Naik Botol ke Bekasi


Sudah lama saya tidak jumpa dengan Muktar. Siang tadi sebuah surat tiba darinya. Tanggal 20 Oktober dia akan menikah dengan seorang perempuan dari Jawa. Itu pilihan yang hebat sekali. Tapi saya lebih terkejut dia bisa mengetahui alamat rumah saya. Tahun 2004 lalu, cukup lama saya di Aceh, bergerak dengan kawan-kawan relawan, tepatnya tiga bulan setelah tsunami menerjang. Muktar kecil kehilangan bapak—bahkan rupa mayatnya pun dia tak pernah lihat. Selama di sana saya menemani Muktar dan belasan anak lain yang kehilangan keluarga, kehilangan kawan, sekolah, mainan, rutinitas—yang konklusinya adalah kehilangan kehidupan. Banyak di antara mereka yang secara tak sadar menanam luka itu sangat dalam sehingga tak mungkin lagi dijangkau. Kami seperti petani yang menyirami pohon tomat yang sudah kering.

            Bulan kelima, sore hari, Muktar menghampiri saya dengan sebuah botol beling kusam. Wajahnya seperti orang melihat perampokan. Di tangan kanannya tergenggam lipatan kertas. Ini surat dari orang yang selamat, katanya, kita harus tolong dia. Saya raih kertas itu. Di dalamnya ada tulisan tangan yang jelek dan pudar, tampaknya ditulis dengan arang: “Sudah dua bulan saya di laut. Jauh sekali dari pulau. Saya sudah mencoba sekeras-kerasnya. Tidak perlu tunggu pulang.” Di baris yang berbeda, agak jauh dari dua baris teratas, dia menulis: “Tapi jangan berhenti ke laut. Buat kapal lebih besar!”

            Muktar percaya orang ini masih hidup. Dengan pelan saya bilang, surat itu mungkin ditulis dua atau tiga bulan yang lalu. Dia bilang, kalau orang itu bisa bertahan selama dua bulan, dia pasti bisa bertahan selama dua tahun atau sepuluh tahun atau selamanya. Orang itu pasti berada di kapal dan bisa memancing ikan, bisa menadah air hujan, dan pelan-pelan dia akan belajar membaca arah. Surat itu dibawa ke hadapan ibunya. Saya tidak tahu bagaimana respon sang ibu, yang pasti, keesokan harinya Muktar membawa surat itu ke kantor desa. Wajahnya belum tenang. Lusanya saya temani dia menemui Bang Cibil, orang SAR yang paling terkenal di tengah warga. Dengan penjelasan serupa namun semangat yang lebih menggebu, Muktar memaksa Bang Cibil untuk melaut bersamanya. Kalau ada Bang Cibil, penulis surat ini pasti bisa ketemu. Begitu dia bilang. Saya melihat bayangan luas samudra, amuk badai, gertak petir berkecamuk di muka Bang Cibil. Entah mana yang akan dia keluarkan lewat mulutnya. Dia minta Muktar mengantarnya ke tempat botol itu ditemukan.

            Kami duduk di tepi pantai. Air sedang surut. Lagi-lagi sore. Sampai sekarang saya masih kerap ke pantai, menunggu sore datang, dan membayangkan saya berada pada masa-masa itu. Banyak kesedihan di sana, tapi saat itu saya merasa ada dan berguna—ini rasa yang tidak terjadi setiap hari, jadi sangat berharga kendati buat dikenang-kenang saja. Sore itu kami banyak duduk, tak banyak bicara. Muktar sesekali melempar pecahan karang ke bibir pantai. Kalau kita pergi ke sana, berapa lama waktu untuk pulang, tanyanya. Bisa jadi kita akan berkumpul dengan mereka di sana, tidak akan pernah pulang, kata Bang Cibil. Itu bukan sesuatu yang buruk, hanya saja, itu sesuatu yang berbeda. Ibumu pasti merindukanmu. Adikmu juga. Aku juga, kubilang. Ada asin angin menggeliat, menggesek mata kami. Kalau kita ke sana pakai kapal motor yang cepat, atau pakai helikopter, berapa lama untuk pulang, tanyanya. Bang Cibil tidak menjawab.

            Kenapa kamu tidak kirim surat balasan saja? Suatu saat surat itu bakal sampai ke sana, kubilang. Muktar menekuk bibir, nanti suratnya cuma terdampar di pulau seberang, katanya, atau nanti suratnya terdampar di pantai ini lagi dan aku lagi yang membacanya. Itu memalukan sekali. Kalau kuserahkan surat itu ke polisi, kira-kira bisa tidak ya?

