Hari Panen Telah Tiba


Begitulah kabar di hari ketika jiwanya dipetik tuhan. Aku bicara dengan diriku sendiri, membiarkan sapuan mereka di kepalaku, tepukan mereka di pundakku, juga jemari mereka yang membuka telapak tanganku yang terpasak di udara. Kukatakan bahwa aku bakal baik-baik saja meski dengan pengertian yang berbeda. Cukupkan saja belas kasihan itu. Kulihat langit berjuntaian rantai. Udara menciut berhamburan bersama abu dari bakaran tulang-tulangnya. Mereka menyebut itu kematian. Tapi dia berulang kali berkata, “Inilah hari panen kita. Tuhan akan datang mengetuk pintu. Tuhan akan mengumpulkan jiwaku dengan keabadian dirinya.”

Kulempangkan mataku pada tubuhnya yang membeku jengkal demi jengkal. “Sungguh hebat manusia,” kubilang. “Cukup dengan percaya bahwa jiwa mereka tidak ikut binasa, mereka merasa berharga.” Sampai saat-saat terakhir, dia masih harus bersandar pada dongeng untuk bisa tersenyum.

“Hari panen telah tiba. Kau harus ikut berbahagia.”

“Kebahagiaan tuhan bukanlah kebahagiaanku. Kami hampir selalu di pihak yang berbeda. Seperti penjajah dan yang terjajah.”

“Dia sangat menyukai dirinya sendiri.”

“Sepertimu.”

“Dan kau membenci dirimu sendiri.”

“Sebagaimana manusia lainnya.”

Aku masih merasakan genggaman tangannya hingga saat ini, yang lambat laun mengendur dan di saat akhir itu dia bilang, “Dia yang mencintai dirinya sendiri akan mencintai jiwa yang sejernih cermin. Aku yakin itulah jiwamu.” Aku berusaha tidak membuat negasi apa pun dalam kepalaku. Kuhargai betul kalimat terakhir itu. Takkan kubuat negasi apa pun, sungguh, kendati aku tidak percaya bahwa hanya dengan mengikuti tuhan maka jiwa kita akan jernih. Astaga, kau perlu sedikit bodoh untuk menjadi seorang petapa, seperti dia, yang bahkan singa-singa akan menganggapnya batu hitam yang terlempar dari mulut gua. Tak ada lagi yang terbakar dalam dirinya. Oh, kematian, oh, masa tua, oh, kepergian. Dengan lidahnya dia melukai orang-orang yang mencintai kehidupan, termasuk diriku, yang pergi berselingkuh, melukai anak kucing, menghajar seorang pengangguran di tepi jalan, sehabis mengurusi perutnya dan membasuh pantatnya setiap hari.

Coba kaupikir, apa yang paling menjijikkan dari kotoran orang suci—baunya atau rupanya? Apakah kau masih merasakan kehadirannya dengan menutup mata, apakah kau tidak menyadari keberadaannya dengan menutup hidung, seberapa dekat jarak yang diperlukan untuk menciptakan kebencian terhadapnya? Aku ada di sana, mengerti sakit yang tumbuh dalam tubuhnya yang kering, urat-uratnya yang kempis satu demi satu, hilang denyut, berhenti berdegup. “Dengarkan Jibril menyebut namaku,” katanya, saat kukeringkan tubuhnya dari mandi pagi yang hambar, “dari langit ketujuh Jibril memintaku segera tiba di sisinya. Cahayanya menelan seisi bumi. Tidakkah kau lihat itu?”

“Aku melihat malaikat maut dengan jubah hitamnya berdiri di samping ranjangmu. Dia melihatmu seperti seekor serigala melihat bayi tikus yang terlantar.”

“Dari kepalamu dia melompat.”

“Dari bayanganmu dia bangkit.”

Ribuan orang yang mencintainya berkumpul menunggu pintu dibuka. Kubilang pada mereka, “Tunggulah beberapa jam lagi. Doakan saja prosesinya lancar. Sudah cukup rasa sakit yang dijalaninya dalam hidup.” Kusampaikan tangis mereka kepadanya dan dia bilang bahwa itu adalah tangis kebijaksanaan. Tidak pernah habis prasangka baik dalam dirinya terutama untuk dirinya sendiri. Sebesar apa pun aku tidak menyukainya, dia tetaplah seseorang yang begitu fasih meniupkan dongeng-dongeng langit kepada manusia, dan aku adalah sahabatnya yang cerewet. Dia akan abadi, kalaupun tidak sebagai jiwa yang murni, maka sebagai ingatan di dalam kepala orang-orang miskin yang selalu dihiburnya dengan bayangan tentang surga dan kedamaian abadi yang menunggu mereka. Kukatakan padanya, “Hari ini dan dari sini surga akan kedatangan malaikat baru.”

“Dari mana kata-kata itu berasal?”

“Dari malaikat maut itu.”

“Dia membawa kebenaran. Dan kau telah menjadi lidahnya.”

Setelah itu bumi merekah layaknya bibir seorang perempuan tua, punggungnya mengakar ke tanah, dia tertelan ke sana, dengan tersenyum membawa matanya yang masih setengah terbuka. Setelah dia tak terlihat aku meremas selimutnya yang tertinggal. Aku meremas wajahku sendiri. Oh, hari panen akhirnya tiba. Aku ikut berbahagia untuknya, sungguh, takkan ada negasi apa pun!

Iklan

Bunyi yang Tersisa


Bagaimanakah bunyi kereta terakhir itu di ingatanmu? Adakah sunyi seperti milikku? Bagaimanakah aroma kereta yang menjauh itu di ingatanmu? Apakah seperti milikku—bau cat terkelupas dan kayu-kayu kering yang diserang angin? Bagaimanakah langit di hari terakhir itu dalam ingatanmu? Apakah seperti milikku—bulat serupa payung dengan biru yang memendar di sekitarnya? Bagaimanakah awan di sore kita yang berharga itu dalam ingatanmu? Apakah seperti milikku—terpecah belah dan tak cocok satu sama lain? Bagaimanakah waktumu bergerak pada pelukan penutup itu? Apakah seperti milikku—hilang sama sekali?

Betapa banyak yang kita kemasi tapi selalu ada yang tertinggal. Tak sedikit  langkah untuk tiba pada titik ini tapi masih saja kutemukan diriku tak beranjak ke mana-mana. Keajaiban apa yang tuhan berikan kepada kita sehingga kita tidak bisa saling meninggalkan sebetul-betulnya—seutuh-utuhnya?

Alarm pagi berbunyi. Di luar sudah malam.

Hari itu kau kehilangan kepercayaan kepada apa pun.

“Jaga dirimu baik-baik, seperti kau menjagaku,” kubilang, “juga seperti ibumu merawat kepercayaan kepada tuhan.”

Kau berdiri sempurna di peron satu. Dengan sepatu merah bertali putih kumal.

“Aku tidak bakal kembali.”

Tanganmu mengepal di ujung jaket. Kau menatapku, cuma diam.

“Usaha-usaha untuk kembali ke kota ini akan menghabisiku.”

Lututmu layu. Kau menekuk leher.

“Katakan pada dirimu yang mulai menutup pintu dan jendelanya, katakan bahwa akan ada orang lain yang datang ke kota ini dengan alasan yang sama seperti ketika aku meninggalkannya. Semua orang melakukan ini untuk kebaikan dirinya juga orang-orang yang dia kasihi.”

Bibirmu bergetar.

“Jangan menelan terlalu banyak kata-kata. Suatu saat dia akan menusukmu.”

Betapa hebat kesanggupan manusia dalam meyakini bisikan-bisikan yang lahir dari rasa sakit. Kau begitu saja menjalani hidupmu yang menguning, memerah, menghitam—tak pernah kembali ke titik awal. Hari-harimu berisi rutinitas yang pelik, seperti penggali sumur yang bekerja di titik yang sama selama bertahun-tahun. Di dasar sana langit hilang. Bunyi kucing terdengar dari kamar seberang. Gesekan daun-daun kersen yang kering di halaman. Bunyi kereta terakhir itu lagi. Lalu kau menggali dan menggali lebih dalam, di tempat semua yang berada dalam dirimu menjadi tak lagi jelas—antara yang hidup dan yang mati. Kurang lebih begitu pula laju keretaku.

