Aku Tak Peduli Siapa Tuhan(mu)


Tuhanku saat ini bukanlah sesuatu yang bisa  dengan mudah kujelaskan padamu, sebab ia tidak berada dalam pakem yang disuguhkan agama dan aku sendiri sulit merumuskannya dalam ruang bahasa manusia, sehingga aku khawatir kita akan menghabiskan waktu dengan sia-sia jika membicarakannya.

Kecuali jika, sekali lagi, kau mau menurunkan egomu dan datang padaku sebagai orang yang mencari. Kita bisa sama-sama berusaha menyampaikan isi, meski bahasa kita terbatas dan rawan disalahpahami. Sebab hanya para pencari yang bisa bicara sama-sama, dan setiap kali kau berusaha menjadi hakim, kebersamaan kita jadi percuma.

Bisa kukisahkan bagaimana penempuhanku selama ini, yang mungkin akan sulit dipercaya jika dilekatkan pada wajahku yang unyu, terlebih lagi jika, sekali lagi, kau belum meletakkan egomu. Selalu ego yang menggagalkan kita dalam mendekati hakikat yang berada di balik tabir, meski tiap malam kita mendaras muzammil dan mudatsir. Inilah yang disembelih Ibrahim dari Ismail. Di baris ini mungkin kau sudah mulai mencibir, “halah tahu apa kamu soal hakikat!”

Itulah mengapa kita sulit membicarakan ini. Dan karena itu pula aku kerap heran, meski tak pernah kuutarakan: dengan ego sebesar itu, seorang manusia, mungkin termasuk aku atau kau, sebetulnya tak perlu punya tuhan. Menyembah diri sendiri saja bakal kewalahan. Setiap hari merasa menyembah tuhan, padahal sedang mengejar segala hal buat memuaskan diri sendiri, termasuk dalam laku peribadatan.

Ego menjadi inti persoalan, sebab pembicaraan tentang yang-langit akan selalu merujuk pada lapis-lapis batin kita sendiri. Dan aku, biasanya, hanya sanggup menyinggung lapis terluar ketika ditanya apa atau siapa tuhanku, apa dan bagaimana agamaku, dengan jawaban-jawaban iseng bahwa aku atheis, agnostik, ibu adalah tuhanku dan bapak adalah nabi kedua puluh enam. Semakin dalam aku harus menjelaskan, semakin banyak aku diam.

Lalu untuk diriku sendiri, ketika melihat orang lain beribadah—yang tampak maupun yang tidak, aku berusaha mempercayai bahwa orang-orang ini sedang menempuhi sesuatu yang menurutnya baik, sebagaimana aku mempercayai diriku demikian, dan karena itu harus kuhargai betul pilihan-pilihan mereka. Sebab akan sangat memalukan bagiku jika, di suatu waktu, kupaksa kawanku untuk bersujud padahal dalam tegaknya pun dia tengah menyembah.

Catatan #3661


[Juni-10-17]

 

Aku melewatkan kesempatan buka puasa dengan orang yang kusuka, hanya karena, mirip sebelum-sebelumnya, ingatanku terlalu lemah—karenanya gagal menyimpan tanggal kepulangan dia. Kau jangan tertawa. Sekembalinya aku dari tiga tahun yang hilang itu, memoriku tidak pernah pulih, dan kini hidupku penuh catatan. Hanya pada aspek inilah aku kesal pada pengalaman depresi itu.

Benar katamu, perihal Afi Nihaya itu, aku pun tidak terlalu tertarik membahasnya. Sensasi, kehebohan, kerumunan, mudah tercipta dalam masyarakat kita, dan ini kerap dipakai penguasa buat mengalihkan perhatian. Pernah ada, di jaman Suharto, bayi yang katanya bisa bicara dalam kandungan dan terbukti bohong. Masuk reformasi, kita disuguhi kolor ijo—ini konon dipakai buat menyerang ‘partai ijo’, lalu Ponari, kakek yang bertelur, Afi, bahkan ketika terjadi ledakan bom, orang kita akan mendatanginya. Naif. Polos. ‘Kagetan’. Yang kadang diperhalus oleh orang luar sebagai “murah senyum”, “sopan”, “ramah”, lalu pipi orang kita memerah karena dipuji demikian.

