Filsafat Jarak


12794952_10205788912378309_4471447342345706636_o

Hari-hari ini banyak sekali kata yang perlu kita luruskan maknanya. Bukan sebab kita paling tahu, atau peduli, melainkan karena kita ingin, dan keinginan itu adalah sesuatu yang berharga, yang tidak selamanya kita punya. Kali ini, izinkan kita membahas tentang jarak dan bagaimana urgensinya dalam hidup kita sebagai makhluk yang menjadi ada bukan karena berpikir, melainkan karena berbeda.

Awal cerita, seorang tuhan kesepian. Dia lantas mencipta langit, bumi, dan dalam penciptaan itu turut lahir durasi, alur, atau plot—yang kerap kita salah namai sebagai waktu—lalu, di dalam itu, sebagai komplemen dari awal, muncul pula akhir pada segala sesuatu. Sialnya, bagi tuhan, atau bagi pribadi yang sadar akan diri-tuhannya, sebanyak apa pun sesuatu itu dicipta, dia tetap menyadari segalanya sebagai satu, yang esa, yang utuh, tak terbelah, yang sering kita labeli sebagai tauhid sekaligus kita maknai secara dikotomis. Dan itulah yang mengejutkan tuhan.

Setelah jutaan penciptaan, akhirnya, pada diri Adam, Esa bisa termaknai sebagai satu namun terbelah: tuhan dan makhluk. Dalam keterbelahan itu, tauhid, sejujurnya, lebih cocok dilabeli sebagai syirik. Namun itu romantik dan tuhan suka, sebab dalam keterbelahan itu ada jarak yang memberi kita ruang untuk saling menilai, saling muji, saling merindu, saling khawatir, saling takut kehilangan, dan merasa utuh ketika bisa kembali bersetubuh.

Tidak seperti pemahaman kita selama ini, perbedaan terlahir sebagai efek samping dari pencarian jarak yang dilakukan oleh tuhan. Tuhan menyukai “dan”, “saling”, “antara”, “cinta”, “kangen”, “semoga”, “rahasia”, yang semuanya muncul bersamaan dengan terciptanya “jarak”—yang dibawa oleh kesadaran dikotomis Adam mengenai Esa. Tanpa jarak, atau tepatnya, tanpa kesyirikan Adam, bukan saja kata-kata dan realitas puitik itu yang hilang, melainkan seutuhnya makna dan realitas yang hadir antara kita, yang selama ini kita pupuk dalam relasi materialistik, biologis, intersubjektif, atau apa pun itu, dari yang paling dalam hingga yang paling dangkal.

Tanpa jarak, kita kembali esa, sadar akan diri-tuhan kita, dan itu sedih sekali. Bila kita melihat pada titik tertentu, misalnya, kita bisa menyangka bahwa para sufi tak jauh berbeda dengan orang kesepian. Maka, bukan tanpa alasan bila aku kemudian menginginkan kita tidak bersama. Dengan begitu aku bisa selalu mendambakanmu, dalam bentuk yang menyenangkan ataupun sebaliknya. Dengan begitu kita tetap punya kangen sebagaimana yang terawat dalam hamba terhadap tuhannya, yang kemudian lahir menjadi romantisme tanya, “Kekasihku, kau di mana?” Seolah kita pernah berpisah. Seolah tuhan pernah tidak ada.

Ode Buat Diri-Sedihku


Saat terbangun pagi itu, kau letakkan kedua tapal kakimu ke lantai yang telanjang, kau kaitkan helai rambutmu yang panjang ke celah telingamu yang dingin, dan kau tersadar bahwa tiada lagi yang bisa kauajak berbincang tentang hidup, tuhan, tahi kambing, kematian, dan sisanya.

Tidak manusia, hewan, meja-meja dan lantai. Tidak semua.

Kebisuan mengisi dunia atau justru telah tinggal di dalam kupingmu sehingga, apa pun yang mereka kerjakan atau katakan, yang bisa kau dengar hanyalah suara hatimu sendiri—yang dengan santun berkata bahwa orang yang paling sering kausakiti adalah dirimu sendiri.

Tidak jelas apa yang lebih pekat dalam kepalamu.

Mungkin ini yang disebut penyesalan, tapi kau sama sekali tak tahu apa yang layak disesali dalam hidup. Tragedi, pesta, atau tragedi dalam pesta, atau pesta dalam tragedi. Semua sama tidak berartinya atau semua sama berartinya. Semua layak dirayakan atau tidak sama sekali.

Orang-orang pergi dari sisimu, kau tahu, bukan karena mereka kejam, melainkan tak tahan melihat orang murung yang tak bisa mereka sembuhkan. Kau berada dalam diri yang terjerat jaring laba-laba bahkan telah menjadi jaring itu sendiri sebab kau telah rela.

