Aku rindu masa yang lalu..
Aku rindu ikut ayah mengajar di sekolah desa seberang. Kami menyebrangi sungai yang dangkal berbatu. Saat air pasang, ayah mengangkatku di pundaknya yang sudah tanpa baju. Satu tangannya mengangkat tas berisi baju dinas dan buku, tangan yang lain menggenggam erat lengan kurusku, sedang air pun menenggelamkan hingga dadanya yang tegap itu. Aku rindu ketika kami memancing bersama; meski hanya sekali saja aku mendapati ikan di kailku, dia tak henti memuji bahkan sampai bercerita pada ibu. Aku rindu saat dia meraut sendiri gasing untukku; saat dia mengajariku banyak hal baru; saat dia memainkan bayangan tangan dari lampu minyak. Dia bisa membentuk burung, anjing, setan bertanduk, dan membuatku terpukau dengan cara bertuturnya.
Aku rindu saat dulu, aku menangis menahan perih karena tersengat listrik dari lampu belajar, dan hampir mati jika saja terlambat diselamatkan. Ibu mengolesi jemariku yang rapat terbakar dengan kecap dapur. Katanya itu obat. Dia tidur di sampingku semalaman, mengipasi tanganku yang masih perih dan bergetar. Aku rindu membantunya membuat dagangan; ojek, bakwan, buras, yang kemudian kubawa pula dagangan itu sambil berangkat ke sekolah.
Aku rindu cara mereka mencintaiku. Cara mereka membatasi langkahku, meski dulu aku tak suka itu. Aku senangi cara mereka menghargaiku sebagai seorang individu. Tak banyak bicara namun jujur ketika tak sukai sesuatu.
Aku bangga melihat cara mereka membangunku dalam kemiskinan.
Sekarang tubuhku tak lagi kecil. Aku yakin ayah takkan lagi kuat memangkuku hingga seberang sungai. Ibu pun sudah tak lagi mampu menipuku dengan kecap itu.. Tapi, aku begitu mencintai mereka, termasuk cara mereka membohongiku.
Ternyata, kedewasaan tidak memberikan ketenangan. Ia justru menjebakku dalam kegelisahan hati, runyamnya pemikiran, dan kebingungan akan banyaknya pilihan dalam kehidupan.
Aku rindu seperti dulu. Saat diri masih merasa bebas dalam minimnya pengetahuan tentang keduniaan. Saat ada ayah dan ibu, di tengah desa sepi yang sederhana, bersahaja.