Tapi aku tidak sependapat denganmu soal “selugu apa pun mereka, mereka ini orang kita, yang perlu kita selamatkan di depan bila kapal bakal karam.” Kukira pandangan semacam itu sudah punah dari kepalamu. “Orang kita” bukanlah kategori yang bisa membuat seseorang layak atau tidak diselamatkan. Aku akan lebih siap, misal, menolong sepuluh imigran yang datang dari Somalia, yang ingin tumbuh bersamaku dan membentuk suatu lingkungan yang menyenangkan, ketimbang menolong tetanggaku yang, meski kesamaan identitas kami nyaris 100%, selalu nyaman dengan keluguan itu. Rujuk kembali perbincangan kita mengenai “identitas”.

Sedih tidak bagimu, melihat tetanggamu sendiri masih percaya bahwa uang bisa digandakan secara ghaib atau mereka (masih) percaya bahwa komunis mengancam negeri kita? Sorry soal retorika semacam ini. Gemas sekali rasanya. Sudah lama kita hidup dalam pengaruh sihir—dalam pengertian Tan ataupun Chomsky. Kita bahkan tak bisa mengendalikan diri kita sendiri. Anakmu itu, kalau sudah mulai bisa menggenggam remot tivi, pastikan tidak menyaksikan omong kosong. “Animal Planet” lebih bermanfaat ketimbang semua ocehan manusia di dalamnya. Jauhkan pula dari gadget jika dia belum punya ‘standar operasional’ yang mumpuni. Lebih bagus lagi kalau dia diakrabkan dengan buku-buku. Ini latihan paling mujarab agar orang tidak mudah mengambil kesimpulan, lebih teliti ketika menyimak soal, dan ya, sisanya kamu sudah tahu.

Aku kangen rumah, semur bikinan ibu, kolak pisangnya, juga es timun surinya, dan tawa renyah keponakanku. Rumah selalu jadi tempatku menenangkan kepala, selain tentu di sisimu. Kamu masak apa buat buka nanti?

Catatan #3659


[Juni-08-17]

 

Aku sudah merasa baikan. Sangat baikan ketimbang kemarin. Tadi malam sahur dengan nasi telur. Enak dan membikin bahagia. Tapi semakin tua aku semakin bisa menerima repetisi, yang berupa duka maupun sukacita, dan akhirnya jadi biasa saja. Belum lagi jika kita menyinggung bahwa pada akhirnya semua jadi feses saja.

Muncul kabar bahwa renggangnya hubungan Saudi dengan Qatar, yang katanya disebabkan oleh dukungan Qatar terhadap gerakan teror, didalangi oleh Rusia melalui para hacker-nya. Tuduhan ini sempat dilayangkan juga oleh oposan Trump ketika lelaki berambut jagung itu menang pemilu. Belum pula sempat kutelusuri kabar ini lebih jauh, kabar lain sudah datang, berisi cerita dari direktur FBI tentang beberapa momen perbincangannya dengan Trump. Menarik untuk disimak jika kamu ingin melihat lebih jauh tentang konstelasi politik Amerika—yang imbasnya selalu sangat besar terhadap konstelasi politik dunia.

Kita—seolah—tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk menelusuri semua itu. Yang mana kabar yang sebetulnya benar, dan mana yang tidak, pada akhirnya kita tangguhkan dalam kepala kita sebagai potongan fakta yang diragukan, tidak perlu diungkapkan sampai betul-betul utuh sebagai sebuah peristiwa. Tapi, sayangnya, hari ini, sesuatu barangkali takkan pernah utuh, sebab bukan cuma aku, orang-orang lain pun sudah sangat sibuk. Harus mengecek Facebook, mengecek Twitter, IG, Path, Gmail. Banyak betul yang harus diperhatikan, dan lucunya, orang-orang ini malah lupa memperhatikan dirinya sendiri dan mencari perhatian dari orang lain. Kapan-kapan kita bicara post-realitas ya.