Sudah terlambat.

Ketika kusadari bahwa hidup tidak bisa diperbaiki dengan pergi, aku terlanjur menjadi penyesal yang akut. Di stasiun kota ini tak kudapati nama kotamu. Begitu juga dengan kota-kota lain. Tak lagi ada tempat yang memberiku kesempatan. Kita terlanjur tumbuh menjadi daun-daun yang menyembah matahari yang berbeda. Keajaiban apakah ini sehingga kita masih bertahan hidup?

Alarm pagi berbunyi. Kubuka jendela.

Dari sana sebuah kereta hitam tampak bergerak perlahan, mengepulkan asap kental dari kepalanya yang menatap timur. Langit biru memendar. Kesunyian membulat. Dan aku mencium aroma cat terkelupas—aku mencium kayu-kayu kering yang diserang angin.

Angin Tiba di Jakarta


Usai mengelap Kijang tua itu dia duduk di kursi plastik hijau, menggosok matanya yang terkena sabun cuci, menyulut sebatang rokok lalu menatap lalu lintas padat Jakarta. Mobil-mobil yang diburu jam makan siang melintas tertatih-tatih di tengah kemacetan. Lampu apil berkedip perlahan menambahi kekusutan siang itu. Di antara mobil-mobil itu tak ada yang tertarik untuk menyegarkan diri di pencucian. Tak akan ada pula yang membawa permadani kotor, sajadah yang berjamur, karpet masjid, karpet toko, atau karpet-karpet murah lain yang setahun penuh tak pernah dicuci—barang-barang yang dinantinya saban hari di tempat cuci berusia dua belas tahun itu.

Dia lebih suka mencuci karpet ketimbang mobil atau motor. Sayangnya, orang lebih suka mencuci karpet di rumahnya sendiri. Hanya orang-orang ceroboh—alih-alih punya kepercayaan besar—yang akan menyerahkan persoalan cuci-mencuci karpet kepada orang lain. Orang bisa jadi tak cocok dengan aroma yang ditimbulkan oleh tangan orang lain sehingga dia merasa asing ketika menginjak lantai rumahnya sendiri. Orang bisa saja takut sperma keringnya terlihat. Orang mungkin khawatir perselingkuhannya terkuak dari sana. Detail-detail kecil yang tak terlalu digubris ketika mencuci mobil akan tersesa berbeda ketika dijumpai pada karpet. Dia pernah mencuci karpet merah dengan ratusan luka bakar dari rokok. Bulatan-bulatan hitam berkerak itu tak bisa dihilangkan, menggosoknya bagaikan usaha sia-sia untuk mengaruk punggung badak yang gatal. Pernah pula dia menjumpai permadani tebal yang disesaki rontokan bulu kucing yang bercampur dengan rambut perempuan yang halus, terlalu halus untuk jatuh dari kepala seorang perempuan tua.

Katakanlah ini sebatas hiburan. Tidak setiap hari dia mendapat pelanggan yang membawa karpet sementara puluhan mobil harus dia layani. Lepas dari soal itu, yang terbaik dari karpet adalah aromanya. Karpet-karpet dari tempat ibadah biasanya berbau asam kaki. Karpet-karpet milik Karang Taruna beraroma kopi dan rokok murah. Karpet-karpet perkantoran berbau bedak atau kondom bekas. Karpet-karpet yang datang karena terendam banjir menguarkan bau yang lebih karib: aroma sungai, aroma kayu-kayu kering yang lapuk, aroma ruang tengah rumahnya sendiri yang hanya bisa dikunjungi setahun satu kali.  Dia amat senang bila penghujan tiba lalu banjir terbit hingga tenggorokan, menyisakan endapan lumpur, kemudian puluhan karpet diserahkan kepadanya. Selama dua atau tiga bulan pada musim penghujan dia akan lebih banyak mencuci karpet ketimbang kendaraan. Sepanjang itu pula dia akan mengingat rumahnya di Magetan.

Oktober sudah memasuki minggu ketiga, cuaca masih kering seperti biasa. Musim hujan sedang ditunda atau bagaimana? Apa mungkin hujan tertahan kemacetan juga? Di depan dadanya dia mengipas-ngipas handuk putih kumal bertuliskan “Kasih Yesus Lebih dari Semua” yang dia dapat dari sekolah anaknya yang mahal. Sebuah Nokia ditarik dari saku, lalu dia mengirim pesan kepada pelanggannya, seorang OB dari salah satu perkantoran. “Sudah dua bulan belum naruh karpet di sini. Belum ada yang kotor?”

“Karpetnya sekarang dicuci di tempat, Bro. Sudah ada alatnya.”

Dia tak paham alat seperti apakah yang dimaksud. Tak pula dia bertanya kenapa orang-orang pintar di luar sana sampai susah-susah menciptakan alat canggih cuma untuk mencuci karpet. Dia terima respon singkat itu lalu menghubungi yang lain, seorang kawan lama saat menjadi kuli panggul di pasar Tanah Abang, yang terbiasa mengada-adakan sesuatu yang tidak ada, membesarkan-besarkan sesuatu yang sebetulnya sederhana.

“Sekarang yang pegang karpet sudah beda, bukan saya. Saya sekarang mengurusi gorden. Lebih jarang dicuci kalau gorden, satu tahun sekali. Itu pun kalau dananya turun.”

“Repot sekali. Apa tidak risih kalau gordennya bau?”

“Harus sesuai prosedur. Gubernur yang sekarang ketat, Mas, pegawainya pada takut kena ciduk.”

“Ini cuma soal nyuci karpet.”

“Itu uang puluhan juta, Mas.”

Seingatnya, tak sekalipun dia mencuci karpet dengan bayaran sebanyak itu. Paling besar, dia pernah mendapat lima ratus ribu rupiah dari seorang pengusaha yang senang melihat permadaninya kembali cerah. Seumur hidup, baru sekali itu dia mendapat bayaran sebesar itu untuk sebuah pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Tak putus usaha, dia lantas menghubungi pelanggannya yang lain, seorang perempuan dari tempat laundry di komplek Bunga Asih II.

“Mungkin belum ada kopi yang tumpah, Mas. Tiga bulan ini juga tidak terdengar ada pesta. Belakangan ini kami malah lebih banyak menerima celana dalam dan kaus kaki.”

Dia menghubungi pelanggan terakhirnya.

“Ada. Tapi apa mau mencuci karpet yang belum betul-betul kotor?”

“Masih enak diinjak?”

“Masih. Belum kasar.”

“Tidak usah kalau begitu.”

“Kita coba tunggu satu bulan lagi, ya? Mungkin nanti kotor.”

Sebuah mobil sedan yang tampaknya baru saja kembali dari pemakaman yang diguyur hujan masuk ke tempat cuci. Salah satu pegawai tempat cuci itu menghampiri si pemilik yang keluar dari mobilnya sembari menyerahkan kunci, lalu duduk di kursi merah di sampingnya. “Karpet di rumah tidak ada yang kotor, Pak?” tanyanya seketika, membuat orang itu tercenung sekian waktu.

“Di sini nyuci karpet juga?”

“Saya bisa membuat karpet Bapak jadi seperti sofa.”

“Gaya marketing semacam itu tidak menarik.”

“Jika tak terbukti, silakan injak muka saya.”

“Nah, ini saya suka.”

“Saya serius.” Dia mengambil jeda, lalu melirik kembali ban mobil yang belepotan oleh tanah merah. “Habis dari luar kota, Pak?”

