Antara JIL, Edi Akhiles, dan Era Cepat Saji

Kemarin, pengunjung blog saya naik cukup tinggi, padahal saya tidak memajang tulisan baru. Usut punya usut, dari kata kunci pencarian yang masuk, akhirnya saya tahu bahwa sebagian besar pengunjung itu sedang mencari tahu tentang Edi Akhiles dan hubungannya dengan JIL (Jaringan Islam Liberal). Saya yakin mereka tidak terlalu mendapatkan jawabannya di blog saya. Tulisan saya tentang Edi Akhiles lebih banyak tentang keluarga saya di komunitas #KampusFiksi.

Jujur saja, saya iri pada orang yang bisa mengecek kebenaran sesuatu dengan hanya bermodal Google. Sungguh mudah, cepat, dan murah. Dan sepertinya, mereka tidak terlalu peduli bahwa ada banyak informasi di dunia maya yang nilainya tidak lebih dari sampah (sampah tulen, tidak bisa didaur ulang!). Orang semacam Jonru tidak hanya satu. Peminat informasi cepat saji juga bukan cuma satu. Mereka, biasanya, seperti anak burung yang hanya bisa mangap dan menunggu disuapi. Apa yang dimasukkan ke mulutnya, itulah yang ditelan.

Orang-orang yang berkunjung ke blog saya bisa jadi telah menemukan informasi di blog lain yang isinya berbeda. Pada akhirnya, informasi yang dia pilih adalah yang paling mendukung tendensinya. Pengambilan kesimpulan semacam ini tak jauh beda dengan orang yang haus berperang, haus untuk menundukkan orang lain, lalu mencari dalil agama untuk mendukungnya. Dua bentuk pemahaman itu—mempercayai informasi yang salah dan atau memaknai informasi secara salah—menjadi virus paling menyebalkan di era cepat saji ini. Dalam hal ini kebencian punya andil besar dalam mempercepat sebuah penghakiman.

Tidak sedikit orang yang telah menjadi korban. Quraish Shihab pernah dan masih dituduh sebagai seorang Syiah. Saya pernah dituduh sebagai atheis. Yang lain barangkali pernah dituduh sebagai Wahabi padahal Muhammadiyah; pernah dituduh sebagai pendukung Amerika hanya karena mendukung Jokowi; pernah dituduh sebagai jomblo padahal sedang LDR-an. Tentu tidak serta merta salah ketika menjadi seorang Wahabi, Syiah, pendukung Amerika, atau jomblo. Label kerap kali tidak ada hubungannya dengan tindak-tanduk seseorang. Namun, tetap saja, label yang salah ditempelkan adalah tidak adil dan cenderung menyebalkan.

Padahal, kalau memang berniat mencari kebenaran, dan toh akses informasi terbuka lebar dengan bertebarannya perpustakaan, toko buku, dan orang-orang pintar, apa salahnya bersabar untuk menelusuri lebih jauh, dan bahkan akan lebih baik jika merujuk pada sumber primernya. Dengan pengecekan semacam itu, penghakiman terhadap seseorang atau sebuah pemikiran tidak lahir atas dasar vonis orang lain. Kita menalar dengan pikiran kita sendiri. Toh, faktanya, setiap orang mampu, meski tidak selalu, menafsir (baca: menimbang sebuah kebenaran) dan punya sikap yang mandiri. Akal dan nurani kita tidak harus tunduk pada cara berpikir orang lain atau golongannya.

Misal saja, tuduhan bahwa Edi Akhiles adalah JIL lahir karena beliau menulis buku “Putusin Nggak, ya?”. Orang yang ingin mengecek kebenaran tuduhan itu, sudah semestinya membaca langsung isi buku tersebut. Verifikasi selalu perlu untuk dilakukan, dan, karena ini berada dalam ranah wacana, si penilai tentu saja harus terlebih dahulu mengerti batasan-batasan tentang JIL. Apakah JIL itu sebuah organisasi; sebuah cara berpikir; atau sebuah hasil pemikiran? Bagaimana rumusan jelasnya?

Saya justru curiga, orang-orang yang sering menyalak kepada JIL sebetulnya tidak pernah berdiskusi dengan JIL, tidak pernah membaca pemikiran JIL langsung dari buku-bukunya, bahkan tidak pernah berkunjung ke website mereka. Semua yang mereka pahami tentang JIL, tidak kurang tidak lebih, adalah hasil kunyahan guru-guru mereka yang sudah terlebih dulu mencampurkan ludahnya di sana. Mereka mengasosiasikan tokoh ini dan itu dengan JIL padahal mereka tidak mengenal si tokoh, pun tidak mengenal JIL. Dan sialnya, golongan ini biasanya mudah percaya pada guru mereka sekaligus amat sangat resisten terhadap opini dari orang lain. Ini cara berpikir yang tidak adil. Padahal, buah pikir yang baik hanya akan terbentuk dari cara berpikir yang baik.

Bolehlah saya katakan bahwa penyakit di era cepat saji ini bukan saja pada informasi yang busuk dan tak layak konsumsi, melainkan juga pada daya cerna dan atau kemampuan berpikir, menimbang, dan berlaku adil dalam menalar, yang tidak memadai. Meski begitu, saya berkeras kepala bahwa setiap orang mampu menafsir dengan adil. Tentu, inti soalnya adalah, apakah kita punya tekad untuk keluar dari sangkar dan bersusah payah mencari makan sendiri, atau merasa cukup dengan hanya duduk bersantai dan disuapi kerikil?

Iklan

3 comments on “Antara JIL, Edi Akhiles, dan Era Cepat Saji

  1. Tharib berkata:

    Instanisme, mungkin bisa dikatakan demikian di abad sekarang ini. Mengingat derasnya arus teknologi dan memanjakan siapapun yang memakainya. Kesibukan tiap detik hanya berjejaring sosial, searching, googling dan saudara-saudaranya.
    Kesempatan untuk membaca sumber primer (dialog atau membaca) seakan sudah tidak ada waktu lagi. Dalam mindsetnya Jatah konsumsi sudah tersaji by click, by touch.

    Suka

  2. amhar.fm berkata:

    saya coba tanya langsung juga ke pak Edi via twitter, tapi tak dibalas :-(. Saya tanya tentang konsep harmoni yang beliau jelaskan di blognya. Hmm, mungkin harus crosscheck ke isi bukunya kali ya.
    Maaf numpang curhat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s