Semangat untuk menjadi ahli sangat tinggi, ahli bicara, terutama di Twitter. Terlihat banyak orang—sebutlah mereka ini kaum rumah-mobil-kantor—berusaha membangun image sebagai orang cerdas, namun sebetulnya sebagian besar dari mereka ini merupakan manusia yang tidak pernah melihat realitas selain yang disuguhkan oleh media. Efeknya, perdebatan mereka kurang lebih berada dalam suatu ruang yang ter—atau di—konstruksi oleh para pemegang media, penguasa atau pengusaha, untuk kepentingan pasar semata atau juga kepentingan politiknya. Spesies ini sebetulnya tidak pernah bersentuhan dengan persoalan yang sesungguhnya, namun jadi yang paling berisik. Aku pun bisa jadi berada di posisi ini jika terlalu semangat bicara soal Suriah, Qatar, dan persoalan yang jauh dari mataku itu.

Sulit sekali untuk menjadi pendiam di jaman ini meski kita tahu bahwa kalaupun kita bicara benar belum tentu kita mendapat perhatian yang layak. Semuanya ingin bicara. Bahkan tuhan yang sakit gigi, seperti kusinggung kemarin, takkan sanggup membungkam kebisingan NKRI. Tapi aku mau berusaha, sebagaimana harus juga kamu lakukan, supaya kita tidak menghabiskan energi untuk sesuatu yang sama sekali tidak akan mengalami perbaikan. Biarkan saja dulu. Tunggu momentumnya tiba.

Sudah dulu ya. Titip salam buat ibumu. Semoga senyumnya, juga senyummu, tidak berkurang.

Catatan #3658


[juni-07-17]

hari ini aku merasa berantakan sekali. kepalaku gagal terkoneksi dengan apa pun yang kulakukan. tidak mempan pula nasehat dariku sendiri. kalau sudah begini aku harus diam dulu. bagaimana denganmu? kuharap kau baik-baik saja.

berita kematian muncul tiap hari. orang biasa, entah di mana, sedang apa, kena pistol, pisau, bom, juga legenda-legenda seni yang gagal bahagia akhirnya banyak bunuh diri. teror. teror berderap dari negeri seberang, kota-kota, hingga desa, berupa kabar semata atau terjadi langsung depan muka. tidak hanya dari mereka yang mengaku sebagai pejuang agama, tetapi juga dari kemiskinan, keputusasaan, yang menutup seluruh penglihatan menuju hari depan. kukira inti persoalannya yang kedua itu. orang, kalaupun pintar, dalam kemiskinan bisa jadi orang licik.

kematian tak lagi mengejutkan sebagai sebuah berita dan orang justru makin takut terhadapnya. kegelisahan tumbuh dalam kepala seluruh orang tapi seluruh orang tidak punya rencana jelas buat menghadapinya. gerombolan ikan teri lebih pintar mengelola diri ketimbang manusia saat ini. misal saja segerombolan penjahat menyerang suatu kota hari ini, seperti yang terjadi di filipin beberapa waktu, orang lintang pukang. meski tak sesimpel itu nyatanya. tapi itu bisa jadi contoh kecil betapa kita tidak bersiap. kita, konyolnya, masih permisif terhadap musuh yang duduk di samping kita, hanya karena dia belum meledakkan bom di perutnya.

di hari yang sama, seperti yang kukatakan sebelumnya, banyak kelahiran baru yang tak tercatat, yang sebetulnya tidak terlalu penting di tengah populasi yang kian meledak. manusia menuju 8 miliar. kalau kau cukup pintar berhitung, kau akan setuju bahwa ini over. bumi tak siap untuk ini. terlebih karena urbanisasi, sebarannya tak merata, dan kepadatan yang menggila di sana membikin orang kian tak bahagia. spesies ini kena ‘obesitas’ sekaligus penyakit mental. perampingan masih menjadi cita-cita utama kita.

cag.

