Apa Guna Naik Gunung, Jon?


Rinay masih duduk di kursi rotan pendek itu selagi aku merapikan barang-barang yang hendak kubawa ke Merbabu. Dia sesekali nyeletuk tentang kuliah, kerjaan, cuti, dan sekitarnya, yang intinya ingin bilang bahwa dia bisa ikut denganku besok. Tapi aku tak mau mengajaknya, pertama, karena ini musim hujan dan tentu jalurnya akan sangat licin, kedua, karena aku sedang butuh sendirian dan ini sukar untuk ditawar-tawar. Kapan-kapan akan kuajak kamu, kataku, kalau musimnya sudah baik, dan kalau fisikmu sudah lebih gesit. Gunung bukan tempat main-main. Orang bisa mati betulan di sana. Dia masih menyimpan bibir cemberutnya.

Ibu menelepon, bertanya gunung mana yang hendak kudaki (sepertinya dia baru membaca status Facebookku soal rencana naik gunung), lalu kubilang Merbabu, dan dia, dengan rasa khawatirnya yang selalu berlebihan, berkata bahwa sebaiknya aku tidak berangkat sendirian. Di sana ada banyak orang, Mak, kubilang. Gunung tidak lagi sepi. Lalu apa yang kamu cari kalau di sana sama saja dengan di sini? Rinay merecoki obrolan kami. Suara siapa itu? Ibu menimpali. Itu teman, kubilang, sedang mampir ke kamarku. Perempuan? Iya, kubilang, dan dia ingin ikut bersamaku ke gunung. Jangan! Lebih baik kamu sendirian. Pada akhirnya memang akan begitu, Mak, aku sedang ingin sendirian. Ini penting sekali buatku.

Coba kalau tekadmu itu dipakai untuk ke mesjid, mungkin akan lebih baik. Kalau dihitung-hitung, kamu lebih sering naik ke gunung yang jauh ketimbang pergi ke mesjid yang cuma selangkah dari rumahmu.

Shalat kan tidak harus selalu di mesjid, Mak.

Dia tidak pernah shalat, Bu, celetuk Rinay.

Aku shalat kok, kadang-kadang.

Setahun sekali.

Kamu ini sudah tidak percaya tuhan atau bagaimana? Bapakmu sempat bilang katanya kamu sudah jadi atheis. Atheis dan kafir itu apa bedanya ya, Jon?

Aku malas sekali meladeni ibu kalau dia mulai mengajak diskusi hal-hal sepele semacam ini. Kulepas buntelan baju yang hendak kumasukkan ke keril, lalu kutaruh pantatku di kasur lantai, dekat Rinay yang masih monyong seperti ikan buntal. Atheis itu orang yang sedang dalam perjalanan jauh, kubilang, suatu saat dia pasti pulang, entah ke rumah yang semacam apa, yang jelas dia akan menemukan itu. Mamak makin tidak mengerti dan dia cuma berdecak-decak. Sementara kafir itu orang yang sudah sampai di rumah, lanjutku, hanya saja rumahnya berbeda. Jadi bisa saja suatu saat aku menjadi kafir. Mamak beristighfar kencang. Kapan kamu pulang? Nanti, di musim rambutan, kubilang. Apa harus menunggu lebaran atau musim rambutan buat menengok mamakmu yang makin tua ini? Apa kamu lebih cinta kepada gunung ketimbang orang-orang di sekitarmu?

Nah itu, bener, Bu!

Kulirik Rinay yang sedang menguping.

Dia tidak pernah peduli pada manusia lain. Dia cuma cinta pada dirinya sendiri. Harusnya aku tidak suka padanya.

Siapa sih perempuan di dekatmu itu?

Namanya Rinay.

Kok cerewet sekali.

Tidak cocok dijadikan istri ya, Mak?

Jangan alihkan pembicaraan!

Iya, iya. Nanti aku pulang. Ini naik gunung pun cuma sebentar. Cuma tiga malam dua hari, dan itu dihitung dari keberangkatanku sampai pulangku kembali ke kamar. Lebaran nanti aku akan tiga minggu di rumah. Itu waktu yang banyak sekali. Kurang cinta apa aku, Mak, kepadamu? Sayangnya, kalimat paling akhir ini cuma kukatakan dalam kepalaku. Aku tak bisa bilang cinta begitu kepada orang tuaku. Mereka sudah pasti mengerti tanpa kubilang. Mereka mengerti tapi itu tetap perlu, Jon, kata Rinay yang hidup dalam kepalaku. Sudah kamu diam, jangan ikut-ikutan terus. Sudah ya, Mak, aku mau beres-beres dulu. Nanti kalau sudah turun gunung akan kukabari.

Jangan lupa shalat. Jangan lupa ke mesjid. Itu tugasmu sebagai muslim.

Mak, aku mau bilang sesuatu, tapi setelah itu jangan balas apa-apa lagi, teleponnya akan langsung kututup.

Apa itu?

Aku merasa, lebih baik aku pergi ke gunung dan memikirkan tuhan ketimbang aku pergi ke mesjid dan memikirkan gunung.

Jon—

Aku titip salam buat bapak.

 

