[cerpen berakhir esai] Limbo Lambe Limbung


Katakanlah, sederhananya, sudah lebih dari 24 jam kau menunggu hari esok; matahari terbit dan tenggelam seperti biasa; langit menjadi terang dan kembali gelap seperti biasa; muncul sabit pertama juga taburan bintang yang seperti bercak-bercak di kulit iguana; orang lahir, orang mati; daun dimakan ulat, daun gugur, pepucuk terbit; kau bangkit, merapikan diri, berangkat kerja; berkali-kali pula matamu terbuka seusai bercinta, bibirmu mekar oleh kata-kata, hingga semua menjadi biasa saja—namun hari esok tidak juga tiba. Ia tidak ada. Seperti tak akan pernah lagi kau jumpai, seperti, telah tercerai dari prosesi-prosesi lain dalam waktu, bertransformasi atau mungkin hilang secara konseptual dalam kepalamu, dan kau jadi tidak tahu dengan apa dia bisa kauukur dan kautandai.

Mengaburnya hari esok tidak selalu, seperti yang dipercayai banyak orang, punya relasi kuat dengan hegemoniknya masa lalu. Suatu masa lalu bisa saja telah mati namun orang belum punya ganti terhadapnya, atau orang tidak mau mengisi kekosongan itu kembali, sehingga ia yang mengalaminya menjalani suatu realitas yang tidak bisa diukur panjang-pendeknya dengan waktu; sebuah limbo, suatu ruang-antara yang memberinya kemampuan untuk melihat banyak hal namun tanpa kesanggupan untuk melakukan sesuatu terhadapnya. Dalam Inception, film yang dibintangi Di Caprio, limbo digambarkan sebagai bagian terdalam dalam kepala manusia, sangat dalam, sehingga akan lebih tepat jika dia hanya berisi fragmen-fragmen acak, sobekan kertas, dan coretan-coretan runyam, ketimbang sebuah pantai dan rumah megah yang berdiri sendiri; namun Inception sangat tepat pada satu kondisi, bahwa di sana, dalam limbo itu, seorang yang paling lihai pun—dalam memainkan isi kepalanya dan isi kepala orang lain—tidak punya kuasa apa-apa.

Kesadaran abad pertengahan, yang digaungkan oleh katolikisme, diwariskan kepada Islam, direstui oleh Yahudi, menyumbangkan pemahaman yang lebih keliru tentang kondisi ini. Dengan fatal, limbo dikatakan sebagai satu kondisi setelah kematian; limbus patrum, neraka bagi orang yang menjalani hidup dengan penuh dosa namun mati dengan syahid, akan tetapi dia tidak bisa masuk surga melalui prosesi purgatori, selain hanya melalui syafaat Yesus; limbus puererum, neraka bagi seseorang yang mati sebelum terbaptis, di masa bayinya, terlalu muda untuk berlaku dosa namun belum terbebas dari dosa turunan, dan selamanya dia akan berada di tepian neraka itu. Tentu, tiap orang memiliki bentuk limbonya masing-masing meski rasa takut, penyesalan, hasrat, dan kekosongan mereka dalam hidup tidak jauh berbeda bahkan lebih sering tidak ada bedanya sama sekali, tapi mengatakan bahwa limbo hanya ada setelah manusia binasa sungguh omong kosong.

Orang masih percaya pada dongeng semacam ini, padahal mereka telah atau sedang bersentuhan langsung dengan limbo, telah berada di dalam ruang-antara itu. Limbo, oleh mereka, disamakan dengan Helheimr dalam mitologi Norse, atau Hell kata orang Kristen, atau Naar dalam benak para penunggang unta, Naraka dalam Hindu, Buddha, dan Jain, atau Neraka dalam bahasa Indonesia, yang selalu diasosiasikan dengan negeri akhirat. (Sungguh, kita berutang banyak pada Dante yang mengkonkretkan tatanan mitologis itu, kendati kita pun tak bisa mengutip Dante perihal limbo yang kita bahas ini). Pengasosiasian itu, selain memberi sifat ukhrawi, juga mengesankan bahwa limbo identik dengan siksaan atau dunia yang rendah, padahal dia sesuatu yang berbeda, bukan semacam Inferno, bukan pula Patala; dia merupakan titik tengah, yang nihil, ada dalam hierarki namun bukan sesuatu yang hierarkis.

Kesalahpahaman mengenai limbo ini lahir ketika manusia terobsesi untuk mengabstraksikan dunianya namun belum punya konsep memadai tentang 0 (nol) dan justru tergila-gila pada angka-angka ganjil, dan anehnya, cara pandang ini bertahan lama, tak sanggup dikoreksi dengan hadirnya nol, sampai-sampai, ada dikatakan pada suatu agama yang lahir belakangan bahwa tuhan pun suka pada yang ganjil. Dengan alasan inilah, utamanya, dalam pembahasan ini kita memakai kata “limbo” untuk mewakili tatanan yang limbung, tanpa arah, tanpa nilai. Kata ini lahir dan dimaknai oleh manusia-manusia yang sudah mulai menerima bahwa konsepsi dunia tidak cuma diwakili oleh Kain dan Habel, dan Kain dan Habel pun tidak bisa ditafsirkan semata sebagai hitam dan putih, dan bahwa dalam kekayaan ragam itu, ada nol, ada ruang-antara, sebuah kursi yang menyediakan sudut pandang nirbatas yang tak bisa menghakimi atau dihakimi; ‘al-manzilah bainal manzilatain’—namun sekali lagi ini sama sekali bukan perkara akhirat!