Nyinyiran Sang Filsuf


Demos dicampur kratos, kata orang, yang kurang lebih berarti kekuasaan rakyat, konon lahir di Yunani dan kini banyak diadopsi oleh negara-bangsa di dunia. Dalam “kekuasaan rakyat” itu terkandung prinsip mendasar, bahwa dalam setiap pikir dan geraknya, negara harus menyertakan peran rakyat, secara langsung maupun diwakilkan. Prinsip ini pula yang menjadikan sebuah negara demokrasi sebagai negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, termasuk di dalamnya kebebasan berbicara dan berekspresi, persamaan hak bagi seluruh warga, terutama di hadapan hukum, dan blablabla, yang kurang lebih intinya: aku mau berak di atap rumahku ya terserah aku, kamu ndak usah ikut campur. Apa guna berak di atap? Itu pun urusanku. Yang penting aku ndak melanggar hukum.

Demokrasi kemudian seolah buat main-main, asal jeplak, yang penting ekspresif—selucu Rocky Gerung, filsuf tersohor yang ingin mengedepankan dialog tapi lebih sering nyinyir; senaif anak-anak nakal yang menduduki pundak patung pahlawan, mencandai ibadah agama lain, meledek seseorang yang konon ulama; yang lalu tindak-tanduk itu diseriusi dengan berlebihan oleh orang-orang tua yang kurang piknik, kurang kopi, dan—meminjam bahasa Niken Supraba—sebetulnya sedang marah pada kemiskinan yang dialaminya. Sepantasnya, meski retoris, kita bertanya kembali: apa urgensi demokrasi di Indonesia? Kalau keluarannya cuma nyinyiran, ledek-ledekan, lapor-laporan ke polisi, kampanye berisi hoax, remeh temeh hembleh kupeh crat crot, kok ya menyedihkan sekali.

Sebagian besar dari negeri ini, bahkan yang selevel filsuf, akademisi, barangkali sebetulnya belum siap berwacana. Dialog-dialog hanya terjadi dalam suatu panggung imajiner, yang tidak lain adalah kepalanya sendiri, dan di sana dia berargumen lantas mendapat tepuk tangan dari lawan bicaranya, yaitu dirinya sendiri; dia kemudian muncul ke temlen sebagai manusia narsistik yang mengalami orgasme tiap kali mendapat retweet. Konflik yang terjadi masih seputar urusan perut untuk satu-dua hari ke depan, tidak punya pandangan yang jauh, tidak pula terkonsep dengan utuh. Mana pula ada bayangan tentang cita-cita yang tinggi. Kalaupun ada, paling banter mengejar pertumbuhan ekonomi, atau dijadikan ornamen saja semisal demokrasi atau Pancasila, biar negeri ini terkesan punya visi, dan sesekali bisa diambil paksa untuk mencari muka di tengah kebisingan yang chaotic ini.

Saya kemudian mafhum mengapa kastanisasi masih relevan di tanah ini. Tidak semua orang siap mendengarkan pendapat dan layak berpendapat, tidak pula semua orang siap dihakimi dalam suatu benturan wacana dan layak untuk menghakimi orang lain—bahkan jika hanya dengan mulutnya, apalagi jika dengan mendatangi kediaman orang tersebut lalu menempeleng jidatnya. Ada banyak orang yang lebih baik tidak bersentuhan dengan wacana-wacana besar, semisal tentang PKI, khilafah, konflik Israel dan Palestina, dan cukup dinasehati tentang tata cara bersabar dan bercocok tanam, sebab kepalanya belum punya daya untuk meragukan suatu wacana, apalagi untuk menelaahnya lebih jauh, dan dia akan lebih pas bila menjalankan kerja-kerja teknis yang itu pun untuk kesejahteraannya sendiri. Kesadaran akan keterbatasan ini hampir mustahil untuk dicapai, terutama di jaman ini, di tengah maraknya para pembela kebebasan berpendapat—meski pendapat yang diutarakan itu tak ada isinya, dan yang berisi justru jadi tak terdengar. Lucunya lagi, orang-orang yang nganu ini, yang sanggup mengenal teks dan simbol namun tidak sanggup mempelajari konteksnya, yang berulang kali dibohongi politisi dan tetap percaya, masih tetap punya hak untuk memilih pemimpin dan wakilnya. Hasilnya ya bising saja.