Iklan

[CERPEN MINGGU] Mantra Terbang


Nuril, heh, Nuril, kau masih ingat mantra terbangmu? Itu ambilkan baju ibu yang dibawa kabur angin. Dia sudah buta, sekarang ditambahi bisu, lumpuh, tuli, kasihan betul, masih pula dijahili oleh tuhan, memang, bangsat tuhan itu, Nuril, jangan kau sembah dia, percuma, doa-doamu tidak kurang tidak lebih, sama, dengan kata-kata lain yang diciptakan manusia. Pohon pete itu tidak terlalu tinggi, harusnya bisa kau naik ke dahan yang itu. Di sana menggantung baju merah pucat kusut tak berharga lebih baik dibuang saja buat apa kau berusaha mengambilnya, kalau sampai maghrib nanti belum juga kau lipat masuk ke lemari, ibumu pasti tahu, dan dia bakal sulit tidur. Sudah, Nuril, dengar, heh, Nuril, jangan membantah, ibumu itu memang buta, tapi kalau soal jemuran, dia tahu, dia ingat, sehebat kau dalam mengingat bulu-bulu ayam jantan kesayanganmu, kawan bicaramu satu-satunya dalam rumah itu, yang kemarin mati terlindas truk pembawa cadas. Iya, mestinya begitu, setuju, sama sekali tidak ada yang keliru dari kata-katamu, tapi, Nuril, dengarkan aku, sebaiknya kau mulai bergerak ke bawah pohon pete itu, tidak apa-apa, pelan-pelan diingat mantranya, panjat seperti biasa, tidak masalah, tak perlu malu, waktu petang begini yang melintas cuma orang-orang tua yang memikul pakan ternak, mata mereka lebih banyak menekuri jalan ketimbang mendongak, kalaupun ada yang melihatmu, kuyakin cuma para kapinis dan kapila yang habis melaut, hendak pulang ke rumah mereka, di rumah Haji Duloh, tapi mereka pun tak bakal laporan ke Haji Duloh bahwa si Nuril manjat pohon pete petang-petang begini hendak apa itu si Nuril astaga anak tolol hoy Nuril turun turun bukannya mandikan ibumu kau malah, tidak akan. Jangan, jangan salahkan sodara-sodaramu yang lain, yang tak mau mengurusi ibu, ini salahmu sendiri, tak kunjung merantau, padahal sudah berulang kali bapak mengajak pergi memancing, mengambil hasil panen dari para petani, mengirim cabai, terong, kacang panjang, katuk, mentimun, pepaya, semua itu, ke Pasar Kemis, bertemu Sumantri, Kurtubi, Hendar, Soleh, Candra, Suti, Marwan, yang dari situ kamu bisa mulai menjauhkan diri dari rumah. Tapi sekarang sudah selesai, Nuril, tenang saja, tidak apa Nuril, Nuril, heh, astaga, jangan dulu tutup wajah ibumu, durhaka kau ini, semua orang akan kebagian doa dari Haji Duloh, Nuril, ibu bisa bangun lagi, besok dia membaik. Jangan, jangan kau luruskan tubuhnya, jangan lipat kedua tangannya di perut, jangan, Nuril, berhenti di situ, cepat ambil bajunya, Nuril, ke pohon pete itu, jangan kau katupkan matanya, Haji Duloh sudah mulai solawatan, Nuril, jangan usap lagi wajahnya, sudah mau magrib, ibu pasti kesal. Nah, begitu, ikuti aku. Ini terlalu ruwet, Nuril, coba kau bayangkan, satu hari saja, misalnya ada 50 orang yang datang, satu beseknya butuh biaya 10 ribu, lalu kalikan dengan tujuh, itu belum ditambah dengan rokok, suguhan kecil seperti ranginang, pisang, opak, papais, bugis, misro, belum lagi, Nuril, belum lagi, Haji Duloh itu dihitung sepuluh, dan dia pasti datang, iya, aku tahu, aku tahu dia orang baik, lebih tepatnya dia orang kaya, dia bisa memberi keringanan, mungkin juga tidak perlu dibayar apa pun sama sekali, tapi yang lain bagaimana, tidak semua orang sekaya Haji Duloh, Nuril. Terlanjur gelap kalau begini terus. Lekas, lekas ambil senter, soroti jalanmu ke pohon pete itu, mumpung embun belum turun. Nah, begitu, satu-satu saja, tidak perlu sekaligus dua kakimu, diseret-seret juga tak masalah, cuma dua puluh meter dari liang pintu, tak akan terasa. Astaga, kenapa berhenti lagi, Nuril kau goblok sungguh membuatku ingin memukul kepalamu pakai golok memang kepalamu yang selalu bikin repot harusnya dihabisi saja Nuril, ayo ke sana, buru! Tidak perlu, nanti ada yang mengurusi hal semacam itu, bukan kamu seorang, bukan pula ibumu, karena setelah ini dialah yang akan diurusi. Sudah selesai, Nuril, dia sudah selesai, kenapa kamu belum juga paham, ya ampun, sekarang kau malah menuduhku, padahal sejak awal aku sudah tahu, lebih tahu darimu, tapi aku tak suka kalau kau memperlukannya begitu, dia itu ibumu, harusnya orang lain yang melakukan hal yang kaulakukan tadi, tapi tak usah kembali lagi ke sana, Nuril, sudah terlanjur tertutup kain wajahnya, biarkan saja, sekarang ayo ke pohon pete itu, ambil baju ibu, ini tetap penting, bagaimanapun. Sudah tidak perlu ambil senter. Tidak perlu nyalakan lampu. Tidak perlu menoleh lagi. Tidak perlu. Tidak. Tidak. Ini sudah benar. Siapa yang bilang begitu? Jangan kepedean kau, Nuril, memangnya akan jadi apa kau kalau hidupmu dilanjutkan, akan jadi, haish, Nuril, lugu betul, kau mau terus-terusan menulis puisi lalu mencetaknya terbatas seolah spesial padahal tak laku atau, hidih, kau bahkan tak punya bakat buat menikmati hidup, itu intinya, kau ini tinggal seorang, keluargamu sudah mati semua, tabungan tidak ada, utang malah menumpuk di sana-sini, SMA saja tak lulus, mukamu tidak nyaman dilihat, rumahmu sudah lebih cocok disebut makam, sisa tanah warisan ibu tak lama lagi bakal dijual juga buat membiayai kepergiannya, oh, kau mau pergi ke jakarta, memangnya ada apa di sana, atau ada siapa, atau mau apa, jadi sastrawan kosmopolitankah, jualan es tebukah, nyemir sepatu atau lainnya, sayangnya, satu-satunya kebisaan yang kaupunya adalah mengurusi perempuan tua yang sakit, kaupikir dengan ke sana hidup bakal jadi lebih baik. Nah, kau sendiri dengar kan cerita Kardi yang itu. Di sana kau bakal jadi babu seumur hidup atau mati diambil ginjalmu lalu kau dibuang ke selokan tanpa seorang pun tahu sampai banjir mengangkat tulang-tulangmu ke atas aspal. Lanjutkan langkahmu, sudah dekat, sepuluh meter lagi, lalu panjat, selesaikan. Si Riswan tak bakal mau membantu. Semua orang di Jakarta berjuang untuk dirinya sendiri, itu sudah hukum pasti, tak bisa diubah, tak bisa diganti, Jakarta membelokkan orang-orang lurus, Nuril, bisa saja kau pun membunuh kalau ke sana, dan kau tak merasa bersalah karena itu keterdesakan, semua terdesak, tentu saja. Ya, tentu licin, tanganmu berkeringat, badanmu juga, kulit kepalamu berdenyut dan terasa dingin, apa kau takut? Tidak apa-apa, ini singkat, tak akan terasa, akan lain rasanya dengan menjalani sisa hidupmu. Taruh saja senternya, arahkan ke atas, atau matikan saja, kau tak bakal tersesat ketika memanjat, itulah kenapa ini mudah. Tidak, Nuril, Haji Duloh juga tak bakal membantu. Kaupikir kenapa dia bisa kaya raya? Karena banyak sedekah? Karena rajin membantu orang lain? Tidak, Nuril, jelas orang bisa kaya karena pelit dan menindas yang lain, tidak ada cara lain, jadi kalau kau merasa dia akan membantumu, mungkin saja itu terjadi, tetapi dengan kau menjadi babunya, gajimu cuma cukup buat bertahan hidup, tidak ada liburan, tidak ada cita-cita, itu pun, hhh, aku tak tega melanjutkan, tidak bisakah ini dibuat cepat saja, Nuril, iya, dia orang beragama, betul, tapi soal uang, nah, raih dahan yang itu, rehat sebentar di sana, tidak apa, sudah dekat. Eh, Pak Haji, sudah beres maghribannya, ini, ini aku mau bunuh diri, eh bukan, itu, aku sudah tidak tahu mau apa, ibu sudah tidak bisa dibangunkan, maksudku, aku mau mengambil jemuran itu, yang nyangkut dari siang tadi. Itu, lho, masa tidak kelihatan? Haji Duloh sudah picek, Nuril, cuma kau yang bisa lihat baju itu, orang lain tidak. Jangan hiraukan. Dia akan mengajakmu bicara terus, tapi pasti sebentar saja, cuma basa-basi, karena dia harus pulang, melanjutkan ibadahnya di rumah, atau nonton berita malam, atau menghitung uang yang didapat warungnya hari ini, secara itung-itungan, bicara denganmu sama sekali tak ada faedahnya, tak akan menambah apa-apa bagi dirinya, lucu, tapi memang begitu, kau harus mulai menerima bahwa orang-orang kampungmu begitu, tidak apa-apa kalau kau mau ketawa, toh sudah di atas, tak bakal ada yang menjemputmu ke sini. Nah, tertawa begitu, enak ya? Bertahun-tahun mukamu rapat, baru hari ini kau merasakannya, sampai-sampai kau mau menangis karenanya. Aku sungguh benci, Pak Haji, besok orang berkumpul di sini karena aku mati, memuji-muji, menyayangkan yang terjadi, tapi waktu aku hidup boro-boro ada yang berkunjung, dan tak ada yang bakal mau aku hidup lagi, Pak Haji, aku cuma berguna sebagai tempat pamer bela sungkawa, juga ibuku, cuma sebagai mayat kami punya arti, apa kau tidak benci kalau jadi aku. Tidak, aku tidak mau turun, pulang saja, Pak Haji, aku masih mau mengambil baju itu. Itu di sana bajunya, hijau terang, masa tidak kelihatan. Ck. Sudah tua matamu itu, tidak bisa melihat dalam gelap. Sudah, Nuril, jangan ladeni, lanjutkan saja, sepuluh meter lagi, sudah cukup, sambil diingat-ingat mantra terbangmu. Pohon pete ini kenapa tidak lagi berbuah ya, padahal lumayan, harga pete sempat enam ribu per buah, kalau dihitung-hitung, satu pohon saja sudah, tapi tidak mungkin, Nuril, menanam pete tidak sebentar, kau lebih dulu kelaparan sebelum sampai ke musim panen, beternak kambing juga sama, menanam apa pun, usaha apa pun, sama, tidak ada yang bisa membuatmu dapat uang cepat, cuma hal-hal jahat yang menawarkan semacam itu. Iya, harusnya bapakmu sempat mengajarimu berkebun, mungkin akan beda nasibmu, tapi kau tak bisa menyalahkannya, dia pun akhirnya jadi tengkulak, tak ada masa depan buat petani, yang mahir sekalipun, miskin, miskin, kau miskin, Nuril, kasian sekali dirimu itu coba lihat bajumu kumal mukamu jelek sekolah tak lulus sudah tak punya siapa-siapa puisimu seperti orang mengigau sudah tak perlu pakai mantra-mantra loncat saja, loncat! Pak Haji, minggir! Minggiiiir aku mau terbang kalau gagal nanti kau tertimpa mati kau Pak Haji, minggir, aku tidak bercanda, tekadku sudah bulat, bajunya sudah tak ada, sudah tid—Nuril, heh, Nuril, dia sudah tak di sana. Haji kok pergi tanpa permisi. Tidak berguna untuk dipikirkan, Nuril, malam makin pekat, udara bau cuka, keringatmu, Nuril, pantas tidak ada perempuan yang suka padamu, tidak ada gunanya mengelak, tujuanmu bukan itu, cuma memperlambat ending, Nuril. Siapa itu teriak-teriak di bawah, Nuril, coba telisik mukanya, barangkali ada kenal meski sedikit, tapi, tapi dari suaranya, apakah dia Rendra, almarhum, idolamu, oh, dia memintamu lompat, sudah kubilang, bukan, bukan, dia bukan memintamu turun, tapi lompat, itu berbeda dan cuma seorang pengecut yang mencari-cari irisannya. Semua orang ingin kau lompat, Nuril, termasuk dirimu sendiri, yang diam-diam merasa tak berguna, tak ada artinya, kendati tiap hari mengomel di beranda Facebook seperti orang berpengaruh, seolah-olah orang gentar padamu, pada puisi-puisimu yang lesu, mukamu yang jelek, sama sekali tak berkarisma, modal jempol, modal bibir, modal kesepian, modal astaga, menyedihkan sekali ya, dirimu, Nuril, apa perlu kulanjutkan? Siapa lagi itu, di bawah, pakai kerudung, mungkinkah itu bibimu yang lebih baik dianggap sebagai maling ketimbang saudara kelakuannya nipu-nipu melulu suka pamer perhiasan hasil culas jangan hiraukan dia Nuril, fokus pada tujuanmu, itu penting, bagaimanapun. Berisik! Berisik! Berisiiik! Aku tidak mau turun! Aku mau lompat! Iya, betul, begitu, Nuril, teruskan. Jangan luluh oleh rayuan manusia-manusia macam mereka, tidak satu pun mau menanggung utangmu, rasa malumu, kehilanganmu, ketidakjelasan masa depanmu, semua cuma ingin kau melanjutkan hidup, melanggengkan penderitaan. Yang itu, di bawah lagi, lagi, ada yang datang lagi, sepertinya Yuni, dia masih saja cantik di gelap begini, tapi bagaimanapun, Nuril, kalau sampai waktuku! Kumau tak seorang kan merayu! Tidak juga kau! Nuril, dengarkan aku, jangan dengarkan mereka. Tak perlu sedu sedan itu! Aku adalah binatang jalang! Astaga, Nuril, kenapa membaca puisi yang pasaran sekali dari kumpulan yang terbuang! Hentikan, Nuril, jangan baca puisi di sini, tidak ada gunanya, sungguh, malah tambah terlihat menyedihkan, aku tahu, Nuril, aku biar peluru menembus kulitku! Aku tetap meradang menerjang! Cukup! Cukup! Cukup, anying! Luka dan bisa kubawa berlari! Yuni kenapa cantik sekali, Nuril, aku benci melihat kecantikannya, sudah pasti kau juga berlari! Hingga hilang peri! Bisa tidak kau baca puisi tanpa berteriak, Nuril, bisa tidak kau, iya, ini panggung pertamamu, selama ini tak satu pun pendengar kau punya, cuma layar ponsel butut saja kawan bicara, tapi ini sudah bukan zamannya, Nuril, tak ada lagi Chairil bakal lahir, kau bikin malu dirimu sendiri, tuh lihat orang-orang bergunjing, semakin banyak orang, di bawah, menunggumu, tapi aku akan lebih tak peduli! Aku mau hidup seribu tahun lagi! Apakah mereka memberimu tepuk tangan, Nuril, sepertinya tidak, mereka tak mengerti kau sedang apa kata-katamu semata racauan orang gila orang banyak utang ditinggal mati ibunya loncat sekarang! Loncat! Lupakan mantra terbangmu. Lonc—