Muktar percaya ada orang yang mau membantunya. Dia tidak bisa percaya semua orang mengabaikan surat dari seseorang yang sedang terapung-apung sendirian. Saya senang melihat harapan sebesar itu dalam dirinya. Saya senang dia kembali mempercayai sesuatu. Sayangnya itu adalah sesuatu yang musykil. Bagaimana cara menjelaskannya? Waktu itu saya cuma bisa meresponsnya dengan jawaban-jawaban teknis, misal, “Mungkin kita harus belajar navigasi lebih dulu. Kamu harus selesaikan sekolahmu lebih dulu. Harus mempersiapkan banyak hal karena laut sulit dimengerti. Harus mulai meminta izin ibumu dari sekarang. Itu tugas paling sulit karena kamu tidak mungkin berangkat tanpa doa dari ibumu.” Saya tak tahu akan menjawab apa jika esok atau lusa dia bertanya apakah saya akan ikut berlayar dengannya. Saya beruntung dia tidak pernah menanyakan itu.

Perempuan yang akan dinikahinya bernama Cindy—nama yang cukup modern jika dibandingkan dengannya. Tapi Muktar cocok memakai nama tua. Saya tidak pernah mengingat Muktar sebagai bocah. Dalam kepolosannya dia menyimpan ketabahan jiwa-jiwa tua. Dia menjadi satu dari sekian anak yang kesadarannya melompat gara-gara bencana. Entah ini disebut berkah atau bukan, yang pasti, hal semacam ini pun tak terjadi setiap hari.

Sehari sebelum saya pulang ke Bandung dia berkata, kapan-kapan aku main ke sana naik kapal. Di Bandung tidak ada pelabuhan, kubilang, Bandung di tengah daratan. Tolong dibuatkan untukku, katanya, sambil tertawa. Saya lupa di mana menaruh foto kami bertiga—dengan Bang Cibil. Seharusnya ada di laci lemari pakaian, tapi lemari itu sudah diganti dan lemari yang sekarang sama sekali tanpa laci. Muktar sekarang pasti sudah berkumis. Saya harap saat menikah nanti kumisnya tidak dicukur karena saya masih senang membayangkan dia berkumis. Yang harus dipikirkan sekarang, bagaimana cara mempercepat pelayaran saya ke Papua yang baru akan selesai satu minggu lagi. 

Menonton Oktober


Mendung Oktober masih bermain-main dengan nasib buruk orang Jakarta. Kita dibiarkan menunggu dan berharap, membosan dan akhirnya mengutuk. Aku yakin sesuatu terjadi di balik hitam itu. Mungkin hujan telah terjadi namun ia mengambang di atas sana. Mungkin petir dan badai bergumul setiap sore, tapi mereka enggan mengajak kita. Mungkin mereka sedang menyiapkan sesuatu yang besar dan hendak menenggelamkan kita. Apa yang salah dengan kita. Kita orang yang baik dalam bergaul. Kita berdoa secukupnya. Kita tidak pernah menuntut sesuatu berlebihan. Punya kekasih sederhana, gaji secukupnya, cita-cita sampai seminggu ke depan, sudah lebih dari harapan orang-orang biasa. Tapi itu biasa saja. Kita tidak layak kena azab. Tuhan sangat keliru kalau rumah kita ditaruh dalam banjir. Tapi pasti ada yang salah dengan kita. Harus ada yang salah. Tidak mungkin mencari kesalahan tuhan.

Kaulihat perempuan dengan ikat pinggang merah itu. Dia berjalan cepat melintasi lampu merah yang hampir tandas. Dua puluh meter di belakangnya, berlari seorang lelaki dengan setelan lengkap minus dasi—dia hampir saja tertabrak motor matik dengan nomor polisi yang sudah kadaluarsa. Jika hujan tak segera turun, sebentar lagi mereka tiba di meja kita. Keduanya teman lamaku ketika SMA. Mereka berpacaran sampai sekarang, dan aku mulai membenci itu. Aku sudah janji kepada diriku sendiri: hari ini mereka akan putus. Belum kupikirkan bagaimana caranya.

Di seberang jalan gerimis turun. Keduanya berhenti di bawah kanopi hijau sebuah kafe. Pulanglah sendiri, katanya, ajak cewek barumu itu. Dia jelas lebih seksi. Si lelaki membalas, dia itu cuma teman biasa, kami tidak ada hubungan spesial apa-apa, paling jauh cuma ngopi saja. Si perempuan melengos, kenapa tidak ngopi denganku saja? Apa aku kurang pintar soal kopi? Kenapa harus mengajak orang lain untuk hal sesepele itu? Aku tidak tahu, kamu tolol sekali, kata si lelaki. Kita sudah merdeka, sudah pakai demokrasi, tapi kenapa untuk hal-hal seperti ini kamu masih belum paham?

Setitik hujan jatuh di ujung kepalaku, cukup besar, menembus kulit. Setetes lagi mendarat di kopi yang dingin, terciprat ke lengan baju yang tak kugelung. Di langit pun sedang terjadi keributan. Saat ini tak bisa dibedakan mana keringat mana tangis—yang turun dari langit kita sebut hujan. Aku ingin masuk ke dalam tapi dari dalam tak bisa kulihat mereka. Kutunggu mereka selesai berkelahi. Kuharap mereka segera menoleh ke arahku jadi kami bisa ke dalam bersama. Aku tidak mau mereka putus tanpa andilku. Terserah, kata si perempuan, sekarang kamu boleh ngelakuin apa pun dengan cewek itu. Aku tidak bakal melarang. Kami cuma ngopi, kata si lelaki, dan tidak ada yang spesial dari kopi. Aku tidak membelikannya mobil atau apartemen. Cuma kopi. Cuma segelas kopi. Harganya tidak lebih mahal dari sushi yang biasa kubelikan buatmu.