Menghilangkan duka sama saja dengan mati. Dan kau tak perlu merasa terkutuk karenanya. Kau menanggung kesedihan di tengah para pemalu yang pongah, yang merendahkan tangisan dan diam-diam mencintai hujan. Entah sejak kapan—dan entah setan mana yang membuat—kesedihan dipersamakan dengan penyakit dan mesti disembuhkan.

Orang-orang telah menyangkal diri-sedih mereka dan hanya kau yang berani, hanya kau yang siap untuk menjadi rasul dari duka-duka yang diwahyukan tuhan. Lalu lamunan berlalu.

Dan kau terbangun sempurna dari pagimu, merasakan kembali jari-jarimu yang sempat beku, menyentuh pundak lalu leher lalu wajahmu dengannya, dan dunia kembali mengandung bunyi, dan kau tersadar bahwa dirimu masih hadir dan hidup dan hanya kau yang sanggup untuk mencintaimu dirimu sendiri.

 

Yang Hilang Namun Tak Pergi


dsc_0200

            Dalam subuh yang dingin dan mendung, Rabu, 21 September 2016, saya berangkat menuju Stasiun Senen dengan keril besar yang terisi penuh dan menenteng sebuah gitar yang dibeli dari seorang kawan yang merawatnya seperti merawat anak kucing. Keberangkatan kali ini terasa berbeda. Beberapa kawan sempat memberi saran yang berisi “jangan”, beberapa lainnya bilang bahwa mereka sama sekali tak suka perpisahan namun pada akhirnya yang meninggalkan selalu punya kuasa lebih kuat ketimbang yang berusaha menahan. Pagi itu saya diantar oleh beberapa kawan yang sengaja begadang dan bangun pagi hanya untuk menjabat tangan saya sebelum saya pergi. Tujuh tahun saya tumbuh di Ciputat, khususnya di koskosan milik Azumardi Azra iru.

            Pada hari yang melelahkan, usai merapikan Asrama Kampus Fiksi bersama seorang kawan, Kamis, 22 September 2016, hujan mengguyur Gedongkuning sedangkan selepas isya nanti kami harus pulang dan mengikuti darlingan (pengajian) yang rutin dilaksanakan oleh Pak Edi Akhiles dan kawan-kawan. Saya melepas celana panjang saya lalu menyembunyikannya di perut. Celana itu tak boleh basah, kata saya, soalnya itu satu-satunya celana yang layak dipakai untuk beberapa hari ke depan, saat Kampus Fiksi 17 digelar. Kawan saya, Imam, dengan gegas memakai jas hujan dan saya menyelinap di belakangnya. Meluncurlah kami, basah-basahan, sembari diam-diam saya mengingat bahwa di waktu yang sama, di Madura sana, seorang kawan yang saya anggap kekasih, atau seorang kekasih yang sudah saya anggap kawan, melangsungkan pernikahan dengan lelaki baik hati yang sanggup membuatnya tertawa dengan cara-cara yang sepele.

            Pada Kampus Fiksi angkatan sebelumnya, saya biasanya menemani Kang Kiki, supir berdarah sunda namun berwajah ‘timur’ yang bisa memarkirkan mobil dengan satu tangan, ketika tangan lainnya menggenggam ponsel yang terhubung dengan calon peserta Kampus Fiksi yang datang dari luar kota dan butuh penjemputan di stasiun, terminal, atau bandara. Kiki bisa membuat sebuah perkenalan menjadi perkara yang sangat mudah. Lawakan-lawakan ala orang Sunda sering mencuat dari bibirnya ketika kami menjemput dan mengantar peserta. Tapi di hari Jumat yang berawan, dalam Xenia hitam yang ACnya menguarkan aroma karpet tua, 23 September 2016, saya tak lagi mendapati Kiki di bangku supir. Dia memilih kembali ke kampungnya dengan alasan-alasan yang tak mungkin bisa dibantah oleh saya, Imam, atau siapa pun yang merasa tak rela dia pergi. Kemudi mobil penjemputan diserahkan pada Imam, kawan saya yang sempat kesulitan memarkir mobil di ruang sempit depan Stasiun Lempuyangan sehingga saya mesti ikut memberi acuan. Saya tak bisa mengemudikan mobil, tapi saya hafal cara Kiki parkir.

            24 September, saya sempat lupa pada perpisahan-perpisahan itu. Saya asyik berkutat dengan kamera, memotret momen-momen menarik di Kampus Fiksi 17 dan mencoba merekam beberapa sesi untuk dikemas dengan lebih menarik dan di-upload di Youtube. Saya kira dokumentasi Kampus Fiksi akan lebih menarik jika seperti itu. Tapi ternyata saya kewalahan dan malam itu hujan turun kembali. Para peserta Kampus Fiksi 17 yang semestinya punya waktu jalan-jalan setelah shalat maghrib dan isya berjamaah, akhirnya tetap ngobrol-ngobrol dalam ruangan. Manchester United menang besar. Saya lantas teringat Mas Hamid, seorang fans MU yang biasanya bergotong royong dengan saya dalam mengedit foto dan membuat video dokumentasi Kampus Fiksi. Dia, juga Mas Mukhlis, tidak hadir di Kampus Fiksi kali ini. Saya kangen melihat kepulan asap rokok mereka, dan itu mengungkit banyak ingatan baik lainnya yang terjadi antara kami beberapa tahun ini.