 

Kolam Lele Stasiun Senen


Dalam perjumpaan yang aksidental satu bulan lalu di Senen, seorang bernama Sin, lengkapnya Muksin Sangaji, kawan lama saya di Cironyom dan kami sempat sekolah bareng sampai STM di jurusan otomotif, memberi kabar bahwa anaknya yang pertama sekaligus satu-satunya meninggal karena difteri. Di mukanya masih tergurat garis-garis stress kendati dia dingin seperti biasa. Dia bukan jenis manusia yang menangis. Dulu itu saat ibunya mati, dia cuma tidak masuk sekolah satu hari dan tak ada jejak kesedihan sama sekali. Gara-gara itu saya sempat mengira dia bakal jadi debt collector atau setidaknya jagal. Tapi ternyata tidak. Sekarang dia lebih mirip tisu toilet yang dipakai buat mengelap mulut atau jendela yang dipakai buat mengintip jemuran atau mungkin jalan raya yang dipakai pengajian.

Tahun lalu, saat pulang kampung, saya lihat peternakan lelenya yang berupa kolam seluas 2×2 meter. Lele-lelenya dibiarkan tumbuh menjadi terlalu besar dan tak layak dijual (coba kaupikir, warung mana yang mau menggoreng lele yang panjangnya dua jengkal?). Akan lebih cocok kalau dia digabungkan dengan animal lovers, sebab dia memelihara lele seperti memelihara kucing atau anjing. Bisa juga kau menyebutnya translator, karena dia pernah menerjemahkan buku berbahasa Inggris, Nichomachean Ethics, yang akhirnya membuat dia menjadi lebih pendiam, tapi pekerjaan yang ini pun tidak tentu, dan ini lebih melelahkan daripada yang semestinya sebab seperti yang dibilang oleh kawan saya yang lain, Jamil, beberapa hari lalu: kalau sebuah karya terjemahan baik, penulisnya dipuji, namun kalau hasilnya jelek, penerjemahnya kena caci.

Semenjak beristri dia jadi reparator televisi dan skill ini didapatnya setelah kena sengat bapaknya, dulu sekali, waktu kami nonton Yoko bareng dan tivinya mendadak mati. “Coba kau betulkan itu,” kata bapaknya. “Mahal-mahal sekolah di STM kok tidak bisa benerin tivi.” Saya ikut kesal mendengar itu. Enak sekali ya jadi orang tua. Apalagi kalau bodoh begitu. Itu pikiran saya dulu. Kebetulan sebelum kejadian itu saya pun kena riwil Mamak karena menggeleng ketika diminta membetulkan setrika. Sin akhirnya membetulkan tivi itu, dan berhasil, cuma dengan memukulnya dua kali, keras sekali—hehehe, tidaklah, jelas tidak. Dia membongkar tivi itu keesokan paginya, dibantu oleh Sobri, tukang reparasi yang asli. Tapi dari sanalah dia akhirnya tertarik buat bener-benerin banyak hal, terutama yang ada kabelnya.

Kau mungkin juga mengenal orang seperti Sin, yang terlihat tidak punya perasaan sama sekali tapi kautahu bahwa di dalam dirinya ada kecamuk guntur, pohon tumbang, cacing busuk, potongan jari, catatan utang, kata-kata yang tidak bisa diacu, nama-nama yang tidak bisa dipercaya, tempat-tempat yang terapung umpama sekoci dalam Life of Pi—kurang lebih dia seperti saya sehingga kami tak banyak bicara. Sebuah kalimat bisa muncul tiba-tiba dari mulut kami dan itu tidak berhubungan sama sekali dengan dialog sebelumnya. Saat kami jumpa itu, dia sedang menuju kampung istrinya di Sidoarjo, buat menemui mertua, mungkin juga sekalian menenangkan diri.

Di Jogja kau kerja apa? katanya. Saya membalas dengan menaikkan alis malas-malasan. Aku mau pindah, katanya lagi, butuh udara baru. Beberapa menit kemudian, setelah kekosongan yang dingin, gantian saya berkata, rasa-rasanya, sekarang ini pekerjaan ada banyak sekaligus tak ada yang tersisa. Lalu orang jadi kelewat kreatif, sampai-sampai urusan memotong kuku saja ada jasanya. Dia tidak membalas. Seorang perempuan dengan keril merah marun berlalu di depan resto itu, dengan tatapan yang lurus, melangkah percaya diri, dan saya membayangkan berjalan di belakangnya, sampai pintu keberangkatan, lalu naik kereta, turun di stasiun tujuan yang sama dengannya, sebuah stasiun dengan latar belakang perbukitan yang hijau, angin berkesiur di antara sayap burung-burung, melambai-lambaikan ilalang, juga awan berarak menuju timur, seperti deskripsi puitik dalam sastra lama, mengikutinya berjalan lama-lama sampai cukup jeda untuk saya bertanya pada Sin, istrimu bagaimana kondisinya?

Aku tidak tahu, katanya. Yuni lebih sering marah sekarang.

Bukannya itu lebih mudah dipahami?

Dia diam.

Perlu masukan tidak?

Dia mengangkat bahu.

Saya ada kenalan di Surabaya. Dia mengurusi pasangan yang menghadapi persoalan semacam ini. Mungkin dia bisa bantu.

Persoalan macam apa maksudmu?

Perlu kukatakan?

Dia diam.

Ya, terserah, sih, kubilang.

Kami mau pindah. Maksudku, kami mau sedikit menjauh dari orang-orang yang bikin gila.

Apa itu tidak berlebihan? Lebih baik kalian bikin anak lagi. Saya tidak bermaksud menggurui lho, ya. Mungkin kalian bisa pindahan sambil bikin anak. Atau bikinnya setelah pindahan. Itu lebih optimistik.

Dia melambai ke arah jauh, memberi tanda pada istrinya yang masih mengira kami berdiri di depan pintu keberangkatan. Yuni si istri datang, duduk di kursi depan saya, cuma sebentar, lalu berdiri lagi dan pergi memesan mi pangsit, satu-satunya menu makanan yang tersisa, lalu kembali duduk di depan saya, merapikan ujung kerudungnya, mengeluarkan sebungkus tisu dari tas, mengelap wajah, lalu tersenyum basa-basi saat kami bertatapan—menambah rasa kering pada suasana yang sudah dingin. Jakarta sepanas Sidoarjo ndak, Mbak? saya tanya, ingin mencairkan suasana, tapi entah itu berhasil atau tidak karena dia cuma membalas, “Saya kurang ngerti soal cuaca, Mas.” Dia lalu menoleh ke suaminya, “Kamu lihat dompetku tidak? Sepertinya aku lupa naruh.”

Sin jelas lebih tidak tahu. Dia bilang, mungkin tertinggal di kasir, atau di toilet, atau di komuter yang kita naiki—ini buruk sekali jika betul terjadi. Yuni bergegas menuju kasir, dan dari gesturnya yang panik, bisa saya pahami bahwa dompet itu tidak ada di sana. Sin bangkit, menyusul istrinya yang mulai setengah mengamuk karena merasa telah membuka dompetnya di depan kasir dan membayar pesanannya, lalu karena uangnya pas dia tidak mendapat kembalian dan kembali ke mejanya, duduk, lalu menyadari bahwa dompetnya tidak ada. Begitulah kronologi yang terbangun dalam kepalanya. Sin bertanya pada kasir dengan lebih tenang, lalu dibalas oleh kasir berhidung pesek itu, “Ibu tadi tidak jadi pesan karena nasi gorengnya sudah habis. Saya sudah menawarkan mi pangsit, tapi ibu bilang tidak usah.” Tanpa mengecek CCTV ataupun mengambil kesaksian dari orang lain, Sin pergi, seolah tahu betul apa yang sebetulnya terjadi. Dia berjalan cepat ke arah toilet. Saya kehilangan dirinya. Yuni pergi juga, ke arah yang berbeda, mungkin hendak ke pusat informasi. Saya lebih memilih duduk saja.

Setengah jam berlalu dan mereka belum juga kembali.

Setengah jam tersisa sebelum kereta saya tiba dan jam keberangkatan kereta kami selisih 15 menit saja. Entah ini rokok yang keberapa. Dua puluh menit kemudian, saat saya sudah mau pergi, ponsel yang ditinggalkan Sin di meja itu bergetar.

Yuniar is calling…, kata layarnya.

Ah, sialan.

Yuniar is calling, Bung!

Cerewet sekali hape itu.