Lalu, sekali lagi, apa urgensi demokr—udah ah, kungantuk. Tak usah dipikirkan. Kita retweet lagi saja nyinyiran Rocky Gerung, sebab itulah bentuk dialog yang menggelitik yang bakal melahirkan pencerahan bagi bangsa ini. Allah~

[NGOCEH] Krisis Keraguan


“First of all, Leslie practiced Buddhism, which to her was philosophy and not an organized religion. In fact, Leslie abhorred all organized religion. To her, they were the most dangerous fairy tales ever invented, designed to elicit blind obedience, and strike fear into the hearts of the innocent and the uninformed.” – Captain Fantastic

*

CHAOS, katakanlah begitu, bisa kapan saja terjadi ketika individu-individu dalam sebuah masyarakat tidak lagi punya keterikatan emosional, tidak lagi saling percaya, dan memendam begitu banyak kebencian yang tidak diekspresikan atas dasar saling menghargai. Untuk menciptakan krisis kepercayaan semacam ini, di zaman ini, sangat mudah, terutama dengan kehadiran gadget—barang yang kau jadikan teman tidurmu, lebih akrab denganmu ketimbang istrimu sendiri.

PRAKONDISI: (*)ketakterdidikan yang tersebar di banyak tempat, bahkan pada mereka yang punya gelar akademik berderet namun masih belum sanggup meletakkan egonya ketika menelusuri sebuah persoalan, yang menciptakan manusia-manusia tumpul yang akan dengan mudah diseret oleh beragam isu, bahkan jika isu itu hanya berupa sebaris headline, kabar burung, bisikan angin, yang tidak jelas asal muaranya; (*)interaksi antar-manusia yang sebatas terjadi dalam lokus pasar, yang menciptakan kepala-kepala yang menilai segala sesuatu, ketika berurusan dengan orang lain, dalam ukuran-ukuran pasar dan akan dengan mudah cemburu pada persoalan-persoalan pasar, misalnya soal daya beli yang lebih rendah ketimbang orang lain; (*)merajalelanya agama sebagai sebuah dogma yang melabeli dirinya sendiri sebagai suci, tak boleh diadili, selalu melompat-lompat seenak udel ketika menjelaskan dirinya dalam sejarah, yang lalu menghadirkan kepala-kepala yang melihat segala soal sebagai persoalan agama, tidak pernah utuh memahami suatu fenomena, sebab baginya agama adalah satu-satunya jalan, terutama agamanya sendiri, yang akan sanggup menjadi jalan keluar dari segala persoalan.

PELATUK: ketidaksejahteraan.

JARI PADA PELATUK: elite, atau katakanlah penguasa, pengusaha, ulama gadungan, filsuf siluman, yang kangen berenang di kolam darah, atau ingin sebuah revolusi.

*

SIAPA DIRIMU?

Banyak negara sudah merasakan teror dari kelompok tertentu. Tapi satu hal yang membedakan kondisi semacam ini di Inggris, Prancis, Amerika, dengan apa yang terjadi di negara dunia ketiga, atau katakanlah negara-negara terbelakang yang dibiarkan untuk tetap agamis dan minim saintis, jago menghafal namun dangkal daya telisik, ialah para pelakunya datang dari luar, bukan warga bangsanya sendiri. Penolakan bangsa-bangsa di Eropa terhadap kedatangan para imigran bisa dipahami sebagai rasa gugup ketika harus membangun rasa percaya dengan individu-individu baru yang sebelumnya tinggal di belahan dunia berbeda, yang tentu perlu dididik kembali tentang apa dan bagaimana falsafah hidup di tempat ini, dan bagaimana semestinya mereka menjadi. Ini terbukti tidak mudah.

