Salam, semuanyah.
Beberapa hari lalu saya nonton sebuah film yang menarik, judulnya Crazy Little Thing Called Love. Film ini buatan sineas Thailand. Pasti sudah ada yang pernah nonton kan? Seru kan?
Buat yang belum nonton, saya ceritakan secara singkat ya. Film ini bercerita tentang seorang gadis muda yang memperjuangkan cintanya. Selama tiga tahun, dari kelas satu SMP hingga lulus, dari buruk rupa hingga jelita, dia berusaha agar menjadi pribadi yang lebih baik, dan berharap lelaki idamannya itu tertarik. Tahun berganti, namun sikap lelaki itu masih sama, biasa saja. Hingga pada hari kelulusan sekolah, dia merasa harus menyatakan perasaannya. Ngenesnya, sesaat setelah perasaan itu tercurah dengan susah payah, dia mendapati bahwa lelaki itu sudah punya pasangan. #JDERRR #nyesekbro #serius
(
Singkat cerita, lelaki itu ternyata juga cinta pada si gadis, hanya saja dari tahun ke tahun dia menunggu gadis itu tumbuh terlebih dulu. Sayangnya, ketika gadis itu sudah tumbuh menjadi cantik dan berprestasi, keberanian untuk menyatakan perasaannya justru tidak ada. Akhirnya lelaki ini hanya bisa berharap agar gadis itu mengetahui bahwa perasaannya juga sama; cinta, hanya saja waktu belum berpihak pada mereka.
Tapi bagusnya, endingnya gak bikin nyesek.
Dari film ini saya semakin yakin bahwa cinta bisa mendorong seseorang untuk melewati banyak hal yang tadinya dianggap mustahil. Cinta bisa menghapus keraguan, meminggirkan rasa sakit, dan menepis ketakutan. Lebay ya? Nggak kok. Pahlawan bangsa ini bisa melawan penjajah dengan bambu runcing, mereka mampu bertahan, bahkan menang. Bukankah itu karena kecintaan mereka pada tanah airnya?
Saya sendiri punya pengalaman yang hampir sama dengan kisah dalam film itu. Sewaktu SMP, ada seorang gadis yang menyukai saya. Menjelang kenaikan kelas, dia menyatakan cinta melalui temannya. Kala itu saya belum kenal dia dengan akrab, hanya sesekali bertemu di kegiatan Kepramukaan. Singkat kata, saya terima cintanya. Waktu berjalan, kelas dua, saya mencalonkan diri menjadi ketua OSIS, dia juga sama. Tanpa disangka saya menang, dan dia mampu jadi Bendahara OSIS. Saya masih ingat pidatonya yang singkat ketika meng-kampanye-kan dirinya di depan siswa lain, lucu! Lalu di kelas tiga, saya jadi Pasus di sekolah, dia juga ikut serta. Kami mampu melalui gemblengan para senior yang “nyebelin” dan menghafal naskah Pembukaan UUD 45 sebagai salah satu syarat menjadi anggota Pasus. Ah, pokoknya dia berkembang dari kumel sampai kinclong, bahkan kemudian jadi idola anak lelaki di sekolah. Tapi entah kenapa kala itu saya begitu dingin. Mungkin karena masih SMP ya, jadi tidak begitu tertarik dengan perempuan meskipun cantik (?).
Saya bangga pada dia.
Yang itu sudah berlalu. Kerennya, kekasih saya yang sekarang ini punya beberapa kesamaan dengan cinta SMP saya itu, yaitu sama cantik, dan juga seorang Chinese bermarga Law. Gadis ini juga punya semangat yang sama untuk menjadi pribadi yang sempurna (optimalisasi potensi diri). Tantangan yang saya berikan di semester pertama kuliahnya adalah IP 3,5. Saya yakin dia bisa. IP saya saja 3,76, masak sih dia tidak bisa. Saya juga menantang dia agar menyelesaikan sebuah novel di tahun ini. Saya saja sudah menulis 3 novel, masak dia tidak bisa. Dia pasti bisa!
Setidaknya, jika pun nanti hubungan kami tidak direstui Dunia, sejarah hebat akan terpahat di benak anak cucu kami, bahwa cinta bukan sekedar tentang kemesraan, melainkan juga persaingan dan perbaikan.
Jangan menerima seseorang dengan apa adanya, apabila dia belum berusaha menjadi sebaik mungkin. Mungkin itu intinya.
***
Kamu ingat bagaimana Tuhan memperlakukan sepasang manusia?
Dia Yang Mahabijaksana, memisahkan Adam dan Hawa
Empat puluh tahun, masing-masing sendiri meniti bumiDunia kerap mengira bahwa kamu lemah
Lalu kenapa Hawa bisa bertahan selama itu?
Sendiri pada gelap gulita
Bebannya sama seperti yang Tuhan beri pada AdamSama-sama kuat
Cintalah yang menguatkan mereka
Menguatkan kitaJika saja mereka diciptakan sendiri
Aku tidak yakin Adam dan Hawa bisa bertahan
Karena adanya cinta dan kerinduan akan pertemuan
Dicobai, terjatuh, lalu bangun kembali
Mereka terus terjaga setiap pagiSetelah perjuangan sehebat itu,
Tuhan pun takkan tega menceraikan keduanya
Begitulah pula seharusnya kita
*Kamu pasti baca postingan ini. Puisi ringan ini khusus buat kamu, neng.