Saya menoleh ke arah jalan, tercenung lama, membayangkan diri saya berlari melalui pintu keberangkatan, menerobos banyak orang, lalu menaiki kereta, tentu dengan maksud mengembalikan ponsel itu, menyusuri gerbong-gerbongnya dengan gesit sambil menolehi wajah orang-orang yang kehilangan peran dalam hidupnya sendiri, mencari mereka berdua yang entah berada di gerbong mana, dan saya tak kunjung jumpa mereka dan mulai merasa bahwa saya menaiki kereta yang salah, lalu kereta mulai merayap, roda-rodanya berbunyi mengejar detak jantung saya—tidak terdengar seperti jug     jess    jug   jess  jug jess jugjess jugjess, tapi semacam dum      dum   dum  dum dumdum dumdumdumdum—sementara saya masih berdiri di dalamnya, kemudian menyadari bahwa tas saya tidak berada di pundak saya sendiri. Untuk membayangkan ini, lengkap dengan detail-detail yang tentu tidak saya sampaikan, lima menit berlalu sudah. Saya coba membuat ini lebih simpel: akan saya angkat panggilan masuk yang keras kepala itu, lalu saya bilang bahwa hapenya saya titipkan di kasir.

Sebelum sempat saya bilang sesuatu, suara panik Yuni menyeruak dari ponsel itu, “Mas Muksin kamu di mana ini keretanya sudah mau jalan dompetnya ternyata ketinggalan di rumah Mas nanti saja itu buruan ke sini Mas aku nggak bawa uang sama sekali!”

Saya tak menjawabnya.

Dua minggu lalu, saya menceritakan kembali pengalaman ini di kelas filsafat yang saya ampu di UGM. Saat saya bilang ceritanya sudah usai, salah satu dari mereka yang bernama Sugi, lengkapnya Sugianto, bertanya bagaimana nasib ponsel itu. Saya bilang, ponselnya masih di meja itu dan Muksin juga Yuni masih di stasiun Senen, berputar-putar, tak kunjung saling menemukan.

Tidak masuk akal, katanya.

Begitulah kalau kau memaksa cerita yang sudah kelar buat dilanjutkan, saya bilang, realitas punya batas, punya bingkai, sementara halusinasi tidak. Dan kita sebaiknya tidak berfilsafat dan berbahasa, apalagi dalam bentuk tulisan, dengan memakai konten dari yang kedua. Saya menatap Sugi dengan tatapan seorang yang tua, yang bahkan lebih tua dari umur saya sendiri, sehingga kalaupun saya mengatakan sesuatu yang bohong, dia dan kawan-kawannya bakal percaya. Kalian bisa mengecek bagian mana yang benar dalam cerita itu, kata saya, dengan cara mengunjungi stasiun Pasar Senen, lalu cari orang yang punya ciri seperti Muksin dan Yuni, atau pergi ke Cironyom dan cari kolam lele satu-satunya di kampung itu, dan catat apa yang kalian alami, lalu ceritakan pada saya andai kita jumpa di lain waktu. Setelah itu baru kita bicara lagi soal filsafat, sastra, sejarah, ekonomi, gender, dan lainnya.

Mereka mengangguk. Seolah paham.

Tapi Sugi kembali nyeletuk, apa kita betul-betul bisa ketemu lagi? Barangkali, yang mau disampaikan cerita itu ialah bahwa, seusai jarak, segala sesuatunya tidak akan lagi sama, termasuk pertemuan.

Astaga, Sugi, kata saya sambil mengambil tumpukan kertas di meja. Saya harus pulang. Kucing saya baru saja melahirkan dua hari lalu. Dan dia sendirian di rumah. Kalau terpaksa harus ada hikmahnya, kata saya lagi, atau semua entitas diasumsikan punya intensi, saya akan lebih memaknai cerita itu sebagai sebuah bahan, suatu adonan. Dengan tujuan agar kalian, yang muda-muda, seusai mendengar atau membaca cerita ini, tidak lagi berfilsafat atau menjadi penafsir, pencerita, tanpa terlebih dulu bersentuhan dengan realita. Gatal saya lihat anak-anak muda naif berkepala batu.

Ya ampun, Pak!

Apa lagi?

Tidak jadi.

 

 

[CERPEN MINGGU] Aurora Itu Langit yang Luntur


Dia di depan pintu, mengetuk berulang kali, lalu saat akhirnya pintu kubuka, dia tak lantas masuk, malah berdiri di sana, menangis dan menangis, juga tak bicara. Sesuatu telah terjadi padanya, tapi saat itu dia tidak mau bicara. Dua jam dia begitu, pipinya kian memerah, bibirnya bergetar, matanya sudah hampir hilang ditelan sesuatu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Sempat kupeluk dia beberapa detik, tapi tak ada yang berubah. Kemudian aku mengingat seorang bayi—semua bayi—yang menangis saat dilahirkan, seolah mereka punya ketakutan terhadap sesuatu, yang mungkin adalah masa depan, pupusnya cita-cita, remuknya harga diri, tajamnya ekspektasi orang-orang, kehilangan sesuatu yang dicinta, dan semacamnya, tapi tentu mereka tak bisa bicara, dan semua tumpah dalam bentuk seperti itu.

Dunia semakin brutal dan manusia semakin rapuh. Mungkin hidupku akan lebih berguna kalau aku bisa menerjemahkan tangis, terutama yang jatuh di ruang yang tak tampak, di mana sebagian besar orang melakukannya. Dengan menjadi pintar sedikit saja, kau sudah punya satu atau dua alasan buat menangis, dan itu akan terasa lebih buruk ketika kau sadar bahwa yang salah adalah dirimu sendiri. Dosa-dosamu, dalam berbohong, menginjak, menyembelih ayam sakit, memukul anak, melestarikan kapitalisme, menjadi fasis bersimbol agama, menjadi kiri dan feminis buat gaya-gayaan, snobis, merecoki orang lain, lebih takut ketinggalan shalat ketimbang menyakiti orang lain, punyaku, berselingkuh, membocorkan rahasia, melubangi celengan, makan daging, merusak janji, merusak pikiran orang-orang lurus, juga punya dia yang menangis di depan pintu, yang entah itu apa, terlanjur banyak sehingga tak muat dicatat malaikat. Kau lihat, itu terjadi, sedang berlangsung, di zaman ini, dan kau masih hidup. Aneh sekali kalau menurutmu ini tidak mengerikan. Aneh sekali kalau kau tidak menangis.

Mira, masuklah, kubilang, untuk keempat atau kelima kalinya. Kau perlu minum biar tidak mati kehausan. Nangis juga perlu tenaga. Gara-gara terlalu lama nangis, aku pernah jadi susah berak.

Dia terkekeh. Tapi masih nangis.

Aku melihat kebaikan yang tak terukur ketika dia membetulkan rambutnya yang menghalangi muka, menegakkan wajahnya sedikit, melirikku sejenak, dengan masih nangis, lalu berkata, satu-satunya antusiasme yang tersisa dalam hidupku sekarang adalah kematian. Sungguh aneh rasanya. Bagaimana makhluk semacam diriku masih bertahan sampai sekarang.

Kali ini aku yang terkekeh. Aku tidak tahu ini akan membuatmu lebih baik atau tidak—aku tidak perlu jadi lebih baik, katanya—tapi kurasa kau harus tahu: sudah sejak lama aku tidak punya antusiasme, terhadap apa pun, bahkan untuk mati pun aku malas. Andai bernapas tidak otomatis, aku sudah koit sejak lama.

Mungkin, katanya, tertahan lama, mungkin karena itu aku ke sini, atau mungkin karena aku tahu kamu belum tidur.

Masuk dong, duduk, minum, bicara, rebahkan kepalamu kalau berat, kataku lagi. Aku mau cerita sesuatu padamu. Lagi-lagi ini mungkin tak penting buatmu, tapi aku merasa ini harus kuceritakan.

Dia melirikku lagi. Kuraih telapak tangannya, kutuntun dia perlahan supaya duduk di tepi ranjang. Kamarku kecil, jadi cukup dengan melangkah dua kali kau sudah sampai di sana, lalu kusuguhkan segelas air putih, dia cuma memegangnya, lama-lama, di saat yang sama tangisnya mulai reda. Beruntung kamu datangnya larut malam, kubilang. Di jam-jam seperti ini aku menjadi sepuh, sementara pagi nanti aku kembali menjadi anak-anak, siangnya aku menjadi pemuda yang mulai berhitung, dan di awal malam aku jadi orang tua yang menyesal.

Aku tidak mau ngobrol.

Biar aku yang bicara, tidak apa, kamu jadi pendengar saja. Toh aku suka didengarkan orang lain. Aku suka mendongeng.

Si Kancil?

Semacam si Kancil, tapi yang ini terpeleset masuk lubang hitam.

Hehe.

Gimana menurutmu?

Dia menyesap air di gelas belimbing itu. Biasanya kamu tidak lucu begini, katanya.

Itulah. Mungkin karena kamu juga tidak biasanya separah ini. Kamu jalan kaki ya ke sini, kataku, tanpa terlalu lama memperhatikan sandalnya yang masih menempel di kakinya. Iya, katanya, di luar masih becek, aku takut motorku kotor. Matanya menatap gelas, menatap air yang bergoyang di sana, dan tenggelam di dalamnya, sangat dalam, sulit kuikuti.

Aku mau mabuk, dia bilang. Mahal, kataku. Yang murah juga ada, sudah kugoogling, katanya. Risikonya kamu mati, kataku lagi, kepalamu juga bakal pening sekali, dan paginya kamu jadi orang tolol selama beberapa puluh menit. Tidak apa, katanya, di mana ya belinya? Apa bisa pakai GoFood?

Pada suatu hari, kataku, memulai cerita. Hidup seorang perempuan yang tidak bisa melihat dirinya dalam cermin, permukaan air, atau apa pun yang bisa memantulkan citra sesuatu. Dan pada jaman itu belum ada ponsel dan kamera, tentu. Dia—

Aku serius mau mabuk.

—sangat penasaran, ingin tahu bagaimanakah bentuk wajahnya, dan tubuhnya secara utuh. Dia khawatir akan berjumpa dengan dirinya sendiri, entah di mana, dalam momen semacam apa, dan dia tidak bisa mengenalinya. Dia takut apabila orang mengasihinya, atau berduka untuknya, tapi dia tidak bisa melihat kesedihan di wajahnya sendiri.

