus memikirkan perang-perang besar, ekspor dan impor dan ketahanan pangan, kekerasan terhadap anak dan perempuan—banyak, banyak sekali!

Kamu masih pengangguran.

Tapi cum laude. Banyak yang harus kupikirkan.

Wkwkwk.

Aku mau mendirikan kesultanan. Nanti kau jadi salah satu permaisuriku. Bukan karena kau tidak penting. Tapi karena sultan tidak mungkin punya istri. Dia tidak mungkin punya pendamping. Yang ada di sekelilingnya adalah pelayan. Seluruhnya adalah pelayan. Dan kau akan jadi pelayan yang paling kusayangi.

Aku mau jadi pelayanmu asalkan kau menyediakan pelayan-pelayan lelaki yang lembut dan ganteng untukku. Aku akan membayangkanmu tiap kali mereka mencukur bulu-bulu betisku, mencuci rambutku, memijit punggungku, merapikan kuku-kuku tanganku. Ah, itu enak sekali.

Hahaha. Silakan!

Tapi apa mungkin ada hubungan semacam itu?

Itu biasa saja. Kemarin si Zuhri mengajari anak ayam peliharaannya terbang. Ini bukan hal mudah, tapi dalam satu tahun ayam itu pasti sudah mahir.

Atau sudah mati.

Dengan terhormat.

Wkwkwk.

Apa yang salah dengan mengajari ayam terbang? Mereka punya sayap. Mereka punya paruh. Punya bulu. Sudah pasti mereka pernah mahir melakukan itu. Cuma perlu diingatkan saja. Itu menjadi sulit karena sepertinya ayam-ayam itu melupakannya dengan sengaja, karena suatu trauma atau sejenisnya.

Kita lanjut nanti. Aku harus pulang.

Tunggu dulu. Habiskan ini, sedikit lagi.

Aku bawa motor. Tidak mungkin lebih mabuk dari ini.

Dia berdiri.

Semudah itu kau maafkan ibumu?

Dia pasti sudah tidur dan aku tidak bisa membenci orang yang sedang tidur.

Astaga. Susah payah kubuat kau tertawa, ternyata cuma itu yang kautunggu.

Kamu itu kekasihku. Dengan cara apa pun aku senang, sudah seharusnya kamu senang.

Hari Panen Telah Tiba


Begitulah kabar di hari ketika jiwanya dipetik tuhan. Aku bicara dengan diriku sendiri, membiarkan sapuan mereka di kepalaku, tepukan mereka di pundakku, juga jemari mereka yang membuka telapak tanganku yang terpasak di udara. Kukatakan bahwa aku bakal baik-baik saja meski dengan pengertian yang berbeda. Cukupkan saja belas kasihan itu. Kulihat langit berjuntaian rantai. Udara menciut berhamburan bersama abu dari bakaran tulang-tulangnya. Mereka menyebut itu kematian. Tapi dia berulang kali berkata, “Inilah hari panen kita. Tuhan akan datang mengetuk pintu. Tuhan akan mengumpulkan jiwaku dengan keabadian dirinya.”

Kulempangkan mataku pada tubuhnya yang membeku jengkal demi jengkal. “Sungguh hebat manusia,” kubilang. “Cukup dengan percaya bahwa jiwa mereka tidak ikut binasa, mereka merasa berharga.” Sampai saat-saat terakhir, dia masih harus bersandar pada dongeng untuk bisa tersenyum.

“Hari panen telah tiba. Kau harus ikut berbahagia.”

“Kebahagiaan tuhan bukanlah kebahagiaanku. Kami hampir selalu di pihak yang berbeda. Seperti penjajah dan yang terjajah.”

“Dia sangat menyukai dirinya sendiri.”

“Sepertimu.”

“Dan kau membenci dirimu sendiri.”

“Sebagaimana manusia lainnya.”

Aku masih merasakan genggaman tangannya hingga saat ini, yang lambat laun mengendur dan di saat akhir itu dia bilang, “Dia yang mencintai dirinya sendiri akan mencintai jiwa yang sejernih cermin. Aku yakin itulah jiwamu.” Aku berusaha tidak membuat negasi apa pun dalam kepalaku. Kuhargai betul kalimat terakhir itu. Takkan kubuat negasi apa pun, sungguh, kendati aku tidak percaya bahwa hanya dengan mengikuti tuhan maka jiwa kita akan jernih. Astaga, kau perlu sedikit bodoh untuk menjadi seorang petapa, seperti dia, yang bahkan singa-singa akan menganggapnya batu hitam yang terlempar dari mulut gua. Tak ada lagi yang terbakar dalam dirinya. Oh, kematian, oh, masa tua, oh, kepergian. Dengan lidahnya dia melukai orang-orang yang mencintai kehidupan, termasuk diriku, yang pergi berselingkuh, melukai anak kucing, menghajar seorang pengangguran di tepi jalan, sehabis mengurusi perutnya dan membasuh pantatnya setiap hari.

Coba kaupikir, apa yang paling menjijikkan dari kotoran orang suci—baunya atau rupanya? Apakah kau masih merasakan kehadirannya dengan menutup mata, apakah kau tidak menyadari keberadaannya dengan menutup hidung, seberapa dekat jarak yang diperlukan untuk menciptakan kebencian terhadapnya? Aku ada di sana, mengerti sakit yang tumbuh dalam tubuhnya yang kering, urat-uratnya yang kempis satu demi satu, hilang denyut, berhenti berdegup. “Dengarkan Jibril menyebut namaku,” katanya, saat kukeringkan tubuhnya dari mandi pagi yang hambar, “dari langit ketujuh Jibril memintaku segera tiba di sisinya. Cahayanya menelan seisi bumi. Tidakkah kau lihat itu?”

“Aku melihat malaikat maut dengan jubah hitamnya berdiri di samping ranjangmu. Dia melihatmu seperti seekor serigala melihat bayi tikus yang terlantar.”

“Dari kepalamu dia melompat.”

“Dari bayanganmu dia bangkit.”

Ribuan orang yang mencintainya berkumpul menunggu pintu dibuka. Kubilang pada mereka, “Tunggulah beberapa jam lagi. Doakan saja prosesinya lancar. Sudah cukup rasa sakit yang dijalaninya dalam hidup.” Kusampaikan tangis mereka kepadanya dan dia bilang bahwa itu adalah tangis kebijaksanaan. Tidak pernah habis prasangka baik dalam dirinya terutama untuk dirinya sendiri. Sebesar apa pun aku tidak menyukainya, dia tetaplah seseorang yang begitu fasih meniupkan dongeng-dongeng langit kepada manusia, dan aku adalah sahabatnya yang cerewet. Dia akan abadi, kalaupun tidak sebagai jiwa yang murni, maka sebagai ingatan di dalam kepala orang-orang miskin yang selalu dihiburnya dengan bayangan tentang surga dan kedamaian abadi yang menunggu mereka. Kukatakan padanya, “Hari ini dan dari sini surga akan kedatangan malaikat baru.”

“Dari mana kata-kata itu berasal?”

“Dari malaikat maut itu.”

“Dia membawa kebenaran. Dan kau telah menjadi lidahnya.”

Setelah itu bumi merekah layaknya bibir seorang perempuan tua, punggungnya mengakar ke tanah, dia tertelan ke sana, dengan tersenyum membawa matanya yang masih setengah terbuka. Setelah dia tak terlihat aku meremas selimutnya yang tertinggal. Aku meremas wajahku sendiri. Oh, hari panen akhirnya tiba. Aku ikut berbahagia untuknya, sungguh, takkan ada negasi apa pun!