Dalam sebuah bangsa yang gagal, bangsamu ini contohnya, yang menjadikan falsafah hidupnya sebatas jargon, jangan heran jika suatu hari ketika chaos akhirnya pecah, tetanggamu mendobrak rumahmu, menjarah isinya, memperkosa perempuan-perempuan di dalamnya. Kau dan tetanggamu itu tumbuh sebagai individu-pasar, individu-agama, bukan individu-bangsa. Kau lebih terikat dengan saudaramu yang hidup di padang pasir ketimbang dengan tetanggamu sendiri, dan tetanggamu itu lebih peduli pada pabrik sepatunya ketimbang padamu. Sampai di titik ini kita sebetulnya perlu berfilsafat kembali tentang cara hidup yang menyenangkan. Tentang apa itu komunitas, peradaban, budaya, kemajuan, pendidikan, dan pilar-pilar lainnya. Tapi mungkin nanti saja, ya, kalau perang sudah kelar dan semua sudah kelelahan dan ingin melihat titik terang, sekecil apa pun.

*

SAAT INI. Di negeri agamis ini, propaganda ditebar di sana-sini, melalui utusan atau pesan singkat, dan orang-orang sedang krisis keraguan, terlalu mudah yakin pada kabar yang datang—seperti kata Leslie di paragraf pembuka.

Gadget membuat para pecundang menjadi lebih berisik karena mereka bisa teriak sambil sembunyi, dan tak sadar bahwa itu memperburuk suasana. Masyarakat ini sedang memecah diri menjadi dua kubu yang betul-betul jelas pemisahnya.

Polarisasi akan selalu tercipta, sebagai imbas dari dua raksasa yang hendak melakukan perang besar. Orang lain, bahkan jika hanya ingin menjadi penonton, mau tak mau, siap tak siap, sadar tidak sadar, harus menentukan posisinya.

Janji Pergi dari Kota


(doc. pribados)

            Aku ada janji. Mengajaknya pergi keluar dari kota. Menuju tempat yang lebih hijau. Tidak banyak manusia. Harusnya tidak banyak manusia. Di sana hanya burung-burung. Dia suka burung, terutama yang tidak terbang dan mudah dilempar batu. Gelombang yang tenang. Angin yang bersantai. Semacam, di sana, kami bisa berdua betulan, dan menjadi jahat tanpa takut polisi. Ya, seperti sebuah gunung atau pantai yang belum terdaftar di Google Maps. Tapi dia keburu mati. Seumur hidupnya, betul-betul seumur hidupnya, tidak pernah dia menginjakkan kakinya di tanah. Tidak pernah dia menghirup udara selain di gang-gang Tanahabang.

            Di kota lain, kubilang padanya, saat musim liburan tiba. Kita bisa menemukan orang Jakarta bertingkah seolah paling berani. Di stasiun. Di terminal. Tepi pantai. Jendela pesawat. Mereka bicara dengan belagu. Melangkah dengan kaki yang terlalu pede—sehingga justru terlihat aneh. Apalagi jika bergerombol. Kubilang padanya, kamu jangan begitu. Wajahnya berubah merah. Tidak mudah. Pemalu sepertinya memang tak seharusnya lahir di suatu kota yang besar. Tapi sudah. Mungkin nasihatku yang salah. Setidaknya, dia suka FTV. Dan gambaran pedesaan di matanya tidak lebih dari yang disuguhkan televisi.

            “Amortulaga, kimbare sagum tagi?” tanyanya di suatu pagi. Dengan wajah gugup karena, untuk pertama kalinya, punya sarung tangan. Warnanya merah padam. Sedikit hitam di bagian telapak. Sedikit berlubang di ujung telunjuk. Dipakainya terus. Seolah Jakarta belum cukup panas. Dan sampai rela makan pakai sendok hanya agar sarung tangannya tak lepas.

“Ing kuma dakka. Omh sui aki,” kubilang. Dia menjadi lebih tenang. Kami bisa mendaki Gede Pangrango pertengahan tahun ini. Jika tidak ada aral. Jika dia tidak mendadak mati karena demam. Dan sempat menular padaku. Untungnya aku tidak mati juga. Setidaknya aku bisa menguburkannya dulu.

            “Jugo habi makrani ing subahe nara?”