Hidup di dalam limbo berarti kemandegan yang riil; keterjajahan yang tidak melahirkan pemberontakan karena di dalamnya tidak ada konsep mengenai perlawanan, kemelaratan yang diterima, misal, pada beberapa masyarakat, sebab mengusahakan hidup yang lebih baik adalah sesuatu yang berhadapan langsung dengan takdir tuhan. Dalam masyarakat yang berisi manusia-manusia semacam ini, sejarah atau sajarotun, sebuah pohon, yang tumbuh, yang mengalur, menjadi lebih mudah untuk ditebak ke mana cabang-cabangnya hendak mengarah sebab sederhananya dia sedang meranggas dan mati. Apesnya lagi, manusia-manusia semacam ini makin banyak jumlahnya, selaras dengan ledakan populasi yang tidak dibarengi dengan pendidikan yang holistik buat pucuk-pucuk barunya—yang termasuk di dalamnya yaitu generasi millenial, yang dididik oleh pola industrial yang terspesifikasi dan, secara intelektual, melompati pelajaran abstraksi, melompati ide-ide, lalu jatuh pada lubang materialistik yang teknis dan tak mengandung pemahaman mendalam tentang materi itu sendiri. Post-modernisme, jika dilihat dari sudut ini, bukanlah sebuah pemberontakan terhadap modernisme, melainkan lelaki tua yang mulai linglung dan tak punya kendali terhadap gerak anggota tubuhnya sendiri, yang menciptakan manusia-manusia yang tak paham terhadap apa yang ideal dalam posisinya sebagai organisme-ekologis dan menentukan cita-citanya sebagai diri yang terisolir. Benturan demi benturan sedang dan akan lebih sering terjadi. Lantas, post-truth, yang ditawarkan Keynes sebagai gambaran dunia saat ini, adalah momentum kematian ide-ide dan bangkitnya ‘mugen tsukuyomi’. Di era ini, dalam limbo ini, waktu tidaklah relevan untuk dipakai sebab dalam 24 jam segalanya telah berlaku siklik, tanpa hari esok sebagaimana engkau di paragraf pertama tulisan ini.

Iklan

Moral Basik: Hukum Telah Yatim


Moral n [1] (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila. [2] kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan. Silakan cari sudut pandang lain, yang kaudapat kurang lebih akan demikian, bahwa moral adalah tata nilai yang disepakati dalam sebuah masyarakat. Batasan ini sangat besar irisannya—bahkan hampir sempurna—dengan ethics atau etika, yakni n ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

Moral dan etika, yang berasal dari adat ataupun agama, yang merupakan rahim bagi hukum formal, di negeri kita, difungsional menjadi semacam “tidak boleh makan berdiri; kalau lewat di depan orang harus permisi; terhadap orang tua musti tahu diri”, seolah “baik dan buruk” tidaklah sama atau tak berkaitan sama sekali dengan hukum, sehingga ada beda jauh antara seorang kriminal dengan seorang yang tak bermoral; yang pertama adalah kejahatan, dan yang kedua biasanya dilabeli semata dengan “tak sopan”. Syahdan, seorang koruptor bisa saja menjadi kriminal sekaligus tetap dianggap bermoral. Seorang pemerkosa bisa dipandang tetap beretika.

Yang inti menjadi yang tepi; yang radikal menjadi yang dangkal. Lompatan jauh ini terjadi dalam banyak pilar, sebutlah, dalam agama, religiusitas sebatas dilihat dari janggut dan jubah; adat istiadat merujuk melulu pada batik dan seremonial setahun sekali; dan budaya cuma dimaknai sebagai artefak-artefak, bukan akal budi. Pendangkalan ini, barangkali—cobalah kau bantu pikirkan—merupakan tuas yang menggerakkan senyum pada muka para koruptor. Bukan satu dua orang yang menjenguk para koruptor yang telah terbukti bersalah dan meringkuk dalam sel, atau sebelumnya mendoakan mereka agar dibebaskan ketika di pengadilan, memberi simpati dengan alasan “mereka itu (si korup) orang baik kok, murah senyum, suka kumpul dengan tetangga.”

Yang kemudian dipandang sebagai yang jahat, yang buruk, hanyalah orang-orang yang melanggar hukum sekaligus moral: para pencuri kambing, perampok toko emas, pembegal, yang dalam aksinya tak uluk salam, tak permisi, tak hormat pada yang lebih tua. Dikotomi semacam ini betul-betul konyol sekaligus menyedihkan. Di sini kita sudah boleh menyimpulan bahwa negeri ini gagal dalam bermoral, tapi sungguh, sungguh terlalu jauh pula jika kita hakimi negeri ini sebagai tak bermoral. Kata “tak” dalam “tak bermoral” mensyaratkan suatu landasan bahwa orang-orang ini telah tahu apa itu moral, sebagaimana saat seseorang akhirnya dikatakan kafir, seseorang itu haruslah sudah lebih dulu sampai pada kebenaran yang lantas disangkalnya.

Gitu bukan?

 

Swabe, Swabe Pito


“Janji, kalau perlu dengan leher kontolmu, jangan begitu lagi,” katanya, setelah mengungkit salahku dua hari lalu, yang membuatnya menangis seharian hari ini dan memaksaku meliburkan diri dari kerja, dan dia itu, dengan energi yang didapat entah dari mana, masih juga sanggup mengungkit persoalan-persoalan sebelumnya yang membuatnya sakit; satu kejadian dari dua bulan yang lalu ketika aku keliru membelikannya sepatu, dari satu tahun lalu saat aku memotong rambut terlalu pendek, dua tahun lalu, juga dari masa ketika kami belum saling mengenal namun baginya aku layak dipersalahkan untuk itu. Dari deskripsi ini saja kau pasti bisa menebak bahwa aku sedang menceritakan seorang perempuan. Di zaman ini, masih layak tidak sih kalau perempuan bernama Hayati?—rasanya tua sekali, jadinya, tiap kali dia marah, aku seperti kena omel nenekku sendiri.