Tapi si lelaki ini—enggan kusebut namanya—memang playboy sejak SMA. Aku tidak kebagian pacar gara-gara dia. Semua perempuan melihat ke arahnya. Hanya perempuan-perempuan jelek yang tidak berharap padanya. Dan perempuan jelek itu pun tidak melihat ke arahku. Mereka lebih banyak menunduk seperti sedang belajar mencintai tanah. Soal kopi dia rewel sekali, terutama di depanku, dia sok paling mengerti. Dia biasa memesan segelas kopi yang mahal cuma untuk bilang kopi itu tidak enak. Lalu dia akan bilang bahwa dia pernah mencicipi kopi gajah, kopi panama, blue montain, dan kopi-kopi lain yang namanya membingungkan. Bagiku, asalkan pahit, sudah kopi. Aku malas membebani otakku dengan urusan-urusan lidahku.

  Bene—si perempuan, lengkapnya Benedikta—sudah kusuka sejak sekolah menengah pertama. Dia perempuan yang juga menjadi pusat para lelaki. Aku tidak cukup jelek untuk memalingkan muka, tapi juga tak cukup keren untuk meminta langsung. Kudekati dia sebagai teman. Kutunggu saat-saat dia patah hati dan mungkin menaruh pipinya di pundakku. Ternyata tak mudah menunggu orang patah hati. Lebih mudah jika kau membuatnya sendiri. Aku lumayan hebat soal itu. Ada setidaknya tiga perempuan yang kubuat menangis. Satu, ibuku. Dua, adikku. Ketiga, guru matematikaku. Bene sering bilang kepadaku, kamu tidak seharusnya bergaul dengan orang-orang seperti kami, kamu itu orang baik-baik. Entah apa maksudnya orang baik-baik. Aku kesal tiap kali dia menyebutku baik sebab aku merasa dia menuduhku tak layak untuknya, bukan sebaliknya. Lelaki brengsek lebih layak baginya. Dia lebih layak untuk disakiti. Lebih senang ketika jadi orang yang dicurangi. Aku setuju dengan lelaki itu: demokrasi tidak berguna banyak dalam hal ini.

Hujan semakin banyak. Mereka masih ribut. Suaranya makin hilang. Semakin tebal hujan menutup penglihatanku. Tapi sedikit kulihat Bene bergerak, dia pergi dari sana, bergerak ke arahku. Rok kremnya tak lagi mengembang. Pahanya yang jenjang tercetak seperti dua batang es krim. Dia terus menunduk. Aku berharap dia segera mengangkat wajahnya dan melihatku. Lelaki itu tak lagi mengejar. Dia berjalan ke arah yang berbeda, menaruh telapak tangannya ke dalam saku.

Tersisa jarak lima langkah antara Bene denganku. Dia akhirnya mengangkat muka. Dia menatapku. Aku tak melihat apa-apa dalam tatapannya. Dia melintas begitu saja. Belum terlihat penjual payung atau sejenisnya. Tak ada yang mengira hujan akan serius hari ini. 

Titit-Titit Hesti


Hesti tidak cukup sabar untuk menunggu lampu merah menjadi hijau. Dia menekan-nekan klakson seperti Bu Rusdi memukul kepala mahasiswa-mahasiswa bodoh di kelas statistika. Dari mobil depan dan samping, dua orang bergantian berteriak tolol kau anjing! Anak kontol! Setan! Ngajak kelahi kau babi! Kuputar blower AC ke kanan sampai mentok. Angin yang keluar dari sana terasa seperti dikirim langsung dari atmosfer yang bocor. Hesti memukul-mukul setir. Pipinya mengeras seperti diremas ragum. Tit lagi. Tut lagi. Tot lagi. Dari bunyi-bunyi itu bisa kudengar umpatan-umpatan pengemudinya.

Dia bakal senang kalau orang-orang itu terpancing kemudian mereka berkelahi di aspal. Dia sangat membutuhkan itu saat ini. Akan kurekam kejadian itu, kuunggah di Instagram, lalu nanti Hesti difollow nitijen yang senang melihat perempuan mengamuk. Tapi Hesti cukup cantik. Jadi setiap bulan dia akan menerima setidaknya sepuluh permintaan endorse dari produk make up dengan caption “menghilangkan luka memar dalam satu malam” atau “menghilangkan bopeng seperti ketok mejik”. Satu endorse dihargai satu juta, anggaplah begitu, dan aku akan meminta tiga puluh persennya saja—astaga, itu sudah cukup untuk membayar uang kosan selama tiga bulan. Dan Hesti akan sedikit lebih kaya jadi tidak terlalu pusing memikirkan bapaknya yang kemo melulu.