            Hujan terus berjatuhan seolah berusaha memanggungkan isi hati saya. Tapi saya tahu bahwa saya tak sepenting itu. Tapi bisa saja hujan itu sedang memanggungkan isi hati banyak orang. Toh, bukan cuma saya yang sedang becek. 25 September 2016, saya beberapa kali menasehati diri sendiri untuk makan. Entah karena terlalu asyik atau terlalu bingung, saya tidak berhasrat untuk makan. Jam lima sore, ketika mengutak-atik video dokumentasi yang akan dipentaskan dua jam lagi, saya dibuatkan mi goreng oleh Danik, gadis penyiar radio yang masih menunggu jodoh di umurnya yang mendekati kepala tiga. Mi goreng itu terasa hambar sekali. Saya sempat mengira lidah saya sudah ikutan mati rasa. Setelah saya cek ke dapur ternyata Danik lupa memupurkan bumbunya. Saya pura-pura ngomel, dan Danik tertawa. Entah yang lucu itu omelan saya atau kekonyolan dirinya sendiri.

            Di malam itu pula Kampus Fiksi 17 ditutup. Asrama Kampus Fiksi menjadi sepi dan saya selalu ‘benci’ ketika menjadi yang terakhir berada di sana, melihat satu per satu menghilang dan entah kapan bisa jumpa lagi. Saya baru bisa tidur jam setengah tiga pagi, 26 September 2016, setelah ngobrol-ngobrol santai dengan beberapa orang yang tersisa. Kampus Fiksi kali ini tidak seramai biasanya bagi saya, tapi saya rasa saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar orang lain tidak merasakan hal yang sama. Saya berhasil menjadi pendiam-yang-berisik yang lebih mahir dari sebelumnya. Dan sore ini, ketika tulisan ini dibuat, saya mendapati diri saya tinggal berdua dengan Miko, peserta yang pulang terakhir. Saya baru ngeh dunia mulai gelap ketika Miko meminta izin untuk menghidupkan lampu kamar. Dia lalu bertanya apakah saya memang selalu memasang musik melow ketika menulis. Saya bilang, musik membantu saya mencapai fokus. Pada titik tertentu, musik itu akan hilang dari pendengaran saya, meski sebetulnya dia tidak pergi.

            Kabar baiknya, di balik cerita orang-orang yang hilang itu, ada yang datang ke dalam hidup saya, yang posisinya tidak akan pernah saya jadikan pembanding atau substitusi dari yang sebelumnya. Ada kawan-kawan asrama DIVA Press yang hidup mandiri dan saya kerap melihat ketulusan di mata mereka. Ada Imam, tandem baru saya dalam antar-jemput peserta KF. Ada Pak Edi Akhiles, orang tua saya di Jogja, yang kebaikan-kebaikannya sudah sering saya ceritakan pada ibu bapak bilogis saya dan membuat mereka haru. Keberadaan Pak Edi pula yang meminimalisir rasa khawatir mereka ketika mendengar saya akan pindah ke Jogja. Gara-gara nasihat beliau pula saya berniat kembali merutinkan shalat. Dua bulan lagi, angkatan KF berikutnya bakal kembali membuat saya antusias, letih, bahagia, dan terharu di akhirnya. Oh iya, ada Eki, alumnus KF16 yang menyatakan kesiapan jika dimintai tolong untuk merekam acara KF. Dia mencintai handicam, katanya. Masih ada pekerjaan lain, pengalaman baru, dan lain-lain. Saya bahagia bisa merasakan hal-hal semacam ini.

            Semoga kalian baik-baik di sana, sebab saya sudah rela. Kapan-kapan saya bakal mengunjungi kalian, bukan buat mengungkit kenangan atau persoalan yang membuat kita berpisah. Sebatas ingin menyampaikan pesan bahwa orang-orang baik tidak semestinya saling melupakan.

Pacarku Memintaku Jadi Matahari


            “Aku sayang kamu. Tolong abaikan bahwa kita baru pertama kali ketemu,” kata saya pada perempuan berambut panjang agak awut-awutan itu. Kami bertemu di kereta, pada bangku nomer 13A dan 13B, berdempetan di udara yang dingin. Kalau tak ada dia, saya pasti sudah ngomel lagi pada AC kereta yang kerap kelewatan. Selain perkara AC, saya rasa kami sama-sama tak suka keberadaan orang lain, makanya kami memilih nomer kursi itu. “Mungkin kita tak akan ketemu lagi. Atau mungkin nanti kita ketemu lagi tapi saya sudah tak cinta. Jadi saya harus bicara saat ini juga,” lanjut saya.