Ey, Hayati, tidak mungkinlah aku janji yang semacam itu. Masa kamu mau aku tidak berpacaran dengan orang lain selain dirimu. Kamu kira aku ini lelaki macam apa? Dalam diriku ada sembilan atau sepuluh lelaki lain dan mereka punya seleranya sendiri-sendiri soal perempuan, soal hidup, agama, buku bacaan, tempat liburan, camilan—mereka cuma akur soal klub sepakbola saja, jadi ya, kalau kamu mau aku cuma mencintaimu, jadilah klub sepakbola. Kamu tahu itu tidak mungkin. Kalaupun kupaksakan buat janji lagi, bisa jadi akhirnya penisku yang jadi tumbal. Usai kubilang begitu, Hayati membuang tatapannya sambil berdecak, “Aku tidak mengerti laki-laki. Kalian lebih rumit dari perempuan.”

Tidak, tidak. Aku menaburkan secuil garam ke kuah gulai yang mulai mendidih. Biasanya aku tidak menambahkan deskripsi suasana ketika mengisahkan hubunganku dengannya, sebab yang semacam itu tidak ada artinya, cuma menambah-nambah halaman saja, dan itu cuma akan menarik bagi para pembaca yang bodoh, yang butuh jarak dari inti persoalan. Tidak, Hayati, kubilang, lelaki tidak sulit dimengerti, itu cuma kamunya saja, kamu bodoh, seperti perempuan lainnya, kalian naif. Dari sekian lamanya evolusi menumbuhkan manusia, kalian belum juga sadar bahwa, ketika kalian menyentuh hati seorang lelaki, kalian juga membangunkan egonya, dan itu sesuatu yang lebih sulit untuk dikendalikan bahkan oleh dirinya sendiri. Aku ingin memasukkan satu atau dua baris bahasa Spanyol di sini sebab kuceritakan ini sambil mendengarkan Despacito, dan kamu tahu lagu itu berasal dari Amerika Latin, sama seperti cerutu yang tiap kali aku mengingatnya selalu membuatku membayangkan truk molen. Ini, Hayati, isi kepala lelaki bercabang bersulur ke mana-mana—ketika menulis kalimat ini aku membayangkan kumis melengkung orang meksiko, dan keripik, juga bumbu kacang.

Bokito, bokito, te pacito nos mamos, pierta, la manuskrito—“Tapi kamu bukan orang penting,” katanya, “cuma orang penting yang keliaran kontolnya bisa kumaklumi. Kamu orang biasa, sudah sewajarnya fokus pada satu perempuan saja, dan perempuan itu aku,” saat bilang ini dia mengiris buncis dengan pendek-pendek, terlalu pendek sampai-sampai aku tak tahu mau dibuat apa, dan itu, sesekali bisa kulihat pula pisau yang menghentak ke talenan itu mengkilat, “Kalau maumu tetap main banyak, aku tidak bisa bilang apa-apa lagi, pergi saja sudah, biar kucari yang lain. Lelaki sepertimu ada jutaan di dunia ini.”

Astaga, Hayati, pendek sekali cita-citamu itu. Udara dapur makin wangi oleh merica, ketumbar, jahe, daun jeruk, sereh, dan kecap dari semur ayam yang sedang dibuatnya. Salah satu ciri hubungan yang tak baik-baik saja, katanya, yaitu kehadiran dua lauk utama di waktu makan yang sama. Dia bilang begitu sambil mencicipi masakannya, beberapa tahun yang lalu, yang ini aku sudah lupa karena persoalan apa. Kami terbiasa menyelesaian hal begini di dapur, di mana lebih banyak peluang untuk saling membunuh dan melukai dan jika akhirnya itu tak terjadi, kami, atau setidaknya aku, merasa masih layak untuk bersama.

Aku mencicipi gulaiku juga yang kurasa akan lebih enak dari punyanya sebab harga daging kambing lebih mahal dari ayam, lebih mahal dari biasanya sebab bulan ini punya jarak terjauh dengan Idul Adha. Kurasa, kataku padanya, hubungan kita tidak selayaknya jadi hubungan dua orang yang berusaha saling menaklukkan. Kita bisa jadi orang yang saling mencintai sekaligus sama-sama bebas. Masa mudaku sedang kembali mengisi diriku. Mungkin nanti aku akan lebih banyak mengalah lagi. Tidak untuk saat ini.”

“Itu aneh.”

“Itulah realita.”

“Itu kamu saja yang buat-buat.”

“Tubuh seorang lelaki tidak mungkin diprivatisasi oleh seorang perempuan saja. Mungkin iya untuk satu dua hari. Tapi tidak mungkin seterusnya. Coba kamu sebutkan satu saja mamalia yang menikah, selain manusia, dan hidup dengan pasangannya sehidup semati.”

Dia melempar merica ke dadaku. Juga seikat seledri.

“Ketika kamu berusaha memprivatisasi tubuh lelaki,” kataku lagi dengan pelan, “yang terjadi adalah kepedihan yang lebih parah dari rebutan lahan. Dan kau tahu kan, banyak peperangan yang tidak akan terjadi jika saja tanah tetap jadi barang publik.”

“Pisau ini ingin bicara sesuatu padamu.”

“Swabe, swabe pito.”

“Hah?”

“I love you,”—uh, aku mau bilang ini, tapi kata-kata ini cuma muncul di kepalaku, entah kapan terakhir kali kupakai dia dalam hidupku. Buncis sudah habis, kali ini dia mulai mencincang bawang bombai seolah tidak ada benda lain yang bisa dicincang di sana. Aku tidak mau dia kemudian menangis dan tidak tahu itu tangisan yang lahir dari apa. Meski, tangisan perempuan tetap menyebalkan, apa pun akarnya. Suatu pagi di bulan April, kami malamnya baru pulang dari Jogja, main ke pantai Pok Tunggal, dia menyeka matanya berkali-kali dan bertanya padaku, “Siapa yang menumpahkan danau ini di mataku? Siapa yang bertanggung jawab atas ini sebab kurasa ini bukan karenamu. Kamu masih ada di sini, kamu masih punyaku.”