Hesti titit-titit lagi. Dibalas memek! Mek! Memek! Tol! Kontol! Fuck you njing! Tempe! Astagfirullah! Tempik! Utang! Utang! Utang! Sial! Siaaal! Pulang!

Aku ingin jadi bom, katanya. Aku ingin punya pacar yang bisa meledak. Dengan meledak dia habisi orang-orang yang bikin sumpek. Aku ingin mencium lelaki yang sedang meledak. Aku ingin dia membuat jalan yang lebar, kamar yang luas, dunia yang besar. Titit! Tit! Titiiiit! Luas! Luas sekali! Besar! Tak berujung! Seperti mata anak-anak. Atau setidaknya seperti Thamrin saat lebaran.

Sebuah kepalan tangan berurat tebal menggedor kaca mobil. Sorot matanya menembus kaca gelap itu sementara lampu berganti hijau. Hesti menurunkan kaca, memotong kata-kata yang hendak keluar dari mulut orang itu, maafkan saya, katanya, sepertinya ada yang salah dengan mobil saya, klaksonnya tidak mau berhenti padahal cuma saya pencet satu kali. Akan segera saya bawa ke bengkel. Have a nice day, katanya, lantas melepas senyum, menutup kembali kaca mobil, melaju tanpa menunggu aba-aba.

Aku menoleh ke belakang, melihat orang itu masih di sana, berdiri di tengah lalu lalang kendaraan yang tat-tit-tut, menatap mobil kami yang menjauh. Orang itu terus berdiri, tanpa membelokkan tatapannya dari kami. Sebelum benar-benar hilang dari jangkauanku, kulihat dia menelan sebuah granat, lalu meledak sambil berteriak. Dalam ledakan itu samar-samar kudengar bunyi tawa Hesti. Hik! Hik! Hik!

Kamu Itu Kekasihku


Aku tidak mau dekat-dekat dengan orang yang tidak berguna. Kamu harus bertanggung jawab menyediakan kesenangan. Bertanggung jawab membuat jiwaku tetap menyala. Bertanggung jawab menghadapi semua kesulitan yang kudapat.

Dia berpaling.

Kuraih pipinya. Kutanam bibirku di bibirnya.

Dia mencabut bibirnya, mengusapnya dengan punggung tangan.

Sekolahku sudah tinggi, kubilang, kalau cuma untuk hal-hal semacam itu, aku tak masalah. Tapi aku tidak mau direpotkan kalau tidak sebagai suami. Kita menikah saja. Nanti kau boleh malas, boleh merengek sepuasmu, juga marah-marah tepat di depan mukaku. Tapi selalu ingat bahwa aku terlahir untuk sesuatu yang lebih besar—aku tidak mungkin melayanimu jika urusanku belum selesai. Aku masih harus memikirkan perang-perang besar, ekspor dan impor dan ketahanan pangan, kekerasan terhadap anak dan perempuan—banyak, banyak sekali!

Kamu masih pengangguran.

Tapi cum laude. Banyak yang harus kupikirkan.

Wkwkwk.

Aku mau mendirikan kesultanan. Nanti kau jadi salah satu permaisuriku. Bukan karena kau tidak penting. Tapi karena sultan tidak mungkin punya istri. Dia tidak mungkin punya pendamping. Yang ada di sekelilingnya adalah pelayan. Seluruhnya adalah pelayan. Dan kau akan jadi pelayan yang paling kusayangi.

Aku mau jadi pelayanmu asalkan kau menyediakan pelayan-pelayan lelaki yang lembut dan ganteng untukku. Aku akan membayangkanmu tiap kali mereka mencukur bulu-bulu betisku, mencuci rambutku, memijit punggungku, merapikan kuku-kuku tanganku. Ah, itu enak sekali.

Hahaha. Silakan!

Tapi apa mungkin ada hubungan semacam itu?

Itu biasa saja. Kemarin si Zuhri mengajari anak ayam peliharaannya terbang. Ini bukan hal mudah, tapi dalam satu tahun ayam itu pasti sudah mahir.

Atau sudah mati.

Dengan terhormat.

Wkwkwk.

Apa yang salah dengan mengajari ayam terbang? Mereka punya sayap. Mereka punya paruh. Punya bulu. Sudah pasti mereka pernah mahir melakukan itu. Cuma perlu diingatkan saja. Itu menjadi sulit karena sepertinya ayam-ayam itu melupakannya dengan sengaja, karena suatu trauma atau sejenisnya.

Kita lanjut nanti. Aku harus pulang.

Tunggu dulu. Habiskan ini, sedikit lagi.

Aku bawa motor. Tidak mungkin lebih mabuk dari ini.

Dia berdiri.

Semudah itu kau maafkan ibumu?

Dia pasti sudah tidur dan aku tidak bisa membenci orang yang sedang tidur.

Astaga. Susah payah kubuat kau tertawa, ternyata cuma itu yang kautunggu.

Kamu itu kekasihku. Dengan cara apa pun aku senang, sudah seharusnya kamu senang.