Ron, lima puluh ribu dapat empat botol ciu. Kamu sudah pernah beli kan?

Oh, jadi itu red moon atau apalah itu, yang ramai dibicarakan orang, kataku, sembari melongok ke jendela besar di timur kamar. Ternyata begitu saja ya. Padahal itu sesuatu yang besar. Aku menggenggam tangannya setelah menyingkirkan segelas air itu, lalu aku berlutut, kucari matanya, kutatap dia baik-baik, kataku, aku tidak tahu ini penting atau tidak buatmu, tapi aku merasa ini perlu untuk dikatakan: di dunia ini, saat kamu menangis, banyak hal lain yang terjadi, orang-orang mati kelaparan, dua poilitisi bertemu dengan dua koper, satu berisi uang, satu berisi dokumen yang akan dibinasakan, bulan purnama terbesar terjadi, seorang pemuda putus asa baru saja menemukan sesuatu untuk dilakukan esok pagi, ada pula perempuan yang melempar baju lengketnya yang usai dipakai menjual diri, di alaska seekor serigala baru saja menerkam kelinci, aurora berkibar-kibar di atasnya, sebuah lubang hitam menghisap sebuah bintang, atau mungkin tidak, atau sesuatu yang lain, yang lebih besar dan bermakna, terjadi di tempat lain. Ini tidak ada hubungannya denganmu, aku tahu, tapi aku ingin kamu sadar bahwa, tangisanmu malam ini, yang kemungkinan besar hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah dunia, jadi salah satu adegan yang berharga dalam hidupku, karena aku menyaksikannya dan di sana kulihat sesuatu yang jujur dan besar.

Di matanya sesuatu tergenang lagi, kali ini jernih, lalu dia memelukku keras, keras sekali. Syukurlah, besok hari Minggu, kubilang. Kamu bisa menginap, tidur sampai siang atau sore. Aku tak bakal menyalakan lampu atau membuka jendela. Kubawakan sarapan dan makan siang, juga makan malamnya, silakan jika kamu belum mau memakannya. Dan jika kamu sudah ingin bercerita, aku siap berpartisipasi jadi pendengar. Untuk sekarang, kamu mau rebahan sambil kupeluk atau tidak? Tapi mungkin aku perlu telanjang dada karena di sini gerah sekali dan badanmu gendut juga panas seperti beruang.

Dia terkekeh. Masih dengan nangis.

Boleh tidak aku telanjang dada juga?

Itu akan jadi seru sekaligus masalah.

Hehe

Hahaha

Hahahaha di bayanganku, aurora itu langit yang luntur.

Hahaha jelek begitu?

Hahahaa iya

Hahaha aku sepertinya harus keluar sebentar.

Mau beli kondom ya?

Hahaha

Hahahaha

Bukan!

Hahaha sudahlah. Aku sudah tidak nangis, jadi sudah lebih pintar.

Aku tidak pernah mengambil kesempatan dari orang-orang yang sedang begini. Aku cuma mau beli keripik, tambah minuman kaleng.

Kalau aku yang meminta, bagaimana?

Hahaha

Hahahaha

Hmmm

Hahaha…

Selain kondom, mau nitip apa lagi, kataku.

Satu pak tisu. Sepertinya aku perlu mengelap lantai kamarmu. Aku tidak tahu, sepertinya tadi aku juga menginjak tahi kucing.

Ini juga sebetulnya lucu. Tapi aku sudah capek tertawa, wajahnya pun sudah kembali layu, dan sialnya, kesedihan memang selalu berumur lebih panjang.

[CERPEN MINGGU] Hamid Si Kameo


Hamid harus bangun jam 3 pagi, dengan toleransi keterlambatan 5 menit pada alarmnya, dan jika terpaksa, dia bakal menjatuhkan tubuhnya dari ranjang. Ponselnya diletakkan agak jauh dari ranjang, di meja kerja, dekat buku catatan yang biasa dipakai buat mencatat hal-hal yang mesti diingat di pagi hari, misalnya pagi ini, ada setidaknya 4 perkara penting: satu, sepulang kerja, pergi menjenguk ibu di Panti Sukamati, kemudian dua, mampir ke rumah mantan istrinya buat mengajak jalan-jalan Rubi, anaknya yang berusia 7 tahun dan belum mengerti perihal perpisahan, lalu tiga, menghubungi pegawai reparasi AC, dan empat, bertemu denganku di Beer Garden.

Tepat pukul 04.00 pagi, dia duduk di depan kemudi, menyalakan mobil, sedikit merapikan dasbor, serakan dokumen di jok depan, dan tumpukan baju di jok tengah. Dia melempar celana dalam merah berenda milik seorang pelacur yang lupa memakainya kembali, ke bagian paling belakang, bertumpuk dengan barang-barang yang tidak terlalu diperlukan dan dilupakan namun pada saat-saat tertentu dalam hidupnya, akan dicarinya dengan susah payah. Saat-saat tertentu itu biasanya justru amat penting, semacam kau berjumpa dengan kawan sekolah dasarmu, dan dia sudah jauh berbeda dengan yang dulu, kemudian kau merasa ingin sekali melihat kembali foto-foto lama kalian. Karena alasan ini pula dia ingin kembali menemuiku.

Aku saat ini sama persis dengan foto lama, atau celana dalam merah berenda, atau topi baseball oleh-oleh dari Amerika peninggalan anak pertamanya, atau kaus belel berjamur yang dilemparnya usai bakar jagung di pantai Baron, hanya berguna sebagai pemantik atas ingatan-ingatan yang lebih besar yang tersimpan jauh di dalam dirinya. Tapi mari tidak mempermasalahkan itu sebab kami kawan lama, terlepas dari posisi kami saat ini. Di dalam CRV silvernya, Hamid masih sempat mengecek hal-hal yang harus dia kerjakan di kantor, yang baginya tidak terlalu menyenangkan, tapi harus dilakukan. Ada meeting pagi dengan para komisaris—atau setidaknya para wakilnya, dilanjut dengan meeting kecil dengan dua orang dari divisi perancangan, dan lain-lain, dan lain-lain.

Jika tidak ada kecelakaan atau proyek galian baru atau kejadian tak terduga lainnya, lalu lintas Pamulang hingga Kuningan tidak akan menjadi masalah. Dia hanya pernah telat dua kali; satu, ketika terjadi perkelahian di jalan Menteng, antara seorang tentara dengan seseorang yang konon adalah anak polisi berpangkat tinggi, dua, saat beberapa polisi iseng melakukan razia di jalur busway. Pagi ini semua itu tidak terjadi dan semua berjalan seperti biasa: membosankan. Hamid kembali teringat padaku, sambil menatap jalanan yang masih sepi, berharap bisa menghilangkan beberapa bagian dalam hidupnya—termasuk saat ini, ketika dia berada di depan kemudi dan mungkin sebentar lagi jalanan menjadi ramai—dan melompat ke malam hari, duduk bersamaku di salah satu meja di Beer Garden.

Mari lewati semua fragmen yang terjadi di kantor Hamid. Sudah terlalu banyak remeh-temeh yang kujabarkan sebelumnya, dan aku tidak mau menambahinya dengan bagian-bagian yang bahkan dibenci oleh pelakunya sendiri. Kemampuan inilah yang tidak dipunyai Hamid, juga sebagian besar manusia di jaman sekarang. Mereka dengan terpaksa menjalani hal-hal yang tidak menyenangkan, yang membosankan, yang tidak berarti atau berkesan sedikitpun dalam diri mereka, hanya karena mereka merasa itu perlu. Tiga tahun lalu, Hamid jumpa denganku di sini, di tempat yang sama, membicarakan sesuatu yang akhirnya membuatnya ingin kembali berjumpa denganku. Hidup seseorang harusnya seperti sebuah film, kubilang waktu itu. Hal-hal yang repetitif seharusnya dihilangkan, sesuatu yang sudah jelas hasilnya sebaiknya dikurangi, dan fokus pada bagian-bagian krusial.

Dalam sebuah film, saat kau memasak, misalnya, kau memotong-motong tempe atau daun bawang atau daging ayam, nah, yang kemudian ditampilkan hanyalah adegan satu dua kali irisan, sisanya dibuang; saat kau mendidihkan air, yang diperlihatkan hanyalah saat-saat kau meletakkan panci di atas kompor, lalu, tanpa waktu untuk menunggu, air mendidih. Kau pergi ke kantor, duduk di depan kemudi, lalu, simsalabim, kau sudah sampai di ruang kerjamu. Yang semacam inilah mestinya hidup itu.

Hamid menggeleng. Tidak mungkin, katanya. Hidup manusia tidak bisa dipangkas dan melompat-lompat begitu.

Kubilang, kalau hidup kita betul-betul padat semacam itu, kukira tidak akan lama. Maksudku, bagian-bagian terpenting dalam hidupku, jika dijumlahkan, mungkin cuma 3 jam saja, itu sudah sama dengan durasi perjalanan si Hobbit dalam prekuel Lord of The Rings. Hidupmu, kalau dipadatkan, mungkin cuma jadi film pendek dengan judul Sadness and Sorrow. Begitu.

Sialan.

Saat itu aku masih lajang dan omong kosong semacam itu tidaklah sulit buatku. Tapi saat ini pun aku masih percaya bahwa manusia bisa memadatkan hidupnya, dengan satu syarat, sebagaimana yang akan kukatakan pada Hamid jika hari ini kami betulan jumpa: kau harus jadi narator utama dalam hidupmu sendiri. Jangan biarkan orang lain menarasikan cara hidupmu, apa yang mesti kau lakukan, apa yang layak kau pakai, petualangan apa yang harus kauhindari, dan lain-lain, dan lain-lain. Hidup yang semacam itu bahkan tak layak buat dijalani. Dan Hamid akan mengangguk usai mendengar ini.