Dia menatap kaca kereta yang ditaburi gerimis. Di luar sana malam sedang berlangsung. Tidak ada yang bisa dilihat kecuali kegelapan yang memantul ke dalam matanya. “Hidupku tidak lama lagi,” katanya. Dia lalu tertunduk kepada jari jemarinya yang saling menyentuh. Adegan semacam ini harusnya hanya terjadi di drama Korea, tapi ya sudahlah, nyatanya ini saya alami. Lalu, seakan masih kurang drama, atau dia mungkin ingin bermain-main dengan kepala saya, dia bilang, “Tinggal satu tahun lagi. Ada kanker di payudaraku.”

“Tidak apa-apa,” saya bilang. “Saya tidak butuh tahun depan. Bahkan tidak butuh hari esok. Cukup saat ini saja.”

“Aku bukan perempuan macam itu,” balasnya dengan pelan.

“Lalu yang bagaimana?”

“Di Kroya aku turun.”

“Lalu?”

“Namaku Ratri.”

“Lalu apa?”

“Aku anak satu-satunya.”

“Apa urusannya dengan saya?”

Dia menatap saya. “Bagaimana bisa kamu bilang cinta padahal belum kenal sama sekali?”

“Apa itu mustahil?”

Dia membeku.

***

Ibu, pacarku ingin aku jadi matahari.

Itu yang saya bilang ketika sampai rumah. Tapi ibu sedang mengurusi kebun kencur yang luasnya 20 hektar dan letaknya di seberang sungai dan ayah masih di hutan mencari pakan sapi. Sebentar lagi lebaran haji, sapi kami yang jumlah seribu lebih harus dibuat obesitas agar harganya mahal. Sambil menunggu mereka pulang saya terus memikirkan bagaimana cara menjadi matahari. “Aku terima ajakanmu,” kata perempuan itu, sesaat sebelum kereta sampai di Kroya. “Mulai detik ini kita pacaran dan permintaan pertamaku…,” begitulah. Saya sempat tanya apakah matahari ini diartikan secara kiasan. Dia bilang tidak. Dia ingin saya jadi matahari sungguhan.

Terdengar suara ayah lewat di depan rumah dengan seekor sapi kesayangannya. “Buah buah apa yang tiap kali digigit rasanya berbeda?” Mereka sedang tebak-tebakan. “Salah!” lanjutnya. “Masih salah!” katanya lagi. Lalu dia terbahak. Agak kurang jelas di kuping saya tapi saya masih bisa dengar si sapi berusaha kembali menebak, “Buah-buahan yang ada di rujak!” Dia terdengar meyakinkan tapi lagi-lagi ayah bilang dia salah.

“Yang betul itu buahasa!”

Saya terkekeh.

Sapi bernama Yuan itu melenguh kesal.

Tak lama kemudian ibu lewat di depan rumah dengan segenggam kencur di tangannya. Dia berlalu menuju belakang rumah sambil memerahi beberapa ayam yang belum masuk kandang. “Bentar lagi malam, pulang-pulang! Jangan main terus! Anak-anakmu mana? Ini masih kurang satu.” Ibu terus ngoceh. Saya tidak tahu kelanjutannya bagaimana, tahu-tahu Ibu dan Ayah sudah tiba di dalam rumah dengan badan yang wangi, baju yang sudah ganti, dan wajah semringah. Lalu saya bilang soal permintaan pacar saya.

“Ini persoalan pelik,” Ibu bilang. “Mendekati mustahil.”

“Pacarmu itu orang mana?” tanya Ayah.

“Kroya.”

“Baru jadi pacar mintanya sudah matahari. Gimana kalau nanti menikah? Dia mungkin minta kamu jadi dunia dan seisinya.”

“Jadi gimana?”

“Ya, terserah,” balas Ayah seadanya, lalu sibuk mengurusi tembakau keringnya. Dia melinting sendiri rokoknya. “Kalau butuh biaya, mungkin buat bayar guru atau sekolah atau apa pun itu, biar kamu bisa jadi matahari, kabari bapak. Nanti uang ditransfer. Sapi-sapi itu bakal beranak lebih banyak buat kamu.”

Saya menghela napas. Panjang sekali sampai-sampai saya hampir lupa melepasnya kembali. Sedang dalam-dalamnya melamun, Ayah kembali nyeletuk, “Perempuan selalu butuh pembuktian. Sangkuriang pernah jadi korban kerewelan perempuan. Bapak juga pernah. Dulu ibumu minta bapak mencangkul tanah berhektar-hektar sendirian.”