Hari Panen Telah Tiba


Begitulah kabar di hari ketika jiwanya dipetik tuhan. Aku bicara dengan diriku sendiri, membiarkan sapuan mereka di kepalaku, tepukan mereka di pundakku, juga jemari mereka yang membuka telapak tanganku yang terpasak di udara. Kukatakan bahwa aku bakal baik-baik saja meski dengan pengertian yang berbeda. Cukupkan saja belas kasihan itu. Kulihat langit berjuntaian rantai. Udara menciut berhamburan bersama abu dari bakaran tulang-tulangnya. Mereka menyebut itu kematian. Tapi dia berulang kali berkata, “Inilah hari panen kita. Tuhan akan datang mengetuk pintu. Tuhan akan mengumpulkan jiwaku dengan keabadian dirinya.”

Kulempangkan mataku pada tubuhnya yang membeku jengkal demi jengkal. “Sungguh hebat manusia,” kubilang. “Cukup dengan percaya bahwa jiwa mereka tidak ikut binasa, mereka merasa berharga.” Sampai saat-saat terakhir, dia masih harus bersandar pada dongeng untuk bisa tersenyum.

“Hari panen telah tiba. Kau harus ikut berbahagia.”

“Kebahagiaan tuhan bukanlah kebahagiaanku. Kami hampir selalu di pihak yang berbeda. Seperti penjajah dan yang terjajah.”

“Dia sangat menyukai dirinya sendiri.”

“Sepertimu.”

“Dan kau membenci dirimu sendiri.”

“Sebagaimana manusia lainnya.”

Aku masih merasakan genggaman tangannya hingga saat ini, yang lambat laun mengendur dan di saat akhir itu dia bilang, “Dia yang mencintai dirinya sendiri akan mencintai jiwa yang sejernih cermin. Aku yakin itulah jiwamu.” Aku berusaha tidak membuat negasi apa pun dalam kepalaku. Kuhargai betul kalimat terakhir itu. Takkan kubuat negasi apa pun, sungguh, kendati aku tidak percaya bahwa hanya dengan mengikuti tuhan maka jiwa kita akan jernih. Astaga, kau perlu sedikit bodoh untuk menjadi seorang petapa, seperti dia, yang bahkan singa-singa akan menganggapnya batu hitam yang terlempar dari mulut gua. Tak ada lagi yang terbakar dalam dirinya. Oh, kematian, oh, masa tua, oh, kepergian. Dengan lidahnya dia melukai orang-orang yang mencintai kehidupan, termasuk diriku, yang pergi berselingkuh, melukai anak kucing, menghajar seorang pengangguran di tepi jalan, sehabis mengurusi perutnya dan membasuh pantatnya setiap hari.

Coba kaupikir, apa yang paling menjijikkan dari kotoran orang suci—baunya atau rupanya? Apakah kau masih merasakan kehadirannya dengan menutup mata, apakah kau tidak menyadari keberadaannya dengan menutup hidung, seberapa dekat jarak yang diperlukan untuk menciptakan kebencian terhadapnya? Aku ada di sana, mengerti sakit yang tumbuh dalam tubuhnya yang kering, urat-uratnya yang kempis satu demi satu, hilang denyut, berhenti berdegup. “Dengarkan Jibril menyebut namaku,” katanya, saat kukeringkan tubuhnya dari mandi pagi yang hambar, “dari langit ketujuh Jibril memintaku segera tiba di sisinya. Cahayanya menelan seisi bumi. Tidakkah kau lihat itu?”

“Aku melihat malaikat maut dengan jubah hitamnya berdiri di samping ranjangmu. Dia melihatmu seperti seekor serigala melihat bayi tikus yang terlantar.”

“Dari kepalamu dia melompat.”

“Dari bayanganmu dia bangkit.”

Ribuan orang yang mencintainya berkumpul menunggu pintu dibuka. Kubilang pada mereka, “Tunggulah beberapa jam lagi. Doakan saja prosesinya lancar. Sudah cukup rasa sakit yang dijalaninya dalam hidup.” Kusampaikan tangis mereka kepadanya dan dia bilang bahwa itu adalah tangis kebijaksanaan. Tidak pernah habis prasangka baik dalam dirinya terutama untuk dirinya sendiri. Sebesar apa pun aku tidak menyukainya, dia tetaplah seseorang yang begitu fasih meniupkan dongeng-dongeng langit kepada manusia, dan aku adalah sahabatnya yang cerewet. Dia akan abadi, kalaupun tidak sebagai jiwa yang murni, maka sebagai ingatan di dalam kepala orang-orang miskin yang selalu dihiburnya dengan bayangan tentang surga dan kedamaian abadi yang menunggu mereka. Kukatakan padanya, “Hari ini dan dari sini surga akan kedatangan malaikat baru.”

“Dari mana kata-kata itu berasal?”

“Dari malaikat maut itu.”

“Dia membawa kebenaran. Dan kau telah menjadi lidahnya.”