“Anak saya kemarin pengen main ke Bogor. Tempat main anak sekarang jauh-jauh. Tapi kalau tidak dituruti rasanya kok tega sekali, Mas. Toh tidak setiap hari.”

“Anak saya malah saya sekolahkan di Jakarta, Pak. Di kampung tidak ada masa depan.” Obrolan itu dengan cepat merangkak ke soal berapa jumlah anak, sudah berapa yang lulus kuliah, di mana istri, paling suka rokok merek apa, di sekolah anaknya diajarkan apa, cita-citanya—nah, di bagian ini, dia berkata, “Saya sengaja menyekolahkan dia di Jakarta supaya pergaulannya luas. Supaya dia tahu, orang bisa jadi arsitek, bisa jadi desainer, bisa jadi pengusaha sukses. Dua minggu sekali dia pasti mengunjungi saya. Dia tidak kumal seperti saya, Pak. Dia terlihat seperti orang Jakarta.”

“Hebat.”

“Karpet Bapak sudah berapa lama tidak dicuci?”

“Satu atau dua tahun atau mungkin lebih—entah, saya lupa.”

“Pasti sudah ada kutunya itu.”

“Mungkin.” Mukanya berubah raut. “Tapi aneh sekali,” katanya kemudian, “saya tak bisa mengingat karpet itu bergambar apa, atau polanya seperti apa. Cuma warnanya. Warnanya merah. Tepat di tengah ruang tamu. Sebuah lampu besar menggantung di atasnya. Saya pun tidak bisa mengingat jelas bagaimana bentuk lampu itu. Yang pasti, dia besar, dan putih.”

“Benda mati harusnya lebih mudah diingat, Pak.”

“Barusan saya berusaha mengingat-ingat wajah anak lelaki saya yang paling tua. Dia sekarang kuliah di Belgia. Beberapa hal muncul dengan tidak tegas. Hidungnya, saya ragu, mancung atau sedikit pesek? Matanya, bulat penuh atau agak sipit? Adakah kerutan di bibirnya ketika tertawa—atau kapan dia terakhir kali tertawa?” Dia menatap jalanan, menyimak sahut-menyahut klakson mobil yang dijejali egoisme dan kedunguan pengemudinya. “Saya jadi ingin pulang. Ingin lihat wajah anak saya yang paling kecil. Kemarin kami baru liburan bersama, tapi kok saya tidak bisa mengingat dia dengan detail.”

“Ya jangan diingat-ingat, Pak, nanti malah sedih sendiri.”

Lelaki berusia lima puluhan itu tertawa pendek.

“Saya lupa wajah istri saya, tapi itu ada bagusnya juga, karena tiap kali pulang saya merasa menjumpai perempuan berwajah baru dengan kebaikan-kebaikan yang sama.”

“Perempuan bukan masalah buat saya. Ini anak, Mas. Bayangkan suatu hari kamu jumpa dengan anakmu yang berbeda, yang sama sekali tak tercantum dalam ingatanmu, dan kalian merasa tersesat satu sama lain.”

“Saya tidak sempat berpikir sejauh itu, Pak.”

Sebuah Suzuki masuk ke tempat cuci. Pintunya dibuka-tutup dengan keras ketika seorang perempuan berkacamata bulat keluar dari sana. Dia duduk di kursi plastik putih di dekat mereka—hampir saja dia tersungkur karena salah satu kaki kursi itu lunglai. Dia berhasil menahan kedua lututnya tetap tegak, tapi ponselnya terlempar, memantul berkali-kali sampai masuk ke dalam selokan berair hitam dan kental. Dengan sigap dia mengumpat. Semua menoleh ke arahnya, lalu dia menoleh ke semuanya, hendak memilih salah satu dari mereka untuk disuruh turun ke bawah sana. Tapi semua kembali ke pekerjaan mereka masing-masing dan tokoh utama kita beranjak dari kursi, mengikat handuknya di kepala, mulai menyemprot Suzuki itu dengan keras.

Dari arah Bogor, gerombolan awan pekat bergulung dengan cepat sembari menitipkan bau basah ke dalam angin. Beberapa menit kemudian angin itu tiba di Jakarta.

Apa Guna Naik Gunung, Jon?


Rinay masih duduk di kursi rotan pendek itu selagi aku merapikan barang-barang yang hendak kubawa ke Merbabu. Dia sesekali nyeletuk tentang kuliah, kerjaan, cuti, dan sekitarnya, yang intinya ingin bilang bahwa dia bisa ikut denganku besok. Tapi aku tak mau mengajaknya, pertama, karena ini musim hujan dan tentu jalurnya akan sangat licin, kedua, karena aku sedang butuh sendirian dan ini sukar untuk ditawar-tawar. Kapan-kapan akan kuajak kamu, kataku, kalau musimnya sudah baik, dan kalau fisikmu sudah lebih gesit. Gunung bukan tempat main-main. Orang bisa mati betulan di sana. Dia masih menyimpan bibir cemberutnya.

Ibu menelepon, bertanya gunung mana yang hendak kudaki (sepertinya dia baru membaca status Facebookku soal rencana naik gunung), lalu kubilang Merbabu, dan dia, dengan rasa khawatirnya yang selalu berlebihan, berkata bahwa sebaiknya aku tidak berangkat sendirian. Di sana ada banyak orang, Mak, kubilang. Gunung tidak lagi sepi. Lalu apa yang kamu cari kalau di sana sama saja dengan di sini? Rinay merecoki obrolan kami. Suara siapa itu? Ibu menimpali. Itu teman, kubilang, sedang mampir ke kamarku. Perempuan? Iya, kubilang, dan dia ingin ikut bersamaku ke gunung. Jangan! Lebih baik kamu sendirian. Pada akhirnya memang akan begitu, Mak, aku sedang ingin sendirian. Ini penting sekali buatku.

Coba kalau tekadmu itu dipakai untuk ke mesjid, mungkin akan lebih baik. Kalau dihitung-hitung, kamu lebih sering naik ke gunung yang jauh ketimbang pergi ke mesjid yang cuma selangkah dari rumahmu.

Shalat kan tidak harus selalu di mesjid, Mak.

Dia tidak pernah shalat, Bu, celetuk Rinay.

Aku shalat kok, kadang-kadang.

Setahun sekali.

Kamu ini sudah tidak percaya tuhan atau bagaimana? Bapakmu sempat bilang katanya kamu sudah jadi atheis. Atheis dan kafir itu apa bedanya ya, Jon?

Aku malas sekali meladeni ibu kalau dia mulai mengajak diskusi hal-hal sepele semacam ini. Kulepas buntelan baju yang hendak kumasukkan ke keril, lalu kutaruh pantatku di kasur lantai, dekat Rinay yang masih monyong seperti ikan buntal. Atheis itu orang yang sedang dalam perjalanan jauh, kubilang, suatu saat dia pasti pulang, entah ke rumah yang semacam apa, yang jelas dia akan menemukan itu. Mamak makin tidak mengerti dan dia cuma berdecak-decak. Sementara kafir itu orang yang sudah sampai di rumah, lanjutku, hanya saja rumahnya berbeda. Jadi bisa saja suatu saat aku menjadi kafir. Mamak beristighfar kencang. Kapan kamu pulang? Nanti, di musim rambutan, kubilang. Apa harus menunggu lebaran atau musim rambutan buat menengok mamakmu yang makin tua ini? Apa kamu lebih cinta kepada gunung ketimbang orang-orang di sekitarmu?

Nah itu, bener, Bu!

Kulirik Rinay yang sedang menguping.

Dia tidak pernah peduli pada manusia lain. Dia cuma cinta pada dirinya sendiri. Harusnya aku tidak suka padanya.

Siapa sih perempuan di dekatmu itu?

Namanya Rinay.

Kok cerewet sekali.

Tidak cocok dijadikan istri ya, Mak?

Jangan alihkan pembicaraan!