Kemarin juga ada kawanku bercerita sesuatu tentang ciuman, ya, cuma ciuman, tapi kurasa ini relevan dengan persoalan yang kita hadapi ini, kubilang padanya. Kawanku itu bilang, “Pacarku cerita bahwa dia sudah pernah ciuman dengan lelaki lain. Aku kecewa sekali. Kukira aku akan jadi yang pertama dan itu terjadi ketika kami sudah menikah saja. Aku sulit bisa menerima kondisi selain itu.” Lalu kubilang, “Bibirnya masih ada, kan?” Dia bilang iya. Lalu aku tanyakan, “Lalu masalahmu apa? Toh kalaupun dia berdosa karena ciuman itu, kita juga berdosa karena hal-hal lain di dunia ini.” Tapi ego, Hayati, tidak bisa ditenangkan hanya dengan penjelasan yang logis begitu. Kamu harus maklum bahwa seorang nabi pun punya banyak istri. Ini bisa jadi pembenaranku, tapi kuharap kamu bisa lebih mengerti dan mengalah, sebab kamu perempuan dan saat ini cintamu padaku sedang lebih besar ketimbang cintaku padamu, dan aku tidak mau kita berpisah karena kamu punya ego sebesar punyaku.

“Aku tidak mau mengeluarkan argumen feministik di sini.”

Aku akan tertawa jika itu terjadi. Aku mematikan api kompor, memastikan bahwa gulaiku sudah matang dengan mencicipi sepotong dagingnya. Itu sudah sempurna. Cuma kita tidak tahu apakah dia mau ikut memakannya. Tapi itu bukan masalah untuk saat ini. Besok dia pasti sudah lupa bahwa kami pernah bertengkar. Ingatannya pendek sekali, sama pendek dengan sebagian besar penduduk negeri ini, dan itulah kenapa aku menyukainya sekaligus membenci negeri ini. Dia mungkin juga sudah lupa bahwa dia pernah bilang sesuatu yang mirip dengan ucapanku sebelumnya. Waktu itu kami berkelahi karena aku ketahuan main futsal dengan kawan-kawanku padahal aku mengaku ada lembur dan padahal dia sedang kedatangan orang tuanya di rumah kami. “Kita harusnya tidak saling mengalahkan,” katanya. “Itu kan politik dan dunia ini sudah penuh dengan politik, semua hal dipolitikkan. Cinta harusnya jadi penyembuh. Kalau cinta dipolitikkan juga, aku tidak tahu harus ke mana lagi.”

Kupindahkan semurku ke wadah. Kubawa itu ke meja makan. Dia menaburkan bawang bombaynya ke semur, dan aku menyaksikan dia berdiri dengan dada yang kembang kempis lebih panjang dari biasanya, dan entahlah masakan apa itu jadinya. Segala macam masuk di sana. Tapi aku mau memakannya. Aku mau tahu dia ingin aku memakan apa.

Rehal Basabasi dan Cerpen Koran


Seusai memberi makan anak-anak kucing, saya mengecek gerobak naskah Basabasi.co. Di folder Rehal, sudah ada beberapa rehal yang saya tandai untuk ditayangkan namun belum saya tayangkan karena merasa masih ada yang lebih baik, atau karena momennya kurang pas, atau alasan lain yang kadang sulit dikatakan.

Sebuah rehal yang dikirim kurang lebih dua bulan lalu memikat saya hari ini, judulnya “Memoar Relawan Sokola”. Selazimnya ketika hendak menayangkan sebuah tulisan, saya melakukan usaha kecil untuk memastikan bahwa tulisan ini bukan hasil plagiasi dan belum pernah dipublikasikan di media lain dengan menelusurinya di Google. Dan, rasanya sedih tapi senang ketika ternyata rehal ini sudah pernah ditayangkan di Kibulin, media besutannya Almukarom penulis Alkudus, Asef, dkk.

Yang mengirim rehal ke Basabai.co ada banyak dan ini saya jadikan pembenaran atas tumpukan rehal yang baru terbaca setelah satu atau dua bulan pengirimannya. Beberapa rehal tidak jadi saya tayangkan karena foto buku yang disertakan sama sekali tidak layak untuk dipamerkan. (Di zaman yang serba visual, potret sebuah buku pun kudu ciamik). Beberapa rehal sama sekali tak saya baca sampai selesai karena pilihan buku yang diresensi sama sekali tak menarik. Beberapa rehal yang memilih buku yang menarik justru menyajikannya dengan tidak menarik. Saya, kepada diri saya sendiri, selalu mewanti-wanti perihal penjara ‘bentuk’. Dalam hal apa pun, terutama yang dekat-dekat dengan seni, saya meyakini bahwa eksplorasi lebih utama.

CERPEN DIMUAT DUA KALI

Kasus “Memoar Relawan Sokola” ini mengingatkan saya pada obrolan ringan dengan Agus Noor di sebuah warung kopi kusam. Waktu itu dia bilang, “Loh, yang tidak rela jika sebuah tulisan diterbitkan dua kali, atau lebih, itu kan para penulis,” ketika menyoal karya-karya sastra di Indonesia yang terasa numpang lewat saja; sudah lama tidak ada karya sastra yang betul-betul jadi bahan perbincangan, diskusi, atau bahkan perkelahian. Ketidaketisan sebuah karya yang ditayangkan dua kali, yang kemudian sering membuat penulisnya diberi nilai merah, justru–setidaknya bagi saya–merupakan salah satu faktor yang membuat karya sastra di kita cuma uluk salam lalu balik arah.