Ibu menatap saya, “Bapakmu salah,” katanya. “Bukan pembuktian. Perempuan cuma butuh merasa diperjuangkan. Semua perempuan spesial pastilah seperti itu.” Ibu mengalihkan perhatiannya ke betis Ayah yang sudah tengkurap sambil nonton Kera Sakti. Dia memijiti betis lelaki itu dengan tangan keriputnya, tangan yang sama yang pernah dipakai menampar Ayah sewaktu pulang berjudi. “Perempuanmu itu minta kamu jadi matahari, bukan minta matahari. Dia tahu soal harga diri.”

***

            Saya minta maaf tidak bisa menatap matamu ketika kita bicara, kata saya pada matahari. Silau sekali. Bisa-bisa saya buta sebelum obrolan ini kelar. “Gimana caranya saya jadi kamu? Gimana ceritanya kamu bisa jadi kamu? Pacar saya ingin saya ada di situ, menggantikanmu, buat dia. Tolonglah saya.”

            Matahari mengenalkan diri terlebih dulu. Namanya Lastri. Lalu dia menceritakan masa lalunya. “Dulu aku tinggal di sebuah gang kecil di kota Sabruch, di era ketika malam lebih panjang dari siang. Bahkan bisa dibilang tidak ada siang. Cahaya dihasilkan dari turbin yang menghasilkan listrik untuk seluruh kota. Ketika listrik dihentikan kami memakai getah-getah untuk menyalakan api kecil. Hujan badai turun di malam ketika adikku dilahirkan. Ibu berusaha keras, seorang dukun perempuan membantunya. Petir menyambar berkali-kali, terang sekali kilatnya, dan jantung kami serasa melompat tiap kalu gunturnya sampai. Salah satu petir membuat semua lampu mati. Semua jadi makin panik. Adikku akhirnya mati terlilit tali pusarnya sendiri.”

            Lastri sembunyi di balik awan. “Dukun itu memintaku pergi ke rumah lurah, minta agar listrik dinyalakan,” sambungnya dengan sayup. “Aku berlari menembus hujan, lampu akhirnya menyala. Lalu aku pulang. Sampai rumah, ibuku sudah mati juga. Matanya melotot, bibirnya terbuka, seolah jiwanya direnggut secara paksa.”

            Dia diam lama sekali, jadi saya menegur, “Lalu?”

            “Aku hidup sebatang kara.”

            “Kemudian?”

            “Aku sempat menyalahkan adikku atas kematian ibu.”

“Jadi bagaimana akhirnya kamu jadi matahari?”

“Kata dukun itu, adikku sudah berencana bunuh diri sejak dalam kandungan. Adikku tidak pernah berniat membunuh ibu. Dia hanya tidak tahu bahwa kesedihan bisa menjalar dan mematikan.”

Saya akhirnya diam.

“Aku gantung diri di bukit Tura, di era ketika tak ada lagi lampu yang cukup terang untuk mengisi hidupku. Seusai mati itulah jiwaku menjadi matahari.”

“Dramatis sekali. Jadi aku harus bunuh diri?”

***

            Kami jumpa lagi di Stasiun Kroya, enam bulan setelah pertemuan pertama. Rambutnya sudah tak lagi panjang dan lebat. Saya mulai percaya bahwa dia kena kanker, meski bisa saja botaknya diakibatkan oleh pembalakan liar yang dilakukan para kutu, bukan karena kemoterapi. “Kamu betulan ingin saya jadi matahari?”

            Dia tersenyum dan mengangguk. Gaun merah muda selutut yang disorot matahari sore itu nampak manis seperti gula-gula. Saya ingin menggigitnya kalau boleh. Tapi tentu saja ini akan jadi aneh. “Apa kamu tahu apa arti permintaanmu?” Saya kembali bertanya, kali ini dengan menatap matanya dalam-dalam.

            “Tidak. Lakukan saja,” katanya.

            “Saya tidak akan kembali jika jadi matahari.”

            “Tidak apa-apa. Aku cuma ingin dicintai satu kali. Tidak butuh hari esok. Tidak butuh nanti.”

Cerita dari Hutan Pinus


            Tiga tahun sudah berlalu, setiap hari masih terasa seperti hari ketika kau mati. Saya kadang tertawa mengingat semuanya. Dua tahun lalu saya mulai membangun rumah saya sendiri setelah membakar rumah lama yang pernah kita tempati. Di sini tak ada apa-apa. Cuma dinding tebal dari kayu pinus; meja kasar dari potongan batang pinus yang di atasnya berserakan ranting dan bulu-bulu hewan yang saya pungut dari hutan; manik-manik dari bunga pinus betina yang saya gantung di pintu yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Daun-daun pinus kering saya susun di atas ranjang, lalu saya lapisi kain seadanya. Bunyinya lucu kalau kita tidur di atasnya. Seperti makan kerupuk. Tak jarang dia juga mendatangkan mimpi buruk.