Sampai pukul 12 malam, Hamid tak juga muncul. Aku beli minum lagi. Sampai jam 1 dini hari, dia tak juga datang. Aku menelepon, tak tersambung. Kukirimi pesan singkat, tak juga berbalas. Aku pesan minum lagi, kendati kepalaku sudah puyeng, dan nanti aku harus menjalani sesuatu yang kubenci: terbangun berkali-kali karena harus pergi kencing. Hamid harusnya tidak mendapat masalah apa-apa hari ini. Dia bekerja seperti biasa, lalu menjenguk ibunya yang kena alzeimer, lalu bermain dengan anaknya yang terkecil dari mantan istrinya yang terakhir, lalu menghubungi pegawai reparasi AC yang sudah janjian sebelumnya, lalu menemuiku di sini, di Beer Garden, buat membicarakan jalan lain yang akan diambilnya dalam hidup.

Pukul 03.09 sebuah pesan masuk ke ponselku. Dia bilang bahwa dia lupa mengabariku, tadi sore, sepulang kerja, ibunya mengajaknya mengobrol lebih lama, lalu anaknya main di Time Zone dengan lebih lama pula, lalu tukang reparasi AC terlambat karena ada dua orang berkelahi di tengah jalan, dan dia tidak bisa menemuiku karena sudah terlalu lelah, sudah terlalu malam pula, sementara jam 3 pagi dia sudah harus bangun lagi. Dia kembali meminta maaf padaku, dan menawarkan untuk menjadwalkan ulang pertemuan ini. Bagaimana kalau akhir pekan saja, katanya.

Oke, tak masalah.

Di mana?

Di tempat yang makanannya mahal. Biar kau menyesal.

Oke, tidak masalah juga buatku. Nanti kukabari lagi.

Tanpa perlu menceritakan Kamis dan Jumat, akhir pekan tiba. Hamid pergi ke rooftop sebuah gedung, tempat kami janjian di resto yang terbilang mahal itu. Dia sungguh-sungguh mau menebus rasa bersalahnya, tapi tentu saja itu tidak berhasil mengganti rasa kecewaku. Kuminta dia memesankan makanan terbaik sehingga aku bisa langsung makan saat tiba di sana, dan dia melakukannya, setelah sebelumnya kuminta dia memilih meja paling dekat dengan tepian, biar bisa kulihat lampu-lampu jakarta dan manusia-manusia menyedihkan dari ketinggian. Dia menunggu berjam-jam di sana dan pesannya tak lagi kubalas, karena di akhir pekan semacam itu aku lebih suka rebahan di sofa, sambil nonton Outdoor Channel, makan keripik, dan minum Heineken dingin.

Esok paginya Hamid datang ke apartemenku. Dia sempat mengomel, tapi tidak kudengarkan sama sekali dan kubalas dengan singkat, kau mau kuusir? Tentu saja ini cuma bercanda, tapi dia akhirnya diam, sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan pada hal yang lebih penting, sebuah obrolan yang sebetulnya kurang pas kalau dibahas di hari Minggu. Aku mau resign dan mulai keliling Indonesia, katanya. Tabunganku sudah cukup untuk itu, katanya lagi, setidaknya untuk hidup selama 3 tahun. Aku mau minta bantuanmu, soal mapping, dan itung-itungan lain. Mungkin kau punya pendapat yang lebih baik.

Kuambil sisa keripik tadi malam, mengunyahnya pelan. Ini serius ya?

Dia berdecak.

Tiga tahun itu lama loh. Kau bakal melewatkan banyak hal sekali, meski di saat yang sama kau mendapat hal-hal baru. Kau mungkin tak bisa melihat anak bungsumu mulai sekolah. Tak bisa melihat ibumu, dan dia (anggaplah ini skenario terburuk) mati ketika kau tidak di sini. Seusai perjalanan itu kau jadi orang bokek yang harus memulai dari awal. Kawan-kawanmu kemungkinan besar sudah tak lagi menerimamu. Pacar-pacarmu sudah tentu tak selera padamu. Ini pilihan yang besar sekali.

Jelas kau terkejut, katanya. Kau pasti mengira orang sepertiku tak bakal mampu melakukan hal semacam ini.

Terkejut sih tidak, tapi aku heran. Kalaupun nanti kau betulan berangkat, bisa jadi aku masih mengira-ngira, apakah betul itu kau, atau orang lain yang menyamar sebagai dirimu. Ada apa sebetulnya? Apa ini karena obrolan kita terakhir kali itu?

Tidak seluruhnya tentang itu. Aku mau punya satu momen besar dalam hidupku. Sejauh ini aku belum punya itu.

Tidak semua orang ditakdirkan jadi tokoh utama.

Aku merasa punya potensi ke arah sana.

Masa?

Serius.

Oke, kuanggap kau serius.

Jadi jalur mana yang sebaiknya kuambil?

Kau mau naik kuda atau apa? Tentukan dulu jenis perjalanan apa yang mau kau tempuh, orang-orang macam apa yang ingin kau jumpai, wawasan apa yang mau kau dapatkan, setelah itu jelas baru kita petakan jalurnya.

Aku tidak tahu.

Besok sudah Senin loh.

Apa maksudmu?

Sebentar lagi kepalamu bakal penuh dengan urusan kantor. Sebaiknya kau berpikir cepat. Dan aku tidak mau terus menerus bikin janji denganmu, janji dan janji, reskejul dan lainnya, buat mengobrolkan hal ini sampai selesai. Aku juga punya banyak hal yang harus dilakukan, tentunya. Kalau bisa kita bereskan sekarang. Sampai pagi. Besok kau bolos saja. Bagaimana?

Tidak mungkin bolos.

Kau itu niat jadi petualang apa tidak?

Ini sulit dipahami oleh ‘pengangguran’ sepertimu.

Tentu. Aku lebih terbiasa memecat orang.

Hamid menyenderkan pantatnya ke meja. Entah, aku tidak bisa menebak, apa yang membuat wajahnya tampak sangat tegang: mungkinkah itu kenyataan bahwa besok adalah Senin, atau mungkin ide-ide tentang petualangan yang saat ini berloncatan dalam kepalanya. Jangan bayangkan petualangan yang menyenangkan macam My Trip My Adventure, kubilang, tidak ada yang semacam itu di dunia nyata. Itu cuma produk layar kaca.

Kaubilang hidup harus seperti film.

Iya, tapi… Duh, obrolan semacam ini harusnya sudah selesai di umur 20an. Kau ini telat jadi muda. Sekarang ini kita lebih cocok kalau bicara soal selingkuhan, omset, kripto, emas, dan yang sejenisnya. Apa tidak sayang membuang hidup yang sudah sebagus ini?

Hamid menatapku tajam-tajam. Maumu sebetulnya apa? katanya.

Aku mengunyah keripik itu lagi, kali ini dengan lebih pelan.

Itu penting, kubilang, sebab saat perjalanannya dimulai, kau bakal bertemu dengan pertanyaan semacam itu namun lebih tajam, lebih keras, dan datang dari dirimu sendiri. Kenapa kau menggembel? Kenapa kau lupakan anakmu? Kenapa kau tinggalkan ibumu? Kenapa kau menyedihkan sekali? Apa yang kau dapat dari pilihan bodohmu ini? Mau jadi apa kau saat pulang nanti? Kenapa tidak sekalian kau ganti identitasmu atau mati? Kau sama sekali tak bisa menolaknya, tak bisa melupakannya, tak bisa menepikannya, dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang paling sering membuat orang batal di satu dua langkah pertamanya. Melepaskan diri dari rutinitas itu sulit, apalagi kalau di sana kau sudah mendapatkan banyak hal.

Pukul 10 malam, Hamid pulang dari apartemenku. Obrolan kami belum sampai pada pemetaan jalur perjalanannya. Diam-diam, dalam kepalanya, dia meminta waktu untuk memikirkan itu kembali meski dengan tegas dia bilang mau melakukannya. Senin pagi, di ponselku, tersangkut dua pesan darinya: yang pertama menyatakan bahwa dia ingin jumpa denganku di Beer Garden nanti malam, dan aku ragu dia bisa menepatinya,  dan yang kedua bilang bahwa aku mungkin ada benarnya. Sudah kuduga bakal demikian. Dia tidak punya sesuatu yang mendorong atau menariknya untuk melakukan perjalanan semacam itu.

Apa sebaiknya kupecat saja dia?

[CERPEN MINGGU] Kawanku Sinta Kencing Berdiri


Kawanku Sinta punya kebiasaan kencing berdiri. Dia selalu tahu bila orang berbohong padanya. Dia tidak lagi punya keluarga karena dia merantau dari pulau yang jauh sekali dan lebih mudah baginya untuk menganggap seluruh keluarganya sudah mati. Kawanku Sinta sebentar lagi jadi pacarku. Dia gampang sekali menangis dan seringkali dengan alasan yang tidak kupahami. Calon pacarku Sinta mengatakan bahwa aku lelaki yang baik dan perhatian dan aku tidak mengangguk ketika dia bilang begitu. Aku tidak menjawab apa-apa. Lalu dia menangis. Kenapa lagi? Dia menundukkan wajahnya, lalu berkata, “Aku ingat suatu hari di masa kecilku, saat itu kami jalan-jalan ke Pasar Kemis—kamu tahu kan tempat itu?—lalu aku minta dibelikan boneka, tapi ibu cuma diam, tidak menolak juga tidak mengangguk.”

Itu sudah lama sekali, kubilang.

Tapi itu masih di sini, katanya, sambil menunjuk kepala.

Sudah dong, jangan nangis lagi, malu dilihat orang.