Apa salahnya sebuah cerpen ditayangkan dia dua atau tiga media sekaligus? Toh, masih kata Agus, tidak semua yang langganan Kompas itu langganan Tempo dan lainnya, dan kalaupun iya ada seseorang yang langganan dua atau tiga atau bahkan seluruh koran yang ada di Indonesia sekaligus, apa iya dia cuma mendapatkan cerpen pada koran-koran itu? Keremehtemehan kita, sebagai penulis, yang merasa bahwa lapak media itu mesti jadi panggung atau lumbung yang digilir satu sama lain, bisa jadi telah membunuh posisi dan peran penting seorang sastrawan atau karya sastra sebagaimana yang sering kita bangga-banggakan.

Saya sebetulnya tak mau ikut serta dalam urusan sastra koran ini. Sejak dahulu kala saya tak cocok main di sana, sama tidak cocoknya saya dengan dunia akademik. Tapi saya merasa bahwa ini perlu disampaikan, dan mungkin memang sudah banyak yang menyampaikan hal serupa, sebab saya merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar yang antum sekalian juga berada di dalamnya. Saya, dan semestinya kita semua, rindu pada suatu karya yang berumur panjang, yang punya daya gedor terhadap bentuk kebudayaan.

Mari sarapan.

Ciuman Arosiyusatisomari


Arosiyusatisomari menempatkan dirinya sebagai seorang yang berharga dalam hidup banyak orang, dalam hidupku, dan itu berarti mutlak. Kalau tidak ada dia, hidupku amat sendirian, dan dalam sendirian itu tumbuh seseorang yang lain dalam diriku, yang memaksaku untuk berbicara dengan diriku sendiri, yang tidak bisa kutolak, yang tak mungkin kudikte, yang membuatku seperti orang gila atau mungkin aku memang sudah gila, yang begitu membencinya dengan benci yang lebih hebat dari kesanggupanku untuk memaafkan.

Arosiyu—namanya panjang sekali, membuatku kesal—tidak mau kucium padahal aku sangat ingin. Waktu itu, ketika dia berpaling saat hendak kucium, seluruh isi dunia rasa-rasanya memunggungiku. Bisa dibilang, ini perkara yang kecil. Aku masih bisa mencoba menciumnya di lain waktu. Tapi sayangnya kita, atau mungkin cuma aku, tidak selalu sanggup sesederhana itu.

Apa salahku? Di bagian mana yang tidak pas buatmu?

Dia tak pernah menjawab tetapi juga merasa bersalah karena melakukan itu. Tidak kumengerti bagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri dalam kepalanya. Ke mana pun diriku meraih, tak lagi kudapati dia. Dia tak lagi ada. Dan aku berhenti menoleh dan kupasrahkan seluruh pandanganku ke tanah, kubiarkan rambutku jatuh-jatuh dan jiwaku membentur-benturkan keningnya ke sana. Aku berceceran seperti guci yang terguling.

Arosi berambut panjang lurus hitam lembut wangi seperti anak kuda yang baru dimandikan. Kulitnya kering tetapi hangat, kadang terlihat merah kalau terkena matahari terlalu parah, dan kalau sudah begitu, mukanya seperti bayi tikus. Tapi aku suka dia, dalam warna apa pun, kecuali mungkin hitam, aku tidak suka hitam, ditempelkan pada benda apa pun, hitam itu jelek, apalagi kalau dia sedang pakai kaus hitam. Tidak seharusnya dia memakai kaus itu ketika menolak ciumanku. Aku makin membencinya. Kita semua harus membencinya untuk itu.

Kemudian dia memelukku kencang sekali. “Kamu suka pelukan, kan?” tanyanya. Melihat dia ada, menyadari bahwa aku masih bisa menyentuhnya meski kulit kami seperti tidak benar-benar saling merasai, tidak seketika membuatku bisa berkata-kata. Aku masih bertanya-tanya, kenapa kau tidak mau menerima ciumanku, di bagian mana aku keliru, apa ada luka di bibirmu, ataukah kau merasa sedang diawasi tuhan, dan aku tahu dia pun punya pertanyaan-pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.

Arosiyu—nama brengsek, ibunya kurang kerjaan—meremukkan tubuhku dengan pelukannya. Dia berkata maaf dan aku cuma bisa diam. “Bisa tidak kubawa separuh badanmu itu pulang?” tanyanya lagi, sambil mengusap punggungku. “Tak apa,” kubilang, “bawa saja. Tapi tinggalkan jari-jariku. Aku perlu kerja dengan mereka.” Dia lalu menempelkan pipinya ke rambutku, ke leherku, dan meminta sejumput rambut itu untuk dibawa.

Ada apa denganmu, Arosiyusat—kalau saja namamu dipenggal jadi Arosiyu Sati Somari, akan lebih mudah bagiku untuk mengingatnya—ada apa?

“Sedikit saja dari dirimu, potongan kecil, repih kulitmu barangkali, bisa membuatku lebih tenang,” katanya sambil berusaha mematahkan kuku jempol kakiku dengan jari-jarinya yang rapuh. “Aku merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf padamu, tapi kau terlanjur sangat jauh, tak bisa kusentuh, jadi mungkin aku mau mencoba dengan cara yang lain, kau tahu, ini membingungkan sekali bagiku. Aku tidak bisa mengatakannya lebih banyak. Jadi biarkan aku mencabut rambutmu sedikit saja.”