Setelah itu bumi merekah layaknya bibir seorang perempuan tua, punggungnya mengakar ke tanah, dia tertelan ke sana, dengan tersenyum membawa matanya yang masih setengah terbuka. Setelah dia tak terlihat aku meremas selimutnya yang tertinggal. Aku meremas wajahku sendiri. Oh, hari panen akhirnya tiba. Aku ikut berbahagia untuknya, sungguh, takkan ada negasi apa pun!

Bunyi yang Tersisa


Bagaimanakah bunyi kereta terakhir itu di ingatanmu? Adakah sunyi seperti milikku? Bagaimanakah aroma kereta yang menjauh itu di ingatanmu? Apakah seperti milikku—bau cat terkelupas dan kayu-kayu kering yang diserang angin? Bagaimanakah langit di hari terakhir itu dalam ingatanmu? Apakah seperti milikku—bulat serupa payung dengan biru yang memendar di sekitarnya? Bagaimanakah awan di sore kita yang berharga itu dalam ingatanmu? Apakah seperti milikku—terpecah belah dan tak cocok satu sama lain? Bagaimanakah waktumu bergerak pada pelukan penutup itu? Apakah seperti milikku—hilang sama sekali?

Betapa banyak yang kita kemasi tapi selalu ada yang tertinggal. Tak sedikit  langkah untuk tiba pada titik ini tapi masih saja kutemukan diriku tak beranjak ke mana-mana. Keajaiban apa yang tuhan berikan kepada kita sehingga kita tidak bisa saling meninggalkan sebetul-betulnya—seutuh-utuhnya?

Alarm pagi berbunyi. Di luar sudah malam.

Hari itu kau kehilangan kepercayaan kepada apa pun.

“Jaga dirimu baik-baik, seperti kau menjagaku,” kubilang, “juga seperti ibumu merawat kepercayaan kepada tuhan.”

Kau berdiri sempurna di peron satu. Dengan sepatu merah bertali putih kumal.

“Aku tidak bakal kembali.”

Tanganmu mengepal di ujung jaket. Kau menatapku, cuma diam.

“Usaha-usaha untuk kembali ke kota ini akan menghabisiku.”

Lututmu layu. Kau menekuk leher.

“Katakan pada dirimu yang mulai menutup pintu dan jendelanya, katakan bahwa akan ada orang lain yang datang ke kota ini dengan alasan yang sama seperti ketika aku meninggalkannya. Semua orang melakukan ini untuk kebaikan dirinya juga orang-orang yang dia kasihi.”

Bibirmu bergetar.

“Jangan menelan terlalu banyak kata-kata. Suatu saat dia akan menusukmu.”

Betapa hebat kesanggupan manusia dalam meyakini bisikan-bisikan yang lahir dari rasa sakit. Kau begitu saja menjalani hidupmu yang menguning, memerah, menghitam—tak pernah kembali ke titik awal. Hari-harimu berisi rutinitas yang pelik, seperti penggali sumur yang bekerja di titik yang sama selama bertahun-tahun. Di dasar sana langit hilang. Bunyi kucing terdengar dari kamar seberang. Gesekan daun-daun kersen yang kering di halaman. Bunyi kereta terakhir itu lagi. Lalu kau menggali dan menggali lebih dalam, di tempat semua yang berada dalam dirimu menjadi tak lagi jelas—antara yang hidup dan yang mati. Kurang lebih begitu pula laju keretaku.

Sudah terlambat.

Ketika kusadari bahwa hidup tidak bisa diperbaiki dengan pergi, aku terlanjur menjadi penyesal yang akut. Di stasiun kota ini tak kudapati nama kotamu. Begitu juga dengan kota-kota lain. Tak lagi ada tempat yang memberiku kesempatan. Kita terlanjur tumbuh menjadi daun-daun yang menyembah matahari yang berbeda. Keajaiban apakah ini sehingga kita masih bertahan hidup?

Alarm pagi berbunyi. Kubuka jendela.

Dari sana sebuah kereta hitam tampak bergerak perlahan, mengepulkan asap kental dari kepalanya yang menatap timur. Langit biru memendar. Kesunyian membulat. Dan aku mencium aroma cat terkelupas—aku mencium kayu-kayu kering yang diserang angin.

Angin Tiba di Jakarta


Usai mengelap Kijang tua itu dia duduk di kursi plastik hijau, menggosok matanya yang terkena sabun cuci, menyulut sebatang rokok lalu menatap lalu lintas padat Jakarta. Mobil-mobil yang diburu jam makan siang melintas tertatih-tatih di tengah kemacetan. Lampu apil berkedip perlahan menambahi kekusutan siang itu. Di antara mobil-mobil itu tak ada yang tertarik untuk menyegarkan diri di pencucian. Tak akan ada pula yang membawa permadani kotor, sajadah yang berjamur, karpet masjid, karpet toko, atau karpet-karpet murah lain yang setahun penuh tak pernah dicuci—barang-barang yang dinantinya saban hari di tempat cuci berusia dua belas tahun itu.