Iya, iya. Nanti aku pulang. Ini naik gunung pun cuma sebentar. Cuma tiga malam dua hari, dan itu dihitung dari keberangkatanku sampai pulangku kembali ke kamar. Lebaran nanti aku akan tiga minggu di rumah. Itu waktu yang banyak sekali. Kurang cinta apa aku, Mak, kepadamu? Sayangnya, kalimat paling akhir ini cuma kukatakan dalam kepalaku. Aku tak bisa bilang cinta begitu kepada orang tuaku. Mereka sudah pasti mengerti tanpa kubilang. Mereka mengerti tapi itu tetap perlu, Jon, kata Rinay yang hidup dalam kepalaku. Sudah kamu diam, jangan ikut-ikutan terus. Sudah ya, Mak, aku mau beres-beres dulu. Nanti kalau sudah turun gunung akan kukabari.

Jangan lupa shalat. Jangan lupa ke mesjid. Itu tugasmu sebagai muslim.

Mak, aku mau bilang sesuatu, tapi setelah itu jangan balas apa-apa lagi, teleponnya akan langsung kututup.

Apa itu?

Aku merasa, lebih baik aku pergi ke gunung dan memikirkan tuhan ketimbang aku pergi ke mesjid dan memikirkan gunung.

Jon—

Aku titip salam buat bapak.

 