Melihat aku masih diam, dia mengangkat mukaku, menyibakkan rambutku dan meletakkan bibirnya di tepi bibirku dalam beberapa lama, cukup lama untuk membuat dinding es di kulitku itu meleleh meski tak sepenuhnya. Dia lalu menatapku dan bilang maaf lagi. Aku sudah tidak menginginkan ciuman itu, kurasa, juga tidak menginginkan maaf darinya. Sudah, sampai di situ saja, aku tidak mau membesar-besarkan masalah ini. Mari kita buat sederhana; kita lupakan sama-sama, dan besok aku akan mendekatkan bibirku ke bibirmu seolah-olah untuk pertama kalinya.

Aku sangat ingin kita bisa seperti itu.

Dan kali ini dia yang diam.

 

 

MENJELANG 2 BULAN PERJALANAN MENUJU RINJANI (DI BALI)


Hujan dan hujan. Basah luar dalam. Tapi ada baiknya saya jujur bahwa saya lebih senang kehujanan ketimbang kepanasan. Gersang bisa membuat saya mendidih sementara hujan tidak bisa membuat saya kedinginan. Entah kenapa saya sulit kedinginan. Hanya ketika mulai merasa putus asa saya bakal menggigil. Lima hari kehujanan dari Gunung Kidul sampai Pacitan saya oke-oke saja. Dua hari jalan kaki kepanasan di pantura bikin saya demam dan saya meringkel empat hari di Lumajang. Mungkin sebaiknya nanti saya nyari jodoh yang nggak terlalu hot.

Dua hari lalu saya memulai langkah dari Negara, sehari setelah Nyepi, diberi wanti-wanti oleh pemilik penginapan agar saya tidak berjalan malam hari di Lombok. Saya disangka pemeluk Hindu olehnya dan diberi nasehat agar mampir di sebuah Pure dekat Rinjani. Pure itu pasti menyambut saya dengan ramah, katanya. Mungkin karena saya betul-betul tak beraktivitas ketika nyepi, makanya saya disangka Hindu. Saya betul-betul ahli soal nyepi, atau mungkin semua jomblo begitu. Tolong kamu tertawa, sebab saya sedang berusaha melucu dan saya gagal membuat diri saya sendiri terhibur.

Langkah-langkah awal dari Negara terasa berat. Carrier agak asing di pundak. Perut kosong karena selama Nyepi saya cuma makan sedikit. Berusaha terus menyapa orang, agak menyesal gara-gara membiarkan bangkai yang entah kuda atau anjing di pinggiran aspal, rebahan di sebuah gonggo lalu diajak ngobrol sama mbah-mbah yang melipat tangannya ke belakang, saya terus berusaha jalan, tidak mau jadi manja karena belakangan sering dapat tebengan. Berulang kali saya bilang ke diri saya, “Sakitnya pernah lebih parah dari ini. Ini nggak seberapa. Target hari ini cukup 16 Km kok.” Barangkali akan berbeda jika saya punya kawan dalam perjalanan ini. Saya bisa jadi akan lebih banyak mengeluh padanya, soal kondisi saya yang kewalahan, tentang diri saya yang kadang ingin pulang meski tak tahu pulang ke mana. Mengeluh pada diri sendiri jelas tak berguna, dan ujung-ujungnya saya hanya menerima.

Lalu saya mampir di warung sate buat balikin energi yang rasanya mengendur. Dagingnya dikit, tapi gulainya enak. Lanjut jalan. Berulang kali klakson bis menggodai saya. Respon default saya: ngasih senyum dan lambaian tangan ke keneknya. Di tepi jalan lain ada pengendara motor yang menawari saya untuk menginap di rumahnya di Karangasem. Dia bawa motor, jadi sekalian pulang gitu. Biayanya cukup 100 ribu, katanya. Saya menolak dengan senyum. Dia pergi dengan tersenyum juga. Terus jalan. Jalan terus. Catatan ini saya buat seadanya di sela-sela rehat. Sampai akhirnya sebuah pikap berhenti di depan saya, lalu supirnya melongok dari pintu mobil dan dengan garang berteriak ke arah saya, “Ayo naik!” Ketika saya sudah melompat ke bak dia baru bertanya saya mau ke mana. Situasi semacam ini sering terjadi. Pokoknya naik aja dulu.

Melihat pemandangan jalan dari mobil pikap selalu nyenengin hati. Saya enggan naik di bak truk. Sebab truk bisa bikin penglihatan saya ketutup. Tapi pikap. Pikap seperti layar besar yang berputar menyajikan banyak tontonan. Dari kawasan Mendoyo menembus Pulukan saya disuguhi pantai, orang-orang kulit sawo matang yang memakai iket kepala, pepohonan yang bikin adem jalan, lalu hujan. Di sinilah hujan pertama saya di Bali. Masuk Tabanan hujan makin serius dan jalanan jadi macet. Tapi dalam perjalanan ini saya makin jago menerima apa pun yang datang. Entah itu hujan, lumpur, hutan, dangdut, nyasar, teman baru, tumpangan, apa pun. Saya biarkan mereka memahat diri saya.

Supir pikap yang berlogat timur itu berhenti ketika hujan mulai menebal. Dia memberi saya kesempatan untuk memakai jaket, dengan nada memaksa memberi seplastik dadar gulung buat ngisi perut, ngasih tahu bahwa saya nanti bakal diantar sampai terminal, lalu dia ngasih tahu bahwa saya sebaiknya duduk di belakang kepala mobil supaya hujannya nggak terlalu parah mengguyur saya. Dalam kondisi mobil melaju hal itu memang mungkin. Tapi Tabanan macet. Dua jam saya diguyur. Jaket tembus. Carrier kuyup. Kulit mengkerut. Sempak dingin. Tapi saya bahagia. Banget.

Dalam hujan itu saya melihat seorang ibu tua yang berselimut di jok depan mobilnya. Supirnya menatap kosong ke arah kemacetan sementara dia sesekali bertukar tatap dengan saya. Saya tak bisa memahami tatapan apa itu. Bukan iba, bukan antusias. Sembari menarik tatapan dia akan merekatkan selimutnya lebih rapat, lalu saya merunduk kembali menikmati kucuran air di wajah saya.