Hanya ada dua ruangan di sini. Ruang depan, tempat saya melamun dan tidur, dan ruang belakang, tempat saya melamun dan memasak. Setiap hari saya berburu. Ada cukup banyak tupai dan monyet. Daging monyet tak seburuk daging biawak, kapan-kapan kau harus coba. Kemarin saya ingin mencicipi daging beruang. Besok atau lusa saya pasti mencobanya. Kalau salju sedang tidak tebal, saya menanam wortel, kubis, kentang, apel, talas, tomat, dan banyak lainnya, yang jarang sekali saya panen. Saya lebih senang melihat mereka tumbuh lalu mati dengan sendirinya. Sejak tinggal di sini saya tidak berjumpa dengan manusia, jadi cuma pepohonan dan binatang itulah kawan saya. Dan perlahan saya menjadi mereka. Kadang saya cuma berdiri di belakang rumah, tak memikirkan apa-apa, tak merasakan apa-apa. Cuma berdiri sampai menggigil, lalu tak sengaja menggigit lidah saya sendiri dan tertawa.

Saat musim semi tiba, tiang rumah ini akan bercabang, atapnya meninggi, lantainya berakar makin dalam. Dari kaki saya juga muncul akar, dari kening saya lahir ranting, daun-daun menghijau, lalu mata saya berbuah. Kami sama-sama tumbuh seperti itu. Tapi itu cuma perasaan saya, kau tak harus percaya. Kalaupun kau percaya, belum tentu kau mengerti. Jadi sia-sia saja. Di musim panas saya menggali beberapa ubi yang saya cari di lembah gunung. Beberapa ubi memiliki rambut dan seperti kepala manusia. Kadang saya jumpa pohon ginseng yang enak sekali kalau diseduh dengan kendi lalu ditemani daging tupai yang sudah diasapi. Tupai itu hidup dalam perut saya lalu meminum air ginseng itu di sana. Kalau sudah begitu saya kegelian, tapi tak masalah, karena ketika musim gugur tiba saya mulai makan biji-bijian yang jatuh dari pohon apa saja, yang beberapa di antaranya beracun. Tupai itu mati tapi saya tidak.

Musim gugur lebih dingin dari musim dingin. Saya menjadi tengkorak di musim itu, menyaksikan daun-daun jatuh, mata saya berkedip lebih pelan, binatang-binatang tidur panjang, pepohonan menjadi tua, angin berwarna cokelat, tanah menjadi keriput, semuanya terlihat lelah dan tua. Salju jatuh di atas saya dan menjadi daging. Salju jatuh di atas mereka dan menjadi pakaian. Semuanya sembunyi di balik warna putih yang ganjil. Kabar baiknya, memancing jadi lebih seru di saat danau membeku. Bukan karena ikannya banyak. Sebelum memancing, kita perlu membuat lubang kecil di permukaan danau yang sudah jadi es. Saat lubang itu dibuat, saya merasa bahwa saya sedang membantu danau itu bernapas. Itu perasaan yang menyenangkan. Lalu danau itu memberi saya ikan besar-besar. Saya membawanya pulang, membakarnya di ruang belakang, bumbunya cabai yang sudah dikeringkan lalu digerus, dicampur minyak zaitun dan tomat hijau yang diiris tebal-tebal.

Sudah tiga tahun saya tanpa kau. Setiap hari kau mati dan tiap hari saya merasa kehilangan. Tapi itu baik untuk saya. Dengan begitu saya merasa hidup ini bisa ditinggali. Kalau nanti saya sudah tak sedih lagi, saya bakal langsung mati, mungkin teracuni oleh biji-bijian yang saya makan, atau daging monyet yang berpenyakit, atau lidah saya tergigit lalu jadi tetanus karena saya tidak pernah sikat gigi lagi entah sejak kapan. Apa pun alasannya, saya bakal membusuk, tak bisa diawetkan oleh musim. Atau mungkin saya nanti jadi pohon pinus lalu ditebang seseorang yang lari ke hutan untuk mencari kekasihnya yang mati tiga tahun sebelumnya. Saya jadi rumah yang hangat baginya. Lalu saya bercabang tiap kali musim semi tiba. Dia menjadi daun kering tiap kali musim gugur tiba. Di hari ketika dia merelakan kekasihnya, dia mati dan menjadi pohon pinus juga. Kisah yang sama terulang pada orang lain. Dan begitulah hutan pinus ini tercipta.

Perempuan yang Jatuh dari Ranting Bambu


Seorang perempuan bergaun merah jatuh cinta pada pohon bambu. Di ranting bambu dia berbaring, melipat tangannya jadi bantal, memejamkan mata seolah telah mengenal dunia di balik sana. Namun benaknya pulang menuju rumah yang belum pernah ditinggali. Di sana ada lelaki yang sedang menagih keadilan atas pembunuhan anaknya. “Mata dibayar mata,” katanya, yang kurang lebih berarti nyawa dibayar nyawa. Orang tua dari si pembunuh berkata, “Kalau seperti itu, takkan tersisa manusia yang hidup.” Ayah si korban membalas dengan suara yang berbunyi di nada C lalu E minor, “Kalau tidak seperti itu, orang baik akan punah duluan.”