Dia lebih suka mencuci karpet ketimbang mobil atau motor. Sayangnya, orang lebih suka mencuci karpet di rumahnya sendiri. Hanya orang-orang ceroboh—alih-alih punya kepercayaan besar—yang akan menyerahkan persoalan cuci-mencuci karpet kepada orang lain. Orang bisa jadi tak cocok dengan aroma yang ditimbulkan oleh tangan orang lain sehingga dia merasa asing ketika menginjak lantai rumahnya sendiri. Orang bisa saja takut sperma keringnya terlihat. Orang mungkin khawatir perselingkuhannya terkuak dari sana. Detail-detail kecil yang tak terlalu digubris ketika mencuci mobil akan tersesa berbeda ketika dijumpai pada karpet. Dia pernah mencuci karpet merah dengan ratusan luka bakar dari rokok. Bulatan-bulatan hitam berkerak itu tak bisa dihilangkan, menggosoknya bagaikan usaha sia-sia untuk mengaruk punggung badak yang gatal. Pernah pula dia menjumpai permadani tebal yang disesaki rontokan bulu kucing yang bercampur dengan rambut perempuan yang halus, terlalu halus untuk jatuh dari kepala seorang perempuan tua.

Katakanlah ini sebatas hiburan. Tidak setiap hari dia mendapat pelanggan yang membawa karpet sementara puluhan mobil harus dia layani. Lepas dari soal itu, yang terbaik dari karpet adalah aromanya. Karpet-karpet dari tempat ibadah biasanya berbau asam kaki. Karpet-karpet milik Karang Taruna beraroma kopi dan rokok murah. Karpet-karpet perkantoran berbau bedak atau kondom bekas. Karpet-karpet yang datang karena terendam banjir menguarkan bau yang lebih karib: aroma sungai, aroma kayu-kayu kering yang lapuk, aroma ruang tengah rumahnya sendiri yang hanya bisa dikunjungi setahun satu kali.  Dia amat senang bila penghujan tiba lalu banjir terbit hingga tenggorokan, menyisakan endapan lumpur, kemudian puluhan karpet diserahkan kepadanya. Selama dua atau tiga bulan pada musim penghujan dia akan lebih banyak mencuci karpet ketimbang kendaraan. Sepanjang itu pula dia akan mengingat rumahnya di Magetan.

Oktober sudah memasuki minggu ketiga, cuaca masih kering seperti biasa. Musim hujan sedang ditunda atau bagaimana? Apa mungkin hujan tertahan kemacetan juga? Di depan dadanya dia mengipas-ngipas handuk putih kumal bertuliskan “Kasih Yesus Lebih dari Semua” yang dia dapat dari sekolah anaknya yang mahal. Sebuah Nokia ditarik dari saku, lalu dia mengirim pesan kepada pelanggannya, seorang OB dari salah satu perkantoran. “Sudah dua bulan belum naruh karpet di sini. Belum ada yang kotor?”

“Karpetnya sekarang dicuci di tempat, Bro. Sudah ada alatnya.”

Dia tak paham alat seperti apakah yang dimaksud. Tak pula dia bertanya kenapa orang-orang pintar di luar sana sampai susah-susah menciptakan alat canggih cuma untuk mencuci karpet. Dia terima respon singkat itu lalu menghubungi yang lain, seorang kawan lama saat menjadi kuli panggul di pasar Tanah Abang, yang terbiasa mengada-adakan sesuatu yang tidak ada, membesarkan-besarkan sesuatu yang sebetulnya sederhana.

“Sekarang yang pegang karpet sudah beda, bukan saya. Saya sekarang mengurusi gorden. Lebih jarang dicuci kalau gorden, satu tahun sekali. Itu pun kalau dananya turun.”

“Repot sekali. Apa tidak risih kalau gordennya bau?”

“Harus sesuai prosedur. Gubernur yang sekarang ketat, Mas, pegawainya pada takut kena ciduk.”

“Ini cuma soal nyuci karpet.”

“Itu uang puluhan juta, Mas.”

Seingatnya, tak sekalipun dia mencuci karpet dengan bayaran sebanyak itu. Paling besar, dia pernah mendapat lima ratus ribu rupiah dari seorang pengusaha yang senang melihat permadaninya kembali cerah. Seumur hidup, baru sekali itu dia mendapat bayaran sebesar itu untuk sebuah pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Tak putus usaha, dia lantas menghubungi pelanggannya yang lain, seorang perempuan dari tempat laundry di komplek Bunga Asih II.

“Mungkin belum ada kopi yang tumpah, Mas. Tiga bulan ini juga tidak terdengar ada pesta. Belakangan ini kami malah lebih banyak menerima celana dalam dan kaus kaki.”

Dia menghubungi pelanggan terakhirnya.

“Ada. Tapi apa mau mencuci karpet yang belum betul-betul kotor?”

“Masih enak diinjak?”

“Masih. Belum kasar.”

“Tidak usah kalau begitu.”

“Kita coba tunggu satu bulan lagi, ya? Mungkin nanti kotor.”