[CERPEN MINGGU] Mantra Terbang


Nuril, heh, Nuril, kau masih ingat mantra terbangmu? Itu ambilkan baju ibu yang dibawa kabur angin. Dia sudah buta, sekarang ditambahi bisu, lumpuh, tuli, kasihan betul, masih pula dijahili oleh tuhan, memang, bangsat tuhan itu, Nuril, jangan kau sembah dia, percuma, doa-doamu tidak kurang tidak lebih, sama, dengan kata-kata lain yang diciptakan manusia. Pohon pete itu tidak terlalu tinggi, harusnya bisa kau naik ke dahan yang itu. Di sana menggantung baju merah pucat kusut tak berharga lebih baik dibuang saja buat apa kau berusaha mengambilnya, kalau sampai maghrib nanti belum juga kau lipat masuk ke lemari, ibumu pasti tahu, dan dia bakal sulit tidur. Sudah, Nuril, dengar, heh, Nuril, jangan membantah, ibumu itu memang buta, tapi kalau soal jemuran, dia tahu, dia ingat, sehebat kau dalam mengingat bulu-bulu ayam jantan kesayanganmu, kawan bicaramu satu-satunya dalam rumah itu, yang kemarin mati terlindas truk pembawa cadas. Iya, mestinya begitu, setuju, sama sekali tidak ada yang keliru dari kata-katamu, tapi, Nuril, dengarkan aku, sebaiknya kau mulai bergerak ke bawah pohon pete itu, tidak apa-apa, pelan-pelan diingat mantranya, panjat seperti biasa, tidak masalah, tak perlu malu, waktu petang begini yang melintas cuma orang-orang tua yang memikul pakan ternak, mata mereka lebih banyak menekuri jalan ketimbang mendongak, kalaupun ada yang melihatmu, kuyakin cuma para kapinis dan kapila yang habis melaut, hendak pulang ke rumah mereka, di rumah Haji Duloh, tapi mereka pun tak bakal laporan ke Haji Duloh bahwa si Nuril manjat pohon pete petang-petang begini hendak apa itu si Nuril astaga anak tolol hoy Nuril turun turun bukannya mandikan ibumu kau malah, tidak akan. Jangan, jangan salahkan sodara-sodaramu yang lain, yang tak mau mengurusi ibu, ini salahmu sendiri, tak kunjung merantau, padahal sudah berulang kali bapak mengajak pergi memancing, mengambil hasil panen dari para petani, mengirim cabai, terong, kacang panjang, katuk, mentimun, pepaya, semua itu, ke Pasar Kemis, bertemu Sumantri, Kurtubi, Hendar, Soleh, Candra, Suti, Marwan, yang dari situ kamu bisa mulai menjauhkan diri dari rumah. Tapi sekarang sudah selesai, Nuril, tenang saja, tidak apa Nuril, Nuril, heh, astaga, jangan dulu tutup wajah ibumu, durhaka kau ini, semua orang akan kebagian doa dari Haji Duloh, Nuril, ibu bisa bangun lagi, besok dia membaik. Jangan, jangan kau luruskan tubuhnya, jangan lipat kedua tangannya di perut, jangan, Nuril, berhenti di situ, cepat ambil bajunya, Nuril, ke pohon pete itu, jangan kau katupkan matanya, Haji Duloh sudah mulai solawatan, Nuril, jangan usap lagi wajahnya, sudah mau magrib, ibu pasti kesal. Nah, begitu, ikuti aku. Ini terlalu ruwet, Nuril, coba kau bayangkan, satu hari saja, misalnya ada 50 orang yang datang, satu beseknya butuh biaya 10 ribu, lalu kalikan dengan tujuh, itu belum ditambah dengan rokok, suguhan kecil seperti ranginang, pisang, opak, papais, bugis, misro, belum lagi, Nuril, belum lagi, Haji Duloh itu dihitung sepuluh, dan dia pasti datang, iya, aku tahu, aku tahu dia orang baik, lebih tepatnya dia orang kaya, dia bisa memberi keringanan, mungkin juga tidak perlu dibayar apa pun sama sekali, tapi yang lain bagaimana, tidak semua orang sekaya Haji Duloh, Nuril. Terlanjur gelap kalau begini terus. Lekas, lekas ambil senter, soroti jalanmu ke pohon pete itu, mumpung embun belum turun. Nah, begitu, satu-satu saja, tidak perlu sekaligus dua kakimu, diseret-seret juga tak masalah, cuma dua puluh meter dari liang pintu, tak akan terasa. Astaga, kenapa berhenti lagi, Nuril kau goblok sungguh membuatku ingin memukul kepalamu pakai golok memang kepalamu yang selalu bikin repot harusnya dihabisi saja Nuril, ayo ke sana, buru! Tidak perlu, nanti ada yang mengurusi hal semacam itu, bukan kamu seorang, bukan pula ibumu, karena setelah ini dialah yang akan diurusi. Sudah selesai, Nuril, dia sudah selesai, kenapa kamu belum juga paham, ya ampun, sekarang kau malah menuduhku, padahal sejak awal aku sudah tahu, lebih tahu darimu, tapi aku tak suka kalau kau memperlukannya begitu, dia itu ibumu, harusnya orang lain yang melakukan hal yang kaulakukan tadi, tapi tak usah kembali lagi ke sana, Nuril, sudah terlanjur tertutup kain wajahnya, biarkan saja, sekarang ayo ke pohon pete itu, ambil baju ibu, ini tetap penting, bagaimanapun. Sudah tidak perlu ambil senter. Tidak perlu nyalakan lampu. Tidak perlu menoleh lagi. Tidak perlu. Tidak. Tidak. Ini sudah benar. Siapa yang bilang begitu? Jangan kepedean kau, Nuril, memangnya akan jadi apa kau kalau hidupmu dilanjutkan, akan jadi, haish, Nuril, lugu betul, kau mau terus-terusan menulis puisi lalu mencetaknya terbatas seolah spesial padahal tak laku atau, hidih, kau bahkan tak punya bakat buat menikmati hidup, itu intinya, kau ini tinggal seorang, keluargamu sudah mati semua, tabungan tidak ada, utang malah menumpuk di sana-sini, SMA saja tak lulus, mukamu tidak nyaman dilihat, rumahmu sudah lebih cocok disebut makam, sisa tanah warisan ibu tak lama lagi bakal dijual juga buat membiayai kepergiannya, oh, kau mau pergi ke jakarta, memangnya ada apa di sana, atau ada siapa, atau mau apa, jadi sastrawan kosmopolitankah, jualan es tebukah, nyemir sepatu atau lainnya, sayangnya, satu-satunya kebisaan yang kaupunya adalah mengurusi perempuan tua yang sakit, kaupikir dengan ke sana hidup bakal jadi lebih baik. Nah, kau sendiri dengar kan cerita Kardi yang itu. Di sana kau bakal jadi babu seumur hidup atau mati diambil ginjalmu lalu kau dibuang ke selokan tanpa seorang pun tahu sampai banjir mengangkat tulang-tulangmu ke atas aspal. Lanjutkan langkahmu, sudah dekat, sepuluh meter lagi, lalu panjat, selesaikan. Si Riswan tak bakal mau membantu. Semua orang di Jakarta berjuang untuk dirinya sendiri, itu sudah hukum pasti, tak bisa diubah, tak bisa diganti, Jakarta membelokkan orang-orang lurus, Nuril, bisa saja kau pun membunuh kalau ke sana, dan kau tak merasa bersalah karena itu keterdesakan, semua terdesak, tentu saja. Ya, tentu licin, tanganmu berkeringat, badanmu juga, kulit kepalamu berdenyut dan terasa dingin, apa kau takut? Tidak apa-apa, ini singkat, tak akan terasa, akan lain rasanya dengan menjalani sisa hidupmu. Taruh saja senternya, arahkan ke atas, atau matikan saja, kau tak bakal tersesat ketika memanjat, itulah kenapa ini mudah. Tidak, Nuril, Haji Duloh juga tak bakal membantu. Kaupikir kenapa dia bisa kaya raya? Karena banyak sedekah? Karena rajin membantu orang lain? Tidak, Nuril, jelas orang bisa kaya karena pelit dan menindas yang lain, tidak ada cara lain, jadi kalau kau merasa dia akan membantumu, mungkin saja itu terjadi, tetapi dengan kau menjadi babunya, gajimu cuma cukup buat bertahan hidup, tidak ada liburan, tidak ada cita-cita, itu pun, hhh, aku tak tega melanjutkan, tidak bisakah ini dibuat cepat saja, Nuril, iya, dia orang beragama, betul, tapi soal uang, nah, raih dahan yang itu, rehat sebentar di sana, tidak apa, sudah dekat. Eh, Pak Haji, sudah beres maghribannya, ini, ini aku mau bunuh diri, eh bukan, itu, aku sudah tidak tahu mau apa, ibu sudah tidak bisa dibangunkan, maksudku, aku mau mengambil jemuran itu, yang nyangkut dari siang tadi. Itu, lho, masa tidak kelihatan? Haji Duloh sudah picek, Nuril, cuma kau yang bisa lihat baju itu, orang lain tidak. Jangan hiraukan. Dia akan mengajakmu bicara terus, tapi pasti sebentar saja, cuma basa-basi, karena dia harus pulang, melanjutkan ibadahnya di rumah, atau nonton berita malam, atau menghitung uang yang didapat warungnya hari ini, secara itung-itungan, bicara denganmu sama sekali tak ada faedahnya, tak akan menambah apa-apa bagi dirinya, lucu, tapi memang begitu, kau harus mulai menerima bahwa orang-orang kampungmu begitu, tidak apa-apa kalau kau mau ketawa, toh sudah di atas, tak bakal ada yang menjemputmu ke sini. Nah, tertawa begitu, enak ya? Bertahun-tahun mukamu rapat, baru hari ini kau merasakannya, sampai-sampai kau mau menangis karenanya. Aku sungguh benci, Pak Haji, besok orang berkumpul di sini karena aku mati, memuji-muji, menyayangkan yang terjadi, tapi waktu aku hidup boro-boro ada yang berkunjung, dan tak ada yang bakal mau aku hidup lagi, Pak Haji, aku cuma berguna sebagai tempat pamer bela sungkawa, juga ibuku, cuma sebagai mayat kami punya arti, apa kau tidak benci kalau jadi aku. Tidak, aku tidak mau turun, pulang saja, Pak Haji, aku masih mau mengambil baju itu. Itu di sana bajunya, hijau terang, masa tidak kelihatan. Ck. Sudah tua matamu itu, tidak bisa melihat dalam gelap. Sudah, Nuril, jangan ladeni, lanjutkan saja, sepuluh meter lagi, sudah cukup, sambil diingat-ingat mantra terbangmu. Pohon pete ini kenapa tidak lagi berbuah ya, padahal lumayan, harga pete sempat enam ribu per buah, kalau dihitung-hitung, satu pohon saja sudah, tapi tidak mungkin, Nuril, menanam pete tidak sebentar, kau lebih dulu kelaparan sebelum sampai ke musim panen, beternak kambing juga sama, menanam apa pun, usaha apa pun, sama, tidak ada yang bisa membuatmu dapat uang cepat, cuma hal-hal jahat yang menawarkan semacam itu. Iya, harusnya bapakmu sempat mengajarimu berkebun, mungkin akan beda nasibmu, tapi kau tak bisa menyalahkannya, dia pun akhirnya jadi tengkulak, tak ada masa depan buat petani, yang mahir sekalipun, miskin, miskin, kau miskin, Nuril, kasian sekali dirimu itu coba lihat bajumu kumal mukamu jelek sekolah tak lulus sudah tak punya siapa-siapa puisimu seperti orang mengigau sudah tak perlu pakai mantra-mantra loncat saja, loncat! Pak Haji, minggir! Minggiiiir aku mau terbang kalau gagal nanti kau tertimpa mati kau Pak Haji, minggir, aku tidak bercanda, tekadku sudah bulat, bajunya sudah tak ada, sudah tid—Nuril, heh, Nuril, dia sudah tak di sana. Haji kok pergi tanpa permisi. Tidak berguna untuk dipikirkan, Nuril, malam makin pekat, udara bau cuka, keringatmu, Nuril, pantas tidak ada perempuan yang suka padamu, tidak ada gunanya mengelak, tujuanmu bukan itu, cuma memperlambat ending, Nuril. Siapa itu teriak-teriak di bawah, Nuril, coba telisik mukanya, barangkali ada kenal meski sedikit, tapi, tapi dari suaranya, apakah dia Rendra, almarhum, idolamu, oh, dia memintamu lompat, sudah kubilang, bukan, bukan, dia bukan memintamu turun, tapi lompat, itu berbeda dan cuma seorang pengecut yang mencari-cari irisannya. Semua orang ingin kau lompat, Nuril, termasuk dirimu sendiri, yang diam-diam merasa tak berguna, tak ada artinya, kendati tiap hari mengomel di beranda Facebook seperti orang berpengaruh, seolah-olah orang gentar padamu, pada puisi-puisimu yang lesu, mukamu yang jelek, sama sekali tak berkarisma, modal jempol, modal bibir, modal kesepian, modal astaga, menyedihkan sekali ya, dirimu, Nuril, apa perlu kulanjutkan? Siapa lagi itu, di bawah, pakai kerudung, mungkinkah itu bibimu yang lebih baik dianggap sebagai maling ketimbang saudara kelakuannya nipu-nipu melulu suka pamer perhiasan hasil culas jangan hiraukan dia Nuril, fokus pada tujuanmu, itu penting, bagaimanapun. Berisik! Berisik! Berisiiik! Aku tidak mau turun! Aku mau lompat! Iya, betul, begitu, Nuril, teruskan. Jangan luluh oleh rayuan manusia-manusia macam mereka, tidak satu pun mau menanggung utangmu, rasa malumu, kehilanganmu, ketidakjelasan masa depanmu, semua cuma ingin kau melanjutkan hidup, melanggengkan penderitaan. Yang itu, di bawah lagi, lagi, ada yang datang lagi, sepertinya Yuni, dia masih saja cantik di gelap begini, tapi bagaimanapun, Nuril, kalau sampai waktuku! Kumau tak seorang kan merayu! Tidak juga kau! Nuril, dengarkan aku, jangan dengarkan mereka. Tak perlu sedu sedan itu! Aku adalah binatang jalang! Astaga, Nuril, kenapa membaca puisi yang pasaran sekali dari kumpulan yang terbuang! Hentikan, Nuril, jangan baca puisi di sini, tidak ada gunanya, sungguh, malah tambah terlihat menyedihkan, aku tahu, Nuril, aku biar peluru menembus kulitku! Aku tetap meradang menerjang! Cukup! Cukup! Cukup, anying! Luka dan bisa kubawa berlari! Yuni kenapa cantik sekali, Nuril, aku benci melihat kecantikannya, sudah pasti kau juga berlari! Hingga hilang peri! Bisa tidak kau baca puisi tanpa berteriak, Nuril, bisa tidak kau, iya, ini panggung pertamamu, selama ini tak satu pun pendengar kau punya, cuma layar ponsel butut saja kawan bicara, tapi ini sudah bukan zamannya, Nuril, tak ada lagi Chairil bakal lahir, kau bikin malu dirimu sendiri, tuh lihat orang-orang bergunjing, semakin banyak orang, di bawah, menunggumu, tapi aku akan lebih tak peduli! Aku mau hidup seribu tahun lagi! Apakah mereka memberimu tepuk tangan, Nuril, sepertinya tidak, mereka tak mengerti kau sedang apa kata-katamu semata racauan orang gila orang banyak utang ditinggal mati ibunya loncat sekarang! Loncat! Lupakan mantra terbangmu. Lonc—