Perempuan itu terjatuh dengan gaun yang tersangkut patahan ranting, robek, menjadi telanjang. Kulitnya bersih dadanya mekar, sampai di tanah menjadi rumput. Saat dia berdiri seketika dia terinjak. Gerombolan kambing seperti pembajak. Yang rajin beribadah, sebab, saat meraih rumput mereka bersujud, saat makin tua janggutnya kian tak tertata. Dimakanlah perempuan ini oleh Kambing bernama Maul—yang nama aslinya “Maut” tapi karena kambing tidak bisa melafalkan huruf T jadinya begitu. Rasanya aneh sekali dikunyah oleh kambing. Seperti dipeluk oleh seseorang yang tidak pernah menyetrika bajunya sendiri.

Seekor cacing bernama Mukaw sedang membelah diri, lalu muncullah satu lagi yang kemudian dinamai Nakiw—yang sama-sama tak bisa mengucapkan R, lalu mereka berdua menyalami si perempuan yang sudah jadi benda hijau tanpa bentuk. “Kau tidak akan kami makan kalau bisa menjawab pewtanyaan kami dengan benaw,” kata Mukaw. Si perempuan bicara dengan bahasa yang cuma bisa dipahami cacing dan kebetulan penulis cerita ini pernah menjadi cacing. Katanya, “Aku tidak pernah tahu ada kuis semacam ini. Aneh juga. Kenapa aku harus takut dimakan oleh kalian padahal aku baru saja dimakan kambing?”

Dua cacing saling tatap, salah satunya membuka buku tebal yang berisi kumpulan pertanyaan yang belum pernah diperbaharui sejak dunia tercipta. “Siapa Tuanmu?” Mukaw mengajukan pertanyaan. Si perempuan berpikir tapi tidak memikirkan apa-apa. Apa yang mau dipikirkan, memangnya? Jadilah dia makin berantakan, bagian-bagian tubuhnya mulai terpisah, lalu bicara, “Sebelum pertanyaan ini kujawab, aku mau bilang bahwa aku ini pelupa. Bisa jadi jawabanku keliru, tapi bukan berarti aku salah, aku cuma lupa.”

“Tujuan kami memang mengetes hafalan kok,” kata Nakiw. “Sebelum datang ke sini hawusnya kamu wajin menghafal. “Jadi siapa Tuanmu wahai wumput?”

“Kambing.”

“Wah, dia benaw,” kata Nakiw.

Mukaw mencari pertanyaan lebih susah sebab perutnya sudah sangat lapar dan ia ingin melahap rumput itu ketika masih segar. “Apa pegangan hidupmu?”

“Aku sempat pegang ranting bambu. Pernah juga pegang tangan ayahku. Pegang tas belanja. Pegang leher kambing.”

“Kau pegang lehew Tuan? Apa maksudnya itu?”

“Ya, pegang. Tanganku ada di lehernya.”

“Kau mencekik Tuan? Bagaimana bisa? Wah, ini keliwu. Ini tidak bisa dibiawkan.” Rasa lapar pada perutnya mendorong Mukaw untuk mengadili dengan lebih cepat dan tak adil-adil amat. “Nakiw ayo kita hukum dia!”

“Bukan mencekik. Aku dulu pelihara kambing.”

“Kau mau bilang bahwa kamu memelihawa Tuan? Bewani sekali kau bilang begitu!” Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, Nakiw memakan tubuh perempuan itu. Namun sebagian tubuh itu tertinggal di dalam perut kambing sementara sebagian lain masuk ke dalam perut cacing yang ada dalam perut kambing. “Ini wumput paling enak yang pewnah kumakan,” lanjut Nakiw.

Di dalam perut Nakiw si perempuan sudah tak layak disebut perempuan. Susunya sudah tak ada, kulit mulusnya telah hancur mumur. Di sana dia bertemu cacingnya cacing, atau apalah itu namanya, yang mulai menimbang amal baik dan amal buruk. Dia baru tahu amal perbuatan punya berat, bisa dikumpulkan seperti memanen padi lalu ditimbang dengan satuan kilogram. Dosanya tercatat 12 kilogram sementara pahalanya 11 kilogram. Artinya dia harus menurunkan berat badan sebanyak sekilo, baru diperbolehkan lanjut ke surga. “Du surgu tuduk buluh udu urung gundut,” kata cacingnya cacing yang cuma bisa memakai vokal U. Tak heran bibirnya monyong sekali.