Dalam hujan itu saya melihat perempuan muda yang berusaha menyalip mobil pikap yang saya tumpangi. Matanya yang sipit semakin sembunyi di balik kaca helm yang berembun dan jemarinya yang putih kian pucat direbus dingin. Gerakan motornya tidak meyakinkan—sewajarnya seorang perempuan. Saya terus menatapnya sambil diam-diam berdoa agar tuhan ngasih dia keyakinan buat narik gas dan melewati mobil yang sebetulnya melaju perlahan ini.

Dalam hujan itu saya melihat seorang bapak yang melawan arus. Di tepi jalan dia berpapasan dengan kemacetan. Dibentaklah dia oleh seorang pemuda yang kaca helmnya terbuka dan wajahnya kuyup. Klakson ditekan berkali-kali. Bapak itu hanya tertunduk, entah karena malu atau karena hujan terlalu keras menampar wajahnya. Dan amarah pemuda itu masih tertinggal dalam kepala saya, membuat saya terkekeh lagi dan lagi.

Dalam hujan itu saya melihat seorang ibu dan bocah lelakinya yang turun dari bis. Ibu itu meletakkan tas kulit cokelatnya di atas kepala bocah yang sedang berlari. Lalu mereka berhenti di bawah pohon pendek yang rindang. Entah berapa lama mereka akan berteduh di sana. Mungkin mereka menunggu jemputan. Mungkin juga mereka menunggu hujan reda dan sebetulnya belum tahu akan ke mana selanjutnya.

Dalam hujan saya melihat orang-orang yang bingung harus menatap saya seperti apa. Banyak yang melirik saya dari tempat mereka berteduh, lalu menarik tatapannya ketika saya balas menatap. Saya bahkan belum sempat memberi mereka senyuman. Kemacetan memenjarakan kekakuan itu. Akhirnya saya lebih sering merunduk untuk memberi mereka kesempatan. Biar mereka menentukan mau merasakan apa. Mungkin ada yang heran dan diam-diam ingin merasakan pengalaman yang sama, ada yang kasihan karena menyangka saya sedang menderita, dan mungkin satu atau dua orang cukup dengan mengerti, tanpa iba ataupun bangga, sebab mereka pernah sama berantakannya dengan saya.

Lalu saya sampai di Denpasar. Angin sudah kering tapi trotoar masih basah. Beban di tubuh saya bertambah banyak berkat air. Saat saya mau belok ke sebuah hotel, abang ojek berwajah putus asa menyapa saya. Ayolah saya antar, katanya, sepuluh ribu aja, di belakang sana ada penginapan yang lebih murah. Begitulah katanya. Dan entah kenapa saya nurut. Jarak penginapan yang dia maksud cuma 500 meteran dari hotel sebelumnya dan saya tahu bahwa tukang ojek ini mengakali saya. Tapi ya sudahlah. Saya tak mau bikin ribut karena uang lima puluh ribu. Kondisi penginapannya bisa dicek di status FB saya yang kemarin. Saya dua malam di situ hingga barang-barang saya kering.

Saya kira saya bakal kesepian dan dingin. Seorang kawan ternyata datang berkunjung. Dia orang Bali. Dibawakannya saya tiga bungkus cokelat siap seduh, dua roti O, seporsi nasi plus ayam bakar, sewadah nangka yang sudah dibuang bijinya. Kami ngobrol. Saya mau nangis. Ini mungkin terdengar cengeng. Tapi orang kerap tak mengerti bahwa untuk sampai di Bali ini saya sudah menempuh puluhan hari, ribuan langkah kaki. Perasaan saya ketika dikunjungi teman, ketika bisa melihat senyum mereka, rasanya di atas batas wajar sebuah pertemuan antarteman. Semuanya terasa karib. Sayangnya saya tidak terlalu pandai mengungkapkan perasaan. Paling banter, pada setiap orang yang berjasa itu saya cuma berucap terima kasih berulang kali. Sesaat sebelum pulang dia masih bilang ke saya, “Kalau butuh bantuan, hubungi aku aja ya.” Saya cuma bisa bilang, “Oke, selow.”

Hari berikutnya saya nyoba masak sisa kentang pemberian Pak Anggun, orang Ijen itu. Saat kentangnya belum matang, gasnya habis. Jadilah saya tak makan malam. Pagi tadi saya langsung belu nasi kuning. Cekot hotel jam sebelas. Mulai jalan lagi. Udaranya lembab banget. Mataharinya lumayan menyengat. Di sebuah warung makan saya rehat, dikasih saran sama ibu-ibu yang menatap embun di kulit aqua botol saya, “Jangan minun air dingin,” katanya, “Nanti sakit.” Lalu saya menjelaskan perihal persahabatan saya dengan dingin. Dia terkekeh.

Lanjut jalan. Turun hujan. Gerimisnya cepat sekali berubah jadi muram. Langit mendadak hitam. Saya berhenti di sebuah pohon rindang, memakaikan rain cover ke carrier, lalu menyadari bahwa beberapa motor berhenti di dekat trotoar yang sama dengan saya, berusaha memakai jas hujan meski sudah terlambat. Pohon itu tak sanggup menepis hujan. Kami kuyup. Dan konyolnya, cuma sepuluh meter di balik rindangnya pohon itu ada pelataran kios yang sedang tutup. Kami lalu bergerombol pindah posisi dan menikmati hujan dengan mode tayangan lambat. Tiap tetesan yang jatuh kami perhatikan dengan penuh. Semua orang sibuk dalam diam.