“Pernah juga, aku bicara dengan nenek, panjang sekali, kepadanya kubahas gaun pertama yang kupunya dalam hidupku, kutanyakan gaunku bagus tidak, nek? Ini dibelikan ayah, untuk ulang tahunku, padahal aku belum ulang tahun. Aku curiga saat ulang tahun nanti dia malah tidak punya uang. Dia masih suka mabuk. Tapi aku tidak bisa menasihati orang dewasa. Setelah aku selesai bicara, nenek tidak menggeleng, juga tidak mengangguk. Itu kunjungan pertamaku ke rumah sakit, dan aku harus melihat nenekku mati.”

Itu pun sudah lama. Kamu harusnya sudah bisa berdamai dengan itu.

Kamu harusnya mengiyakan kalau aku bilang sesuatu. Atau bilang tidak jika memang tak setuju. Aku tidak akan masalah dengan itu. Menyakitkan bagiku kalau kamu diam begitu.

Aku tidak pandai jadi orang jujur, kataku.

Coba saja dulu. Kalau kamu berbohong nanti kuingatkan. Itu kan tidak sulit.

Nanti ya kalau sudah di kosan.

Kami lalu meninggalkan warteg Bahari itu tanpa menyelesaikan makan. Aku tidak ingat apa yang terjadi sepanjang jalan, tahu-tahu kami sudah sampai di depan pintu kosannya dan aku mulai memikirkan kembali apa yang harus kukatakan kalau dia mulai bertanya, terutama mengenai ‘apakah aku satu-satunya yang kamu dekati sekarang ini?’ Perutku mulas memikirkan itu. Sinta masuk ke dalam kamar mandi sambil menjinjing celana pendek hijau muda dan kaus belel. Dia akan keluar dengan kostum santai yang dalam bayanganku akan cocok untuk mengelap mukanya yang bercucuran tangis. Bisa kudengar nyaring kencingnya yang jatuh ke lubang wece. Lalu terhenti. Lalu dari dalam kamar mandi tangisnya berbunyi. Kenapa lagi anak ini, padahal kami belum ngobrol sama sekali.

Dia keluar lalu duduk di kasur, bersandar ke tembok, ada semut tenggelam di toilet, katanya. “Aku tidak sengaja mengencinginya.”

Kan cuma semut, kubilang.

Temanku ada yang terlilit hutang. Parah sekali. Sampai dibentak-bentak penagih utang dan dia tidak bisa tidur berminggu-minggu. Temanku ada yang terjebak dalam pekerjaan yang bikin stress panjang. Dia sekarang kena lelah kronis. Ada juga temanku yang tidak bisa keluar dari hubungan yang toxic. Dia sudah jadi orang mati walaupun masih suka makan. Temanku ada juga yang tak bisa—

Apa hubungannya?

—lepas dari kebiasaan berbohongnya. Temanku banyak yang seperti semut itu. Dan aku malah mengencinginya. Temanku banyak sekali dan—

Helaan napasku memanjang. Semutnya masih di sana?

—sebagian besar tidak bahagia.

Sinta mengangguk. Kuambil satu lidi dari sapu yang tergeletak di beranda. Kubantu semut itu keluar dari lubang wece. Kupindahkan dia ke pekarangan. Untungnya dia tidak pingsan atau semacamnya. Mestinya kubuang saja, toh Sinta tidak lihat. Tapi lagi-lagi aku takut Sinta tahu. Dia selalu tahu. Kepekaannya terhadap hal-hal di sekitarnya melampau intuisi seekor ibu ayam terhadap anak-anaknya. Coba kau bayangkan jadi ibu ayam. Anakmu berjumlah banyak dan kau tidak bisa berhitung. Tapi kau bisa tahu, tanpa ragu, ketika anakmu hilang satu atau dua. Kautahu bahwa ada yang kurang. Sinta begitu. Mungkin ketika aku bohong dia bisa melihat kerutan wajah yang tidak pada tempatnya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Pertanyaan ini menarikku keluar dari lamunan dan memasukkan wajah Mark Zuckerberg ke dalam kepalaku. Bukan apa-apa, kubilang. Kemudian mukanya layu lagi.

Iya, aku bohong. Aku sedang berpikir gimana rasanya jadi orang sensitif sepertimu. Hidup pasti puluhan kali lebih berat. Tidak mungkin kan orang peka sepertimu tidak punya kepedulian. Kepekaan itu muncul justru karena kamu peduli. Dan itu artinya kamu memikirkan banyak hal, bahkan yang kecil-kecil. Melelahkan sekali. Bisa jadi, kamu bahkan tidak berani mengganti posisi tidurmu karena takut menindih semut.

Tidak separah itu. Aku masih bisa makan ayam goreng. Kornet. Sosis. Daging lainnya. Bahkan makan telur—ini sebetulnya lebih jahat kan? Beda dengan makan daging sapi tua. Orang-orang tua biasanya memang sudah ingin mati.

Kamu berani kalau diminta menyembelih sapi?

Tidak juga. Aku cuma merasa bahwa binatang-binatang itu layak merasakan rumput, atau bebijian, lari-larian, sebelum mati dan dimakan.

Nah, itu hipokrit..

Aku tidak mengerti.

Kau tak tega menyembelih sapi tapi suka makan daging sapi.

Sinta sudah berhenti menangis. Kulihat dia bingung hendak merasakan apa. “Betul juga ya. Jadi selama ini aku menggunakan tangan orang lain buat melakukan kejahatan-kejahatanku,” katanya.

Tapi bisa saja kau anggap itu hal yang biasa. Kematian terjadi tiap hari. Bukan lagi tragedi. Jadi tidak perlu sedih.

Sepertinya aku mengerti. Sekarang aku ingin marah.

Tidak, tidak. Jangan, kataku. Lebih baik menangis saja.

Kok kamu begitu?

Aduh. Apa ya, aku cuma bercanda, kataku, aku merasa lebih terlatih menghadapi orang yang suka menangis ketimbang yang suka marah.

Aku tahu kamu tidak main-main, kamu ingin aku nangis.

Baca lagi kalimat setelahnya!

Sinta, di matanya mata air jatuh lagi. Seperti telah menjadi keharusan, muncul dari sesuatu yang lebih dalam, yang dia sendiri tak menyadari bahwa itu bercokol di sana. Tapi dia, sekerap apa pun menangis, tidak pernah bicara padaku tentang keinginan untuk mati. Tidak banyak yang bisa dewasa seperti itu. Kalau aku di posisinya, aku sudah lompat dari jendela sebuah hotel seperti yang terjadi pada kawan dari kawanku, di Semarang, beberapa waktu lalu. Dia perempuan yang cantik, muda, seorang dokter—coba kau bayangkan!—dan keluarganya baik-baik saja. Tidak ada yang betul-betul tahu apa persoalannya. Hari itu dia pergi menyewa kamar hotel di lantai tertinggi yang tersedia, lalu mungkin malam harinya dia memikirkan banyak hal, menenggak antidepresan, lalu berusaha tidur. Tidak jelas dia hendak berjumpa dengan siapa di hotel itu. Kontrakannya berada tak jauh dari sana. Kemungkinan besar hotel itu memang sudah masuk dalam rencana bunuh dirinya. Semua sudah disusun, termasuk jam dan menit pastinya. Lalu keesokan paginya, saat kepalanya masih terasa meleleh dan dunia larut di dalamnya, dia melompat dengan percaya diri, pukul 09.00, seperti orang yang menepati janji untuk ketemu dengan orang yang dicintai. Meski dia bukan kawanku, kronologi ini membuat kepalaku cukup berantakan juga.

Apa yang sedang kamu pikirkan, kata Sinta.

Bukan apa-apa, kataku.

Kau tahu kan itu bohong?

Iya. Aku tahu. Tapi untuk yang satu ini aku minta izin padamu.

Aku tak pernah memaksamu buat jujur.

Iya, aku tahu.

Aku lebih suka kalau kamu tidak pulang terlalu cepat. Itu lebih besar buatku.

Aku turun dari kursi belajar lalu berjalan dengan kaki yang menancap seperti bangku taman yang berkarat, menuju sampingnya, di atas kasur dengan seprai amburadul dan serakan kertas-kertas kusut bekas doodling. Kami saling tatap dan kehilangan kata-kata. Tapi pikiranku terus meproduksi kemungkinan-kemungkinan, asumsi-asumsi, juga ekspektasi-ekspektasi, dan ia tiba pada satu letupan lucu sekaligus menyedihkan: mungkin Facebook akan lebih menyenangkan kalau sepeka kawanku Sinta yang sudah jadi calon pacarku ini.

Sani Itu Lengkeng Busuk


Aku bertemu lagi dengan Sani di warung buah, sayang sekali lengkengnya sudah tidak segar, dengan kacamata bulat yang makin tebal, dia tersenyum dan menepuk pundakku. Sekitar lima, atau mungkin enam, atau tujuh, detik, aku tidak tahu tepatnya karena waktu itu tidak ada jam di sana, aku tertahan, menatapnya dengan keinginan aneh, seharusnya tidak terasa aneh, untuk segera melepas sebuah pelukan. Jadi ya, sudah, kupeluk dia dan dia tidak protes, tapi jantungku masih juga tidak menenang. Kau gendutan ya, dia bilang, sudah bahagia ya sekarang, aku senang melihatmu begini, katanya lagi, tinggal di mana kamu sekarang, sambil mengetuk-ngetuk kulit melon, apa kamu sudah menemukan foto ibumu, oh atau mereka sudah rujuk, katanya lagi, uh, sudah lama sekali kami tidak ketemu. Umurnya sudah bertambah 8 tahun sejak terakhir kami ketemu, beda denganku yang masih tertahan di 25. Kamu kok tumbuh cepat sekali, kubilang, tapi cuma dalam hati. Aku takut dia tersinggung. Perempuan tidak suka kalau dipandang cepat menua, beda dengan laki-laki, kami malah bangga dengan itu.