 

Kolam Lele Stasiun Senen


Dalam perjumpaan yang aksidental satu bulan lalu di Senen, seorang bernama Sin, lengkapnya Muksin Sangaji, kawan lama saya di Cironyom dan kami sempat sekolah bareng sampai STM di jurusan otomotif, memberi kabar bahwa anaknya yang pertama sekaligus satu-satunya meninggal karena difteri. Di mukanya masih tergurat garis-garis stress kendati dia dingin seperti biasa. Dia bukan jenis manusia yang menangis. Dulu itu saat ibunya mati, dia cuma tidak masuk sekolah satu hari dan tak ada jejak kesedihan sama sekali. Gara-gara itu saya sempat mengira dia bakal jadi debt collector atau setidaknya jagal. Tapi ternyata tidak. Sekarang dia lebih mirip tisu toilet yang dipakai buat mengelap mulut atau jendela yang dipakai buat mengintip jemuran atau mungkin jalan raya yang dipakai pengajian.

Tahun lalu, saat pulang kampung, saya lihat peternakan lelenya yang berupa kolam seluas 2×2 meter. Lele-lelenya dibiarkan tumbuh menjadi terlalu besar dan tak layak dijual (coba kaupikir, warung mana yang mau menggoreng lele yang panjangnya dua jengkal?). Akan lebih cocok kalau dia digabungkan dengan animal lovers, sebab dia memelihara lele seperti memelihara kucing atau anjing. Bisa juga kau menyebutnya translator, karena dia pernah menerjemahkan buku berbahasa Inggris, Nichomachean Ethics, yang akhirnya membuat dia menjadi lebih pendiam, tapi pekerjaan yang ini pun tidak tentu, dan ini lebih melelahkan daripada yang semestinya sebab seperti yang dibilang oleh kawan saya yang lain, Jamil, beberapa hari lalu: kalau sebuah karya terjemahan baik, penulisnya dipuji, namun kalau hasilnya jelek, penerjemahnya kena caci.

Semenjak beristri dia jadi reparator televisi dan skill ini didapatnya setelah kena sengat bapaknya, dulu sekali, waktu kami nonton Yoko bareng dan tivinya mendadak mati. “Coba kau betulkan itu,” kata bapaknya. “Mahal-mahal sekolah di STM kok tidak bisa benerin tivi.” Saya ikut kesal mendengar itu. Enak sekali ya jadi orang tua. Apalagi kalau bodoh begitu. Itu pikiran saya dulu. Kebetulan sebelum kejadian itu saya pun kena riwil Mamak karena menggeleng ketika diminta membetulkan setrika. Sin akhirnya membetulkan tivi itu, dan berhasil, cuma dengan memukulnya dua kali, keras sekali—hehehe, tidaklah, jelas tidak. Dia membongkar tivi itu keesokan paginya, dibantu oleh Sobri, tukang reparasi yang asli. Tapi dari sanalah dia akhirnya tertarik buat bener-benerin banyak hal, terutama yang ada kabelnya.

Kau mungkin juga mengenal orang seperti Sin, yang terlihat tidak punya perasaan sama sekali tapi kautahu bahwa di dalam dirinya ada kecamuk guntur, pohon tumbang, cacing busuk, potongan jari, catatan utang, kata-kata yang tidak bisa diacu, nama-nama yang tidak bisa dipercaya, tempat-tempat yang terapung umpama sekoci dalam Life of Pi—kurang lebih dia seperti saya sehingga kami tak banyak bicara. Sebuah kalimat bisa muncul tiba-tiba dari mulut kami dan itu tidak berhubungan sama sekali dengan dialog sebelumnya. Saat kami jumpa itu, dia sedang menuju kampung istrinya di Sidoarjo, buat menemui mertua, mungkin juga sekalian menenangkan diri.

Di Jogja kau kerja apa? katanya. Saya membalas dengan menaikkan alis malas-malasan. Aku mau pindah, katanya lagi, butuh udara baru. Beberapa menit kemudian, setelah kekosongan yang dingin, gantian saya berkata, rasa-rasanya, sekarang ini pekerjaan ada banyak sekaligus tak ada yang tersisa. Lalu orang jadi kelewat kreatif, sampai-sampai urusan memotong kuku saja ada jasanya. Dia tidak membalas. Seorang perempuan dengan keril merah marun berlalu di depan resto itu, dengan tatapan yang lurus, melangkah percaya diri, dan saya membayangkan berjalan di belakangnya, sampai pintu keberangkatan, lalu naik kereta, turun di stasiun tujuan yang sama dengannya, sebuah stasiun dengan latar belakang perbukitan yang hijau, angin berkesiur di antara sayap burung-burung, melambai-lambaikan ilalang, juga awan berarak menuju timur, seperti deskripsi puitik dalam sastra lama, mengikutinya berjalan lama-lama sampai cukup jeda untuk saya bertanya pada Sin, istrimu bagaimana kondisinya?

Aku tidak tahu, katanya. Yuni lebih sering marah sekarang.

Bukannya itu lebih mudah dipahami?

Dia diam.

Perlu masukan tidak?

Dia mengangkat bahu.

Saya ada kenalan di Surabaya. Dia mengurusi pasangan yang menghadapi persoalan semacam ini. Mungkin dia bisa bantu.

Persoalan macam apa maksudmu?

Perlu kukatakan?

Dia diam.

Ya, terserah, sih, kubilang.

Kami mau pindah. Maksudku, kami mau sedikit menjauh dari orang-orang yang bikin gila.

Apa itu tidak berlebihan? Lebih baik kalian bikin anak lagi. Saya tidak bermaksud menggurui lho, ya. Mungkin kalian bisa pindahan sambil bikin anak. Atau bikinnya setelah pindahan. Itu lebih optimistik.

Dia melambai ke arah jauh, memberi tanda pada istrinya yang masih mengira kami berdiri di depan pintu keberangkatan. Yuni si istri datang, duduk di kursi depan saya, cuma sebentar, lalu berdiri lagi dan pergi memesan mi pangsit, satu-satunya menu makanan yang tersisa, lalu kembali duduk di depan saya, merapikan ujung kerudungnya, mengeluarkan sebungkus tisu dari tas, mengelap wajah, lalu tersenyum basa-basi saat kami bertatapan—menambah rasa kering pada suasana yang sudah dingin. Jakarta sepanas Sidoarjo ndak, Mbak? saya tanya, ingin mencairkan suasana, tapi entah itu berhasil atau tidak karena dia cuma membalas, “Saya kurang ngerti soal cuaca, Mas.” Dia lalu menoleh ke suaminya, “Kamu lihat dompetku tidak? Sepertinya aku lupa naruh.”