Di antara orang-orang yang berteduh itu ada yang cantik. Dia melepas sepatunya dan memainkan kakinya yang telanjang di dekat tetesan air. Pemandangan yang sungguh bikin saya teduh. Dia lama di sana bersama kawannya dan saya nonton mereka. Saat yang lain pergi kami masih nempel di pelataran itu. Sesekali kami bertukar tatap. Tapi saya tak berani bertukar senyum. Takut nanti nempel di kepala dan saya tahu saya takkan pernah jumpa dia lagi. Ini perasaan yang bakal bikin nganu.

Matahari kembali muncul. Saya lanjut jalan. Hari ini cuma menempuh beberapa kilometer. Langsung nyangkut lagi di penginapan. Kali ini tivi penginapannya yang nggak beres. Saya coba benerin tapi gagal. Tapi ya sudahlah. Saya ingin tuhan melindungi saya dari rutukan-rutukan atas sesuatu yang tak sanggup saya perbaiki. Soal apa pun itu. Terutama soal hujan dalam diri saya. Kalaupun mau berlangsung seumur hidup, saya siap nerima.

*kejadian ini sudah berlalu setahun yang lalu. saya upload catatan yang masih berantakan ini dalam rangka mengingatkan diri sendiri. tabik.

Pertanyaan Kecil tentang Bangsaku


Salah satu pertanyaan yang menyumbang porsi besar dalam ketidakbahagiaan saya adalah “ke arah mana bangsaku sedang menuju?” Entah sampai kapan, barangkali selamanya, tanda tanya itu menggantung dalam kepala saya, terwariskan atau lahir pula secara alamiah dalam kepala yang lain, tanpa pernah benar-benar pasti jawabannya, meski tak lagi saya utarakan serajin ketika saya masih mahasiswa.

Ketika Justin Bieber bilang bahwa Indonesia adalah random country, saya terkekeh, sama sekali tak marah, justru lebih banyak menanggung sedih. Saya tidak menemukan bukti bahwa kita bukan bangsa yang random. Tak perlu menyinggung pancasila, sebab ia belum menjadi sebuah ide yang mendarah daging, dan sebab sebuah ide hanya akan menjadi darah dan daging bila keuniversalan nilai-nilainya bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam laku. Hal-hal yang mendukung klaim Justin justru berserakan di sana-sini. Sebutlah, kita ini kaya jargon tapi miskin visi, punya pemimpin tapi ogah dipimpin, Negara Kesatuan tapi lebih bangga pada identitas kesukuan juga agama.

Hal-hal mendasar itu bisa dirincikan kembali, misal pada visi, seorang Jokowi, SBY, Mega, tidak punya, saya ulangi, tidak punya, pandangan tentang Indonesia 10 atau 20 tahun ke depan kecuali soal perekonomiannya. Selalu soal perut yang dijadikan inti perjuangan sekaligus jadi gelanggang perang, seolah-olah, sebuah bangsa bisa dipersatukan bila warga masyarakatnya sama-sama kenyang, atau perut yang berisi lebih penting dari otak yang mumpuni. Padahal sejarah membuktikan, ada, sebuah bangsa, yang punya ide pengikat yang kuat dan kendati didera kelaparan, genosida, perbudakan, peperangan selama ribuan tahun, bisa bertahan sampai sekarang.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan Jokowi dkk. Visi perekonomian semacam ini memang cocok untuk melanggengkan kekuasaan dalam sebuah negara yang warganya pun cuma ngerti soal perut. Jokowi ‘mempromosikan’ jaket, sepatu, sarung, main ke mall, pasar, biar bisa mencapai target perumbuhan 6%, misalnya. Dia tidak main ke perpustakaan atau berpose sedang membaca buku. Semangat ‘yuk belanja!’ menjadi darah bangsa ini. Dia dan mereka barangkali takut bahwa jika warganya dididik dengan benar lalu menjadi cerdas, orang-orang sepertinya tidak akan menjadi presiden, meski di saat yang sama dia tahu bahwa ketimbang akal, amigdala punya kendali lebih besar terhadap pilihan seorang manusia.

Di poin inilah kita bisa memahami kenapa terror dipelihara, salah satu yang tertua, berupa godam tuhan atau neraka. Agama menjadi talikekang yang efektif untuk mengembalakan domba-domba yang tidak sanggup berpikir, yang jangankan untuk memetakan langkahnya setahun ke depan, hari esok saja dia tak tahu. Ini alat yang bijak untuk dipakai bila, dalam berjalannya waktu, para domba ini dididik agar bisa cerdik. Di tangan politikus, kekang ini justru kerap dipelihara, sehingga pemberontakan terhadap agama, lebih tepatnya dogma, bisa berarti pemberontakan terhadap kekuasaan; kebangkitan akal, dalam bentuk ini, bisa membebaskan kambing-kambing dari talikekangnya dan mereka berjalan di dunia dengan bebas, tidak selalu berarti menjadi anarkhi, tapi selalu mengharapkan visi yang jelas saat harus berjalan bersamaan.

Menjadi amat mengerikan sebab, saat ini, talikekang itu tidak hanya dikendalikan oleh satu orang. Ada banyak kelompok, dengan figur utama yang punya kemampuan manipulasi yang sama hebatnya, membawa bermacam ide dan ambisi, mengumpulkan kekuatan dan mengambil posisi di negeri ini, semakin banyak bergesekan dan sangat siap berbenturan. Semakin maraknya penggunaan jilbab lebar, juga cadar, misal, bisa saja dipahami sebagai gaya berpakaian semata. Tapi saya kira itu terlalu naif. Ada ide dan simbol di sana, dan sudah semestinya kita khawatir, sebab bisa jadi, di suatu hari saat Israfil meniup terumpetnya, kita akan berhadapan dengan mereka. Terlepas dari siapa benar dan siapa salah, perang tetaplah perang, bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani.

Sudah ya, itu dulu saja.