Mau mampir ke kamarku tidak, kutanya dia, mungkin aku bisa bicara banyak kalau sudah di sana. Di luar sini banyak yang menguping. Kalau saja suaraku mirip Chris Cornell, atau Once Mekel, aku bakal banyak bicara, sebab aku tahu orang pun bakal senang, terlepas apakah yang kubicarakan itu penting atau tidak, musik sudah jelas penting. Aku tidak bisa membayangkan dunia tanpa musik, kubilang, kali ini sungguhan, lalu Sani menoleh, memasang wajah inosennya. Dunia pasti terlihat berantakan dan tidak berharga. Dengan musik, dia menjadi berharga meski berantakan. Aku malah tidak bisa membayangkan dunia tanpa kuping, katanya. Bagaimana ya, mungkin itu tidak terlalu benar, tapi aku yakin dia punya alasan untuk itu. Dapurmu masih bisa dipakai tidak, katanya, cepat-cepat aku mengangguk. Kalau begitu setelah ini kita mampir dulu ke warung sayur ya. Aku sedang belajar memasak sekarang, katanya, supaya lebih bisa diandalkan sebagai perempuan. Aku nyengir. Sebagai manusia sewajarnya kita bisa masak, kubilang. Itu penting dan bukan hal yang sulit-sulit amat kalau mau belajar.

Dia membeli satu melon dan satu kilo harum manis dan dua kilo lengkeng. Aku mau melarangnya membeli lengkeng itu tapi tak bisa. Dia tidak sebodoh itu. Dia pasti punya alasannya sendiri, nanti kutanyakan kalau ingat. Tapi aku tidak percaya pada ingatanku sendiri. Jadi anggap saja aku sudah menanyakan itu dan dia memberi jawaban yang bisa kumaklumi. Sampai di rumah, dia meletakkan berkantung-kantung belanjaan itu di samping meja dapur lalu aku tanya, kamu sudah mau menikah ya? Dia tidak menoleh, malah mencabut pisau dari tempatnya, belum tahu juga, katanya, ibuku belum sreg dengan lelaki itu, tapi kurasa ini cuma perkara waktu. Kuharap pikiranku itu benar. Akan runyam kalau itu perkara ideologis. Ooo, agamamu sama kan dengannya? Dia mengangguk kecil. Mungkin sebaiknya masaknya nanti saja, aku belum lapar, kubilang, lebih baik kita nonton tivi saja, sambil makan lengkeng, eh, itu lengkeng untukku bukan ya? Makan saja, katanya.

Aku sedang menulis sesuatu tentang perempuan, katanya, aku kesal tidak banyak yang membela perempuan dalam sastra. Terlalu banyak karya yang maskulin, misoginis, tidak adil dalam menempatkan perempuan, aduh, maaf, aku jadi marah-marah lagi. Tidak apa, kubilang, aku sudah lama juga tidak mendengar orang marah. Tempat ini makin hari makin sepi. Tidak ada yang mau menyewa kamar-kamarnya yang tidak pernah direparasi. Di kamar sebelah, jam dindingnya jatuh dari dinding dan dibiarkan saja. Tapi jam itu masih hidup, tidak pernah tidur, tiap malam aku dengar dia berdetak. Beberapa kali aku menengoknya ke sana dan ternyata aku pun tidak punya keinginan untuk mengembalikannya ke dinding, dia itu, dengan kacanya yang retak, seperti sudah ditakdirkan di situ, di lantai itu. Terakhir kali kudengar kabar dari luar, tempat ini mau dijadikan pusat perbelanjaan, makanya banyak yang menjahili, biar orang-orangnya tidak betah tinggal. Tapi aku justru makin senang kalau sepi begini. Keberadaan tetangga cuma membuatku makin malas keluar kamar. Jadi kamu senang ya ketika aku pindah, katanya. Sebetulnya tidak juga, kubilang, tapi kadang iya.

Bagaimana buku terakhirmu?

Semenjak pindah dari sini aku belum punya buku baru lagi.

Itu kan sudah lama sekali.

Ya, memang.

Apa yang salah?

Justru mungkin karena aku tidak menemukan itu. Ya, sampai akhirnya jumpa dengan wacara keperempuanan. Ini membuatku geram.

Yang tadi itu ya?

Dia mengangguk.

Kupikir itu memang tugasmu dan kawan-kawan penulis perempuanmu. Kamu tidak mungkin membebankan kepentingan-kepentinganmu pada musuhmu, maksudku kepada para penulis lelaki. Itu sudah jelas sekali.

Aku tidak memusuhi lelaki.

Tapi kamu menempatkan dirimu berhadapan dengan mereka. Denganku juga mungkin ya?

Ini aku sedang masak buat kamu.

Iya juga sih.

Aku diam sebentar, berusaha mencari-cari bagian mana yang hilang dalam pikiranku. Harusnya aku mengatakan sesuatu itu tadi, tapi keburu lupa, dan sebentar lagi itu akan menjadi sesuatu yang terlambat untuk dikatakan. Bunyi wajan dibersihkan masuk dalam kepalaku, juga air keran yang mengucur, sawi yang dicuci, sendok gemericing beradu dengan garpu, ditaruh di atas piring. Dia sepertinya mau masak telur. Aku sudah menonton tivi jadi tak tahu pasti. Oh, iya, dan mungkin akan lebih kuat jika yang bicara perempuan memang perempuan, kubilang, akhirnya aku ingat, kukira para penulis lelaki itu bukan tak mau untuk bicara lebih tentang keperempuanan, atau apalah itu, tapi mereka tak punya kesanggupan untuk melakukan itu, karena narasi dalam kepala tiap orang kan berbeda, dibentuk oleh ini dan itu, dan jenis kelamin pun mempengaruhi. Tidak perlu melakukan pembelaan macam itu, katanya, para penulis bukan orang bodoh. Aku tidak bilang mereka bodoh, justru karena mereka pintar mereka bisa tahu batasan dirinya.

Sulit kupercaya kamu mengatakan itu.

Lebih sulit untuk percaya kamu kembali ke sini. Tempat semacam ini tidak layak dikunjungi kembali, sebanyak apa pun kenangan yang kamu punya dengannya. Apalagi kamu sudah berbeda sekarang.

Apanya?

Sudah jauh lebih tenang.

Tepatnya menjadi lebih mengerti tentang diri sendiri. Kalau sedang tidak baik, tentu aku bakal menjauhi dapur, juga kamar mandi. Imajinasiku tentang kematian, juga amarah, lebih kental terjadi di sana. Banyak cara yang bisa dipakai. Kamu mungkin menyayat nadimu, atau menggorok leher, memasukkan kepalamu ke dalam oven, seperti Sylvia Plath, kamu kenal dia kan?

Lalu bagaimana dengan kamar mandi, kataku.

Dia diam. Setelah kupikir lagi, sepertinya agak sulit untuk mati di kamar mandi, katanya. Aku terkekeh, sudah kuduga, sebab aku pun pernah memaikirkan itu dan tidak mudah. Tidak mungkin kamu menenggelamkan diri di sana. Kalaupun kamu memakan fesesmu sendiri belum tentu kamu mati keracunan. Kamar mandi diset hanya untuk merendam kekecewaan, atau mengekspresikan kemarahan dengan melilit-lilitkan selang shower ke lehermu tapi akhirnya itu jadi lucu. Kecuali kalau secara tak sengaja kamu terpeleset lalu otak belakangmu terbentur bak. Kurasa itu akan fatal, sekaligus memalukan. Kalau kau bertahan hidup setelahnya, keinginanmu untuk mati bakal semakin menjadi-jadi.

Kamu nonton Walking Dead juga ternyata, katanya setelah sejenak menoleh ke tivi.

Loncat-loncat kok. Lebih sering tidak kutonton. Aku malas buat mengikuti perjalanan nasib orang lain.

Lalu sudah sampai mana hidupmu sendiri?

Aroma telur goreng masuk dalam hidungku, bercampur bau bawang dan hmmm, apa ini, sepertinya dia masak nasi goreng. Kukira dia akan memasak sesuatu yang lain sebab tadi kami sempat beli ikan bawal juga. Bisa kudengar juga langkahnya mendekat, lalu dia duduk di sofa, merekatkan pundaknya ke pundakku, meletakkan piringnya di situ, di meja kayu yang di atasnya berserakan kartu-kartu, koin, nota belanja, pulpen tanpa tutup, gelas dengan kopi yang kering, dan remot tivi dengan nomor-nomor yang sudah tak tampak sama sekali. Enak tidak ini, kataku. Dia menyerahkan sendok itu padaku, tentu ada bekas bibirnya di sana, jadi jantungku kebingungan lagi. Sedikit saja kuambil nasi gorengnya, lalu kumasukkan dia ke dalam mulutku seperti hendak mengunyah satu suapan besar. Dulu kami tidak seakrab ini meski dia tinggal di sebelah. Kurasa kami saling mengakrabi di dalam kepala masing-masing dan jarak juga waktu semakin membuat itu signifikan.

Iya, ya, kubilang, sekarang aku percaya Jung.

Nanti orang itu mati, katanya, sambil menunjuk seorang lelaki bermuka menyebalkan di dalam tivi.

Jung bilang, kejadian-kejadian faktual dalam hidup kita pada akhirnya menjadi peristiwa-peristiwa psikis yang tidak lagi jelas bentuk asalinya, dan bagiku, di satu titik kita bisa saja benar-benar melupakan sesuatu akan tetapi emosi tentangnya masih tertinggal, makanya kita tidak bisa lari dari kesedihan, dia jadi benalu, atau suatu waktu ingatan kita memupuk sesuatu yang tidak besar-besar amat riilnya, tapi kita membutuhkan itu dalam imaji kita, dalam kekosongan kita, untuk memenuhi kehausan terhadap romantisme ataupun tragedi. Astaga, menyebalkan sekali, ya.

Nah, yang ini nanti mati juga, katanya.

Apa cuma itu yang kauingat dari serial ini?

Tidak juga. Tapi aku suka kematian yang tidak pakai soundtrack.

Benar juga ya.

Ya, memang.