Sebuah mobil sedan yang tampaknya baru saja kembali dari pemakaman yang diguyur hujan masuk ke tempat cuci. Salah satu pegawai tempat cuci itu menghampiri si pemilik yang keluar dari mobilnya sembari menyerahkan kunci, lalu duduk di kursi merah di sampingnya. “Karpet di rumah tidak ada yang kotor, Pak?” tanyanya seketika, membuat orang itu tercenung sekian waktu.

“Di sini nyuci karpet juga?”

“Saya bisa membuat karpet Bapak jadi seperti sofa.”

“Gaya marketing semacam itu tidak menarik.”

“Jika tak terbukti, silakan injak muka saya.”

“Nah, ini saya suka.”

“Saya serius.” Dia mengambil jeda, lalu melirik kembali ban mobil yang belepotan oleh tanah merah. “Habis dari luar kota, Pak?”

“Anak saya kemarin pengen main ke Bogor. Tempat main anak sekarang jauh-jauh. Tapi kalau tidak dituruti rasanya kok tega sekali, Mas. Toh tidak setiap hari.”

“Anak saya malah saya sekolahkan di Jakarta, Pak. Di kampung tidak ada masa depan.” Obrolan itu dengan cepat merangkak ke soal berapa jumlah anak, sudah berapa yang lulus kuliah, di mana istri, paling suka rokok merek apa, di sekolah anaknya diajarkan apa, cita-citanya—nah, di bagian ini, dia berkata, “Saya sengaja menyekolahkan dia di Jakarta supaya pergaulannya luas. Supaya dia tahu, orang bisa jadi arsitek, bisa jadi desainer, bisa jadi pengusaha sukses. Dua minggu sekali dia pasti mengunjungi saya. Dia tidak kumal seperti saya, Pak. Dia terlihat seperti orang Jakarta.”

“Hebat.”

“Karpet Bapak sudah berapa lama tidak dicuci?”

“Satu atau dua tahun atau mungkin lebih—entah, saya lupa.”

“Pasti sudah ada kutunya itu.”

“Mungkin.” Mukanya berubah raut. “Tapi aneh sekali,” katanya kemudian, “saya tak bisa mengingat karpet itu bergambar apa, atau polanya seperti apa. Cuma warnanya. Warnanya merah. Tepat di tengah ruang tamu. Sebuah lampu besar menggantung di atasnya. Saya pun tidak bisa mengingat jelas bagaimana bentuk lampu itu. Yang pasti, dia besar, dan putih.”

“Benda mati harusnya lebih mudah diingat, Pak.”

“Barusan saya berusaha mengingat-ingat wajah anak lelaki saya yang paling tua. Dia sekarang kuliah di Belgia. Beberapa hal muncul dengan tidak tegas. Hidungnya, saya ragu, mancung atau sedikit pesek? Matanya, bulat penuh atau agak sipit? Adakah kerutan di bibirnya ketika tertawa—atau kapan dia terakhir kali tertawa?” Dia menatap jalanan, menyimak sahut-menyahut klakson mobil yang dijejali egoisme dan kedunguan pengemudinya. “Saya jadi ingin pulang. Ingin lihat wajah anak saya yang paling kecil. Kemarin kami baru liburan bersama, tapi kok saya tidak bisa mengingat dia dengan detail.”

“Ya jangan diingat-ingat, Pak, nanti malah sedih sendiri.”

Lelaki berusia lima puluhan itu tertawa pendek.

“Saya lupa wajah istri saya, tapi itu ada bagusnya juga, karena tiap kali pulang saya merasa menjumpai perempuan berwajah baru dengan kebaikan-kebaikan yang sama.”

“Perempuan bukan masalah buat saya. Ini anak, Mas. Bayangkan suatu hari kamu jumpa dengan anakmu yang berbeda, yang sama sekali tak tercantum dalam ingatanmu, dan kalian merasa tersesat satu sama lain.”

“Saya tidak sempat berpikir sejauh itu, Pak.”

Sebuah Suzuki masuk ke tempat cuci. Pintunya dibuka-tutup dengan keras ketika seorang perempuan berkacamata bulat keluar dari sana. Dia duduk di kursi plastik putih di dekat mereka—hampir saja dia tersungkur karena salah satu kaki kursi itu lunglai. Dia berhasil menahan kedua lututnya tetap tegak, tapi ponselnya terlempar, memantul berkali-kali sampai masuk ke dalam selokan berair hitam dan kental. Dengan sigap dia mengumpat. Semua menoleh ke arahnya, lalu dia menoleh ke semuanya, hendak memilih salah satu dari mereka untuk disuruh turun ke bawah sana. Tapi semua kembali ke pekerjaan mereka masing-masing dan tokoh utama kita beranjak dari kursi, mengikat handuknya di kepala, mulai menyemprot Suzuki itu dengan keras.

Dari arah Bogor, gerombolan awan pekat bergulung dengan cepat sembari menitipkan bau basah ke dalam angin. Beberapa menit kemudian angin itu tiba di Jakarta.