Sin jelas lebih tidak tahu. Dia bilang, mungkin tertinggal di kasir, atau di toilet, atau di komuter yang kita naiki—ini buruk sekali jika betul terjadi. Yuni bergegas menuju kasir, dan dari gesturnya yang panik, bisa saya pahami bahwa dompet itu tidak ada di sana. Sin bangkit, menyusul istrinya yang mulai setengah mengamuk karena merasa telah membuka dompetnya di depan kasir dan membayar pesanannya, lalu karena uangnya pas dia tidak mendapat kembalian dan kembali ke mejanya, duduk, lalu menyadari bahwa dompetnya tidak ada. Begitulah kronologi yang terbangun dalam kepalanya. Sin bertanya pada kasir dengan lebih tenang, lalu dibalas oleh kasir berhidung pesek itu, “Ibu tadi tidak jadi pesan karena nasi gorengnya sudah habis. Saya sudah menawarkan mi pangsit, tapi ibu bilang tidak usah.” Tanpa mengecek CCTV ataupun mengambil kesaksian dari orang lain, Sin pergi, seolah tahu betul apa yang sebetulnya terjadi. Dia berjalan cepat ke arah toilet. Saya kehilangan dirinya. Yuni pergi juga, ke arah yang berbeda, mungkin hendak ke pusat informasi. Saya lebih memilih duduk saja.

Setengah jam berlalu dan mereka belum juga kembali.

Setengah jam tersisa sebelum kereta saya tiba dan jam keberangkatan kereta kami selisih 15 menit saja. Entah ini rokok yang keberapa. Dua puluh menit kemudian, saat saya sudah mau pergi, ponsel yang ditinggalkan Sin di meja itu bergetar.

Yuniar is calling…, kata layarnya.

Ah, sialan.

Yuniar is calling, Bung!

Cerewet sekali hape itu.

Saya menoleh ke arah jalan, tercenung lama, membayangkan diri saya berlari melalui pintu keberangkatan, menerobos banyak orang, lalu menaiki kereta, tentu dengan maksud mengembalikan ponsel itu, menyusuri gerbong-gerbongnya dengan gesit sambil menolehi wajah orang-orang yang kehilangan peran dalam hidupnya sendiri, mencari mereka berdua yang entah berada di gerbong mana, dan saya tak kunjung jumpa mereka dan mulai merasa bahwa saya menaiki kereta yang salah, lalu kereta mulai merayap, roda-rodanya berbunyi mengejar detak jantung saya—tidak terdengar seperti jug     jess    jug   jess  jug jess jugjess jugjess, tapi semacam dum      dum   dum  dum dumdum dumdumdumdum—sementara saya masih berdiri di dalamnya, kemudian menyadari bahwa tas saya tidak berada di pundak saya sendiri. Untuk membayangkan ini, lengkap dengan detail-detail yang tentu tidak saya sampaikan, lima menit berlalu sudah. Saya coba membuat ini lebih simpel: akan saya angkat panggilan masuk yang keras kepala itu, lalu saya bilang bahwa hapenya saya titipkan di kasir.

Sebelum sempat saya bilang sesuatu, suara panik Yuni menyeruak dari ponsel itu, “Mas Muksin kamu di mana ini keretanya sudah mau jalan dompetnya ternyata ketinggalan di rumah Mas nanti saja itu buruan ke sini Mas aku nggak bawa uang sama sekali!”

Saya tak menjawabnya.

Dua minggu lalu, saya menceritakan kembali pengalaman ini di kelas filsafat yang saya ampu di UGM. Saat saya bilang ceritanya sudah usai, salah satu dari mereka yang bernama Sugi, lengkapnya Sugianto, bertanya bagaimana nasib ponsel itu. Saya bilang, ponselnya masih di meja itu dan Muksin juga Yuni masih di stasiun Senen, berputar-putar, tak kunjung saling menemukan.

Tidak masuk akal, katanya.

Begitulah kalau kau memaksa cerita yang sudah kelar buat dilanjutkan, saya bilang, realitas punya batas, punya bingkai, sementara halusinasi tidak. Dan kita sebaiknya tidak berfilsafat dan berbahasa, apalagi dalam bentuk tulisan, dengan memakai konten dari yang kedua. Saya menatap Sugi dengan tatapan seorang yang tua, yang bahkan lebih tua dari umur saya sendiri, sehingga kalaupun saya mengatakan sesuatu yang bohong, dia dan kawan-kawannya bakal percaya. Kalian bisa mengecek bagian mana yang benar dalam cerita itu, kata saya, dengan cara mengunjungi stasiun Pasar Senen, lalu cari orang yang punya ciri seperti Muksin dan Yuni, atau pergi ke Cironyom dan cari kolam lele satu-satunya di kampung itu, dan catat apa yang kalian alami, lalu ceritakan pada saya andai kita jumpa di lain waktu. Setelah itu baru kita bicara lagi soal filsafat, sastra, sejarah, ekonomi, gender, dan lainnya.

Mereka mengangguk. Seolah paham.

Tapi Sugi kembali nyeletuk, apa kita betul-betul bisa ketemu lagi? Barangkali, yang mau disampaikan cerita itu ialah bahwa, seusai jarak, segala sesuatunya tidak akan lagi sama, termasuk pertemuan.

Astaga, Sugi, kata saya sambil mengambil tumpukan kertas di meja. Saya harus pulang. Kucing saya baru saja melahirkan dua hari lalu. Dan dia sendirian di rumah. Kalau terpaksa harus ada hikmahnya, kata saya lagi, atau semua entitas diasumsikan punya intensi, saya akan lebih memaknai cerita itu sebagai sebuah bahan, suatu adonan. Dengan tujuan agar kalian, yang muda-muda, seusai mendengar atau membaca cerita ini, tidak lagi berfilsafat atau menjadi penafsir, pencerita, tanpa terlebih dulu bersentuhan dengan realita. Gatal saya lihat anak-anak muda naif berkepala batu.

Ya ampun, Pak!

Apa lagi?

Tidak jadi.

 

 

[CERPEN MINGGU] Aurora Itu Langit yang Luntur


Dia di depan pintu, mengetuk berulang kali, lalu saat akhirnya pintu kubuka, dia tak lantas masuk, malah berdiri di sana, menangis dan menangis, juga tak bicara. Sesuatu telah terjadi padanya, tapi saat itu dia tidak mau bicara. Dua jam dia begitu, pipinya kian memerah, bibirnya bergetar, matanya sudah hampir hilang ditelan sesuatu, dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Sempat kupeluk dia beberapa detik, tapi tak ada yang berubah. Kemudian aku mengingat seorang bayi—semua bayi—yang menangis saat dilahirkan, seolah mereka punya ketakutan terhadap sesuatu, yang mungkin adalah masa depan, pupusnya cita-cita, remuknya harga diri, tajamnya ekspektasi orang-orang, kehilangan sesuatu yang dicinta, dan semacamnya, tapi tentu mereka tak bisa bicara, dan semua tumpah dalam bentuk seperti itu.

Dunia semakin brutal dan manusia semakin rapuh. Mungkin hidupku akan lebih berguna kalau aku bisa menerjemahkan tangis, terutama yang jatuh di ruang yang tak tampak, di mana sebagian besar orang melakukannya. Dengan menjadi pintar sedikit saja, kau sudah punya satu atau dua alasan buat menangis, dan itu akan terasa lebih buruk ketika kau sadar bahwa yang salah adalah dirimu sendiri. Dosa-dosamu, dalam berbohong, menginjak, menyembelih ayam sakit, memukul anak, melestarikan kapitalisme, menjadi fasis bersimbol agama, menjadi kiri dan feminis buat gaya-gayaan, snobis, merecoki orang lain, lebih takut ketinggalan shalat ketimbang menyakiti orang lain, punyaku, berselingkuh, membocorkan rahasia, melubangi celengan, makan daging, merusak janji, merusak pikiran orang-orang lurus, juga punya dia yang menangis di depan pintu, yang entah itu apa, terlanjur banyak sehingga tak muat dicatat malaikat. Kau lihat, itu terjadi, sedang berlangsung, di zaman ini, dan kau masih hidup. Aneh sekali kalau menurutmu ini tidak mengerikan. Aneh sekali kalau kau tidak menangis.

