***
Tolong baca ini pelan-pelan, sayang.
Kamu tahu kalau aku sering nulis cerpen.
Kadang topiknya politik, tak jarang pula tentang percintaan.
Aku yakin kamu sudah baca itu semua. Iya kan?
Harus sudah dong!
Pasti iya. Aku tahu…
Hah, kamu belum baca?
…
…
Kalau memang belum, sekarang kamu baca dulu semuanya, terutama yang ada di blog ini, baru baca tulisan ini lagi. Penting!
Jadi.. Aku mau cerita sama kamu. Jujur, meskipun aku banyak nulis kisah fiksi cecintaan, semacam cerpen dan FF. Sebenarnya gak semuanya murni fiksi. Yang menjadi inspirasi kerap kali adalah kisah nyata, terutama tentang kamu. Pun ada harapan-harapan yang tinggi setelahnya; semoga kamu membaca tulisanku, memahami maksudnya, dan kita makin dekat. Atau kalau kita sedang bertengkar, aku berharap akan ada kelembutan setelah membaca tulisan ‘fiksi’ itu.
Kadang aku menggunakan penokohan binatang dan tumbuhan, agar curhatanku itu tak terdeteksi sembarang orang. Hmmm.. Sejauh ini itu berhasil. Tapi di sisi lain aku juga khawatir, jangan-jangan kamu juga tidak mengerti kalau aku sering berargumen, memuji, mengkritisi, dan tentunya mencintai kamu melalui tulisan-tulisan fiksi itu.
Kemarin, kamu cerita ada kegiatan menulis bareng di blog, bentuknya FF, judulnya ditentukan oleh panitia, dan diberi batas waktu penyetoran karya. Aku kurang tertarik, apalagi kalau menulis tentang cecintaan tapi judul sudah ditentukan orang lain! Apalagi, makin ke sini aku makin sulit menulis cerpen cecintaan yang benar-benar fiksi. Motifasinya pasti kamu, dan alurnya identik dengan kisah kita! Artinya itu tidak fiksi lagi.
Ataukah bisa kita jadikan FF itu berarti Flash Fact? Entahlah, aku kurang jago berbahasa asing. Emang arti dari Flash Fiction itu apa ya? *bingung sendiri*
Tapi intinya, kamu harus baca tulisan-tulisanku yang terdahulu. Ada hatiku di sana, berharap kamu baca dan kamu mengerti. Dan kamu harus membaca cerpen-cerpenku setelah ini. Kamu harus baca, harus memahami, dan tahu apa yang tengah dirasa hati ini. Aku juga berharap kamu menyampaikan pesan padaku dengan cara itu. Karena tulisan adalah juga dunia kita. Yang bagi orang adalah fiksi, bagi kita adalah nyata.. Bagi orang adalah drama yang ketahuan palsunya, bagi kita adalah romansa yang kerasa hangatnya.. Bagi orang tulisan hiburan semata, bagi kita adalah doa-doa.. Ah, bisa jadi, kita adalah tulisan-tulisan itu sendiri.
Seperti itu..
Setelah membaca semuanya, aku harap kamu yakin bahwa, aku maunya cuma kamu!
Oh, iya, maaf karena aku belum bisa ikut menulis FF bareng kamu dan yang lain. Alasannya sudah aku jelaskan di atas. Semoga kamu sukses mengikuti 15 hari berfiksi ria bersama mereka.
Aku sayang kamu, neng.
***
Lelaki itu menyelesaikan tulisan di blognya. Lalu mempublish tulisan itu agar dibaca banyak orang, terutama kekasihnya. Dia ingin agar kekasihnya tahu, bahwa tiada fiksi dalam tulisan-tulisan cintanya. Yang ada adalah kenyataan-kenyataan yang butuh dipahami dengan perlahan.
Cinta pada kekasihnya sudah sangat besar. Tak heran, karena kekasihnya memang luar biasa cantik, luar dan dalam. Dialah sebab kenapa pemuda itu menjadi pribadi yang lebih baik, saat ini, dan bahkan hingga kemudian hari.
Mereka akan bahagia selamanya. Saya yakin itu.
Anda tidak yakin?
Lebih baik baca ulang dari atas, baru baca kesimpulan ini lagi!!