Si perempuan yang sudah bukan perempuan itu cuma butuh lari dua kali putaran lantas beratnya turun dua kilogram. Satu kilo kelebihannya tolong dikasih ke rumput lain yang kelebihan dosa, katanya. “Tuduk busu bugutu. Burut budun tuduk busu dupunduh-punduh,” kata cacingnya cacing. Oh, ya sudah, batin si perempuan menerima. Dihantarkanlah dia menuju pintu surga, tempat cahaya berkumpul dan semua yang menuju sana perlu memakai kacamata hitam—saking silaunya!

Dia baru tahu surga itu bau tahi kambing. Dia tak sadar dia tahi kambing. Tapi dia bisa merasakan sesuatu memindahkan dirinya dengan kasar ke dalam karung, lalu dia dipindahkan lagi ke tanah, di dekat pohon-pohon tomat yang tumbuh dengan optimistik. Dia berbicara dengan bahasa tahi kambing kepada pohon tomat yang sayangnya tidak bisa dipahami si pohon namun bisa dipahami penulis cerita karena si penulis ini pernah jadi tahi kambing juga, “Siapa yang menanam pohon tomat di surga?” kurang lebih begitu pertanyaannya. Si pohon tomat merengut tak mengerti. Dia bilang, “Akan kucatat omonganmu. Semoga kapan-kapan aku bisa paham itu.” Sayangnya, kambing tidak makan pohon tomat. Jadi dia masih harus menunggu lama untuk bisa memahami omongan si perempuan.

Waktu berjalan, si perempuan yang sudah jadi tahi kambing itu meleleh dan lebur dalam tanah, terserap si pohon tomat dan menjalar di nadi-nadinya. Pohon tomat tumbuh dewasa, dibantu kayu agar tumbuh tegak lagi tinggi, buahnya dijaga dari hama lalu dipetik manusia, dikumpulkan di keranjang, dan tiba-tiba si perempuan mendapatkan kembali kesadarannya di sana, meski tak lagi utuh sebab sebagian dari dirinya tetap tertinggal di tanah, entah menjadi apa selanjutnya. Sayangnya, saat kesadaran itu kembali, dia sudah berpisah dengan si pohon yang membesarkannya. Mereka tak sempat bicara dengan bahasa yang mereka sama-sama pahami.

Tomat dipotong-potong dan disajikan dekat telur dadar, di sebuah piring putih yang bicara dengan bahasa keramik. “Kukri tug huyt hanem birye kanwre goh!” katanya, jelas tak dipahami perempuan yang sudah jadi tomat yang teriris-iris itu. Tahu-tahu ada garpu menancap di tubuhnya lalu dia masuk ke dalam mulut manusia. Di sana dia bertemu cacing-cacing yang senang mabuk dan tertawa, mereka ramah meski pengangguran. Tak ada penghakiman atau sejenisnya. “Siapalah kami berani menghakimi perjalananmu yang jauh lebih jauh, sungguh jauh lebih jauh,” kata salah satu cacing yang bermata biru bening dan menggenggam botol rum.

Perempuan itu merasakan dirinya mulai terangkat. Dia terpisah dari tubuhnya. Jiwanya terangkat, mungkin kali ini akan sampai ke surga yang katanya tersedia segala macam kenikmatan. Sampai di situ dia kehilangan ingatannya. Si perempuan itu mati meski tidak musnah. Jiwanya yang tercacah mengalir menuju embrio seorang manusia yang sedang tumbuh dalam perut perempuan muda. Dalam embrio itu si perempuan ikut menumbuhkan kesadaran baru yang bukan lagi dirinya namun tetaplah dirinya. Bahasa yang dipakai tidak bisa diterjemahkan sebab si penulis cerita pun lupa saat-saat itu.

Anak itu terlahir, berkata, “Mama, Ayah, sekolah, aku benci PR, aku lelah bekerja, aku tak percaya lagi pada lelaki, aku ingin mati saja,” lalu sampailah di usianya yang ke tiga puluh enam, saat ketika dia melihat pohon bambu raksasa, lebih besar dari tugu monas. Dipanjatlah pohon itu memakai gaun yang sewarna dengan daun kering. Kepada bambu itu dia mulai bercerita tentang keluarganya, karirnya, masa mudanya yang sampah, semuanya—meski dia tak paham pada bahasa bambu namun dia yakin bambu itu memahaminya. Katanya di akhir cerita, “Aku mencintai ketinggian lebih dari apa pun. Dia membuatku merasa dekat dengan kematian dan saat itu aku merasa hidup. Hubungan yang rumit, bukan?”

Tanpa dipahami perempuan itu, si bambu berkata dengan nada minor, “Kemarin kau bilang kau cinta padaku. Tak kusangka kau berubah secepat itu.” Lalu ranting bambu itu patah dengan telak. Perempuan yang bergaun sewarna daun kering itu terjatuh, gaunnya menjadi tanah, tubuhnya menjadi bangau, lalu hafalannya diuji oleh badai dan buaya.