            Tak bisa kutahan tawaku. “Na! Na!” Di sana kita bisa makan apa saja, kujelaskan lagi padanya, semua yang bisa dikunyah dan ditelan berarti bisa dimakan. Tapi dia sulit percaya. Dia lebih percaya pada racun. Yang katanya, orang bisa mati karena makan daun. Atau digigit semut api. Menyentuh katak. Menginjak tunas alang-alang. Dan lainnya, yang mungkin saja benar. Tapi bodo amat. Toh pada akhirnya dia mati tanpa sempat bertemu dengan semua itu.

            Aku menggigil. Dari jasadnya kuambil dua helai rambut. Tadinya tidak begitu. Mau kupotong semua kakinya, atau salah satu. Lalu kujejakkan di tanah Pangrango, jika sampai aku di sana. Andai saja aku cukup tega untuk merusak jasadnya. Akhirnya, cukup rambut saja, kupikir. Di dalam sebuah toples kecil. Dua helai rambut itu kadang kulihat berkelahi. Berkat dia, dan rambut-rambutnya, aku jadi yakin. Manusia bukan saja tidak bisa hidup terlalu ramai, juga bahwa demam bisa membuat kita mati, tetapi juga bahwa, kita tidak akan pernah berdamai dengan diri kita sendiri.

“Omh saga santi se—murokkab!”

            Di sini ada. Orang muda yang sempat merenungkan bangsanya, kubilang pada sepasang rambut itu. Ketika duduk aku di Mandalawangi. Pemuda yang naif. Yang pencapaian terbaiknya dalam hidup adalah mati muda. Tapi kurasa dia hanya beruntung saja. Kurasa orang bisa menentukan kapan dirinya boleh mati. Tapi kurasa juga mati tidak begitu penting-penting amat. Juga hidup. Tidak ada yang penting, sejujurnya. Kau hidup, juga aku. Dan dua lembar rambut ini. Dan dia yang sudah mati duluan. Hanya untuk menjadi bingung. Menyebalkan. Tapi sudah.

            Orang itu bagaimana ya? Dia sempat bertanya padaku. Ketika itu demamnya sudah menyedot banyak energi. Mungkin jadi mati dia kalau kusentil keningnya. Tapi tanpa disentil pun dia sudah mati. Mati itu begitu saja. Semacam tahu-tahu tiba—sekaligus tidak mengejutkan. Dia lalu melanjutkan, bicara dari batin ke batin denganku, “Maksudku, ketika di gunung, orang apa masih sama?”

            “Tidak. Di sana mereka jadi lebih baik,” kubilang.

            “Betulkah?”

            “Kurang lebih begitu.”

            Dia jadi berpikir bahwa orang mungkin lebih baik bergunung ketimbang beragama. Kumaklumi. Belakangan ini Jakarta berantakan. Dan agama memperburuk suasana. Dia melamun lagi kemudian. Aku baru tahu orang sekarat lebih banyak melamun. “Kalau orang kota naik gunung semua, bersamaan,” katanya, “apakah mereka akan jadi berbeda, atau gunungnya yang jadi berbeda?”

            “Semuanya jadi berbeda. Mungkin nanti gunungnya akan mencari gunung lain untuk didaki. Dan gunung-gunung lain, yang juga disesaki orang kota, akan sama. Dan semua gunung, gunung-gunung, gunungnya gunung, mencari gunung yang paling gunung, yang bisa membuat mereka lebih baik.”

            “Gunung apa yang paling gunung?”

            “Gunungmu. Maksudku, dadamu.”

            “Pegang saja kalau suka.”

            “Tidak, tidak,” aku terkekeh. “Sudah dingin.”

            “Apa sempat aku ke sana?”

            “Sudahlah, tidak apa-apa. Orang menjadi lebih baik, di gunung, karena ke sana mereka berniat tamasya. Kau mengerti kan maksudku?”

            Dia keburu mati.

            Di gunung. Dua rambut itu kumakamkan. Mereka masih sempat berkelahi di saat-saat terakhirnya. Yang satu minta dikubur. Satunya lagi minta dibakar. Kuturuti saja keduanya. Lalu aku tercenung. Bingung hendak mengikuti yang mana.