Mira, masuklah, kubilang, untuk keempat atau kelima kalinya. Kau perlu minum biar tidak mati kehausan. Nangis juga perlu tenaga. Gara-gara terlalu lama nangis, aku pernah jadi susah berak.

Dia terkekeh. Tapi masih nangis.

Aku melihat kebaikan yang tak terukur ketika dia membetulkan rambutnya yang menghalangi muka, menegakkan wajahnya sedikit, melirikku sejenak, dengan masih nangis, lalu berkata, satu-satunya antusiasme yang tersisa dalam hidupku sekarang adalah kematian. Sungguh aneh rasanya. Bagaimana makhluk semacam diriku masih bertahan sampai sekarang.

Kali ini aku yang terkekeh. Aku tidak tahu ini akan membuatmu lebih baik atau tidak—aku tidak perlu jadi lebih baik, katanya—tapi kurasa kau harus tahu: sudah sejak lama aku tidak punya antusiasme, terhadap apa pun, bahkan untuk mati pun aku malas. Andai bernapas tidak otomatis, aku sudah koit sejak lama.

Mungkin, katanya, tertahan lama, mungkin karena itu aku ke sini, atau mungkin karena aku tahu kamu belum tidur.

Masuk dong, duduk, minum, bicara, rebahkan kepalamu kalau berat, kataku lagi. Aku mau cerita sesuatu padamu. Lagi-lagi ini mungkin tak penting buatmu, tapi aku merasa ini harus kuceritakan.

Dia melirikku lagi. Kuraih telapak tangannya, kutuntun dia perlahan supaya duduk di tepi ranjang. Kamarku kecil, jadi cukup dengan melangkah dua kali kau sudah sampai di sana, lalu kusuguhkan segelas air putih, dia cuma memegangnya, lama-lama, di saat yang sama tangisnya mulai reda. Beruntung kamu datangnya larut malam, kubilang. Di jam-jam seperti ini aku menjadi sepuh, sementara pagi nanti aku kembali menjadi anak-anak, siangnya aku menjadi pemuda yang mulai berhitung, dan di awal malam aku jadi orang tua yang menyesal.

Aku tidak mau ngobrol.

Biar aku yang bicara, tidak apa, kamu jadi pendengar saja. Toh aku suka didengarkan orang lain. Aku suka mendongeng.

Si Kancil?

Semacam si Kancil, tapi yang ini terpeleset masuk lubang hitam.

Hehe.

Gimana menurutmu?

Dia menyesap air di gelas belimbing itu. Biasanya kamu tidak lucu begini, katanya.

Itulah. Mungkin karena kamu juga tidak biasanya separah ini. Kamu jalan kaki ya ke sini, kataku, tanpa terlalu lama memperhatikan sandalnya yang masih menempel di kakinya. Iya, katanya, di luar masih becek, aku takut motorku kotor. Matanya menatap gelas, menatap air yang bergoyang di sana, dan tenggelam di dalamnya, sangat dalam, sulit kuikuti.

Aku mau mabuk, dia bilang. Mahal, kataku. Yang murah juga ada, sudah kugoogling, katanya. Risikonya kamu mati, kataku lagi, kepalamu juga bakal pening sekali, dan paginya kamu jadi orang tolol selama beberapa puluh menit. Tidak apa, katanya, di mana ya belinya? Apa bisa pakai GoFood?

Pada suatu hari, kataku, memulai cerita. Hidup seorang perempuan yang tidak bisa melihat dirinya dalam cermin, permukaan air, atau apa pun yang bisa memantulkan citra sesuatu. Dan pada jaman itu belum ada ponsel dan kamera, tentu. Dia—

Aku serius mau mabuk.

—sangat penasaran, ingin tahu bagaimanakah bentuk wajahnya, dan tubuhnya secara utuh. Dia khawatir akan berjumpa dengan dirinya sendiri, entah di mana, dalam momen semacam apa, dan dia tidak bisa mengenalinya. Dia takut apabila orang mengasihinya, atau berduka untuknya, tapi dia tidak bisa melihat kesedihan di wajahnya sendiri.

Ron, lima puluh ribu dapat empat botol ciu. Kamu sudah pernah beli kan?

Oh, jadi itu red moon atau apalah itu, yang ramai dibicarakan orang, kataku, sembari melongok ke jendela besar di timur kamar. Ternyata begitu saja ya. Padahal itu sesuatu yang besar. Aku menggenggam tangannya setelah menyingkirkan segelas air itu, lalu aku berlutut, kucari matanya, kutatap dia baik-baik, kataku, aku tidak tahu ini penting atau tidak buatmu, tapi aku merasa ini perlu untuk dikatakan: di dunia ini, saat kamu menangis, banyak hal lain yang terjadi, orang-orang mati kelaparan, dua poilitisi bertemu dengan dua koper, satu berisi uang, satu berisi dokumen yang akan dibinasakan, bulan purnama terbesar terjadi, seorang pemuda putus asa baru saja menemukan sesuatu untuk dilakukan esok pagi, ada pula perempuan yang melempar baju lengketnya yang usai dipakai menjual diri, di alaska seekor serigala baru saja menerkam kelinci, aurora berkibar-kibar di atasnya, sebuah lubang hitam menghisap sebuah bintang, atau mungkin tidak, atau sesuatu yang lain, yang lebih besar dan bermakna, terjadi di tempat lain. Ini tidak ada hubungannya denganmu, aku tahu, tapi aku ingin kamu sadar bahwa, tangisanmu malam ini, yang kemungkinan besar hanya akan terjadi satu kali dalam sejarah dunia, jadi salah satu adegan yang berharga dalam hidupku, karena aku menyaksikannya dan di sana kulihat sesuatu yang jujur dan besar.

Di matanya sesuatu tergenang lagi, kali ini jernih, lalu dia memelukku keras, keras sekali. Syukurlah, besok hari Minggu, kubilang. Kamu bisa menginap, tidur sampai siang atau sore. Aku tak bakal menyalakan lampu atau membuka jendela. Kubawakan sarapan dan makan siang, juga makan malamnya, silakan jika kamu belum mau memakannya. Dan jika kamu sudah ingin bercerita, aku siap berpartisipasi jadi pendengar. Untuk sekarang, kamu mau rebahan sambil kupeluk atau tidak? Tapi mungkin aku perlu telanjang dada karena di sini gerah sekali dan badanmu gendut juga panas seperti beruang.

Dia terkekeh. Masih dengan nangis.

Boleh tidak aku telanjang dada juga?

Itu akan jadi seru sekaligus masalah.

Hehe

Hahaha

Hahahaha di bayanganku, aurora itu langit yang luntur.

Hahaha jelek begitu?

Hahahaa iya

Hahaha aku sepertinya harus keluar sebentar.

Mau beli kondom ya?

Hahaha

Hahahaha

Bukan!

Hahaha sudahlah. Aku sudah tidak nangis, jadi sudah lebih pintar.

Aku tidak pernah mengambil kesempatan dari orang-orang yang sedang begini. Aku cuma mau beli keripik, tambah minuman kaleng.

Kalau aku yang meminta, bagaimana?

Hahaha

Hahahaha

Hmmm

Hahaha…

Selain kondom, mau nitip apa lagi, kataku.

Satu pak tisu. Sepertinya aku perlu mengelap lantai kamarmu. Aku tidak tahu, sepertinya tadi aku juga menginjak tahi kucing.

Ini juga sebetulnya lucu. Tapi aku sudah capek tertawa, wajahnya pun sudah kembali layu, dan sialnya, kesedihan memang selalu berumur lebih panjang.